
"Bu Fitri, pak Joko, masuk ke mobil saya! Ajak Jayden juga! Lebih baik kita pergi dari manusia sombong dan angkuh ini. Jangan memohon pada mereka yang tidak punya hati!" pinta Bastian pada orang tuanya Jayden seraya menatap tajam pak Cahyo.
"Kurang ajar!" pekik Ono siap memukul Bastian.
"Diam kau ka*cung!" sentak Bastian menunjuk dua ajudan pak Cahyo. "Saya tidak punya urusan dengan kalian berdua! Sekali lagi kalian melangkah akan saya hancurkan keluarga kalian!" sentaknya memberikan peringatan kepada kedua anak buah pak Cahyo.
"Onta lo apa-apa sih? Lo bikin rusuh!" ujar Jayden.
"Kau yang bikin rusuh, cu*pang! Buruan masuk mobil atau gue habisi Lo!" Bastian tindak main-main, Iya terlihat kesal kepada temannya.
"Kau siapa beraninya mengancam anak buah saya? Kau itu hanya orang miskin pengangguran," ujar Cahyo menghina.
Bastian tersenyum sinis, "Anda tidak perlu tahu siapa saya yang sebenarnya. Jika Anda tahu, pasti Anda akan membujuk anakmu untuk mendekati saya. Saya tidak Sudi itu!" balas Bastian menghina balik seolah Ningsih tidak ada apa-apanya.
Bastian mendorong tubuh Jayden mendekati mobilnya. "Bu, Pak, ayo kita pergi!"
"Onta, lo tidak bisa begini!" Jayden protes, tapi Bastian menggeplak kepala Jayden.
"Diam lo cu*pang! Gue mau bicara sama lo di rumah kalian! Masuk!" Bastian tegas sehingga membuat Jayden menciut. Dia tahu kalau Bastian tidak main-main dalam berucap. Dia tahi Bastian itu keras jika sudah menyangkut teman-temannya.
Dan mereka semua masuk kedalam mobil dengan pikiran bertanya-tanya mobil siapa yang Bastian bawa?
Kepergian Bastian dan yang lainnya terus diperhatikan oleh Pak Cahyo. "Siapa dia? Mobilnya bagus sekali, apa dia mencuri?" batinnya bertanya-tanya penuh rasa penasaran.
"Jadi kepala desa kok sombong amat, kualat baru tahu rasa nanti," bisik tetangga.
"Iya, mentang-mentang berkuasa dan paling kaya di kampung ini jadi seenaknya," balas yang lainnya.
"Diam kalian! Saya dengar dan lebih baik kalian semua bubar!" sentak Cahyo.
__ADS_1
"Huuuuu," sorak semuanya.
*****
"Lo itu ganggu gue onta, gue lagi berusaha membujuk pak Cahyo agar bisa memberikan izin menikahi Ningsih, tapi kau mengacaukan segalanya!" ucap Jayden kesal sambil membuka pintu mobil lalu keluar.
"Lo bodoh, pang. Lo terlalu berambisi mendapatkan wanita seperti Ningsih. Seharusnya lo sadar agar tidak mengusiknya! Berapa kali gue bilang jangan pernah berurusan dengan kepala desa! Tapi lo, Lo ngeyel dekati anaknya!" balas Bastian yang juga keluar mobil. Lalu di susul oleh Kyara dan kedua orangtuanya Jayden.
"Karena gue suka sama Ningsih, onta! Gue lakukan ini untuk mendapat kan dia!"
"Tapi bukan begini caranya, cu*pang! Lo tidak kasihan sama ibu bapak lo yang dihina habis-habisan oleh kepala desa? Apa lo tidak merasakan sakit hati ketika harga diri sebagai pria dihina dengan alasan tidak memiliki apa-apa? Harusnya lo mikir sebelum bertindak! Bukan gegabah berdalih cinta dan keberanian semata. Orang seperti Pak Cahyo yang berambisi memiliki menantu kaya tidak akan pernah menerima lo di dalam keluarganya, ngerti!" pekik Bastian memberikan nasihat untuk temannya.
"Terus gue harus apa onta? Gue cinta sama Ningsih, apapun akan gue lakukan demi bisa bersanding dengannya?" Jayden mengusap kasar wajahnya, ia pusing harus berbuat apa.
"Kau tidak dengar tadi, mereka tidak mau memiliki menantu miskin dan juga Casanova seperti lo. Terkecuali kau kaya dulu baru mereka mau nerima lo!"
"Kaya? Kaya darimana? Hidup gue aja gini terus, tidak punya apa-apa, lo kan tahu gue dari keluarga yang sederhana tidak memiliki apa-apa. Mau kaya gimana kalau setiap gue melamar kerja, mereka selalu menolak dengan alasan tidak ingin menerima orang seperti gue." Jayden prustasi, wajahnya juga memerah menahan kesal.
"Maaf kan ibu, Jayden. Maafkan ibu yang setelah melahirkanmu dalam keadaan begini hiks hiks."
Jayden menoleh, ia tertegun. "Bu ..."
"Kau lihat, kau sudah membuat ibu yang telah melahirkan lo menangis hanya gara-gara orang seperti lo! Seharusnya kau berusaha lebih keras lagi untuk membahagiakan kedua orangtua lo dan adik lo, bukan menyusahkan mereka dan membuat mereka dapat hinaan dari orang!" Bastian menunjuk kedua orangtuanya Jayden.
"Lo tidak kasihan melihat mereka yang terus berjuang demi membiayai kehidupan lo sehari-hari. Berapa kali gue bilang usaha, usaha dan usaha Jayden Amir Khan!" sentak Bastian kesal.
"Usaha apa, hah? Maling? mencuri? Usaha apa yang harus gue lakukan? Tidak ada satupun yang mau memberikan gue kerjaan." balas Jayden yang juga menggema berteriak.
"Lo yang bodoh, gue sudah tawarkan pekerjaan kepada lo, tapi lo tidak mau karena lo tidak percaya sama gue."
__ADS_1
"Lo nawarin gue kerjaan apa? Kerjaan haram? Gue aja gak tahu lo kerja apa, yang gue tahu lo banyak duit. Apa salah gue meragukan itu semua?" Jayden menatap sinis.
Bastian menghela nafas. Dia emang tidak pernah memberitahukan siapapun mengenai Siapa dirinya dan Apa pekerjaan dirinya.
"Gue Bastian Emanuel, pemilik sah supermarket GIANTMART yang ada di kota J dan sekarang sedang berkembang di kota B," ucap Bastian memberitahukan siapa dirinya pada Jayden.
"Apa! Lo ngimpi, onta? Mana mungkin pria macam lo pemilik perusahaan supermarket itu? Hahahaha lo ngaco." Jayden tidak percaya. Pun dengan Kyara yang sedari tadi mendengarkan juga terbelalak kaget tidak percaya. Namun, GIANTMART saat ini sedang ramai di perbincangkan dan sudah ada di beberapa tempat di kota B.
"Lo pikir uang yang sering gue hamburkan buat lo dari mana? Lo pikir gue memiliki motor, bisa foya-foya dan bisa beli mobil ini dari mana? Dari hasil usaha yang gue lakukan. Ya, gue emang tidak menunjukkan itu karena gue tidak mau orang-orang mendekati gue karena kaya. Dan lo, gue sudah menawarkan posisi kerjaan, tapi lo kagak mau, bodoh lo!" umpat Bastian seriusan sambil menoyor kepala Jayden.
Jayden terdiam. Hingga langkah tergesa seseorang menghampiri mereka. Gadis berseragam putih abu itu berlari dan langsung menghambur ke pelukan Bu Fitri.
"Ibu, Bapak!" ucapnya berlari sambil menangis.
"Maryam, kamu kenapa sudah pulang sayang? Ini bukan waktunya pulang," tanya Bu Fitri.
"Iya, Nak. Kamu kenapa menangis?" tanya pak Joko.
"Bu, Pak. Maryam tidak di bolehkan sekolah lagi karena belum bayar SPP selama tiga bulan. Padahal satu bulan lagi ujian kenaikan kelas. Kalau tidak bayar, Maryam tidak boleh ikut, pak, Bu. Maryam boleh masuk sekolah kalau bawa uang buat bayar." Gadis kelas satu SMA itu menangis dalam pelukan ibunya.
"Kau dengar cu*pang, adik lo nangis dan lo mau diam saja? Lo harusnya kerja demi bisa mengangkat derajat keluarga lo!" Bastian tidak tega mendengar Maryam menangis. Jayden diam dengan wajah kacau.
"Maryam, berapa uang SPP yang harus di bayar?" Tanya Bastian serius. Mereka menatap pada Bastian.
"Satu juta lima ratus, A." kata Maryam tersedu.
Bastian mengambil sesuatu di dalam mobil, dia mengambil tas dan ia juga mengambil uang. "Ini, besok kamu bayar uang spp kamu dan sisanya buat kamu jajan." Bastian memberikan uang sebesar dua juta kepada Maryam.
Mereka terkejut dan tidak enak hati Bastian terus membantunya.
__ADS_1
"Nak Bastian, jangan. Kamu sering membantu kami, tidak enak. Nanti kami bayar pakai apa?" kata pak Joko sedih harus bagaimana.
"Bayar dengan Jayden bekerja di perusahaan saya. Dia harus kerja!"