
"Karung beras, gue tanya ngapain lo di mari? Bukannya di depan malah mojok di belakang, nangis lagi. Heran deh gue."
"Bukan urusan lo. Lo juga ngapain di mari? pergi sana! Jangan ganggu gue, gue gak butuh gangguan dari cowok playboy kadal seperti lo." Nurma menghapus air matanya.
"Dih, ge'er banget mau gangguin Lo. Gak ada dari sananya gue ganggu karung beras kayak lo. Mending gue ganggu janda saja daripada lo, si gendut menor kayak ondel-ondel."
Nurma menoleh melotot tajam "Apa lo bilang? gue menor kayak ondel-ondel? Wah lo parah banget ngatain gue kayak gitu. Gue dandan cakep kayak gini buat nyenengin laki gue, eh malah dia kawin lagi huaaa." Nurma malah menangis meraung.
Jayden gelagapan, ia takut orang-orang dengar dan menuduhnya aneh-aneh. "Eh, eh, malah nangis kejer." Jay celingukan dan ia membekap mulut Nurma, lalu mendorongnya ke dinding dengan ia berada di depan Nurma.
"Berisik, lo mau kita di grebek warga kampung gara-gara tangisan lo yang super duper cempreng kayak kaleng rombeng. Lo tahu kan ini di pesta pernikahan? Jangan cengeng deh lo."
Nurma menginjak kaki Jay dan mendorong tubuh pria itu. "Hei, lo mau bunuh gue? Mana tangan lo bau terasi lagi, kurang ajar banget jadi laki. Dari dulu selalu saja seenaknya, dasar kadal buntung." Nurma kesal mengusap-usap bibirnya yang habis di bekap Jay.
Pria itu cengengesan menggaruk tengkuknya, "hehe, gue emang abis makan sama sambal terasi. Mungkin baunya masih nempel di tangan."
Nurma mendelik, "minggir lo, dasar Playboy sialan. Bukannya tenang malah bikin gue pusing dengan tingkah lo yang kurang ajar gitu."
"Harusnya lo bersyukur gue datang kemari dan ngajak lo ribut, jadi lo tidak lagi sedih gara-gara si pria kurang ajar itu. Lagian, cewek yang laki lo nikahi kekasih gue," ujar Jay sendu.
"Hmmfff, dia cewek lo? Hahahs mana ada? Gak percaya gue, paling juga halu lo yang ketinggian. Emangnya ada cewek yang mau sama cowok playboy Casanova macam lo? Gak ada. Dari SMA aja lo udah jadi playboy kurang ajar, apalagi sekarang, pasti banyak cewek yang udah lo jelajahi."
Pletak!
"Sakit Cu*pang!" seru Nurma mengusap kepalanya.
"Kagak kurang ajar banget gue mah. Paling juga tiga bulan sekali gue cas nih si Otong, gak sering juga karung beras."
"Dih, malah curhat. Gak peduli gue. Minggir! Gue mau balik ke depan." Nurma menubruk bahu Jayden buat ke depan lagi. Namun, tangannya di cekal.
"Lo mau ke depan dalam keadaan kacau?" Jay menuntun Nurma untuk mendekat padanya, lalu ia menghapus lipstik yang belepotan akibat Nurma sendiri yang tadi mengusap-usap bibirnya.
__ADS_1
"Lipstik lo belepotan, maskara lo luntur, kalau lo ke depan yang ada lo diketawain orang. Udah gendut, jelek lagi." Ucapnya perlahan membenarkan makeup Nurma menggunakan sapu tangan lembut yang ia bawa.
Nurma terkesiap dengan apa yang dilakukan Jayden padanya. Pria itu sedikit perhatian padanya meski ia tahu kalau Jay melakukan itu hanya sekedar peralihan terhadap rasa kecewa yang Jay alami. Nurma bisa merasakan kalau pria ini juga sedang patah hati.
"Sudah, biar gue saja yang benerin di kamar mandi. Gue takut lo malah nyosor kayak siang lagi," ucap Nurma melangkah mundur lalu masuk ke kamar mandi.
"Dih, mana ada gue nyosor sama karung beras kayak lo. Yang ada gue tertimpa karung goni." Namun, Jay lebih lega Nurma tidak sesedih tadi. Dia kembali lagi ke depan untuk menganti prasmanan.
*****
"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Bastian sedang mengantri untuk memberikan ucapan selamat pada Ningsih dan Bagas.
"Aku ingin sate sama ikannya. Nasinya sedikit saja."
"Nanti aku yang ambilkan ya, kamu cukup ada di depan aku saja pegang piringnya."
"Mana bisa gitu, sekalian saja aku yang ambil."
"Eh, ada berandalan pengangguran di mari. Masa kondangan pakai baju kaos saja? Gak punya baju ya? Dih kasihan banget, pengangguran macam kamu gak akan bisa beli baju mahal," ucap Pak Kades menghina penampilan Bastian.
"Eh, ada pak kades rempong. Gak malu ya kades kok ngomongnya nyerocos kayak perempuan, kenapa tidak pakai rok saja pak? Punya mulut laki kok kayak banci, bawel." Balas Bastian berani melawan.
"Kau ...!"
"Pak sudah, jangan buat keributan, malu di lihat orang. Biarkan anak miskin ini bicara apa saja yang penting kita jadi ketularan makin kaya punya besan macam pak Badru," ucap istrinya Pak Cahyo.
"Eh, Bu. Saya peringatkan Anda untuk mendidik cucumu yang kurang ajar itu!" ucapnya pak Cahyo pada Oma Mia.
"Hmm nanti deh setelah prasmanan selesai. Sekarang saya lapar mau makan gratis tis tiiiis," balas Oma nyelonong melewati pak kades.
"Mereka sungguh bikin kesal."
__ADS_1
Lalu, giliran Jayden dan orangtuanya yang maju.
"Eh ada si miskin playboy Casanova di mari. Pasti kalian cuman mau numpang makan saja kan? Isi amplopnya juga paling sepuluh ribu, gak sebanding dengan harga makanan yang nanti kalian ambil," cibir istrinya pak kades.
"Bu, pak, maju saja. Jangan hiraukan ocehan orang." Jay menyuruh ibu dan bapaknya untuk tetap maju ke depan tanpa membalas perkataan Pak kades.
"Nah kan, kalau gini berarti emang numpang makan. Tapi, karena saya kaya dan ini hari bahagia, maka makanlah yang banyak, mau di bawa pun gak apa-apa, saya kan kaya."
"Yakin boleh di bawa pulang? Kan saya ini miskin loh, pak. Bapak kan tahu orang miskin macam saya jarang makan enak." Jay tersenyum tipis merencanakan sesuatu.
"Itu dia, karena kau miskin jadinya saya beri makanan gratis."
"Ok baiklah." Lalu, Jay berteriak. "Hadirin semuanya, bapak-bapak ibu-ibu, adik-adik, kakak-kakak semua yang ada di sini."
"Hei kau mau ngapain hah pakai teriak segala?" ujar istrinya Pak kades.
Teriakan Jayden mengalihkan perhatian banyak orang.
"Si Jay kenapa tuh?" ucap Kyara.
"Gak tahu, paling juga mau nyuruh orang ambil makanan buat di bawa," balas Bastian sambil mengambil sate lalu menyimpan ke piring Kyara.
"Hadirin sekalian, Kata pak kades, karena ini acara orang kaya dan juga acara juragan Badru orang kaya sekecamatan, maka kalian bebas mengambil makanan buat di bawa pulang."
"Kau .. bukan begitu." Pak Cahyo udah kesal. Pak Badru langsung melotot ke arah Cahyo.
"Wah, pak kades dan pak Badru baik bener. Kalau gitu saya mau bungkus buat anak saya."
"Saya juga mau ah."
Dan banyak yang serempak ingin membungkus makanan prasmanan. Dari rumah ada yang bawa plastik buat naruh makanan, ada yang bawa tas gede buat masukin kue, dan macam-macam lagi.
__ADS_1
"Aduh gustiii, bisa tekor ini mah." Jerit istrinya pak Cahyo.