
"Pak, izinkan saya menikahi Ningsih!" Jayden tak juga menyerah dengan pendiriannya.
Pak Cahyo marah dan ia kesal karena pemuda itu terus saja berada di rumahnya dan memohon meminta Ningsih. Saking kesalnya, Cahyo berdiri mendekati Jayden kemudian menarik tangannya dan mendorong tubuh Jayden sampai pria itu keluar dari rumahnya.
"Pergi kamu dari rumah saya dan jangan pernah kembali lagi ke sini! Jangan ganggu anak saya atau kamu akan saya kasih pelajaran! Sekarang pergi!" sentak Cahyo sambil membawa gagang sapu hendak memukul Jayden.
"Aku akan tetap di sini menunggu Ningsih datang sampai kalian juga merestui lamaran ku!" Jayden tidak ingin pergi. Dia kekeh dengan pendiriannya untuk mendapatkan sebuah restu dari kedua orang tua wanita pujaannya.
"Kamu itu ngeyel ya jadi anak. Sampai kapanpun saya tidak setuju! Kau dengar tidak, hah? Sampai musim tai ayam di lebuan juga saya tidak akan merestui anak saya menikah dengan pria miskin dan Casanova seperti mu! Terkecuali kau menjadi kaya raya, baru saya akan merestui!" sentak Cahyo menggema sampai mengundang perhatian para warga yang ada di sana dan seketika berkumpul melihat perdebatan Cahyo dan Jayden. Cahyo malah bilang kalau Jayden kaya raya baru akan merestuinya.
"Ada apa ini? Kenapa kamu teriak-teriak Cahyo?" tanya tetangga yang ada di sana.
"Diam kalian semuanya! Jangan ada yang ikut campur dengan urusanku! Kalian semua pergi dari sini termasuk kau Jayden!"
"Saya tidak akan pergi sebelum Anda dan ibu ayu menyetujui lamaran saya!" kata Jayden begitu tegas dan lantang buat mereka yang ada di sana menjadi mengerti akar permasalahan dari kerusuhan yang terjadi.
Sedangkan didalam kamar, Ningsih sedang menangis memohon kepada ibunya untuk membuka pintu dan membiarkan dia menyusul Jayden.
"Bu, Ningsih mohon restui Ningsih, Bu. Ningsih cinta sama dia dan Ningsih ingin bersamanya. Tolong biarkan dia menjadi suami Ningsih, Bu." Wanita yang hanya beda satu tahun dengan Jayden itu tengah memohon kepada ibunya untuk membiarkan dia keluar. Namun, sang Ibu tidak mendengarkannya dan malah diam tanpa merespon Ningsih.
"Bu, Ningsih mohon?"
"Ningsih dengarkan ibu, kami melakukan ini untuk kebahagiaan kamu sendiri dan masa depan kamu sendiri. Kalau kamu mau menikah dengan anak juragan sawah kehidupan kamu akan terjamin. Sedangkan dengan Jayden, kamu hanya akan menjadi wanita rumahan yang kekurangan. Percaya sama ibu dan bapak kau pilihan kami berdua tidaklah salah."
"Tapi, Bu..."
__ADS_1
"Kamu mau jadi anak durhaka karena melawan ibu dan bapak, hah? Kakak kamu saja yang menikah karena perjodohan sangatlah bahagia dan terlihat baik-baik saja. Masa kamu tidak bisa bahagia bersama anak juragan sawah? mau tidak mau suka ataupun tidak suka kamu harus menikah dengan orang pilihan kami!" lalu, Ayu beranjak Pergi meninggalkan Ningsih.
Ningsih mengejarnya, tapi Ayu sedikit mendorong tubuh anaknya dan mengunci kembali pintu kamarnya.
*****
Seorang wanita muda berlari ke rumah yang ada di dekat sawah dengan tergesa. Rumah yang hanya sepetak dengan miniatur bambu di anyam menjadi bilik dan juga gubuk.
"Pak, Bu," pekiknya.
Seorang pria pria tua yang tengah duduk di kursi bambu menoleh dan keheranan melihat teman anaknya sedang berlari.
"Neng Ayu kamu kenapa berlari?" tanya pak Joko bapaknya Jayden.
"Iya, Neng. Ada apa?" balas Ibu Fitri.
"Dimarahi? Kok bisa sampai dimarahi oleh Pak kades?" tanya Pak Joko.
"Katanya A Jayden melamar Ningsih, tapi ditolak sama keluarganya Ningsih."
"Apa?"
*****
Panti asuhan.
__ADS_1
"Berhubung sudah selesai, kita pulang ya bu, adik-adik," kata Kyara sudah puas bermain dengan anak-anak.
"Yah, padahal kita masih kangen sama kak Kyara," ucap salah satu dari sekian banyak anak yang merasa kecewa Kyara pulang.
"Iya, soalnya kami ingin bermain, belajar, dan bobo sama kak Kyara," timpal anak kecil.
"Adik-adik, lain kali Kakak bakalan main lagi ke sini. Jangan sedih ya, nanti kalau ke sini lagi kakak janji akan membawakan makanan, mainan yang banyak buat kalian," ucap Kyara membujuk.
"Beneran ya bawa mainan lagi?"
"Iya, pasti itu iya 'kan kak Bastian?" tanya Kyara pada Bastian yang ada di sampingnya.
"Iya, apa yang dikatakan Kak Kyara benar." Bastian tidak menolak ataupun marah jika uangnya dihambur-hamburkan demi membantu anak-anak yatim piatu, dia pasti bakalan melakukan apa yang Kyara inginkan dan berusaha membahagiakan mereka.
"Hore, kita tunggu ya Kak!"
Keseruan Kyara dan Bastian di panti asuhan membuat keduanya merasakan bahagia karena bisa berbagi dan bisa membuat tertawa anak-anak. Ada kenyamanan sendiri yang Kyara rasakan kala bersama Bastian. Ia merasa diperhatikan, merasa disayang, merasa memiliki seorang suami yang menyayanginya.
"Makasih ya sudah mau membantu mereka. Aku senang hati ini," ucap Kiara ketika sudah berada di dalam mobil dan mereka sedang menuju pulang.
"Sama-sama, demi kebahagiaan kamu akan aku lakukan Apapun itu," balas Bastian tersenyum sambil mengusap kepala Kyara.
Di perjalanan, mereka banyak mengobrol apa saja sampai Bastian mengerutkan keningnya ketika melihat kerumunan di depan rumah kepala Desa.
"Ada apa di sana? Rame banget," ucapnya penasaran. Kyara juga ikut melihat.
__ADS_1
"Eh, iya rame." Namun, Kyara memekik, "Bastian itu Jayden teman mu!" tunjuknya ke arah pria yang sedang dimarahi.
"Jayden!"