
Mobil yang Bastian kendarai sudah sampai di depan rumahnya. Dia menoleh ke samping menatap Kyara yang masih saja terlelap tidak terganggu sedikitpun oleh kebisingan di luaran sana. Dia yang tidak tega membangunkan Kyara berinisiatif untuk membopongnya.
Bastian turun tanpa memperhatikan sekitar kalau ia tengah di perhatikan oleh tiga pasang mata. Beni, Lisa, dan juga Oma Mia. Namun, Karena rasa kasihannya dan rasa pedulinya terhadap wanita yang sedang ia taksir, Bastian sampai tidak memperhatikan sekitarnya.
Dia turun, sedikit melangkah lebar ke samping dan membuka pintu mobil, lalu membopong tubuh Kyara. Baru saja beberapa langkah, suara Beni sudah menggema.
"Apa yang kau lakukan pada istriku, hah?" Beni membentak ingin mengambil Kyara dari pangkuannya Bastian.
"Gue tidak melakukan apapun kepadanya, justru lo yang telah membuatnya seperti ini. Dia sendirian di jalan, saya bawa pulang, masih untung di tolongin juga. Malah nyolot lo, Minggir lo!" Bastian menubruk bahu Beni dan terus melangkah hendak ke rumahnya.
"Hei! Dia istriku, lo tidak berhak membawa dia masuk ke rumah lo!" Beni tidak menyukai itu dan ia merebut Kyara dari gendongannya Bastian. Kyara yang merasakan tubuhnya di gonjang ganjing tersadar dari tidurnya.
"Biar gue saja yang bawa! Lo urus saja bini kedua lo!" kata Bastian sengit.
"Lepaskan aku!" pinta Kyara bersuara, dia memberontak ingin turun dan Bastian menurunkannya.
"Lo darimana saja, hah? Seharian ini keluyuran gak jelas? Tidak jualan, tidak membersihkan rumah, lo buat gue kesal, Kyara."
"Pergi menenangkan diri daripada di rumah terus tertekan dan terus disalahkan." Kyara masuk ke rumah enggan membahas tentang hal itu. Dia terlalu lelah terus bertengkar dengan suaminya.
"Kyara, gue belum selesai ngomong!" Beni mengikutinya. Bastian ingin mengikuti takut terjadi sesuatu kepada Kyara. Namun, emaknya mencegah.
"Onta bule kampung, kau mau ngapain masuk ke sana? Kemari!" ujar Oma Mia.
__ADS_1
"Emak, Tian takut Kyara kenapa, mak."
"Masuk! itu bukan urusan lo onta! Masuk dulu, biarkan mereka menyelesaikan masalah rumah tangganya. Kau belum berhak ikut campur terlalu jauh." Oma Mia tidak ingin cucunya terus-terusan ikut campur di saat Kyara dan Beni masih menjadi suami istri. Meskipun ya sendiri merasakan kekhawatiran terhadap kyara, namun Ia juga tidak bisa turun tangan sebelum Kyara yang meminta.
Bastian menghela nafas berat, ia tidak bisa membantah emaknya sekalipun wanita tua itu mengesalkan. Bastian masuk saja, tapi hati dan pikirannya terus kepikiran kepada Kyara.
Sedangkan di dalam rumahnya Beni.
Beni menarik pergelangan tangan istri pertamanya dan mencekalnya begitu kuat. "Lo habis dari mana? seharian keluyuran tidak jelas pulang-pulang bersama seorang pria? Apa lo beneran selingkuh dari gue?" sentak Beni.
Kyara tersenyum sinis, "kalau aku selingkuh Abang mau apa? mau memarahiku, mau memukuliku, mau menceraikanku, terserah! Kyara sudah tidak peduli lagi dengan hubungan ini!" balas Kyara tak sedikitpun mengelak tentang perselingkuhan yang ia lakoni dengan Bastian. Namun, ya tidak menyebutkan nama Bastian.
"Jadi lo beneran selingkuh di belakang Bang Beni? Lo keterlaluan Kyara. Bang, lihat, istri pertamamu sudah keterlaluan. Dia berani berselingkuh di belakang Abang dengan pria lain, dia sudah menginjak harga dirimu sebagai suami dan kepala keluarga." Lisa bersuara dan ia menatap sinis.
Beni mengepalkan tangannya dengan sorot mata begitu tajam, rahang mengeras, emosi memuncak tidak terima Kyara selingkuh. Beni mencengkram kuat kedua bahu Kyara. "Siapa, Siapa laki-laki yang menjadi selingkuhan lo? Siapa dia hah? Jawab!" bentak Beni murka.
Kyara meringis kesakitan kata cengkraman tangan Beni begitu kuat. "Aku tidak akan memberitahu Abang siapa dia! Lepaskan!" pinta Kyara mencoba menepis tangan yang ada di pundaknya. Namun, bukannya lepas malah semakin kuat saja.
"Bang, dia tidak mau mengaku. Apa jangan-jangan anak yang kyara kandung bukan anak Abang? Apa jangan-jangan dia hamil anak pria selingkuhannya?" ucap Lisa memperkeruh suasana dan dalam hatinya semakin puas melihat Kyara bertambah sakit.
Dan ucapan Lisa semakin membuat Beni murka. "Lo, apa benar anak itu anak selingkuhan lo hah?"
"Bukan!"
__ADS_1
"Gue tidak percaya. Lo bilang selingkuh dan lo berkhianat dari gue..."
"Cukup!" bentak Kyara sambil mendorong kuat tubuh Beni. "Abang terus bilang aku selingkuh sedangkan Abang sendiri juga selingkuh Sampai menikah siri dengan wanita murahan ini!" tunjuk Kyara pada Lisa dengan sorot mata berapi-api. "Mau aku selingkuh ataupun tidak bukan urusan Abang! Abang sendiri juga tidak pernah memikirkan perasaanku dan selalu bilang mau Abang selingkuh punya istri dua dan banyak pun bukan urusanku. Ini juga berlaku buat Abang, jangan ikut campur dengan urusan ku! Urus saja istri ja*lang Abang ini!" pekik Kyara marah.
"Kyara ...!" pekik Lisa tidak terima dan dia penampar pipi Kyara.
Kyara tidak tinggal diam, dia membalasnya. "Kau memang ja*lang sialan!" sentaknya sambil menampar Lisa begitu keras sampai tubuh Lisa terjatuh ke lantai.
"Aww!! Perutku sakit, Bang!"
"Lisa!!" Beni terbelalak, dia menatap Kyara murka. "Lo sudah keterlaluan berani menyakiti Lisa dan anakku. Sini kau!" Beni tangan Kyara membawanya ke kamar mandi.
"Lepaskan! kau mau ngapain Bang? lepaskan aku, sakit!" Kyara memberontak.
Beni menghempaskan tangan Kyara sampai wanita itu terbentur dinding lalu mengambil gayung dan tanpa ampun menyiram Kyara.
"Akkhhh!!"
"Lo bini kurang ajar Kyara, semakin hari semakin kurang ajar sama suami lo sendiri. Gue harus kasih lo pelajaran!" pekik Beni sambil melepaskan ikat pinggang yang ia kenakan namun tangan terus mengguyur tubuh Kyara tanpa ampun.
"Ampun, Bang! Dingin!"
"Rasakan ini!!"
__ADS_1
"Aakkhh...."