
"Sudah selesai ketemu kangennya sama mereka?" tanya Bastian ketika dia dan Kyara berada di pemakaman umum tempat peristirahatan terakhir kedua orangtuanya Kyara. Kyara yang sedari tadi hanya diam mengusap batu nisan bertuliskan nama kedua orangtuanya. Setelah berdoa pun masih berada di sana membiarkan Kyara melepas rindu pada kedua orangtuanya.
Bastian mengerti
"Sebenarnya masih kangen, tapi aku juga tidak bisa lama-lama di sini. Mau buka kedai soalnya." Kyara berdiri dari jongkoknya.
"Hari ini aku tidak akan memberi kamu izin karena kita anu fitting baju pengantin."
"Loh, kok kamu gak ngasih tahu aku sih?"
"Biar cepat dan surprise saja. Lagian aku tidak mau lama-lama menunggu buat nikahin kamu. Ingin sih hari ini juga kita nikah, tapi Oma bilang satu minggu lagi karena kita bakalan mengadakan acara resepsi yang cukup megah."
"Hmmm aku ikutan apa kata mu saja." Kyara tidak menolak. Ia juga tidak mau lama-lama takut jadi fitnah.
Bastian tersenyum bahagia. "Udah gak sabar ingin meminang kamu."
"Sabar sebentar, ya." Lalu keduanya beranjak meninggalkan tempat pemakaman.
*****
"Tolong ... tolong ...!" Nurma minta tolong warga buat membantu Jayden yang terkapar lemah tidak berdaya.
Beberapa warga datang, mereka segera berlari mendekati Jay.
__ADS_1
"Ini si Jay kenapa?" tanya warga yang kebetulan tetangganya Jay.
"Pak, doa dipukuli orang. Tolong bantu dia." Nurma berharap warga mau membantunya.
"Iya, iya,l. Pak bantu angkat tubuhnya Jay." Lalu, tiga orang pria mengangkat tubuh Jay membawanya ke rumah Jay yang tidak jauh ada di sana.
Setibanya di sana.
"Bu Fitri, pak Joko!" pekik salah seorang tetangga.
"Iya tunggu sebentar!" suara pak Joko menyahuti. Lalu keluar dan terbelalak Jayden sedang duduk wajah babak belur.
"Eh, ini si Jay kenapa bonyok gini?"
"Ya sudah. Kalian boleh kembali. Sekali lagi makasih sudah bantu anak saya."
"Baik, pak Joko. Mari kami permisi dulu." lalu ketiganya pun pergi.
"Jay, lu kenapa jadi bonyok gini? Terus itu yang namanya Nurma mana? Kok gak ada di sini?" Pak Joko celingukan dan juga ingin tahu alasan anaknya babak belur begini. Untungnya Bu Fitri berada di sawah sedang mengaliri pesawahan orang yang mereka garap.
"Jay di gebukin orang gak di kenal, Pak. Jay juga gak tahu Siapa mereka dan malah tiba-tiba langsung menghajar. Kalau Nurma juga gak tahu kemana dia." Jay meringis menahan sakit di rahangnya yang terasa sakit banget.
"Assalamualaikum," ucap Nurma.
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
"Jay, ini obat buat Lo. Tadi gue ke apotik dulu buat beli obat luka di wajahmu itu." Nurma menyimpan plastik berisi obat dan salep buat Jay.
"Lo yang udah nolongin gue, makasih ya."
"Sama-sama, tapi maaf." Nurma menunduk sedih.
"Maaf kenapa Nak? Kamu yang udah nolongin Jay kenapa kamu yang minta maaf?" Pak Joko heran atas sikap Nurma saat ini.
"Pak, sebenarnya Jay di pukuli gara-gara suami saya, Bagas."
"Apa, bagas? Kok bisa si Bagas sampai mukulin Jay begini? Salahnya dimana?" pak joko memekik kaget karena setahunya Jay tidak berurusan dengan Bagas anak juragan sawah itu. Tapi kenapa sekarang anaknya di pukuli? Kan aneh.
"Bagas lakinya Ningsih?" ujar Jayden dan diangguki Nurma.
"Gue sempat dengar Bagas marah sama lo karena lo udah buat Ningsih suka sama lo dan dia marah ketika tahu jika lo adalah mantannya Ningsih. Makanya Bagas menyuruh orang buat pukulin Lo, Jay. Itulah sebabnya gue datang nyari lo suaoya hati-hati, eh lo malah udah di pukulin aja."
"Jadi Bagas yang nyuruh preman tadi?" kata Jay.
"Udah bapak bilang jangan ganggu Ningsih lagi, Jay! Lihat sekarang kamu babak telur begini karena dia dan juga Ningsih. Bapak minta lupakan Ningsih! Banyak wanita yang masih mau sama lu dibandingkan dengan Ningsih."
Seorang ayah tidak tega melihat anaknya tersakiti. Sekalipun ini menyakitkan untuk anaknya, tapi inilah yang terbaik buat semuanya.
__ADS_1