Terjerat Gairah Istri Tetangga

Terjerat Gairah Istri Tetangga
BAB 7.


__ADS_3

Kyara menunggu kepulangan suaminya. Sudah satu bulan ini dia gelisah seorang diri atas kehamilan yang ia alami. Dia diam mematung dengan mata terpejam mencari tahu kebingungan yang ia rasakan.


Satu bulan yang lalu.


Sinar matahari menyeruak masuk melewati jendela kamar dan cahayanya tertuju pada Kyara. Karena cahaya itu, Kyara merasa terganggu dan ia perlahan membuka matanya. Dia memicingkan mata menutupi cahaya yang langsung pada matanya.


"Hmm silau," gumam Kyara terbangun dari tidurnya. Dia pun mendudukkan bokongnya dan matanya perlahan terbuka sempurna. Namun, ia tertegun kala menyadari kamar yang tidak ia kenal.


"Loh, aku dimana? Di rumah siapa ini?" Kyara mengedarkan pandangannya dan ia segera menyibak selimutnya dan memperhatikan setiap tubuhnya. Nafasnya lega karena baju yang ia kenakan masih lengkap. Namun, Kyara memegang kening kala rasa pening kembali datang.


"Apa yang terjadi padaku?" gumam Kyara tidak tahu apa yang terjadi.


Namun, satu bulan setelah kejadian itu, Kyara sering merasakan mual dan pusing serta nafsu makan Kyara semakin bertambah.


Dia yang tengah menyapu merasa pusing dan kepalanya pusing banget. Hingga ia ingin jatuh dan Beni segera menangkapnya.


"Kau kenapa?"


"Aku tidak tahu, kepalaku rasanya pusing sekali, Bang." Kyara memegang kepalanya dan ia terus saja merasa mual.


Kyara berlari ke kamar mandi dan ia memuntahkan segala isi dalam perutnya.


Khwueekk ... khwueekk ... khwueekk ...


Wajah Kania pucat dan ia terus saja muntah-muntah membuat Beni khawatir. Jika mengingat Beni, pada malam itu Kyara tidak lagi membahasnya karena Beni tiba-tiba baik dan tidak lagi meminta uang, tidak lagi keluyuran, dan tidak lagi mabuk-mabukan. Sehingga Kyara memaafkan dan tidak membahas masalah di club.


"Kita periksa saja ke dokter, ya. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa."


"Tidak perlu, Bang. Mungkin aku masuk angin saja." Kyara menolaknya.


"Tidak, Abang tidak akan biarkan kamu sakit. Kita pergi periksa." Beni memaksanya dan Kyara tidak bisa menolak ajakan Beni.


*****

__ADS_1


Tibalah Kyara dan Beni di salah satu klinik terdekat tidak jauh dari rumahnya. Kyara pun melakukan serangkaian periksa mulai dari menimbang berat badan, mengukur tensi darah, hingga sang bidan menanyakan apa saja keluhan yang Kyara rasakan. Kyara menyebutkan keluhannya.


Dan Kyara di suruh berbaring di atas Brangkar. Kyara sudah merasakan sesuatu dan ia berpikir yang tidak-tidak. Antara bingung, takut, serta pikiran macam berkecamuk.


"Apa keluhan yang anda alami?" tanya Dokter sambil memeriksa perut Kyara.


"Sudah lebih dari satu minggu ini saya telat menstruasi, Dok. Saya juga sering muntah, pusing dan badan saya lemas?" Kyara menjawab apa yang ia rasakan.


Dokter itu tersenyum, dan dia menyuruh Kyara kembali duduk. Kyara sudah deg-degan tak menentu, pun dengan Beni yang juga penasaran karena ia tidak bisa mendengar apapun sebab Kyara berada di ruangan pemeriksaan.


"Saya ucapkan selamat kalau Anda dinyatakan hamil dan perkiraan usia kandungannya kurang lebih satu bulan. Anda bisa memastikan kembali dengan cara mengetes pakai alat pengecek kehamilan atau bisa langsung periksa ke rumah sakit untuk mengetahui lebih detail tentang hasilnya." Dokter Sari memberikan saran jikalau Kyara masih meragukannya dan dia juga memberikan sebuah alat pengecek kehamilan.


"Hamil?" ujar Beni nampak terkejut.


"Cobalah ini dulu agar Anda bisa mengetahui nya!" kata dokter meminta Kyara menggunakan alat tes kehamilan itu.


Tangan Kyara gemetar menerima alat itu dan iapun segera pergi ke toilet memeriksa hasilnya. Setelah menunggu beberapa menit hasilnya sudah keluar. Kyara mengangkat alatnya guna melihat hasilnya dan dia tak kuasa meneteskan air mata di kala alat itu menunjukan garis dua. Dia mengerti artinya dan dia pun mengusap perutnya.


"Aku hamil," lirih Kyara menangis haru sebab apa yang ia inginkan akan terwujud.


"Bagaimana hasilnya?" tanya dokter.


"Garis dua, dok." Kyara menjawab.


"Jadi itu artinya istri saya hamil?" tanya Beni dengan raut wajah dingin sulit terbaca.


"Benar, Pak. Selamat ya."


*****


Namun, ketika di rumah Beni malah bertanya tentang kehamilan Kyara. "Kenapa kamu bisa hamil hah?"


"Bang, aku hamil karena kita memang melakukannya bukan? Lalu apa salahnya kalau aku ini hamil?"

__ADS_1


"Salah, salah besar! Kalau kamu hamil aku tidak bisa menceraikanmu!"


Deg.


"Apa yang kamu katakan, Bang? Menceraikan ku? Kamu jangan ngawur."


"Tadinya aku mau melepaskan mu karena aku muak denganmu, tapi kalau kau hamil itu artinya aku tidak bisa berpisah darimu."


Beni pergi dengan rasa marah yang mendera. Kyara mematung tidak percaya jika reaksi suaminya akan seperti ini. Ini bukan yang ia inginkan dan ini tidak pernah terbayangkan olehnya. Seketika air mata Kyara menetes teringat kembali malam dimana ia memergoki suaminya dengan wanita lain.


Kyara tersadar dari lamunannya kala mendengar suara pintu di banting.


Blug!


Kyara menoleh dan ia melihat suaminya baru pulang. "Bang, kamu baru pulang? Darimana saja? Kenapa dua hari ini kamu tidak pulang ke rumah? Abang juga bau alkohol, Abang minum lagi? Ini juga bau parfum wanita, Abang habis ngapain dengan wanita itu?" Kyara mencium bau alkohol saat di dekat suaminya.


"Lu bisa diam kagak sih, hah? Gue baru pulang bukannya di sambut baik-baik malah banyak pertanyaan dari mana? Dengan siapa? Habis apa? Ini bukan urusan lu, Kyara. Terserah gua mau darimanapun ini urusan gua." Beni membentak Kyara dan ia melangkah ke dapur mengambil minuman air putih.


"Aku berhak tahu kemana Abang pergi sampai pulang malam dalam keadaan mabuk begini? Aku istri Abang jadi aku berhak tahu apa yang Abang lakukan di luaran sana." Meskipun ia tahu, tapi Kyara akan berusaha mempertahankan di saat ada kehidupan yang bersemayam di rahimnya.


"Elu emang bini gua, tapi gua muak dengan pernikahan ini. Kalau bukan karena anak yang lo kandung, gua tidak akan pernah mau mempertahankan lo!"


"Kenapa Abang jadi begini? Hiks hiks. Bisakah kau berhenti berjudi, mabuk-mabukan, dan tidak keluar malam lagi."


"Jangan mengaturku!" sentak nya. "Sudahlah, daripada tiap hari dengerin lu ngoceh mending gue pergi main kartu remi di pos sana." Beni kesal dan ia kembali lagi berjalan ke pintu.


"Bang, jangan main judi lagi dan jangan pergi lagi." Kyara mencegah suaminya keluar rumah. Namun suaminya mendorong tubuh wanita itu sampai mundur dan membanting pintu.


Blug!


"Gue pusing denger ocehan lu, Kyara. Pusing gue dengernya!" pekik Beni pergi dari sana.


Kyara mengejarnya, "Bang jangan pergi lagi, Bang!"

__ADS_1


Namun, saat itu ia mendengar suara dari sebelah. Dan Kyara menghapus air matanya dan ia melihat.


"Kalian nguping?"


__ADS_2