Terjerat Gairah Istri Tetangga

Terjerat Gairah Istri Tetangga
BAB 41


__ADS_3

"Jadi cepat tandatangani surat cerai ini atau kau hu habisi? Tapi ada bagusnya juga saat ku membunuhmu, setidaknya Kyara bisa segera menjadi janda di tinggal mati oleh pria bajingann macam lo." Bastian terkekeh dengan ucapannya sediri. Namun, di telinganya Beni terdengar seperti sebuah ancaman menakutkan.


Pria bertubuh cungkring dengan warna kulit sedikit gelap itu tidak menyangka kalau Bastian memiliki sisi lain dari orang yang ia kenal sebelumnya. Bastian yang ia kenal terlihat petakilan, mabuk-mabukan, pengangguran, tidak pernah kelihatan berantem, tapi sering keluyuran, ternyata memiliki sisi lain yang terlihat menyeramkan dan menakutkan.


Beni yang tadinya hanya santai dalam menghadapi Bastian cukup tercengang atas apa yang dilakukan pria tinggi berwajah sedikit ke bule-bule'an itu.


"Mau lo apa sampai menyuruhku menandatangani surat perceraian ini? Sudah gue katakan kalau gue tidak akan pernah bisa menceraikan Kyara. Gue cinta dia dan gua akan memperbaiki segalanya. Kalau lu mau memaksa pun percuma, Bastian." Beni masih mencoba mempertahankan keinginan dia yang tidak ingin menceraikan Kyara dengan keyakinan kalau dia bisa memperbaiki semuanya dari awal.


"Lo tidak mau menceraikan Kyara? Ok ... Candra ...!" Bastian berteriak.


"Iya, Bos." pria yang di panggil Bastian masuk dengan tergesa.


"Bawa dia ke kantor polisi! Dan pastikan dia tidak keluar sebelum masa tahanan habis. Jerat dia dengan hukuman kekerasan dalam rumahtangga."


"Baik, Bos." pria bernama Candra itu menyeret paksa Beni dalam keadaan terikat kaki dan tangan.


"Lepaskan gue, Bastian! Gue mau ketemu sama Kyara, gue mantu minta maaf, gue mau ketemu Kyara!" lengkingan Beni yang terus saja berontak tidak membuat Bastian luluh ataupun mendengarkan, apalagi iba pada permohonan Beni yang terlihat memelas.


"Meskipun gue tidak bisa buat lu menandatangani surat cerai, Kyara yang akan datang dan meminta cerai. Gue pastikan itu!"


*****


"Sialan, sekarang gue harus kembali ke rumah emak gue. Tapi gue belum puas sampai melihat Beni hancur."


"Sayang," panggil seseorang. Lisa menoleh dan ia tersenyum kala sang pria yang ia cintai ternyata ada di sana.


"Lu ngapain, Bang Juki? Tumben lu malam-malam ada di luar?" Lisa yang sedang memberhentikan motor milik Beni di tempat taman tak jauh dari tempat tinggal mereka.

__ADS_1


"Bosen berada di rumah terus. Mending gue berduaan sama lu saja." Pria bernama Juki itu duduk di samping Lisa dan langsung mepet dekat dengan Lisa.


"Tapi kenapa lu tahu juga gue ada di mari, Bang? Bukannya gue tidak hubungi lu?" Lisa heran.


"Saat gue melihat lu ke rumah sakit, gue udah ngikutin dan sekarang gue ada di sini karena ngikutin lu." Juki memeluk pinggang Lisa sambil bibir terus mengendus leher Lisa sesekali menjil*ti bagian belakang telinga. Lisa.


"Bang, ini di tempat umum." Lisa memejamkan mata kala tangan Juki mengelus pahanya dan tangannya yang menerobos masuk ke sela paha Lisa.


"Kita ke kontrakan lu saja yuk? Gue udah kangen banget pengen gituan sama lu, Lisa." Juki sudah berhasrat.


"Ya sudah dah ayo." Untuk saat ini, Lisa tidak memperdulikan masalahnya dengan Beni. Bagi dia, Beni hanyalah sebuah mainan yang akan ia balas dendam atas kematian adiknya. Karena cintanya hanya untuk Juki, pria yang sudah merawaninnya dan tentunya pria yang ia cintai.


*****


Pagi hari.


"Selamat pagi, emak, selamat pagi ayang." Bastian tersenyum hangat sehangat mentari pagi. Lalu ia menarik kursinya duduk di samping Kyara.


"Lu habis darimana, Tian? Jam segini baru balik keluyuran, habis mabuk lagi lu?" sergah Oma Mia kesal.


"Yaelah, Mak. Soudzon Mulu sama cucu. Tian kagak kemana-mana, Mak. Tian hanya membantu polisi menangkap suaminya Kyara." Tanpa rasa sungkan ataupun di tutupi, Bastian berkata seadanya sesuai yang ingin bibirnya sampaikan.


Kyara menatap Bastian, pun dengan Oma Mia yang langsung memicingkan mata.


"Kenapa? Kok kalian lihatnya gitu amat? Seperti Tian ini tersangka saja," ucap Bastian sambil menuangkan air ter hangat ke dalam gelas.


"Bukan gitu, Oma hanya heran saja lu sampai baru pulang jam segini. Mana Oma gak curiga? Lu nya aja sering keluyuran malam," kata Oma Mia sambil membawa sarapan pagi untuk mereka makan.

__ADS_1


"Semalam pihak kepolisian minta bantuan sama Tian untuk membantu mencari Beni, Mak. Tian yang memang bertetanggaan dengan Kyara tentu saja mau bantu polisi. Malahan, semalam Tian Sama Beni sempat berantem gara-gara Beni memberontak." Dengan santai Bastian memberitahukan alasan yang bisa masuk akan.


"Padahal bukan polisi yang nyari, tapi gue yang nyari dan hajar dia."


"Terus sekarang bagaimana? Udah ketangkap?" tanya Oma, tapi Kyara masih diam mendengar, tapi mulut mengunyah nasi goreng secara perlahan.


"Semalam juga sudah, ketangkapnya pas jam tiga pagi karena Beni sempat kabur. "


"Pinter banget gue merangkai kata demi mendramatisir keadaan. Bastian, your is the best. Eh, artinya apaan ya pemirsa?"


"Alhamdulillah, syukurlah kalau dia ketangkap. Oma takut kalau masih berkeliaran akan kembali mencari Kyara dan menyakitinya." Oma Mia sedikit lega karena merasa itu adalah jalan terbaik buat Kyara nantinya.


"Kya, gue minta maaf karena tidak bilang dulu sama lu, gue hanya tidak ingin dia mencuri lu lagi dan menyakiti lu. Para warga juga sudah tahu kalau lu jadi korban kdrt dan ikut menjadi saksi atas apa yang lu alami. Beni saat ini di penjara dan kemungkinan akan mendapatkan pemeriksaan sesuai prosedur polisi. Nah, kalau lu jadi korban, ku tidak boleh takut demi masa depan lu sendiri. Ini bukan masalah cinta, tapi masalah harga diri lu sebagai wanita dan juga perlakuan beni memang harus dipertanggungjawabkan karena kdrt dalam rumahtangga ada pasalnya, apalagi ini mengakibatkan satu nyawa melayang dan iku hukumannya berat. Beni bisa terjerat 10 tahun sampai 15 tahun penjara." Bastian menggenggam tangan Kyara yang ada di samping sambil menatap lekat mata Kyara yang tertunduk menyembunyikan wajahnya sendinya dan air mata yang ingin keluar begitu saja.


"Kau tidak keberatan kan kalau aku melaporkan Beni?" Bastian harap-harap cemas karena ia bertindak tanpa meminta izin dulu kepada kyara selalu korban kekerasan dalam rumah tangga.


Kyara menggelengkan kepalanya, tapi air matanya jatuh menetes membasahi tangannya yang kebetulan ada di bawah wajah Kyara sendiri.


"Terus kenapa kamu nangis? Apa kamu tidak rela suami kamu di penjara?" tanya Oma Mia. Lagi-lagi Kyara menggelengkan kepalanya.


"Bukan itu yang aku tangisi Oma, tapi aku sedih karena akibat ulah bang Beni calon anakku tiada." Tangis Kyara kembali pecah kala mengingat janin yang tak berdosa sudah tidak ada didalam rahimnya. Tentu saja itu hal yang paling menyakitkan daripada sekedar pukulan dari suami.


Bastian perlahan menarik tubuh Kyara kedalam pelukannya. Dia mengusap lembut punggung Kyara. "ikhlas kan dia, Kya. Allah lebih sayang pada dia dan kamu masih bisa mendapatkan bayi lagi kalau kamu mau menikah dengan ku."


"Bastian Emanuel!" sang Oma sudah melotot.


"Apaan sih, Mak. Tian serius kok, kalau Kyara udah cerai dari laki bejatnya, Tian akan langsung nikahin dia. Soalnya Tian udah terjerat sama istri tetangga." Tanpa tahu malu Bastian mengakui perasaan yang memang sudah jatuh hati pada Kyara sejak pertama kali mereka bersentuhan.

__ADS_1


"Bastian ..."


__ADS_2