
Happy Reading
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
"Berhenti. Stop disini."
"Kita belum sampai di...."
"Stop. Atau Saya lompat sekarang." ancamnya. Dhara tak mau ada yang melihatnya turun dari mobil yang sama dengan pimpinan nomor satu mereka. Bisa lebih heboh jika hal itu terjadi.
"Jalan. Jangan dengarkan dia, Li." Rey tak mengindahkan permintaan Dhara untuk menghentikan mobilnya di pertigaan jalan. Jaraknya masih cukup jauh dari tempat tujuan mereka.
"Berhenti kataku. Saya nggak mau ada gosip lagi yang membawa nama Saya."
Hadeh, Saya lagi. Tadi sudah mulai cair dengan Aku-Kamu. Formal banget kedengarannya.
"Nggak masalah. Cepat atau lambat mereka juga akan tau siapa Kamu."
"Jadi, Saya harus berhenti atau lanjut." Liam tak tahu harus mendengarkan siapa.
"Terus." Rey kekeh, ia tak mau Liam menghentikan mobilnya ditengah jalan.
"Stop." teriak Dhara tak mau kalah.
"Kalau Kau berani berhenti, gaji bulan ini tinggal separuh. Jangan lupa siapa yang memberikan uang padamu." Rey menatapnya tajam dari belakang. Liam tak lagi berani membantah, hawa dingin dari kursi dibelakangnya membuatnya enggan menoleh. Bahkan sekedar melirik.
"Uang, uang terus. Semuanya memang bisa dibeli dengan uang."
"No, nggak semua hal bisa dibeli dengan uang. Tetapi dengan uang semuanya bisa menyenangkan." Seringai penuh kemenangan yang paling Dhara benci kembali dilihatnya.
"Terserah." Dhara kehabisan kata-kata. Ia juga sudah lelah berdebat dengan Rey sejak ia membuja matanya pagi tadi.
Mereka masih melanjutkan di dalam mobil, Liam menatap heran pasangan absurd yang duduk di kursi kemudi. Selama ini Rey tampak bersikap dingin pada setiap orang. Kecuali pada keluarganya dan satu orang itu. Rey bisa bersikap lembut dan menjadi manusia waras pada umumnya.
Mobil BMW yang dikendarai Liam sudah sampai di besement gedung RA Gruop. Tetapi Dhara masih betah berlama-lama duduk ditempatnya. Ia melihat ke kiri dan kanan, memastikan tak akan ada orang yang melihatnya bersama dengan Rey.
"Cepat turun."
"En-enggak. Tuan duluan aja."
__ADS_1
"Disini hanya Liam. Jangan memanggilku Tuan." tampak nada tak suka Dhara memanggilnya Tuan.
"Terus harus panggil apa? Suami? Kang Mas? Abang?"
"Terserah, yang penting jangan Tuan. Is-tri-ku."
Mereka berdua ini apa nggak capek selalu berdebat setiap hari?
"Cepat turun, hari ini ada meeting. Jangan lupa siapkan semua keperluannya."
"Baik, Tuan, Suami." Dhara mengucapkannya dengan nada malas.
"Hmm." Rey lebih dulu melenggangkan kakinya menuju lift khusus di basement. Diikuti Dhara dan Liam di belakangnya.
Seperti biasa, tatapan tak suka dari para pegawai selalu mengawali kehidupan seorang Dhara Maharani. Ia hanya bisa mengacuhkan, meski sering terselip rasa tak nyaman dan sesak menahan rasa jengkel akibat ulah mereka.
"Eh, sini deh. Tuh sekertaris baru, dia datang barengan Tuan Rey."
"Iya, nggak tau malu banget."
"Yah, siapa yang bakal menolak pesona yang dimiliki presdir kita. Tampan, berwibawa, kekayaan berlimpah. Pasti banyak yang mau melemparkan dirinya ke atas ranjangnya. Tak terkecuali dia."
Saya salut padamu, Tuan Besar memang tak salah memilih orang. Padahal Anda dapat membungkam mulut mereka hanya dengan satu kalimat. "Saya istrinya." Semua beres, nggak ada yang berani ganggu lagi.
"Li, Kau punya waktu senggang?" tegur Rey. Ia sengaja berhenti didepan ruangannya menunggu Liam menegur pada wanita tukang gosip.
"Ganti mereka semua dengan orang baru. Saya muak melihat wajah para penjilat seperti mereka."
"Ma-maksud Anda, semua orang? Dipecat?"
"Apa perlu Saya mengulanginya sekali lagi?"
Liam hanya bisa mengiyakan, ia tak punya wewenang untuk menolak apalagi memprotes keputusan Rey. "Baik." Liam undur diri dan melakukan apa yang dilerintahkan Rey padanya.
...*****...
"Ada apa ya, Kita dipanggil ke sini? Jarang-jarang Pak Liam ngumpulin Kita begini." ucap seorang dari mereka.
"Mungkin Kita mau di promosiin. Atau naik gaji mungkin."
__ADS_1
"Ssttt... Jangan berisik."
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Pak." jawab mereka bertiga serempak.
"Kalian bisa membaca surat ini. Dan pergi dari sini setelahnya. Saya harap, Kalian bisa instropeksi diri tanpa harus Saya jelaskan lebih lanjut." Liam memberi mereka masing-masing satu amplop coklat.
"Tunggu. Disana juga tertulis jumlah gaji plus bonus ka...." Liam menggantungkan kalimatnya. Vani, sekertaris senior yang telah bekerja selama 3 tahun itu berbinar mendengat ucapan Liam. Selama ia bekerja disana, jarang sekali ada bonus yang ia dapatkan seperti sekarang ini. Kecuali akhir tahun atau hari raya.
"Bonus?"
"Iya, itu bonus sekali....an" Lagi-lagi ia tak dapat menyelesaikan kalimatnya karena terus ada yang menyela.
"Wah, benaran, Pak? Terima kasih."
Terserah. Kalian baca sendiri. Baru bisa putuskan akan berterima kasih atau malah memusuhiku.
"Sudah sana. Kalian bisa baca diluar. Sekaligus membereskan barang-barang kalian." Liam mengibaskan tangannya mengusir ketiga wanita dengan pakaian yang tak sesuai ukuran tersebut. Pakaian mereka semua kekecilan menurutnya kurang bahan.
"Baik. Permisi, Pak." Vani dan kedua rekannya kembali ke ruangan sekertaris. Mereka sudah tak sabar ingin melihat isi amplop tersebut.
Isinya benar-benar mengejutkan. Mereka tak dapat lagi berkata apapun. Ternyata gaji sekaligus bonus yang dimaksud adalah untuk yang terakhir kalinya.
"Ada apa ini? Kenapa pada bawa barang-barang? Kalian pindah ruangan?" tegur Dhara, ia hendak menanyakan dokumen yang sebelumnya Vani tangani.
"Eh, anak baru. Semua ini pasti ulahmu, iya 'kan?" Vani menyudutkan Dhara hingga menabtak meja.
"Iya, pasti Kamu yang fitnah Kita semua. Ngaku aja deh."
"Saya nggak ngerti apa yang kalian bicarakan." Dhara benar benar tak tahu apa yang membuat mereka semakin membencinya. Terlebih lagi mereka semua mengemasi barang-barang pribadi seperti dirinya waktu itu.
"Apa kalian belum puas dengan apa yang Saya berikan? Masih mau membully orang di perusahaan Saya?" ucap Rey lantang. Ia mencari Dhara untuk membahas meeting yang dibatalkan. Tetapi malah tak menemui Dhara diruangannya. Kebetulan ia melintas ruang sekertaris umum. Dan mendengar keributan disana.
"Saya nggak membutuhkan pegawai yang bisanya hanya bergosip. Tetapi hasil pekerjaan kalian sungguh memuakkan. Pelajaran buat kalian semua. Jika ada yang ingin mengikuti jejak mereka bertiga. Silahkan mengajukan diri. Saya bukan membayar kalian untuk bersantai dan membicarakan pegawai lain. Tetapi untuk bekerja, membesarkan nama RA Group ini."
Tak ada yang berani menjawab, bahkannuntuk sekedar mengangkat kepala pun tak sanggup. Semuanya tertunduk, tak ingin terlibat masalah dengan sekertaris presdir yang baru itu.
Bersambung
__ADS_1