
"Yang, jangan marah napa. Aku kan gak tahu itu mantan ku datang kesana. Sumpah aku gak ngundang." Bastian takut Kyara marah padanya dan membatalkan pernikahan mereka.
"Ck, mantan terindah kayaknya sampai bisa tahu ada di sana. Lagian kamu kan memang Playboy cap badak, jadi kemungkinan masih banyak lagi mantan yang berkeliaran di sana." Kyara tidak suka ada wanita mendekati Bastian. Ia akui kalau pesona Bastian memang luar biasa daripada yang lain. Di tambah kaya, tapi menyembunyikan kekayaannya. Meskipun begitu ya tetap saja terlihat mempesona.
"Mantanku memang banyak, tapi yang benar-benar aku cinta hanya kamu seorang. Tidak ada yang lain. Malah kamu yang pertama dalam segala hal. Kamu perempuan pertama yang aku kecup dan juga sentuh. Sekalipun aku playboy, tapi aku playboy terhormat ya. Ya, aku akui nakal dalam hal mabuk-mabukan, kadang suka ke club malam, tapi hanya sekedar nongkrong saja tanpa mau menyentuh wanita di sana. Ya, aku akui juga penampilanku berandalan, tapi yang pasti aku tetap suci dalam hal begituan." Bastian berkata jujur. Ia nakal bukan berarti nakal main wanita. Ia playboy tapi bukan playboy yang sering sosor sana sosor sini. Bastian playboy hanya sebatas pacaran saja tanpa ada kegiatan lain selain pegangan tangan. Penampilannya urakan, tapi bukan berarti ia tukang main perempuan. Di cap Playboy karena memang sering gonta ganti pacar dalam tiga bulan sekali. Kadang pacaran dengan dua wanita selama tiga bulan itu. Namun, ia tahu batasan dan tahu aturan juga. Itulah didikan sang Oma dan orangtuanya. Nakal boleh, tapi merusak perempuan jangan, sekalipun itu hanya sekedar ciuman, tidak boleh.
Kyara diam tidak bisa lagi berkata apa-apa. Sebenarnya ia juga tahu dan sering dengar dari omanya Bastian maupun dari Bastian sendiri mengenai kelakuan pria yang akan menjadi calon suaminya itu. Tidak ada kelakuan fatal yang dilakukan Bastian selain mabuk-mabukan, dan itupun tidak sampai mabuk berat.
"Kyara, percaya padaku kalau aku hanya akan mencintaimu. Masalah masa laluku hanya sekedar masa lalu yang tidak mungkin aku ingat karena ada masa depan yang harus ku perjuangkan dan ku jalani. Aku tidak mungkin kembali pada masa lalu di saat ada kamu yang akan menjadi masa depanku. Sekalipun masa laluku datang, tidak akan mudah membuatku goyah. Aku memiliki komitmen bahwa siapa perempuan yang sudah ke sentuh akan menjadi pendampingku. Ternyata Tuhan itu baik sehingga membuatmu berpisah dulu, barulah menjadi milikku. Dan ketika kamu jadi milikku, tidak akan ku biarkan kamu jauh ataupun pergi dariku."
"Kamu tidak lagi menggombal kan? Perasaan mulutmu dari tadi manis mulu," balas Kyara tidak lagi bisa berkata apa-apa karena perkataan Bastian baginya terdengar serius dan mampu menyentuh hatinya.
"Tapi ada yang jauh lebih manis daripada ucapan ku. Yaitu kamu, ingin rasanya ku makan kamu," balas Bastian seraya mengerlingkan mata genit.
"Apaan sih." Kyara menoleh ke jendela kaca tak mampu menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Mobil Bastian berhenti di depan supermarket bernama Gianmart.
"Sudah sampai."
Kyara memperhatikan. "Katanya mau ke kantor, kok malah ke sini?"
"Aku mau membeli keperluan isi dapur, kebetulan di rumah udah menipis. Kalau kesedian di rumah mu menipis bisa sekalian belanja di sini. Ayo."
Mereka turun, kembali melangkah beriringan. Bastian mengambil troli belanja.
"Kamu bolehin aku belanja di sini? Tapi ini punya kamu kan?" Kyara masih tidak percaya kalau Bastian pemilik Gianmart.
"Boleh, apapun boleh kamu ambil. Semua juga boleh, biar aku yang bayar."
__ADS_1
"Kok bayar? Katanya ini milik kamu." Dahi Kyara mengernyit heran.
"Sekalipun aku pemiliknya, tapi aku juga sesekali bayar sesuai harga yang tertera. Gak hitung rugi, cuman gak enak aja ngambil tanpa bayar meskipun milik sendiri."
"Hmmm gitu."
"Kamu mau beli apa? Ayo."
"Aku mau beli perlengkapan dapur dan kamar mandi juga." Lalu mereka berjalan bersama berbelanja sesuai kebutuhan.
Ketika membeli barang-barang, mereka bertemu dengan Kepala Desa yang sombongnya minta ampun.
"Eh ada berandalan pengangguran di sini? Ngapain? Belanja? Emangnya punya uang? Pengangguran seperti kau mana punya uang?" celetuk pak Cahyo.
"Bapak bisa lihat sendiri saya sedang apa? Saya sedang belanja dan itu artinya Saya punya uang. Matanya buta kayaknya," balas Bastian kesal pada kelakuan kepala desa itu yang selalu saja mengatai orang.
"Saya punya mata dan saya yakin kau itu pasti mau mencuri. Mana mungkin orang pengangguran seperti mu bisa masuk dan belanja di tempat mewah dan bagus ini. Tempat ini hanya untuk orang-orang kaya saja, kau tidak mampu." Pak Cahyo menghina Bastian dan ia meledek jika Bastian tidak mungkin memiliki uang.
"Wah, kau kurang ajar sama saya. Saya ini kepala desa paling kaya di kampung sini. Emangnya kau, berandalan sama kayak si Jayden miskin itu." Pak Cahyo mulai naik darah tinggi gara-gara sikap Bastian yang berani.
"Terus kalau Anda kepala Desa saya harus takut gitu? Wow takut, serem, ihhhh bapak Cahyo paling kaya galak," ledek Bastian terkekeh.
"Kau makin hari makin kurang ajar sama orangtua!" Pak Cahyo makin emosi.
"Daripada bapak marah-marah gak jelas nanti kena serangan jantung dadakan, mending Anda pulang urus pernikahan putri semata wayang Anda yang akan besok nikah, malah keluyuran di mari. Bukannya sibuk ya?"
"Terserah saya, dong. Ini urusan orang kaya."
"Mending kita ke kasir saja, sayang. Percuma balas orang seperti mereka, gak akan bakal mau kalah kalau gak di tegur Tuhan," kata Kyara menarik lengan Bastian. Ia pikir kalau melayani orang seperti Pak Cahyo gak bakalan kelar.
__ADS_1
"Hmm aku punya kejutan buat Anda, pak Cahyo." Lalu, Bastian mendorong trolinya menuju meja kasir.
"Ck, anak tidak tahu sopan santun. Tidak di didik orangtuanya." Namun, pak Cahyo juga menuju meja kasir karena mau bayar.
Setibanya di sana, mata Cahyo terbelalak melihat Jayden.
"Hei miskin, ngapain kau disini?" ujar Cahyo.
Jayden meliriknya, lalu melirik sang bos besar.
"Kerjalah, masa disko." Kata Jayden.
"Kerja? Hahaha, sekalipun kau kerja tidak akan bisa menandingi calon suaminya Ningsih. Dia anak juragan sawah no satu di desa ini dan kau, ck, hanya pegawai kasir. Berapa sih gajinya? Paling juga dua juta." Pak Cahyo menghina.
"Setidaknya saya kerja dengan hasil kerja keras saya sendiri, tidak seperti calon suaminya Ningsih yang kaya karena milik orang tuanya, mana pengangguran lagi. Dan asal bapak tahu, gaji saya bukan dua juta, tapi empat juta perbulan. Lumayan kan? Hasil keringat sendiri bukan minta sama orangtua." Balas Jayden bangga dengan kerjaannya sebagai kasir supermarket.
"Halah, gitu aja bangga. Tetap saja kau kalah dengan anak juragan sawah. Kau dan si berandalan Bastian ini tidak akan ada tandingannya."
"Masa sih? Justru mantu Anda kalah dengan Bos saya, Bastian Emanuel," balas salah satu kasirnya menyebutkan bos mereka.
"Bos? Siapa? Dia Bastian Emanuel?" tunjuknya pada Bastian tersenyum sinis. "Hahahha mimpi."
"Bos, ini belanjaannya."
"Makasih, ya. Hari ini uang kerja kalian saya tambah satu juta sebagai bonus bulanan," balas Bastian membuat oak Cahyo cengo.
"Seriusan bos?" tanya Jayden sumringah."
"Seriusanlah, 'kan saya pemilik Gianmart," balas Bastian sambil mengambil kartu saktinya. Kartu yang hanya di miliki orang-orang kaya raya.
__ADS_1
"Kartu itu ...!"