
Beni tertegun dalam pandangan kosong. Keadaan di kamar mandi yang ada di dapur masih sama belum di bersihkan. Ada darah berserakan, lantai masih basah, ikat pinggang masih tergeletak di sana, dan juga masih berantakan.
"Darah, a-apa yang terjadi pada Kyara. Gue sudah keterlaluan. Kenapa gue tidak ingat kalau Kyara istriku, sedang hamil anakku." Beni semakin dilanda kegalauan dan juga rasa bersalah yang tinggi. Wajahnya pucat dengan keringat bercucuran di wajah.
"Tidak akan terjadi apa-apa kepada Kyara. Dia pasti baik-baik saja. Bastian, gue harus tanya dia mengenai keadaan istriku." Tanpa tahu malu dan tanpa rasa khawatirnya ataupun merasa bersalah, Beni ingin mencari Kyara dan dengan mudah ingin meminta maaf kepada istrinya.
Dia tergesa ke luar rumah untuk bertanya kepada Bastian tetangga sebelahnya. Tadi siang ia melihat jelas kalau orang yang memukulinya adalah Bastian.
Sesampainya di depan rumah Bastian, Beni memanggil nama pria itu sambil mengetuk pintunya.
"Bastian keluar kau! Dimana keberadaan Kyara? Bastian buka pintunya!" ucap Beni terus menggedor pintu. "Jangan kau sembunyikan istriku!" pekik Beni terus mengetuk pintu rumah Bastian.
"Hei! Bastian tidak ada di rumahnya sejak Kau memukuli kyara," kata seseorang sudah berada di belakang Beni.
Beni menoleh ke belakang. "Siapa kalian? Kenapa kalian bilang Bastian tidak ada di rumah?" tanya Beni karena sepengetahuannya mereka bukan warga sana.
"Jangan banyak tanya, ayo kita bawa." ucap salah seorang diantara dua orang.
Dan kedua orang itu langsung saja mendekati Beni dan mencekal pergelangan tangan Beni.
"Hei! Siapa kalian, jangan macam-macam! Lepaskan saya!" Beni memberontak ingin melawan. Namun, salah satu pria itu memukul tengkuknya hingga Beni tak sadarkan diri.
"Kita bawa dan kau telpon Bos!"
"Baik."
Tubuh Beni di seret ke dalam mobil. Suasana di sana sepi karena malam hari. Jadi tidak ada satupun yang tahu tentang kejadian penculikan Beni.
*****
Drrrtt ... Drrrtt ... Drrrtt ...
Handphone Bastian berdering, ia yang tengah duduk menenangkan Kyara dan menemaninya tidur merogoh saku celananya. Perlahan tangan yang di genggaman Kyara ia lepaskan secara pelan-pelan agar tidak mengganggu Kyara bangun. Lalu ia berdiri dan menjauhi Kyara.
"Iya, ada apa?"
"Kami sudah menangkap dia, Bos. Sesuai yang kau inginkan, dia berada di tempat yang kau perintahkan."
__ADS_1
"Baik, saya segera kesana sekarang juga."
Lalu, ia mematikan ponselnya. Namun, Beni kembali mendekati Kyara dan memandanginya. "Akan ku lakukan apapun demi membalas rasa sakit yang kamu rasakan Kyara. Maaf jika aku bertindak lebih jauh. Bahkan aku sudah mengajukan surat gugatan cerai buat Beni tanpa dulu meminta izin darimu."
Lalu, Bastian mengecup keningnya Kyara seraya memejamkan matanya. Kemudian ia pergi dari sana.
*****
Perlahan, mata Beni yang tadinya tertutup menjadi terbuka. Ia memperhatikan sekitar, tempat nya begitu kotor dan juga seperti gudang.
Beni ingin berdiri, tapi ia tidak bisa karena tubuhnya di ikat. Ia duduk di kursi, tangan di ikat kebelakang dengan kaki yang juga sama di ikat.
"Sialan, siapa yang berani membawaku kesini? Hei! Lepaskan saya! Siapa kalian hah? Beraninya kalian membawa saya dan memperlakukan saya seperti ini. Lepaskan saya!"
Beni terus saja menggerakkan badannya dengan harapan bisa melepaskan ikatan itu. Namun, ia tidak bisa dan malah merasakan sakit di lengannya.
"Brengsek! Siapa yang sudah menculik ku?" umpatnya menggeram kesal.
Ceklek.
Gagang pintu terbuka membuat Beni langsung menoleh ke arah pintu. Ia ingin tahu siapa dia, dan seketika matanya melotot sempurna melihat orang itu adalah orang yang ia kenal dan juga tetangga sebelahnya.
Pria dengan ciri khas kalung di leher itu mendekatinya dan duduk di depan Beni. "Kau sudah sadar rupanya."
"Lepaskan saya! Kau mau apa menculik ku, hah? Berani-beraninya kau melakukan ini!"
"Diam! Jangan bertanya saya mau apa, seharusnya kau mikir jika saya melakukan ini untuk siapa, bodoh!" bentaknya sambil melemparkan kertas ke hadapannya Beni hingga kertas itu berada di pangkuannya.
Beni terdiam, ia mencerna setiap perkataan Bastian untuk siapa dia melakukan ini. "Dimana Kyara?"
"Ck, kau menanyakan Kyara setelah apa yang kau lakukan padanya? Sampai kapanpun saya tidak akan membiarkan kau menemuinya!"
"Dia istriku, saya berhak tahu dimana dia dan kau tidak berhak ikut campur dalam urusan ku!" kata Beni tidak mau kalah.
Bastian tersenyum sinis. "Sekalipun kau suaminya, kau tidak layak di bilang suami karena kau bagaikan binatang. Kau bilang istri? Istri yang kau sia-siakan, istri yang kau sakiti lahir batin, istri yang kau jadikan alat untuk mencari uang sedangkan kau yang enak-enak dengan istri keduamu, istri yang kau siksa hingga kehilangan satu nyawa!" sentak Bastian memukul wajah Beni.
"Sa-satu nyawa?" pria itu tertegun dengan perkataan satu nyawa. Rasa sakit akibat pukulan Bastian tidak ia rasa, tapi kata satu nyawa membuatnya linglung.
__ADS_1
"Satu nyawa melayang karena ulah kau sialan! Kyara keguguran karena kau, biadab!" bentak Bastian.
Deg.
"Ke-keguguran. Ti-tidak, itu tidak mungkin. Kyara tidak mungkin ke guguran." Beni menggelengkan kepalanya tidak percaya Kyara keguguran. Apalagi ia meyakini itu adalah anaknya dan Kyara. "Anakku tidak mungkin tiada."
"Anak? Anak yamg tidak pernah kau anggap. Akibat ulah kau Kyara harus kehilangan bayinya, akibat ulah kau Kyara trauma, akibat ulah kau Kyara sakit parah. Dan saya tidak akan pernah membiarkan kau mendekati Kyara lagi. Lepaskan dia!"
Deg.
Beni langsung mendongak semakin di buat terkejut dengan apa yang ia dengar, trauma, sakit parah, melepaskannya, semua itu menjadi beban pikiran Beni.
"Tidak akan saya lepaskan Kyara. Dia istriku dan saya akan memperbaiki pernikahan ini!" janji Beni pada dirinya sendiri setelah menyesali perbuatannya dan juga setelah tahu perbuatan Lisa padanya.
"Kau tidak akan menceraikannya setelah semua tindakan yang kau lakukan? Tapi sayangnya kau akan bercerai. Itu surat gugatan cerai dari Kyara, dan saya akan memberikan kau pelajaran seperti yang Kyara alami." Bastian menyeringai. Dia melepaskan ikat pinggangnya.
Beni melototkan mata, "kau mau apa? Jangan coba-coba atau kau akan ku laporkan ke polisi!"
"Saya tidak peduli!"
Bug.
Satu cambukan Bastian layangkan pada tubuh Beni. "Itu untuk tangisan yang sering kau berikan padanya."
Bug.
"Itu untuk pengkhianatan yang kau lakukan padanya."
Bug.
"Itu untuk perlakuan kau padanya."
Dan beberapa kali lagi lagi cambukan Bastian layangkan atas rasa sakit melihat Kyara saat ini.
"Akkhh..." Beni memekik kesakitan kala gespernya menyentuk kulit dia.
"Itu untuk penyiksaan yang kau lakukan pada Kyara sampai dia mengalami keguguran. Dan nikmatilah hidupmu di jeruji besi sialan!" bentaknya lagi sambil menendang tubuh Beni hingga kursi yang di duduknya terjengkang ke belakang.
__ADS_1
Bug...