
Tidak ada hal yang membahagiakan selain bisa memiliki seseorang yang kita cintai. Hidup bersama dengan orang yang kita cintai adalah impian setiap orang. Menua bersama, memiliki anak, bercanda tawa dengan keluarga kecil adalah impian setiap orang. Termasuk Bastian yang memimpikan hal itu bersama wanita yang ia cintai.
"Kya, kamu mau maskawin apa dariku?" tanya Bastian setelah mereka pulang dari acara kondangan. Kedua terlebih dulu mengantarkan orang-orang yang tadi ikut dengannya, tapi tidak dengan Jayden yang sedang ada urusan.
Berdua bersama Kyara adakah hal yang di inginkan dan keduanya tengah menikmati waktu berdua sebelum mereka di pisahkan alias di pingit sebelum akad nikah.
"Apapun itu yang penting mas kawinnya tidak memberatkan mu. Sekalipun itu hanya sendal jepit, ya aku terima dengan ikhlas."
"Masyallah, calon istriku ini baik bener tidak memberatkan calon suaminya. Namun, aku akan tetap memberikan kamu maskawin yang paling berharga seperti kamu yang berharga bagiku."
"Jangan banyak-banyak nanti aku khilaf."
"Gak apa-apa khilaf nya sama aku mah, asal jangan sama orang. Apapun akan daku berikan asalkan kau bahagia. Lir ibarat kata gunung kan ku daki, lautan kan ku sebrangi."
"Masa? Emangnya mau mendaki gunung lewati lembah, sungai, hutan, dan lautan? Gak capek tuh? Berapa lama sampainya?"
"Secepatnya atuh, secepat aku mendapatkan hatimu. Eaaaa gubrak." Bastian malah terkekeh sendiri atas kelakuan ia yang tiba-tiba ngegombal.
"Dih, gak jelas banget deh."
"Gak apa-apa, yang penting hubungan kita jelas terdaftar di KUA, sah agama dan negara."
Kyara menunduk menyembunyikan rona merah diwajahnya. Tiba-tiba pipinya panas karena gombalan Bastian yang menurutnya mampu menggetarkan hatinya.
Bastian membelokan mobilnya ke tempat pemakaman umum Kyara mendongak Kendal bertanya, "kita mau ke ma..." belum juga selesai sudah terhenti kala matanya menatap area pemakaman.
"Loh, kok ke pemakaman?" Kyara bingung.
"Iya, aku mau bawa kamu ke pemakaman orangtuaku. Pastinya calon mertuamu juga. Kalau kamu mau, kita bisa ziarah ke makam orangtuamu juga."
"Oh mau ziarah. Makan orangtuaku bukan disini, tapi di TPU pondok Rangon."
"Nanti sehabis dari sini kita kesana, ya."
Kyara tersenyum mengangguk.
__ADS_1
Bastian memarkirkan mobilnya dulu, lalu mereka turun. Lalu beriringan menuju pemakaman. Keduanya melakukan ziarah sebelum menjelang hari pernikahan.
*****
Tempat pesta pernikahan.
"Jadi dia pria yang Ningsih cintai? Pantas saja ketika ada orang itu Ningsih selalu memandanginya. Saya harus kasih pelajaran sama laki itu agar tidak ganggu Ningsih lagi." Bagas mendapatkan informasi bahwa pria yang dari tadi di tatap Ningsih merupakan orang yang disukai istrinya. Terlebih orang itu adalah pria yang ia benci karena dulu pernah merebut kekasihnya. Sekarang itu terulang lagi kala Ningsih menyukai Jayden.
Dan orang yang memberitahukan perihal siapa pria itu adalah Pak Cahyo yang memang juga tidak menyukai.
"Jangan gegabah, Bagas. Jangan kotori tanganmu buat menghajar pria pengangguran itu. Lagian sekarang Ningsih sudah jadi istrimu dan pastikan Ningsih menyukaimu juga." Pak Cahyo terus menyemangati Bagas agar tidak terpengaruh apapun.
"Hmmm tidak akan. Kalau gitu saya kembali ke panggung pelaminan dulu." Bagas bergegas pergi menuju panggung pelaminan yang dimana ada Ningsih berada. Namun, ia mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu.
"Kasih pelajaran buat pria yang bernama jayden." Lalu Bagas mengirimkan foto yang ia dapat dari Cahyo saat memotret acara.
"Jayden, kau sudah membuat Ningsih mengabaikan ku dan kau harus mendapatkan balasan." Gumam Bagas tak sengaja di dengar oleh Nurma yang ada di belakangnya.
"Jadi bang Bagas mau memberikan Jayden pelajaran? Apa yang akan dia lakukan pada Jay? Apa jangan-jangan Jay mau di hajar?" gumam Nurma dalam hati merasa khawatir.
Mata Nurma celingukan mencari sosok yang ia kenal. Hingga ia melihatnya, tapi Jay sudah pergi menaiki ojeg.
"Jay, tunggu!" pekik Nurma mengejar sosok itu. Lalu, ia juga mencari keberadaan lain guna bisa mengejar Jayden. Tanpa pikir panjang, Nurma meminjam motor orang yang ada di sana setelah izin dulu.
*****
Berbeda dengan Jay yang sedang di hadang oleh seseorang saat hendak pulang. Ia yang mampir dulu ke rumah Jono tiba-tiba di cegat ketika pulang dari rumah Jono. Mana tempatnya terlihat sepi dan juga orang-orang berada di tempat pesta melihat orgen tunggal artis biduan.
"Lo yang namanya Jayden?" ujar seorang pria memakai tato.
"Iya, gue sendiri. Kalian siapa? Perasaan gue gak punya urusan sama lo lo pada?" Jay memperhatikan wajah orang-orang itu yang menurutnya memang tidak terlihat familiar di ingatan. Jay juga tidak kenal dengan orang itu.
Baru saja ia turun dari motor, eh udah ada orang yang menghalangi langkahnya.
"Lo tidak usah tahu siapa kita, tapi yang pasti lo harus di beri pelajaran supaya tidak lagi mengganggu Ningsih."
__ADS_1
"Ningsih?" Jay mengerutkan keningnya tidak mengerti. Namun, baru saja mau bertanya lagi tiba-tiba dia sudah di pukul duluan.
Bug.!!
"Gila, lo mukul gue disaat gue kagak siap? Kurang ajar banget lo lo pada," seru Jay terkejut.
Namun, ia kembali di pukuli tanpa ampun sebelum Jay melawan. Tiga lawan satu, Jay yang sendirian kewalahan melawan mereka bertiga. Apalagi dirinya tidak terlalu pandai berkelahi membuat dia tidak bisa mengelak pukulan demi pukulan.
"Hei! Berhenti!" pekik Nurma baru sampai dan baru menemukan Jay yang ternyata sudah di pukuli.
Nurma segera turun dari motor orang, "pak bantu mereka! Buruan!" pinta Nurma panik dan khawatir melihat Jay sudah babak belur.
"Aduh, saya tidak bisa berkelahi."
"Ah, bapak laki kok lembek. Gak bisa di biarkan ini mah." Nurma mencari cara buat mengusir mereka bertiga.
"Berhenti kalian! Atau saya laporan kalian ke polisi!" pekik Nurma mendorong pria yang sedang memukul wajah Jayden.
"Minggir! Dia sudah babak belur, kita pergi dari sini sebelum cewek itu lapor polisi!" ujar salah satu dari ketiga orang pria yang memukul Jay.
"Ini peringatan buat lo, jangan sekalipun mendekati wanita bernama Ningsih! Atau kau kita habisi!" ucapnya menendang kaki Jay.
Nurma berjongkok memangku kepala Jay. "Kalian keterlaluan, saya akan laporkan kalian ke polisi!" Nurma tidak akan tinggal diam meskipun itu akan menyangkut suaminya.
"Nurma," lirih Jay dengan wajah sudah bonyok dan kepala pusing.
"Jangan coba-coba kau lapor polisi gendut!"
"Gue tidak peduli!" sentak Nurma mengambil ponselnya lalu menghubungi no polisi.
Belum juga selesai, handphone Nurma sudah di ambil dan di bandingkan hingga ponselnya pecah.
Prank!!
"Kita pergi buruan!"
__ADS_1