
Tidak pernah dibayangkan, tidak pernah terpikirkan, tidak pernah menyangka kalau ternyata anak yang taj tiada adalah anak dirinya.
"Pantas saja hatiku nyeri kala janin yang di kandung Kyara telah tiada. Pantas saja hatiku menghangat saat aku di dekatnya dan selalu ingin mengusap perutnya. Ternyata, dia memang anakku, feeling yang ku miliki ternyata benar. Tuhan, apa ini adalah hukuman darimu karena aku melakukannya tanpa ada ikatan halal? apa ini hukuman buatku karena sudah melakukan dosa jadi kau ambil kembali anak tang belum lahir itu? Jika itu memang hukuman atas tindakan ku malam itu, maafkan hamba mu yang hina ini. Tuhan, jika kau berikan aku kesempatan, ingin ku bahagia Kyara dan ingin ku jadikan dia halal untukku. Terima kasih kau telah membuka tabir kebenaran tentang anak itu sehingga aku harus bertanggungjawab atas Kyara."
Dam diam menatap hamparan gedung-gedung di sekitar apartemennya, Bastian melamun seorang diri memikirkan anak yang telah tiada. Ia semakin menyesali dirinya karena tidak bisa menjaga Kyara maupun calon bayinya. Padahal ia sudah janji pada diri sendiri untuk membuat Kyara bahagia dan juga melindunginya. Namun, ternyata ia gagal dalam melakukan hal itu. Ia gagal.
Hembusan nafas beras menderu di udara, kecewa dan penyesalan menjadi satu. Kecewa karena ia baru tahu sekarang, penyesalan karena tidak bisa menjaganya. Entah apa yang sedang Tuhan siapkan untuknya, ia tidak tahu. Namun yang pasti, dia berjanji untuk memperjuangkan Kyara dan tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya.
"Bastian," ucap Kyara mendekati pria yang sedang duduk di balkon. Pria itu menengok kebelakang dan berusaha tersenyum meski hatinya masih sakit atas kehilangan yang ia rasakan.
"Kyara, iya ada apa?"
"Aku mau bertemu bang Beni, tolong antarkan aku," lirihnya menunduk tidak bisa menahan malu yang ia rasakan. Malu akibat kejadian yang seharusnya tidak ia lakukan kala dirinya memaksa Bastian untuk menyentuhnya. Malu karena ternyata orang itu adalah tetangganya sendiri.
Bastian nampak mengerutkan keningnya. "Ngapain?"
"Aku ingin bicara mengenai masalah aku dan dia, aku juga ingin berpisah darinya." Ia sudah tidak bisa lagi mempertahankan pernikahan ketika suaminya sudah benar-benar keterlaluan. Mungkin untuk menerima Lisa menjadi madunya masih sedikit berbaik hati, tapi mendapatkan siksaan begini membuat ia tidak ingin berdekatan dengan pria itu karena takut sewaktu-waktu kembali jadi memukulinya lagi.
"Kamu yakin ini bertemu dengannya? Kamu yakin tidak akan takut jika berada di dekatnya?" Bastian tidak mau membuat Kyara menderita sendiri saat bertemu Beni. Ia melihat ketakutan dalam diri Kyara meski Kyara sendiri berusaha baik-baik saja.
"Justru itu, aku ingin menghilangkan rasa trauma ini dengan cara menghadapinya. Kalau aku takut dan dia ngapa-ngapain aku, ada kamu yang akan melindungi ku 'kan?" harapan itu muncul begitu saja dari lubuk hatinya Kyara. Ia tidak tahu kalau dirinya menginginkan perlindungan dari Bastian, kekasihnya sendiri. Ya, karena memang mereka pacaran atas permintaan Bastian.
"Baiklah, jika itu keinginan kamu, aku akan mengantarmu." Bastian tentu saja tidak melarang jika itu bersangkutan dengan masa depannya. Dan ia merasa senang kalau Kyara nyaman berada di sampingnya, sehingga hal itu semakin menambah keyakinannya bahwa Kyara tidak akan menolaknya.
*****
__ADS_1
Kantor polisi.
Sesuai permintaan Kyara, Bastian mengantarkan wanita pujaannya ke kantor polisi untuk menemui pria yang sudah membuat anaknya tiada. Namun, meskipun ia marah, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain memberikan hukuman penjara atas apa yang dilakukan Beni.
Belum juga masuk ke dalam dan baru saja berada di depan kantor polisi, keringat dingin dan rasa takut sudah menghampiri Kyara. Tubuhnya menegang kala bayangan penyiksaan itu terus terbang.
Bastian yang menyadarinya segera menggenggam tangan Kyara secara lembut. "Aku ada di sini untukmu. Lawan rasa takut itu dan buktikan pada dia kalau kamu mampu hidup tanpanya dan kamu akan baik-baik saja dengan pilihanmu sendiri." Bastian memberikan support untuk Kyara.
Kyara mengangguk dan ia meyakinkan dirinya untuk kuat serta meyakinkan hatinya kalau ia mampu melewati semua ini.
*****
"Saudara Beni," ujar petugas kepolisian.
"Iya, Pak. Saya sendiri." Beni yang tadinya duduk langsung berdiri dan mendekati polisi itu.
"Siapa yang menjengukku? Apa itu Kyara?"
*****
Lain halnya dengan Jayden, pria playboy dengan pesonanya yang ternyata di tolak oleh kepala desa kini sedang berjuang mulai bekerja demi orangtuanya dan adiknya.
Dia sudah berada di depan Gianmart, supermarket atau bisa di bilang mall yang ada di daerah tempat ia tinggal. Ia menatap kagum bangunan berlantai tiga dengan segala macam rupa barang jualan.
Lantai satu terdiri dari supermarket berbagai macam jenis aneka cemilan, sayuran, alat perabotan mandi, ada di lantai satu. Lantai dua banyak aneka macam baju karena lantai dua memang khusus jualan baju. Dan lantai tiga khusus segala macam permainan anak-anak.
__ADS_1
"Gila si onta, ini beneran milik dia? Pantas saja uang nya banyak meski pengangguran. Eh ternyata ia itu bosnya. Gak nyangka gue bisa kerja di sini, tempat yang selalu menjadi incaran banyak orang." Jayden yang sudah di terima kerja di sana, di tempatkan di bagian kasir lantai bawah. Tugasnya hanya melayani pembelian dan berkutat di depan komputer.
"Eh, cu*pang, ngapain kau dimari?" tegur Jono, salah satu rekan mereka juga. Jayden menoleh kebelakang kala kekagumannya teralihkan.
"Jono! Lu juga ngapain di mari?" Jayden pun terkejut juga. Di tambah Jono memakai seragam sama dengan yang ia kenakan.
"Gue kerja di mari lah, lu ngapain? Jangan bilang lu?"
"Sama seperti lu, gue juga kerja di mari. Gue di lantai satu. Lu bagian mana?" Jayden tidak menyangka kalau temannya juga kerja di sana.
"Gue lantai dua. Gue kira lu kagak mau terima tawaran si onta, eh tak tahunya lu juga mau."
"Awalnya gue nolak karena gak yakin di onta pemilik Gianmart, eh ternyata pas datang ke kantor memang benar dia pemiliknya. Ya udah, itung-itung gue merubah nasib. Setidaknya ada kerjaan buat gue." Ia sempat menyesal waktu pertama kali Bastian menawarkan kerjaan, ia pikir bercanda.
"Nah, gue juga di tawari si onta, ya udah gue kerja aja buat modal kawin. Lagian kan lumayan daripada lumanyun," balas Jono terkekeh.
"Lu udah lama kerja dimari?"
"Baru satu bulanan."
"Wah, kok gue baru tahu, udah lama itu."
"Kata di onta waktu itu nawarin lu juga, tapi lu tolak gara-gara gak percaya. Eh tak tahunya sekarang malah kerja di mari." Jono mencebik.
"Hehe, mau gimana lagi, gue butuh duit."
__ADS_1
Siapa yang tidak butuh duit Jayden? Semua orang memang butuh duit, bahkan banyak yang melakukan apapun demi mencari duit tanpa memikirkan halal haramnya itu duit. Tanpa memikirkan darimana asalnya itu duit, karena terpenting segalanya butuh duit.