
Dengan langkah tergesa, Beni terus berlarian mencari keberadaan Kyara di sekitar rumah sakit sana. Ia meyakini jika Kyara pasti di bawa ke rumah sakit terdekat. Dan rumah sakit terdekat itu tempat di mana ia menginjakkan kaki saat ini.
Rasa sesal menyelimuti relung hatinya atas perlakuan bodoh yang selama ini ia lakukan kepada Kyara. Mendengar pengakuan Lisa membuta Beni menyadari satu hal jika dia begitu saja menyia-nyiakan orang yang telah mencintai dia begitu tulus dan mau menerima setiap kekurangan dirinya.
Kilas balik perlakuan dia pada Kyara terus berputar bagaikan kaset berputar-putar. Rasa sesak di dada ia rasakan padanya kala mengingat setipa perbuatannya. Memukul, menampar, berkata kasar, berbuat sangat jahat sampai menyiksa Kyara menggunakan ikat pinggang, terus berputar-putar. Sungguh Beni sangat menyesali perbuatannya.
Dalam keadaan yang masih lemah dengan hidung di perban karena patah hidung, wajah kebab dengan tubuh juga merah akibat pukulan dan cambukan dari Bastian, Beni bertanya pada resepsionis yang ada di sana mengenai Kyara.
"Suster, bolehkah saya bertanya? Saya ingin mencari tahu tentang Kyara Maharani. Apakah dia di rawat di sini?" Beni berharap banyak kalau istrinya ada di sana.
"Tunggu sebentar, Pak." Sekalipun suster itu heran melihat salah satu pasien yang menanyakan orang lain dan masih mengenakan baju rumah sakit, dia berusaha membantunya.
Nampak suster itu mencari informasi yang di inginkan Beni. "Maaf, Pak. Tadi memang ada yang namanya Kyara Maharani di sini, namun dia sudah tidak ada lagi berada di sana."
"Maksudnya bagaimana?"
"Nama Kyara Maharani sudah pulang sejak tiga jam yang lalu," jelasnya membuta Beni terbelalak.
"Pulang? Itu artinya tadi Kyara berada di sini dan sempat ditangani oleh dokter yang ada di rumah sakit ini. Lalu, sekarang ke mana Kyara pergi? Apa itu artinya dia kembali ke rumah dan keadaannya baik-baik saja?" gumam Beni dalam hati terus memikirkan keadaan Kyara.
"Makasih, Mbak." Tekadnya untuk mencari Kyara dan meminta maaf pada istrinya sudah bulat dan dia akan mencari istrinya.
*****
"Pokoknya saya tidak mau tahu, kau harus membawa dia ke hadapan saya tanpa sepengetahuan orang lain. Jangan lepaskan dia dan jangan biarkan dia lolos berkeliaran di luaran saya."
"Baik, Bos. Kami akan melakukan tugas yang kau perintahkan dengan baik."
"Bagus, cepat laksanakan!"
"Siap Bos."
Lalu, pria yang baru saja memerintahkan seseorang untuk menangkap seseorang pun mematikan ponselnya.
"Bastian, kau akan melakukan apa pada suaminya Kyara?" ujar Oma Mia mengajarkan Bastian.
__ADS_1
"Eh, Mak. Sejak kapan berada di situ? Ngagetin saja?" Bastian yang tadinya berada di balkon masuk ke dalam.
"Sejak lu memerintahkan anak buah lu untuk menculik Beni. Pasti kau akan memberikan dia pelajaran ya?" Oma Mia menebak isi pikiran Bastian. Dua sudah tahu watak sang cucu jika ada orang yang berani menyakiti salah seorang orang yang di sayangnya akan bertindak dan memberikan pelajaran yang setimpal.
"Mak, Bastian sakit hati banget melihat keadaan Kyara saat ini. Bastian tidak rela wanita yang Tian cinta di sakiti begini. Aku tahu kalau Kyara masih istri orang, tapi Tian tidak akan tinggal diam jika sudah di sakiti begini. Apapun akan aku lakukan untuk membuat Kyara terlepas dari Beni dan Tian akan melakukan apapun demi mengobati hati dan juga mengembalikan kebahagiaan Kyara. Itu janji Bastian buat Kyara." Bastian terlihat sungguh-sungguh dalam berkata. Sorot matanya pun tidak ada sedikit keraguan dan terlihat yakin mengenai perkataannya.
"Mak, setahu Bastian Kyara tidak punya siapa-siapa lagi. Mungkin dengan hadirnya Bastian di kehidupan Kyara sebagai pelengkap hidup dia dan juga sebagai pelindung Kyara dari segala hal. Mak, beri restu untuk cucu mu ini dalam melakukan hal yang saat ini sedang aku lakukan. Aku mencintai Kyara dengan hatiku, aku tidak pernah jatuh cinta seperti ini. Hatiku sakit melihat Kyara bersedih dan aku bahagia kalau melihat Kyara bahagia. Mak, Tian minta doa restu dari Emak sebagai keluarga Tian satu-satunya. Apapun akan Tian perjuangkan selagi itu membuat Tian yakin dalam hati."
Oma Mia menghela nafas.
"Oma hanya akan mendoakan yang terbaik buat kalian. Jika menurut kamu ini sudah benar, Oma dukung tindakan kamu. Oma juga tidak tega melihat Kyara menderita seperti ini. Kalau perlu, kita akan ke kota J dan menetap di sana membawa Kyara pergi dari tempat ini. Oma yakin jika saat ini Kyara pasti mengalami trauma."
"Itu dia, Mak. Makanya Bastian ingin memberikan dulu beni pelajaran dan akan membuat mereka bercerai."
Hingga suara Kyara terdengar meminta ampun.
"Ampun ... ampun ... sakit, Bang! Jangan pukuli aku... ampun!"
"Mak, Kyara!" Bastian dan Oma Mia segera berlari ke kamar yang Kyara tempati.
Mereka melihat keringat dingin bercucuran di wajah Kyara dan juga wanita itu sedang gelisah. Wajahnya ke kanan dan ke kiri berteriak meminta ampun.
"Kyara, bangun, Nak!" ucap Oma Mia menepuk-nepuk pipi Kyara.
"Sayang bangun," pun dengan Bastian yang juga menggoncang bahu Kyara.
Mata Kyara langsung terbelalak terbuka secara terpaksa. "Ampuuun!!!" pekiknya langsung bangun dan terduduk begitu saja. Napasnya memburu ngos-ngosan.
"Kyara kau tidak apa-apa?" tanya Bastian khawatir. Tangannya mengusap lembut pipi Kyara.
Wanita itu menatap Bastian, ia langsung memeluk Bastian dan terisak-isak. "Aku takut, Bastian. Bang Beni memukuli ku menggunakan ikat pinggang. Aku takut, bawa aku pergi darinya, Bastian. Bawa aku pergi! Aku takut," lirihnya menyayat hati sambil memeluk erat Bastian tanpa peduli rasa sakit di tubuhnya yang masih terasa ngilu.
Oma Mia yang ada di sana mengusap kepalanya Kyara sampai punggung. Dia begitu kasihan dan juga sedih melihat Kyara yang saat ini.
Bastian memejamkan mata menghelakan nafas berat. Ia membalas pelukan Kyara dan juga mengusap lembut kepalanya.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu takut, ada aku di sini ada Oma juga yang akan ada untukmu. Tidak akan ku biarkan Beni menyakitimu lagi, sayang. tidak akan. Jangan takut." Bastian berusaha menenangkan Kyara agar wanita itu tidak ketakutan.
Sekian lama memeluk Bastian, Kyara sedikit lebih tenang. Barulah Bastian melepaskan pelukannya. Oma Mia dengan sigap mengambil minuman.
"Minum dulu, Nak. Biar kamu lebih tenang lagi," ucap Oma sambil memberikan segelas air putih.
Kyara menatapnya, lalu mengambil gelas itu dan meminumnya hingga habis.
"Oma, aku titip Kyara sebenar." Bastian berdiri, namun Kyara memegang tangannya menatap Bastian.
"Jangan pergi! Aku takut dia datang menemui ku, aku takut ..." lirih Kyara memelas dengan air mata yang sudah menetes kembali.
Bastian memejamkan mata menahan sesak di dada. Ia sakit melihat Kyara yang terluka, lalu ia duduk lagi di sampingnya.
"Tidak akan, aku tidak akan pergi. Aku akan di sini menemanimu termasuk Oma." Oma yang ada di sana mengangguk.
Entah kenapa Kyara merasa aman berada di dekat Bastian. Ia tidak takut dan malah ingin berada dalam lindungan Bastian. Mungkin karena salah satu alasannya adalah Bastian kekasihnya meski kekasih gelapnya.
"Mungkin lain kali saja gue menemui Beni setelah Kyara tidur lagi dengan tenang."
"Nak, sekarang kamu tidur lagi aja," kata Oma.
"Tapi aku ingin Bastian ada di sini." Kyara tidak mau melepaskan genggaman tangannya pada tangan Bastian.
Pria mantan playboy itu menatap omanya.
"Temani dia sampai tidur," katanya membuat Bastian menyetujui demi kebaikan Kyara dulu.
*****
Beni sendiri sudah keluar rumah sakit setelah memaksa dokter memperbolehkan dirinya pulang. Dan saat ini ia sedang berada di depan rumahnya.
"Kyara, kamu dimana? Maafkan aku, Kya?" Beni berteriak memanggil istrinya. Dia masuk ke dalam rumah mencari keberadaan Kyara yang ia yakini pulang ke rumahnya dengan pemikiran jika Kyara tidak ada pilihan lain selain pulang ke rumahnya.
Setiap penjuru ruangan, beni mencari Kyara. Namun, tidak ada sosok Kyara di sana. "Kyara, Abang minta maaf udah bikin kamu kayak gini. Kyara, kamu dimana?"
__ADS_1
Namun, pas Beni masuk ke kamar mandi yang ada di dapur, matanya tertegun melihat darah di sana dan juga ikat pinggangnya yang masih tergeletak di lantai.
"Kyara! Darah!!"