Terjerat Gairah Istri Tetangga

Terjerat Gairah Istri Tetangga
Bab 47.


__ADS_3

"Ngapain lo gelisah galau merana? Gue kira playboy macam lo gak akan ngerasain itu. Perasaan lo Casanova cap badak yang tidak pernah galau, eh sekarang bilang Gegana, Herman deh gue," ujar Bastian lalu menyeruput secangkir kopi susu. Keduanya berada di depan rumah Bastian dengan mata Bastian yang tak lepas memperhatikan kedai soto milik Kyara di sebrang jalan.


"Ningsih mau nikah, onta. Gue galau karena bakalan patah hati. Apa yang harus gue lakukan buat menghalangi pernikahan mereka? Gue cinta sama Ningsih." Jayden mulai curhat tentang perasaannya yang sedang gelisah.


"Yakin lo cinta sama Ningsih? Gue rasa itu bukan cinta deh, soalnya dulu Lo pernah bilang ingin menaklukan Ningsih yang nyatanya tidak pernah lirik lo. Eh, sekarang sudah suka, tapi gue meragukan." Bastian menyimpan lagi cangkir yang ia pegang ke atas meja.


"Gue beneran suka sama dia, onta. Besok dia nikah sama juragan sawah itu, rasanya ka tung gue pengen nangis dan terasa di tusuk seribu jarum."


"Dih, lebay amat lo. Biasanya playboy cu*pang kayak lo gak pernah tuh galau, eh sekarang malah galau. Daripada lo mikirin Ningsih yang tidak mungkin lo dapatkan karena terhalang restu kepala Desa itu, mending lo cari wanita lain. Janda juga tak mengapa yang penting perempuan. Kalau laki baru jangan."


"Lo nasehatin gue suruh lupakan Ningsih? ah, gue mana bisa onta. Gue sungguh kepincut gadis kepala Desa." Jayden resah sendiri jadinya. Ia yang memang Playboy Casanova, tapi cintanya hanya untuk Ningsih seorang. Ya, sekalipun ia pernah jatuh cinta, tapi sekarang malah suka sama Ningsih.


"Daripada hidup lo terus dihina-hina sama bokapnya mending cari wanita lain yang masih bisa mencintai lo dan orang tuanya bisa nerima lo apa adanya." Bastian memberikan saran.


Jayden bangkit dari duduknya berjalan dua langkah ke depan. "Tapi itu sangatlah sulit, Onta. Mana mungkin gue secepat itu melupakan Ningsih dan bisa menemukan wanita yang mau sama gue apa adanya selain Ningsih? Lo kan tahu sendiri bagaimana kehidupan gue, kotor Bro." Jayden menghela nafas.


Dari sebrang jalan nampak seorang wanita gendut di tarik-tarik secara paksa oleh pria yang terlihat tua. Hal itu di perhatikan oleh Jayden.

__ADS_1


"Ada, gue yakin ada. Tinggal nunggu waktu yang tepat saja. Pasti suatu hari nanti lo bakalan ketemu wanita lo." Bastian pun ikut berdiri memperhatikan ke depan.


"Sepertinya wanita itu di paksa. Kita ke sana," sambung Bastian melihat gelagat aneh. Bastian mendekatinya.


"Aku tidak mau pulang, pak. Aku tidak ingin kembali ke rumah suamiku. Aku mau pisah darinya, aku tidak bisa hidup dalam rumahtangga penuh kebencian. Mereka membenciku dan juga tidak memperlakukan ku dengan baik," ucap seorang wanita gendut. Mungkin memiliki ukuran tinggi bada 155 cm, dan berat di perkirakan tujuh puluh kilo gram.


"Kalau kamu tidak pulang bapak sama ibu pasti akan kena masalah, Nurma. Buruan balik ke rumah suami kamu!" bentak bapaknya Nurma.


"Kenapa harus aku yang mengalah, pak? Aku udah lelah tinggal bareng mereka yang sok berkuasa itu. Aku capek harus jadi sapi perah yang hanya dimanfaatkan saja oleh kalian. Bapak sama ibu tidak sayang sama aku, suamiku, mertuaku juga tidak sayang sama aku. Jadi untuk apa aku kembali ke keluarga itu? Untuk terus bekerja di sana?" Wanita bernama Nurma itu menangis menolak kembali pulang ke rumah suaminya. Ada alasan lain yang membuat Nurma enggan kembali.


"Kau mau melawan bapak hah? Kau tahu kita punya banyak utang sama juragan Badru, jadi kau nurut saja!"


"Bapak tidak mau tahu, kamu harus kembali padanya!"


"Apa-apaan ini? Kenapa kau begitu kasar pada wanita pak? Tidak lihat anak Anda begitu kesakitan dan menolak tegas permintaan Anda? Kasihan Nurma," kata Bastian menghampiri keduanya yang sedang di perhatikan oleh beberapa pasang mata. Kyara yang sedang menyajikan soto juga ikut penasaran dan keluar kedai untuk mencari tahu keributan apa yang terjadi di depan kedainya?


"Lu jangan ikut campur bocah semprul! Ini urusan orang lain, urus saja urusan lu sendiri jangan ikut campur!" sentak Bapaknya Nurma.

__ADS_1


"Tapi cara Anda keterlaluan memaksa wanita gendut ini mengikuti perintah Anda. Apalagi dengan cara ditarik seperti itu membuatnya tidak akan bisa gerak. Lihat saja badannya gede," ucap Jayden membuat wanita itu melotot seakan bila matanya ingin loncat dari mata.


"Apa lo bilang? Gue gede? Ya gue ang gede segede kulkas dua pintu puas Lo!" balas Nurma.


"Mending sekarang kita pulang!" sentak Bapaknya Nurma menyeret kembali lengan anaknya sampai Nurma meringis kesakitan.


"Jangan kasar, Pak. Ka ..."


"Diam kalian semua! Ini urusan saya, kau pria pengangguran tidak usah ikut campur!" bentaknya pada Bastian. Lalu kembali memaksa Nurma ikut dengannya.


"Dih, jadi bapak galak amat ya, itu badan gede gitu masa bisa di tarik-tarik sih? Herman deh gue," celetuk Jayden.


"Dian lo cup*ang. Bukannya bantu dia lepas dari bapaknya supaya tidak di sakiti malah ngatain. Gue sumpahin lo akan berurusan dengan dia terus, kalau perlu gue sumpahin lo terjerat istri tetangga dan tetangganya wanita gendut itu," ucap Bastian seriusan.


"Enak saja, gak mau gue sama cewek gendut punya laki macam si Nurma, ogah! Nauzubillah amit-amit." Mulut Jayden komat Kamit berharap tidak bertemu lagi dengan Nurma dan tidak berurusan dengan wanita itu.


"Sekarang amit-amit, nanti jadi imut-imut. Awah baper sama Nurma." Bastian meledek senang bisa mengerjai rekannya.

__ADS_1


"Ogah!!"


__ADS_2