Terjerat Gairah Istri Tetangga

Terjerat Gairah Istri Tetangga
BAB 34


__ADS_3

"Onta, kau terlalu baik pada gue. Gue harus bilang apa dan harus bagaimana untuk membayar setiap kebaikan yang lo berikan kepada gue?" Jayden tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan demi membayar semua jasa-jasa yang Bastian berikan kepadanya. Bulan hanya materi saja yang sering Bastian bantu, malah lebih dari sekedar itu. Dia merasa malu setiap kali ada masalah di keluarganya Bastian selalu ikut campur dan membantu.


Padahal, pertemanan mereka baru berjalan dua tahun. Namun, diantara orang-orang yang ia kenal dan di antara teman yang ia kenal juga, hanya Bastian seorang diri yang selalu membantu teman-temannya dan orang-orang di sekitar yang memerlukan bantuannya. Keduanya berteman sejak Bastian pindah ke kota B dan tinggal di sana.


Terkadang, Jayden selalu bertanya-tanya dari mana Bastian mendapatkan uang sedangkan dia sendiri tidak pernah melihat Bastian bekerja? Namun, Jayden memang sering melihat Bastian memainkan laptop kala di waktu yang senggang.


Kini ia mulai percaya pada perkataan Bastian kalau ternyata temannya seorang anak orang kaya, tapi tidak menunjukkan kekayaannya. Apalagi menunjukkan kartu nama asli Bastian yang ternyata seorang pemilik supermarket bernama Gianmart.


"Sudah gue bilang lo hanya perlu membayar semuanya dengan kerja keras lo. Lo kerja di tempat gue dengan sungguh-sungguh, lo buktikan pada gue kalau lo itu mampu membahagiakan kedua orang tua lo sendiri dan mampu mengangkat derajat mereka. Lo itu laki, umur lo juga sudah gede, jadi laki yang diperlukan tanggung jawabnya terhadap keluarga." Bastian menepuk-nepuk pundak Jayden.


"Besok, lo datang ke kantor Gianmart yang ada di jalan xxx, nanti disana lo melamar kerja seperti biasanya. Sebagai pemula, gue hanya akan menempatkan lo di bagian akuntansi karena gue tahu lo lulusan SMA jurusan akuntansi. Kalau kinerja lo bagus dan mau belajar dalam segala hal, kapan saja gue bisa menaikkan jabatan lo," sambung Bastian.


"Jangan di situ lah, gue belum siap kerja di kantoran. Gue jadi penunggu kasir di supermarket saja lebih baik. Kalau kantoran gue belum yakin kemampuan gue tidak sehebat mereka."


"Ok, bisa di atur, besok lo datang saja kantor. Masalah tempat kerjanya nanti mereka yang urus. Hmmm lalu gitu gue pamit dulu, emak gue pasti nyariin dan bakalan ngomel uangnya gue hamburkan. Salam buat ibu bapak lo."


"Siap nanti gue salamin. Sorry gue terus menyusahkan lo, onta."

__ADS_1


"No problem, kau temanku, gue pasti bantu." Dan Bastian pun pergi menuju mobilnya.


Saat masuk, ia tertegun melihat Kyara tertidur. Pasti lo kelelahan Kya, sorry gue lama," gumamnya sambil menyalakan mobil dan menjalankan mobilnya.


Jayden menghela nafas. "Onta, lo kawan terbaik gue, gue janji tidak akan mengecewakan lo."


"Jay, dimana nak Bastian?" tanya ibu Fitri.


"Eh, Bu. Baru saja pulang. Dia juga titip salam buat Ibu dan bapak."


"Padahal Ibu mau mengucapkan terima kasih karena teman kamu itu begitu baik pada kita. Setiap ada masalah pasti dia bantu kita. Kita banyak hutang Budi sama Bastian." Ada rasa haru kala ada orang peduli terhadap orang miskin seperti mereka.


"Jay, Ibu minta sama kamu berhenti mabuk-mabukan, berhenti main perempuan, ibu malu dan ibu tidak rela kamu dihina seperti tadi sama orang-orang. Ibu mohon jangan ulangi lagi, Nak!" Bu Fitri memelas memohon putranya untuk tidak terjerumus lagi ke dalam lubang dosa.


"Jay akan usahakan, Bu. Janji Jay saat ini ingin mengangkat derajat keluarga kita agar tidak ada lagi mereka yang menghina kita terutama menghina Ibu dan bapak serta Maryam." Jayden begitu yakin, dan mulai saat ini ia akan giat bekerja dengan sungguh-sungguh.


"Aamiin, semoga kau kelak menjadi orang yang sukses, Jay."

__ADS_1


*****


Kediaman Kyara.


"Kemana wanita itu perginya? Sudah sore gini belum pulang juga. Tidak buka warung soto, mana gak ada pemasukan, menyusahkan saja dia," ucap Beni menggerutu kesal karena Kyara seharian tidak pulang.


"Kyara tidak kerja kita gak punya pegangan duit Bang, kalau dia usah balik mending Abang marahi dia habis-habisan!" kata Lisa mengompori.


Hingga mobil hitam Pajero berhenti di depan rumah Bastian yang memang saling bertetangga.


"Itu mobil siapa, bang? Kinclong sekali." Lisa memperhatikan mobil bagus itu dan penasaran siapa pemiliknya.


"Abang juga tidak tahu." Beni berkata seraya mengangkat kedua pundaknya. Namun, mata mereka terbelalak kala melihat siapa orang yang turun dari sana.


"Bastian!" ucap Keduanya nampak kaget Bastian mengemudikan mobil bagus. Mereka memperhatikan pergerakan Bastian dan mereka juga kembali terbelalak saat Bastian membopong tubuh Kyara yang sedang terpejam.


"Bang, itu Kyara Bang!" pekik Lisa kaget. Beni mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras. Dia melangkah tergesa mendekati Bastian.

__ADS_1


"Kau apakan istriku, hah!"


__ADS_2