
"Kamu mau bawa aku kemana sih, Bas? Aku lagi banyak pelanggan yang harus ku layani." Kyara heran Bastian tiba-tiba menariknya keluar kedai. Entah akan di bawa kemana dia, Kyara sendiri tidaklah tahu.
"Di kedai kan ada pegawai kamu, jadi kami tidak perlu capek melayani pembeli. Hanya sebentar saja kok, tidak akan lama. Lagian aku mau mengajakmu membeli cincin pernikahan kita. Aku tidak ingin membeli seorang diri, tapi aku ingin kamu juga ikut andil dalam memilih modelnya." Jelas Bastian mengeluarkan keinginan dia sekaligus alasan dia membawa Kyara keluar.
"Kenapa harus beli cincin lagi? Kan udah ada dari Oma?" Kyara heran, apalagi cincin yang di pakai cincin turun temurun membuat dia memiliki pikiran kalau mereka tidak akan beli cincin lagi.
"Itu beda lagi sayang, cincin itu memang buat kamu sebagai simbol pemikat. Nanti, cincin itu juga akan di gunakan anak pertama kita untuk melamar kekasihnya. Ini itu cincin menikah yang memang harus kita pakai setelah menikah. Jadi, sebelum menikah kita cari cincinnya bareng. Tadinya aku mau seorang diri, tapi gak tahu kamu suka atau tidak dengan modelnya jadinya ngajak kamu. Sekalian mau mengecek lapangan kerja."
"Lapangan kerja?"
"Kantor dan supermarket."
"Oh." Kyara mengerti, ia juga penasaran kantor tempat Bastian kerja itu dimana. Karena setahunya ia tidak pernah di ajak hanya tahu nama supermarket milik Bastian saja.
Tidak lama kemudian sampai di mall. Bastian memarkirkan mobilnya, lalu turun barengan dengan Kyara yang juga cepat turun karena tidak mau Bastian membukakan pintu.
"Loh, kok kamu turun duluan? Aku kan mau bukain pintunya." Bastian sudah berada di samping pintu yang Kyara duduki.
"Gak usah repot-repot, aku tidak mau membuatmu melakukan hal itu."
"Aku tidak repot, Kyara sayang. Justru aku senang kamu repotkan dan senang memperlakukan kamu mulai dari hal kecil seperti membuka pintu mobil buat kamu. Bagiku kamu berarti dan harus di perlakukan dengan baik."
Kyara tersenyum tersipu malu. Ia mengangguk dan melingkarkan tangannya ke lengan Bastian. "Iya, lain kali kamu boleh membuka pintu mobil lagi saat aku turun. Sekarang kita masuk, katanya mau cari cincin."
"Ok, kita let's go." Bastian dan Kyara pun melangkah secara beriringan.
*****
"Kamu suka cincin yang mana?" tanya Bastian ketika sudah berada di toko perhiasan langganan mamanya. Di hadapannya sudah banyak sepasang cincin pernikahan dengan bentuk dan model berbeda sesuai ukuran jari tangan Kyara dan Bastian.
Mata Kyara berbinar kagum kala melihat aneka macam perhiasan. "Semuanya bagus, Bas. Aku bingung memiliknya. Yang ini model cincinnya simpel namun juga elegan. Yang ini terlihat manis dan juga sangat mewah. Yang itu ... yang ini ... ah semuanya bagus Bastian. Aku bingung." Kyara di lema memilih cincin nikah.
"Kamu pilih sesuai yang kamu inginkan. mau semuanya pun boleh."
"Kalau semuanya tidak mungkin, jari yang yang kita gunakan buat pakai cincin nikah hanya satu. Tapi, aku terpesona sama cincin yang itu." Kyara menunjuk pilihannya pada sepasang cincin dengan butiran berlian kecil di atasnya. Desain yang pas untuk dia dan juga Bastian, simple namun elegan.
"Mas, boleh lihat cincin yang itu?" pinta Bastian meminta penjualnya buat mengambilkan.
__ADS_1
"Bisa Mas." Lalu pemiliknya mengambil dan memperlihatkan pada Kyara dan Bastian.
"Mana jari kamu," ucap Bastian meminta tangan Kyara.
Kyara memberikan tangannya, lalu Bastian mengambil cincin bagian wanita dan memasangkannya. "Pas, pilihan kamu pas banget di tangan kamu."
Lalu, Bastian mencoba bagian pria. "Eh, pas juga." Senyum dari pria itu merekah sempurna kala cincinnya ternyata pas banget.
"Aku suka yang ini," kata Kyara.
"Mas, saya pilih yang ini saja." Dan pilihannya sendiri pun jatuh pada pilihan Kyara.
*****
"Sekarang kita mau kemana lagi?" tanya Bastian setelah membeli cincin. Mereka masih saling bergandengan tangan berjalan beriringan.
"Aku lapar, cari makan yuk."
"Boleh, ayo." Dan keduanya mencari keberadaan restoran yang ada di sana. Setelah menemukannya mereka mencari tempat duduk.
"Kamu mau pesan apa?" Bastian sedang melihat-lihat menu makanan.
"Bastian kau di sini?" ujar seseorang memotong ucapan Kyara.
Bastian mendongak, pun dengan Kyara yang juga mendongak. "Seli! Ngapain lo dimari?"
"Ini tempat umum Bastian, pastinya sedang makan lah." Seli, mantan kekasihnya Bastian langsung duduk tanpa izin di sana. "Sudah lama tidak bertemu kamu, eh sekarang bertemu lagi. Kau masih terlihat tampan saja."
Kyara manyun memperhatikan wanita menor itu. "Siapa dia? Kenapa dia kenal Bastian?"
"Gue dari dulu emang tampan, lo nya saja kemana, baru lihat gue tampan ya."
"Ishh, gak gitu juga. Cuman sekarang kamu makin tampan setelah putus dariku."
"Putus!" cicit Kyara terbelalak. Sekarang ia tahu kalau wanita ini adalah mantan kekasihnya Bastian.
"Iya, kita memang sudah putus. Dia mantan ku sayang, tapi kamu tenang saja karena sekarang cintaku hanya untukmu seorang. Lagian dulu aku hanya terpaksa menerima dia yang mengejar ku." Bastian tersenyum ramah sambil menggenggam tangan Kyara.
__ADS_1
"Hei, mana bisa begitu. Bukannya kau yang dulu menembakku."
"Dih, ngaku-ngaku. Dulu lo yang duluan nembak di depan orang, gue hanya kasihan saja jika nolak, jadinya nerima lo. Eh, pacaran saja lo cuman manfaatkan gue, minta ini itu sedangkan lo main serong sana sini." Dengan entengnya Bastian bicara masalah dulu karena memang itu kenyataannya.
Seli terbelalak. "Bagaimana dia tahu kalau dulu gue juga selingkuh saat pacaran sama dia. Sekarang gue nyesel putusin dia karena tidak ada yang mau membayar belanjaan ku."
"Tapi sekarang aku menyesal. Ternyata kamu lebih baik dari banyak pria. Kita balikan yuk?" tanpa tahu malu Seli minta balikan pada Bastian dihadapan Kyara.
"Hei, mbak-mbak menor yang mukanya kayak ondel-ondel, enak sekali lo minta balikan sama calon suami gue. Mau balikan? sini lawan gue dulu!" Kyara nyolot memperlihatkan wajah garangnya.
Bastian mengulum tawa kala Kyara bilang Seli ondel-ondel. Ia suka cara Kyara mengklaim dirinya sebagai calon suami.
"Heh, emangnya lo siapa sok mau lawan gue? Lo itu tidak ada tandingannya dengan guru yang jelas-jelas lebih dulu tahu Bastian luar dalam." Seli tidak mau kalah.
"Luar dalam?" Kyara melirik ke Bastian.
"Luar saja, dalamnya hanya kamu seorang yang tahu sayang, sumpah demi Tuhan." Bastian tahu kemana arah pikiran Kiara dan dia tidak ingin membiarkan calon istrinya salah paham atas perkataan Seli.
"Hahaha luar dalam? Emang nya lo tahu dalaman Bastian? Gue yakin kalau lo belum pernah lihat, bahkan belum pernah di cium kan?" Kyara menyeringai.
"Dih, calon bini gue ngomongnya tanpa filter. Tapi gue suka dia kagak lemah. Ayo Kya, tinjukin kalau gue milik lo."
"Pernah," balas Seli tersenyum sinis, tapi hati bilang tidak pernah.
"Masa? Gak percaya tuh. Mau tahu gue ini siapa?"
"Emangnya lo siapa? Anak pejabat? Bodo amat."
"Gue istrinya, lo pelakor tidak akan gue biarkan masuk kedalam rumah tangga gue!" ujar Kyara meninggi sampai membuat perhatian orang teralihkan.
"Dia bilang istri? Wih, gue suka ini."
"Kita sudah nikah jadi lo tidak usah ganggu suami gue lagi!" lalu Kyara menarik tangan Bastian.
"Loh, sayang, kita gak jadi makan?"
"Kagak, aku mau makan orang saja."
__ADS_1
"Busyet, galak amat."