Terjerat Gairah Istri Tetangga

Terjerat Gairah Istri Tetangga
Bab 52.


__ADS_3

Para tamu undangan sudah banyak yang datang, sedangkan acara ijab qobul belum di mulai karena mempelai pria belum juga datang.


Desas desus tetangga mulai memecah keheningan di sana. Banyak yang merasa heran karena mempelai pria tak kunjung datang.


"Ada apa ya? Ini udah jam sepuluh siang, tapi belum ijab qobul. Apa pernikahannya akan di tunda?"


"Kurang tahu juga, tapi ini heran loh. Bukannya rumah juragan sawah hanya beda kecamatan, tapi belum datang. Kan aneh."


"Iya, betul itu. Begini nih orang kaya, sellau seenaknya saja. Padahal sudah hari H, eh malah tidak ada."


"Kasihan itu Ningsih yang di paksa nikah sama anaknya juragan Badru. Dengar-dengar anaknya itu udah nikah, apa mungkin Ningsih jadi istri keduanya?"


"Hmm masa sih udah nikah?"


"Iya, rumornya begitu. Cuman hanya nikah siri katanya, kan nikah beneran ini saja."


******


"Aduh, Pak. Bagaimana ini? Juragan Badru dan keluarganya belum juga datang. Ibu takut pernikahannya tidak terjadi. Mana udah keluar banyak uang buat acara ini." Istrinya pak Cahyo mondar-mandir gelisah takut gagal.


"Ibu tenang saja, katanya pak Badru sedang di jalan dan tadi ban mobilnya sempat bocor. Jadi telat," kata Pak Cahyo yang sudah menghubungi calon besannya.


"Beneran pak? Takutnya malah gak jadi."


"Beneran, tunggu aja dulu. Mending sekarang Ibu kembali ke Ningsih jagain dia supaya tidak kabur."


"Ah, bapak benar. Ningsih sendiri di kamar, ibu harus jaga. Pasti di luar ada si pengangguran Casanova yang pastinya bakalan buat Ningsih kabur." Istrinya pak Cahyo berdiri dan ia tergesa-gesa menuju kamar.


*****


"Ingat ya Nurma, kamu tidak boleh membongkar pernikahan kita di depan keluarga pak kepala Desa. Kita hanya nikah siri dan kau tidak berhak ikut campur dalam urusanku. Ingat, itu!" ujar seorang pria yang terlihat mengenakan pakaian pengantin. Dia adalah Bagas, suaminya Nurma sekaligus anak dari juragan sawah. Pria inilah yang akan menikah dengan Ningsih, anaknya kepala Desa.


Nurma mengangguk saja meski hatinya sakit harus menyaksikan suaminya menikah lagi. Sekalipun dia tidak mencintai Bagas, namun karena suaminya tetap saja membuat dia sakit hati.


"Seandainya bapak tidak menyerahkan ku padanya, mungkin aku tidak akan menikah dengan dia. Pernikahan yang tidak di inginkan dan hanya sebuah perjanjian saja sebagai pelunas hutang."

__ADS_1


*****


Mobil yang di kendarai Bastian sampai di tempat acara. Dia yang membawa mobil bagus menjadi pusat perhatian orang-orang terutama pak Kepala Desa yang sedang menunggu calon besannya.


"Mungkin itu mobil pengantinnya," kata warga dan Pak Cahyo langsung berdiri ingin menyambut.


Namun, baru saja hendak melangkah ibunya Jayden turun di ikuti oleh Maryam, Oma Mia, Jayden, lalu pak Joko. Di susul oleh Bastian dan Kyara.


"Itumah si berandalan edan. Kirain calon besan." Pak kades cukup kesal. Tapi ia terpesona pada kendaraan mewah itu. "Darimana si anak songong itu punya mobil mewah? Pasti pinjam, gak mungkin dia punya mobil."


Dan di saat itu juga mobil rombongan Pak Badru tiba.


"Nah ini nih calon besan saya," kata pak Cahyo tersenyum mendekati mobil itu dan menyambut kedatangan calon mempelai. Letusan kembang api pun menyala menyambut kedatangan mempelai pria.


Turunlah Bagas, orangtuanya, dan juga anggota keluarga yang lainnya. Namun, ada satu orang yang membuat Jayden lekat memandangi.


"Lah, bukannya itu si karung beras? Ngapain ikut rombongan pria? Mana ada juga kondangan menggunakan kaos panjang ijo? Itu bibir lagi di merah-merahin, macam ondel-ondel," gumam Jayden menatap lekat wanita gendut yang ada di belakang Bagas dan kedua orangtuanya.


"Bukannya Nurma cantik ya, Jay? Gue yakin dia datang ke sini nganterin lakinya nikah lagi," bisik Bastian membuat Jayden menoleh penuh keterkejutan. Mereka berbisik-bisik sambil mencari tempat duduk karena acara ijab qobul bakal di mulai.


"Maksud lo gimana? Gue gak faham, ta."


"Yang benar lo? Si Nurma itu lakinya yang bakalan nikah saat ini?" Jayden makin terkejut. Dia menatap ke depan dimana Nurma duduk di belakang mempelai pria dengan wajah menunduk seperti menahan tangis.


"Iya, dan itu artinya Ningsih jadi bini keduanya, tapi jadi bini sah yang di akui negara dan agama."


"Kasihan Ningsih harus nikah sama laki macam Bagas. Gue harus gagalkan pernikahan ini." Jayden hendak pergi, tapi di tahan oleh Bastian.


"Lo jangan asal tindak, cu*pang! Di sini bukan Ningsih yang kasihan, tapi Nurma, bodoh. Dia udah di nikahi siri, di madu, tidak di akui lakinya, dan hanya di jadikan babu di keluarga lakinya. Ningsih sih enak jadi bini beneran dan bakalan hidup enak, nah si Nurma, beban hidupnya di pikul sendiri hanya gara-gara bapaknya punya utang ke juragan Badru."


"Tapi Ningsih juga kasihan, onta. Dia harus nikah dengan orang yang tidak di cintai."


"Tapi lakinya cinta sama Ningsih sebelum menikahi Nurma. Dan gue yakin itu laki gak bakalan adil sama bini yang lainnya."


"Saya terima nikah dan kawinnya Ningsih Fatmawati binti Cahyo Nugroho di bayar tunai."

__ADS_1


"Saaahhh."


"Yah, gue gagal menggagalkan pernikahan ini. Ini semua gara-gara Lo sih yang ngajakin gue ngomong."


"Dih, malah nyalahin gue. Lo yang bego mau ngancurin nikahan orang yang tidak mungkin jadi milik lo. Dia bukan jodoh Lo, cu*pang."


Jayden menghela nafas, "asli nyesek lihat cewek yang gue suka nikah ma orang lain."


"Jauh lebih nyesek suami nikah lagi di depan matanya sendiri. Tuh lihat di Nurma langsung pergi ke belakang. Gue yakin dia ingin nangis."


"Kalian dari tadi bisik-bisik terus, lagi bicara apa sih?" tanya Kyara.


"Ini bahas di Jay yang mau ngancurin nikahan si Ningsih, makanya aku ajak dia ngobrol supaya tidak bikin ulah," balas Bastian.


"Keterlaluan kalau sampai dia buat ulah."


"Iya. Eh, lo mau kemana, Jay?" tanya Bastian kala Jayden berdiri.


*****


"Kamu udah resmi nikah Ningsih, sekarang buruan keluar temui calon kakimu." Ibunya Ningsih memaksa sang putri ke luar.


"Bu, aku tidak mau nikah sama dia. Aku gak cinta."


"Terlambat, kamu sudah sah jadi istrinya Bagas. Ayo keluar!" ibunya menyeret paksa lengan Ningsih membawanya keluar menghampiri kumpulan mempelai pria.


Ningsih cemberut karena ia gagal kabur. Tadinya mau kabur lewat jendela, tapi ibunya keburu datang.


Mereka berdua berjalan mendekati rombongan keluarga Bagas. Pas berjalan Ningsih mendongak dan matanya saling bertubrukan dengan mata Jayden yang kebetulan juga sedang berdiri.


"A Jay," gumamnya dalam hati ingin menangis tidak bisa bersama dengan orang yang ia cinta.


Pun dengan Jay. "Gue mau ke belakang." Dia memutuskan tatapan keduanya dan beranjak ke belakang. Terlihat Ningsih kecewa kala Jayden tidak peduli padanya.


*****

__ADS_1


Setibanya di belakang, Jayden mendengar Isak tangis seseorang. Ia mendekatinya, "karung beras, ngapain lo dimari?"


Dia menoleh, "Jay!"


__ADS_2