
Baik ataupun Oma Mia tercengang penuh terkejutan kala dokter menjelaskan kalau Kiara harus melakukan kuret. Itu artinya janin yang ada dalam kandungannya Kyara terpaksa di bersihkan dan Kyara mengalami ke guguran.
"Bastian, Ja-jadi Kyara sedang hamil?" Oma Mia tidak tahu keadaan Kyara sebelumnya. Dia hanya tahu Kyara sudah menikah dan tetangganya, tapi mengenai kandungan Kyara ia tidak tahu sama sekali.
"Iya, Mak. Kyara sedang hamil satu bulan lebih. Ini yang menyebabkan Tian ingin melindungi Kyara tadi, tapi Emak melarang ku untuk masuk ikut campur. Sekarang Aku menyesali sikapku yang tidak mengikuti kata hatiku untuk masuk ke dalam sana. Seandainya, seandainya dia melarang Kyara masuk kerumahnya, mungkin anda tidak akan terjadi kepada dia. Kalau Kyara menanyakan tentang kandungannya Apa yang harus kita katakan, Mak?" Bastian terduduk lesu di bangku tunggu. Tangannya menjambak rambut dan tak terasa air matanya menetes begitu saja. Entah mengapa ia malah merasakan kehilangan atas janin yang ada di dalam perut Kyara. Hatinya sesak dan ia juga tidak menerima ini semua, terlebih sikap ini yang menyakiti wanitanya.
"Tian, Tian merasakan sesuatu pada anak itu, Mak. Entah kenapa Tian merasakan sesuatu pada janin itu. Tian tidak terima kehilangan janinnya, dada Tian sesak, Mak." Bastian mengeluarkan segala yang ia rasa.
Oma Mia mendekat dan duduk di samping cucu satu-satunya. "Apa maksudmu, Bastian? Kau bukan ayahnya tapi kenapa kau begitu terlihat terpukul?" Oma Mia yang dari tadi memperhatikan keadaan sang cucu dibuat heran sekaligus bertanya-tanya akan sikap yang ditunjukkan Bastian terhadap Kyara.
Bastian menoleh menatap Omanya dengan mata yang merah menangis penuh penyesalan. "Mak, aku tidak tahu apa ini perasaan ku atau bukan, tapi Bastian merasakan suatu ikatan dengan janin itu. Bastian tidak tahu apa namanya, tapi aku merasa sakit kehilangan dia. Jangan janin itu, melihat Kyara seperti ini saja hati Bastian sakit, Mak."
"Iya alasannya apa? Tidak mungkin begitu saja kau seperti ini di saat dia bukanlah siapa-siapa dia? Apalagi mengenai janin yang keguguran itu, kau bukan ayahnya."
"Karena aku mencintai Kyara, Mak. Dia wanita yang berhasil menyentuh hatiku dan juga yang pernah Bastian sentuh," kata Bastian mengakui sesuatu yang ia rasa termasuk perkaya yang dulu ia lakukan.
"Ma-maksudnya? Kau jangan ngomong sembarangan bule kampung! Ini mulut di jaga!" omel Oma Mia tidak mempercayainya. Sekalipun ia tahu Bastian sering minum dan juga sering nongkrong di club malam, tapi ia juga tahu kalau cucunya bukan penjelajah wanita.
__ADS_1
"Bastian tidak bicara sembarangan, Mak. Aku bicara serius dan memang pernah tidur dengan Kyara saat satu setengah bulan yang lalu. Dan saat ini kehamilan Kyara juga hampir sama dengan kejadian waktu itu. Bastian mengaju salah, Mak. Sumpah demi Tuhan, Mak."
"Bastian, kau ..."
Bastian langsung bersimpuh di kaki Omanya. Memohon ampun karena sudah melakukan hal yang membuat omanya marah.
"Maafkan Tian, Mak. Tian salah sudah berani menyetubuhi Kyara dalam keadaan mabuk. Kami berdua sama-sama mabuk, Mak. Kyara juga belum tahu masalah ini karena pada hari itu Toan langsung pergi saat mendapatkan telpon dari Emak. Tian juga pergi setelah memakaikan pakaian pada Kyara, jadi dia tidak melihat Tian. Namun, mendengar Kyara hamil, perasaan Bastian tidak karuan dan merasakan sesuatu yang sulit Tian ungkapan. Tian nyaman kala mengusap perut Kyara, Tian juga ingin melindungi Kyara dan calon anaknya. Itulah kenyataannya, Mak. Tian cinta Kya dan juga ingin anaknya, tapi Tian merasa bersalah tidak bisa menjaga keduanya. Dada Tian sesak mendengar Kyara keguguran, aku tidak tahu kenapa. Apa janin yang di kandung Kyara anak Tian? Aku bertanya-tanya akan hal itu, Mak." Bastian merebahkan kepalanya di pangkuan sang Oma menangis sedih.
Ia yang tidak pernah merasakan hal seperti ini sekarang malah merasakannya dan juga begitu sakit melihat Kyara terluka.
"Itu artinya kau lepas bujang dengan Kyara?" tanya Oma Mia, Bastian mengangguk karena memang hanya Kyara yang pertama, orang yang sudah mengambil segalanya. Baik ciuman pertama dan juga keperjakaannya. Meskipun ia suka gonta-ganti pacar, tapi ia tidak pernah melakukan kecup mengecup, hanya sekedar gandengan tangan dan juga jalan-jalan serta foya-foya saja. Itu yang pacar-pacarnya inginkan, berbelanja.
"Ya Tuhan!"
*****
Di saat yang lain sedang bersedih dan di rawat, Lisa justru tertawa puas atas kejadian yang terjadi hari ini. Dia yang saat ini berada di dekat Beni yang sedang terbaring dengan wajah babak belur dan hidung dikatakan patah, justru Lisa tersenyum puas bisa menghancurkan keduanya.
__ADS_1
"Beni sayang, bagaimana rasanya di pukuli sampai babak belur begini? Pasti sakit ya, kasihan. Namun, ini tidak seberapa atas apa yang kau lakukan pada adikku yang lugu itu. Ku kira setelah ku putuskan kau secara tiba-tiba akan membuatmu terluka, justru kau malah bahagia dengan Kyara. Aku tidak terima kau bahagia dengan dia di saat adikku gila dan bunuh diri karena mu." Lisa tersenyum sinis, tapi matanya terlihat sorot kesedihan dan juga luka yang mendalam.
Dulu adiknya Lisa berpacaran dengan Beni saat sang adik masih duduk di bangku sekolah menengah kelas dua SMA. Saat itu usinya Beni sudah dua puluh dua tahun, sudah dewasa. Karena cinta pada Beni, adiknya Lisa selalu nurut pada Beni sampai sang adik yang polos mau melakukan apapun demi cintanya. Suatu hari, Beni meminta bukti cinta dengan hal yang tak terduga yaitu menjadi teman tidurnya dan berjanji akan bertanggungjawab atas apa yang terjadi.
Namun, bukannya bertanggungjawab Beni malah memutuskan adiknya Lisa di saat keadaan hamil dengan alasan tidak mengakui anak itu karena tidak mau menikahinya. Adiknya Lisa kecewa sampai depresi tidak terima mendapatkan hinaan, cemoohan orang, dan meninggal akibat bunuh diri dalam keadaan hamil.
Sejak itu, Lisa bertekad untuk membuat Beni hancur dengan memacarinya. Setelah cinta ia tinggalkan. Tapi, pas sudah di putuskan pas lagi sayang-sayangnya, Lisa pikir Beni akan tersiksa. Tapi justru malah menikah dengan Kyara. Sejak saat itu, Lisa kembali bertekad menghancurkan pernikahan Beni dan ingin membuat Beni menderita.
Lisa tersenyum miris, "sayangnya Kyara menjadi korban keegoisan lo, Beni. Tapi, gue bersyukur karena itu lo babak belur dan hidung lo patah. Gue puas melihat lo menderita kayak gini. Gue puas." Lisa mendekati Beni dan ia berbisik di telinganya.
"Bagaimana? Dendam ku bagus kan menghancurkan pernikahan kalian. Ini tidak seberapa atas apa yang telah kau lakukan pada adikku, Beni. Kau tahu, sebenarnya aku tidaklah hamil, aku hanya pura-pura hamil untuk bisa masuk ke kehidupanmu. Oh iya, mengenai Kyara, itu bukan salahku tapi salah dirimu sendiri yang be*go dan go*blok menyakitinya. Jadi, jika nanti kau bermasalah jangan bawa-bawa gue."
Tanpa Lisa sadari, Beni mendengarkan. Dia sudah sadar pada saat Lisa tertawa.
"Lisa kau ..."
Lisa terperangah, ia langsung menjauhkan wajahnya. "Be-beni, kau sudah sadar?"
__ADS_1