Terjerat Gairah Istri Tetangga

Terjerat Gairah Istri Tetangga
BAB 42. Kejujuran


__ADS_3

"Gue seriusan Kyara, gue menyukai lu bukan sekedar ingin main-main, apa yang gue katakan tulus dari lubuk hati gue yang paling dalam. Kalau pun lu belum yakin akan perasaan lu sendiri, gue akan sabar menunggu karena gue meyakini jika lu sendiri bakalan suka sama gue." Bastian yang sudah menguraikan pelukannya menatap lekat bola mata indah wanita yang ada di hadapannya.


Tatapan Bastian yang begitu lembut seakan meluluhlantakkan hati Kyara yang sedang merasa hancur akibat ulah sang suami. Perhatian Bastian beberapa hari ini membuat Kyara lebih tenang dan merasa aman. Di tambah Oma Mia yang juga welcome menambah keyakinan dia untuk perlahan membuka hatinya pada pria Sunda ke bule-bule'an ini.


"Ta-tapi aku belum resmi cerai dari bang Beni. A-aku takut dia tidak melepaskan ku meskipun aku sudah ingin lepas darinya sejak aku tahi bang Beni nikah lagi," cicit Kyara masih tersirat kesedihan dan kebingungan dari bola matanya.


"Itu tinggal urusan gampang, lu hanya perlu mengajukan surat cerai dan serahkan semuanya pada pengacara. Gue bakalan bantu lu lepas dari Beni karena gue tidak mau lu hidup bersama pria seperti dia. Macam gak ada laki lain saja yang lebih ganteng, lebih kaya, lebih segalanya, apalagi masih single, termasuk gue lah." Dengan bangganya Bastian menunduk diri sendiri sebagai pria itu.


Plak.


Geplak centong nasi yang di layangkan Oma Mia membuat Bastian meringis seraya mengusap tangannya.


"Dih si emak dari tadi sendi amat sama cucunya. Napa Mak? Gak mau lihat cucu kebanggaannya bahagia? Ya ini kebahagiaannya Tian, Kyara Maharani wanita sang pujaan akang," ucap Bastian tersenyum menaik nurunkan alisnya menatap Kyara.


"Eh onta sableng, mana mau Kyara yang cantik jelita mau sama pria buluk pengangguran macam lu, lu kan tukang mabuk." Oma Mia mencebik.


"Lah si emak malah bongkar aibnya gue. Mak, sekalipun Tian ini pengangguran, Tian pengangguran bukan hanya sebatas pengangguran lah. Lebih ke pengangguran kaya tidak akan habis tujuh turunan. Tian mabuk juga tidak pernah tuh peluk cium cewek apalagi main celup sana sini, pernah sih. tapi hanya pada Kyara saja, eh ... UPS." Bastian langsung menutup mulutnya yang keceplosan bongkar rahasia dia.


Oma Mia melotot, "onta ..."


"Maksudnya apa, Bastian? Pada ku apa? Apa kamu pernah melakukan sesuatu padaku?" Kyara menelisik sebuah kejujuran dari Bastian. Ia merasakan debaran yang entah apa mengingat anaknya.

__ADS_1


"A-anu ... i-itu ..." Bastian bingung mau bicara apa, ia melirik omanya.


"Jujur saja meski ini menyakitkan buat Kyara, lebih baik lu jujur pernah apain dia." Oma Mia malah menyuruh cucunya buat mengakui kesalahan Bastian pada kejadian satu setengah bulan yang lalu.


"Apain aku? K-kamu memangnya pernah apain aku?" Kyara masih terus menatap Bastian meminta sebuah penjelasan.


Bastian menghela nafas. "Apa ini saatnya gue jujur pada kejadian itu? Gue tidak mungkin menutupi kesalahan yang pernah gue lakukan pada Kyara."


Bahkan, mereka masih di meja makan dan belum sarapan.


"Nanti aku jelaskan, mending sekarang kita makan dulu, udah lapar nih." Bastian juga butuh tenaga buat mengakui segalanya, dia juga butuh nutrisi buat mempersiapkan ucapannya. Eh, apa hubungannya? Ada kayaknya.


Kyara dan Oma Mia tidak lagi banyak bicara dan hanya ada dentingan sendok saja.


Bastian sudah berjongkok di hadapannya Kyara seraya menggenggam tangan Kyara. Wanita cantik itu tercengang Bastian melakukan itu.


"Bastian, kamu ..."


"Hmm aku hanya ingin jujur padamu dan mengakui kesalahan yang pernah aku lakukan padamu." Dia juga lebih sedikit rileks berkata aku kamunya.


"Kyara, pada satu bulan setengah yang lalu, tepatnya pada tanggal 1 Maret 2022, aku pernah melakukan kesalahan pada seorang wanita. Pada malam itu, aku menolong seorang wanita yang berpakaian dress bunga-bunga dengan renda di bagian pinggang. Wanita mabuk berat dan hampir di lecehkan oleh pria yang ada di club malam xxx. Aku menolongnya, tadinya mau mengantarkan pulang tapi aku tidak ingin membuatnya di marahi sampai aku malah membawa dia ke salah satu tempat istirahat yang ada di sana."

__ADS_1


Kyara tertegun, ia mengingat-ingat tempat itu. Dia mengenali club yang di sebutkan oleh Bastian dan hari serta tanggal yang di sebutkan Bastian. Namun, ia ingin memastikan lagi apa yang terjadi selanjutnya.


"Saat aku ingin meninggalkan dia, dia malah menarik ku dan juga memarahiku sebagai Beni. Kami sempat adu mulut karena aku tidak mau kelepasan ketika dia terus menyerang ku. Perlahan pertahanan ku runtuh dan aku tidak bisa menghindari hingga aku melakukan hal yang tidak seharusnya aku lakukan pada istri orang. Kyara, ku mengakui kesalahan yang pernah ku perbuat padamu dan aku ..."


"Cukup! Ja-jadi pria itu adalah kamu?" Kyara melepaskan genggaman tangan Bastian.


"Maksudnya?"


"Aku ingat samar-samar pada malam itu, aku ingat tanggal hari dan juga bulan yang kamu sebutkan dan aku tahu club itu. Aku ingat pernah kesana, tapi aku tidak ingat siapa yang menyentuhku. Pada hari itu aku hanya ingat itu adalah bang Beni." Kyara menunduk menyembunyikan tangisnya lagi. Sekarang ia mengerti dan ia meyakini jika anak yang ia kandung bukan anaknya Beni.


"Kyara, aku ..." Bastian tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan. Oma Mia hanya diam duduk mendengarkan.


"Sejak kejadian itu aku dinyatakan hamil berusia satu bulan. Sedangkan aku tahu kalau Bang Beni terakhir menyentuhku dua bulan yang lalu. Bahkan dia tidak pernah lagi menyentuhku setelah aku hamil. Aku sampai harus bilang pada dia kalau aku mengandung dua bulan lebih, padahal hari itu hanya satu bulan. Demi menutupi siapa ayah anak mu, aku membohonginya hiks hiks hiks." Kyara menutup wajahnya dan terisak meratapi nasib yang ia jalani.


Tapi, Bastian justru tertegun dan ia yang tadinya berlutut langsung terjengkang terduduk lesu. Pun dengan Oma yang juga menunjukan raut wajah terkejut.


"Tu-tunggu, ja-jadi anak yang kamu kandung?" Oma Mia tercekat, sedangkan Bastian sudah tidak bisa lagi berkata-kata. Pantas saja ia merasa sesuatu yang berbeda kala mengusap perut Kyara, ternyata ini alasannya. Dia ayah dari anak yang di kandung Kyara.


"Dia bukan anaknya Bang Beni, aku juga baru tahu setelah mengingat kejadian itu. Tapi aku tidak ingat wajah pria itu, mataku samar melihatnya. Aku ... aku .." Kyara tidak bisa lagi menyembunyikan hal ini. Dan entah kenapa ia malah tidak bisa menyalahkan Bastian atas apa yang terjadi padanya, yaitu kehamilannya.


"Ja-jadi anak itu sungguh anakku. Oma .." Bastian menatap lirih omanya.

__ADS_1


"Bastian, dia cicit Oma!"


__ADS_2