
"Tidak mungkin berandalan pengangguran seperti kau punya kartu sakti itu? Hanya orang kaya raya yang punya. Saya saja hanya ATM biasa, tapi kau ... apa jangan-jangan kau mencuri?" Pak Cahyo tidak mempercayai apa yang ia lihat.
"Dih, gak jelas sekali. Ini milik saya lah, masa mencuri. Bapak iri lihat berandalan pengangguran seperti saya ini punya kartu sakti ini? Sayangnya ini memang punya saya."
Bastian puas lihat wajah kaget Pak Cahyo yang begitu terkejut tidak percaya.
"Saya tidak percaya, kau pasti mencuri. Saya akan laporkan polisi."
"Silahkan laporkan, tapi saya pastikan jika Anda masuk jeruji besi duluan atas kasus penyalahgunaan wewenang dan juga pemungutan suara palsu," balas Bastian tegas.
"Sialan, bocah ini berani sekali melawanku."
Mendadak pak Cahyo berpikir lagi untuk membuat lawannya kalah. Namun, ia makin penasaran pada Bastian yang memiliki kartu yang hanya dimiliki orang kaya raya limited edition.
"Kau pikir saya takut? Tidak akan. lagi pula saya jadi kepala desa atas pilihan warga sendiri. Kau itu ..."
"Pak, daripada bapak ngoceh gak jelas cibir sana-sini, hina sana sini, mending bapak pulang ke rumah langsung tidur saja, Ok. Saya malas harus menghadapi orang kayak bapak yang sukanya ngerecokin hidup orang." Bastian mengusir pak Cahyo. "Dan, belanjaan Anda tidak perlu di bayar sebagai tanda saya beramal."
"Saya punya uang jadi kau tidak usah sok mau membayar belanjaan saya!" pak Cahyo makin panas saja melihat pria seperti Bastian yang ia tahu pengangguran memiliki banyak uang. Ditambah karyawan di sana bilang bos, bertambah heran saja Cahyo ini.
"Hei kau Casanova buluk, saya peringatkan untuk tidak ganggu Ningsih lagi, besok Ningsih nikah dan kau tidak akan bisa lagi mendapatkan putriku."
Jayden tidak menjawab, ia hanya diam saja dengan kebingungannya sendiri karena hatinya merasa tidak ikhlas Ningsih menikah. Namun, ia kembali teringat orangtuanya yang meminta dia untuk tidak berharap pada Ningsih dan tidak mau melihat orangtuanya sedih.
__ADS_1
"Udah pergi sana, pak. Jangan banyak ngoceh kayak emak-emak!" Bastian mengusirnya.
"Sialan kau, lihat saja nanti. Saya akan pastikan kau tidak akan dapat bansos."
"Bodo amat, gue gak butuh bansos dari pemerintah. Selagi kaki berdiri dan tubuh lengkap, gue mampu cari duit tanpa mau menerima bansos yang kadang tidak adil itu."
"Ck, anak miskin blagu." Pak Cahyo merampas barang belanjaannya yang sudah di bayarkan Bastian, lalu pergi dari sana.
"Dih, tuh orang rasa-rasanya gila. Barang belanjaannya di bawa, katanya tidak usah di bayar. Eh tak tahunya di ambil," kata Kyara heran.
"Namanya juga warga +62, kadang maunya gratisan," balas Bastian terkekeh puas bisa mengerjai kepala Desa songong itu.
"Permisi, udah selesai layani yang lain? Giliran saya dong," kata seorang perempuan.
"Iya, Teh. Keperluan dapur."
"Kau tidak perlu makan, tubuhmu udah besar kayak karung beras," celetuk Jayden tiba-tiba.
"Maksud lo apa ngatain gue karung beras?" Nurma paling sebal kalau Jayden sudah menyebutnya gendut.
"Kagak apa-apa, hanya saja tubuhnya gede segede patung pancoran."
"Wah, mulutmu minta di tampol ini, Mah. Ngapain sih dari dulu lo selalu saja ngehina fisik gue? Gue emang gendut, tapi gak kayak lo yang tukang main perempuan. Dasar cu*pang, di ci*pok langsung tegang," ujar Nurma membalas perkataan Jayden.
__ADS_1
Keduanya merupakan teman SMA dulu, mereka selalu saja berantem bagaikan kucing dan anjing yang tidak pernah akur. Tiap ketemu pasti saja adu mulut.
"Fix, kalian memang jodoh. Berantem terus, saking benci, lama-lama jadi cinta. Cocok," ucap Bastian.
"Jodoh sama dia?" ucap Jayden dan Nurma bersamaan.
"Amit-amit ogah!" balas keduanya juga.
"Nah kan, kalian kompak. Pasti kalian memang berjodoh."
"Gue jodoh sama karung beras ini? Amit-amit tujuh keliling, ogah gue." Jayden bergidik ngeri dan tatapannya seakan tidak suka.
"Ck, lo pikir gue mau? Gue juga ogah kali sama pria Casanova seperti lo. Celup sana sini, pasti penyakitan. Ih ogah."
"Wah, bicara lo sekate-kate ya Nurma. Sekalipun gue suka celup ya pastinya bersih."
"Gue kagak peduli. Gue kagak mau tahu."
"Lo mau tahu gue bersih? Ayo kita anu-anu biar lo tahu gue tidak penyakitan." Jayden tanpa sadar bicara ke arah mengajak.
"Apa? Main serong kanan kiri sama lo? Ogah, amit-amit jabang bayi."
"Alhamdulillah berjodoh," kata Bastian bersaman dengan Kyara.
__ADS_1
"Kagak akan!" bentak Jayden dan Nurma bersamaan.