
Hati tidak tenang, pikiran kemana-mana, itu saat ini Bastian yang merasakan. Dia tidak bisa berdiam diri kala hati dan pikirannya terus tertuju kepada Kyara.
"Emak, Tian tidak bisa gini terus, Tian kepikiran Kyara. Tian bakalan ke rumah sebelah." Dia tidak ingin memperdulikan larangan Omanya terhadap apa yang sedang ia rasakan saat ini. Sebelum bertemu Kyara hatinya tidak akan tenang.
"Bastian itu ti ...."
"Ampun, Bang!!! sakit!! Ampuuun!!"
Suara teriakan seseorang mengalihkan pendengaran Bastian dan Oma Mia.
"Mak, suara minta ampun!!" ujar Bastian terbelalak. Keduanya saling pandang.
"Kyara!!" pekik keduanya terkejut. Bastian langsung berlari keluar rumah menuju rumah sebelah ingin memastikan pendengaran dia. Pun dengan Oma Mia yang juga ikut berlari mengejar cucunya ke samping rumah.
Bastian menendang pintu rumah Beni todak peduli dengan tetangga lainnya dan juga tidak memperdulikan kerusakan yang di lakukan oleh. Bastian mencari asal suara, dia tergesa mendekatinya.
Pas menemukan suara itu, rahangnya mengeras dengan tangan terkepal kuat. Lisa yang duduk di sana membiarkan Beni menyiksa Kyara tercengang ada Bastian di sana.
"Bastian!!" Lisa berdiri dan langsung menghadang Bastian. "Kau mau ngapain ke sini?"
Namun, Bastian malah mendorong keras Lisa sampai wanita itu kembali tersungkur ke lantai dan ia berlari ke arah jeritan Kyara.
"Ini hukuman karena lo sudah berani melawan gue!" sentak Beni sambil melayangkan cambuk ke tubuh Kyara. Cambukan itu tepat mengenai perutnya Kyara.
"Akkkkh sakittt!! Ampun, Bang!!!" jerit Kyara merintih kesakit.
"Beniiii!! Baju*Ngan kau!!!" Bastian berteriak dan menerjang tubuh pria itu.
Beni tersungkur dengan kepala terbentur dinding. Bastian murka, dia menarik kerah baju Beni dan melayangkan pukulan membabi buta pada wajah pria itu.
Bug.. bug ...
"Kurang ajar, beraninya kau menyakiti Kyara, sialan! Tidak akan ku ampuni kau!!" bentak Bastian dengan sorot mata tajam penuh amara. Bastian membenturkan kepalanya ke kepala Beni dengan lutut menerjang perut Beni.
Kyara yang sedang ketakutan dan kesakitan terduduk menangis memegangi perutnya. Sekujur tubuhnya memerah dengan garis panjang akibat ikat pinggang yang di pukulkan padanya. "Akhhh sakitt," rintihnya memeluk perutnya sendiri.
Lisa kelimpungan kala melihat Bastian marah besar sambil terus memukuli suaminya. "Hentikan! Hentikan perkelahian ini!" jerit Lisa melihat Beni sudah babak belur dengan bibir dan hidung mengeluarkan darah.
Oma Mia terbelalak menyaksikan Kyara dalam keadaan memprihatinkan. Masalah Bastian bisa nanti, tapi Kyara saat ini sedang butuh pertolongan.
"Kyara!" pekik Oma Mia langsung mendekati Kyara.
__ADS_1
Kyara melihat, "Oma, to-tolong. Perut Kyara sakit Oma," lirihnya menyayat hati dengan tangis terus mendera.
"Sakit, perut kamu sakit?" Oma Mia panik, dia memperhatikan wajah, tubuh Kyara, dan ia terbelalak kala kaki Kyara merah. "Darah!!" ucapnya tercekat.
"Bastian!! Kyara, tolongin Kyara!" Oma Mia yang memeluk Kyara berteriak memanggil cucunya.
Bastian langsung menoleh, dan ia semakin menggeram marah. Tanpa di duga, "baju*ngan!!!"
Bug..
Bastian mengambil ikat pinggang dan memukulkannya beberapa kali ke Beni yang sudah tidak berdaya. "Ini yang Kyara rasakan sialan!"
"Bastian buruan! Kyara berdarah," pekik Oma Mia panik.
Bastian langsung melemparkan gesper nya tepat ke wajah Beni. Dia mendekati Kyara dan Omanya.
"Kya!!"
"Sakit, perutku sakit." lirihnya sudah tidak kuat lagi menahan sakit dan rasa pusing yang ia rasakan serta sakit di sekujur tubuhnya.
Lisa yang ada di sana berlari mendekati Beni.
Nampak di luar rumah banyak orang, sepertinya mereka mendengar teriakan Kyara. Mereka tercengang melihat Kyara.
"Ya Allah Kyara, di kena KDRT!"
"Ya Tuhan, tubuhnya marah-marah dan juga basah kuyup."
"Bastian apa yang terjadi?" tanya seorang warga.
"Dipukuli suami bajinga*nnya." Balas Bastian dengan rahang mengeras, ia langsung memasukkan Kyara ke dalam mobil setelah Oma Mia membuka pintu mobilnya. Lalu, mereka pergi ke rumah sakit.
"Kasihan sekali Kyara. Padahal dia wanita baik dan juga tidak pernah terdengar bermacam-macam di belakang suaminya."
"Si Beni emang kurang ajar, dia yang lebih dulu selingkuh menghianati kyara dan sekarang malah memperlakukan istri pertamanya begitu keji bagaikan binatang."
"Toloooong... tolooong..."
Teriaknya Lisa membuat para tetangga berbondong-bondong masuk. Mereka tercengang melihat kondisi Beni yang mengenaskan babak belur lemah tak berdaya.
*****
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Bastian berlari meminta tolong tim medis untuk segera menangani Kyara.
"Suster! dokter! Tolong! Cepat tolong!" pekik Bastian membuat kegaduhan rumah sakit hingga suster yang melihatnya langsung berlari mengambil brangkar.
"Pak, baringkan disini!" kata Suster. Bastian nurut saja, dia membaringkan Kyara dan mereka tergesa ke ruangan IGD.
"Maaf, pak, Bu, kalian tunggu di sini. Kalian tidak boleh masuk," kata suster. Dan dokter juga datang.
"Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk Kyara!"
"Kami akan berusaha, pak." Dokter itu masuk sangat tergesa.
Bastian luruh ke lantai sambil menyenderkan tubuhnya ke tembok. Ia meremas kepalanya menyesali diri tidak mencegah Kyara masuk ke ruang itu.
"Bastian," ucap Oma Mia berjongkok di hadapan cucunya.
"Oma, Kyara," lirih Bastian memeluk Omanya dan ia terisak panik takut terjadi sesuatu pada orang yang ia sukai.
"Baru kali ini Oma melihat kamu menangisi seorang perempuan. Apa kamu mencintainya, Tian?" batin Oma Mia mendongak menangis diam ikut khawatir pada keadaan Kyara.
Beberapa lama kemudian, mereka terus menunggu dokter keluar. Bastian semakin tidak tenang dan tidak sabar ingin tahu keadaan Kyara saat ini. Apalagi melihat darah yang tergenang di tempat duduk Kyara membuatnya dilanda kecemasan yang luar biasa.
Hingga selang beberapa waktu, dokter keluar dari ruangannya. Bastian menghampiri, pun dengan Oma Mia.
"Dokter, Bagaimana keadaan Kyara?" tanya Bastian cemas.
"Iya, dokter. Bagaimana keadaan cucu saya? Dia baik-baik saja 'kan?" timpal Oma Mia menunggu jawaban dan penjelasan dari dokternya.
Dokter itu nampak menghilang nafas panjang. "Suaminya dimana?"
"A..." Bastian ingin menjawab aku, tapi Oma Mia langsung memotong perkataan Bastian.
"Tidak ada di sini, dokter. Suaminya yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga sampai menyebabkan cucu saya mengalami hal seperti ini," kata Oma Mia.
"Maaf sebelumnya, kami harus menyampaikan informasi yang mungkin membuat kalian harus lebih sabar dan bisa menguatkan dia. Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan kandungannya, kami terpaksa harus melakukan kuret."
Deg...
Bastian tertegun merasa jantungnya diremas hebat.
"Ku-kuret?!!"
__ADS_1