Terjerat Gairah Istri Tetangga

Terjerat Gairah Istri Tetangga
BAB 21.


__ADS_3

"Kyara dimana kau? Abang minta duit!" pekik Beni membuka pintu rumah secara kasar. Pulang-pulang minta duit. Sudah seringkali meminta uang pada Kyara dan yang sering diminta itu uang.


"Apaan sih bang? Pulang-pulang teriak minta duit? Emangnya Kyara ini Bank keliling apa. Jangan bikin pusing deh. Kalau mau duit ya Abang kerja," balas Kyara menyahuti ucapan suaminya di dalam rumah. Dia bukan lagi Kyara yang dulu diam saja saat di palak suaminya.


Dia baru saja selesai membersihkan barang-barang bekas memasak. Karena belum memiliki karyawan, jadinya Kyara selalu melakukannya sendiri. Baik memasak, cuci peralatan dapur, hingga semua yang bersangkutan dengan rumah dia yang masak.


"Lu ngelawan gue? Gue laki lu, mau jadi bini durhaka lu?" seru Beni terpancing emosi.


Beni bertolak pinggang sambil melototkan matanya geram atas kelakuan sang istri yang semakin hari semakin ngelunjak. "Tiap hari malah ngelawan, gue gini juga minta baik-baik bukan malah lu yang nyolot," sambung Beni semakin nyolot.

__ADS_1


"Bang, aku kerja cari uang buat memenuhi kebutuhan sehari-hari, bukan untuk dihambur-hamburkan, bukan untuk berfoya-foya, bukan untuk terus Abang palaki setiap hari. Abang itu laki, seharusnya Abang yang bertanggung jawab atas keperluan rumah kita, seharusnya juga aku yang selalu meminta duit pada Abang, bukan sebaliknya. Tiap hari Abang kerjanya cuman minta duit saja. Tiap saat minta lagi, lama-lama Kyara kesel, Bang. Bukannya nyari kerjaan buat menghidupi istri dua, malah enak-enakan berleha-leha main sabung ayam bawaannya." Kyara menggerutu mengeluarkan kekesalannya.


"Gue kurang tanggungjawab apa sama lu? dari awal menikah gue selalu tanggung jawab, hanya akhir-akhir ini saja gue tidak memberi lu uang karena memang gue tidak dapat kerjaan. Kalau gue dapat kerja, lu juga gak akan gue biarkan bekerja. Tapi saat ini hidup gue lagi tidak beruntung gara-gara dipecat, dan itu semua gara-gara soto lu. Jadi, sebagai gantinya lu yang hidupin gue!"


Kyara menyimpan kasar piring yang ia susun ke dalam lemari piring. Dia menoleh kesal ke arah suaminya yang selalu saja meminta uang. "Sudah ngocehnya? Sudah ceramahnya? Abang mikir dong, jangan hanya karena alasan soto yang Kyara miliki Abang jual di sana, di jadikan Abang alasan atas pemecatan yang terjadi kepada Abang sendiri. Abang pikir aku tidak bodoh dan tidak tahu hal apa yang menyebabkan Abang sampai dipecat?" Kyara menatap sinis suaminya.


"Kalau buka gara-gara Abang main sama Lisa di gudang pabrik, Abang tidak akan di pecat tanpa pesangon. Kalau bukan Abang yang berulah dengan main anu, Abang pasti akan tetap kerja saat ini. Abang pikir Kyara tidak tahu masalah itu? Kyara tahu, bang. Tahu!" balas Kyara mengeluarkan segala macam kekesalan terhadap Beni mengenai hal yang menyebabkan suaminya dipecat.


Dan Beni terdiam seribu bahasa, ia mematung tidak percaya kalau Kyara tahu tentang pemecatan yang dilakukan terhadapnya.

__ADS_1


"Diam 'kan? Gak bisa jawab 'kan? Itulah kenyataannya, bukan karena Siti yang Kyara jual!" sentak Kyara mengambil gelas dan membantingnya secara kasar saking kesal atas semuanya.


Beni terperangah kaget, dia melototkan matanya. "Kyara lu beraninya marah-marah sama gue!!!" Beni ingin melayangkan tamparan pada Kyara.


"Ayo tampar, Bang! Tampar nih pipi Kyara! Tampar sesuai yang Abang inginkan! Aku ikhlas ridho wajahku di tampar lagi. Buruan tamparrr!!" pekik Kyara mendekatkan pipinya ke hadapan Beni. Dia sudah tidak peduli lagi pada semua yang terjadi.


Beni mengepalkan tangannya yang mengudara, "aaakhkkhhhh... sialan lu! Bini kurang ajar!" sentaknya mendorong Kyara dan berlalu pergi dari sana.


Kyara menghelakan nafas panjang, "maafkan aku ya Tuhan."

__ADS_1


__ADS_2