Terjerat Gairah Istri Tetangga

Terjerat Gairah Istri Tetangga
Bab 51


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Jay, apa kita gak akan malu datang ke nikahannya Ningsih anak kepala Desa? Kita gak punya baju bagus, Jay." Ibunya Jayden ragu datang dan takut juga dihina-hina.


"Bu, kalau kagak datang gak enak. Kita di undang oleh kepala Desa. Masa tamu kehormatan gak datang." Jayden sudah siap dengan setelan kaos putih dan di padukan kemeja jeans yang ia beli ketika gajian.


"Tapi kita ini hanya orang miskin, gak enak datang ke pesta pernikahan anak kepala Desa. Pasti acara nya juga besar, katanya hampir seluruh warga sini di undang."


"Itu baru katanya, Bu. Yang penting kita hadir menjadi tamu undangan. Ayo, bapak sama Maryam mana?" Jayden celingukan mencari adik dan bapaknya.


"Udah ada di depan duluan, katanya mau mencari angkot dulu." Bu Fitri merasa tidak enak dan juga takut datang ke sana. Ia takut anaknya di hina habis-habisan oleh keluarga Cahyo.


"Ya udah ayo berangkat susul bapak sama Maryam." Jayden dan Bu Fitri pun keluar rumah dan juga menunggu kedatangan angkot bareng bapak dan Maryam.


*****


Lain halnya dengan Bastian yang sedang menunggu Kyara keluar kedai. Dia tidak dandan, hanya mengenakan kaos warna abu-abu, topi hitam dan celana warna hitam panjang.


"Hei onta, kau tidak dandan yang bagus gitu? Kota mau kondangan Onta." Oma Mia menegur cucunya yang hanya berpakaian santai saja.


"Ogah, Mak. Males jadi pusat perhatian orang-orang, soalnya baju-baju formal semuanya bermerek semua, nanti di sebut pamer, ria, terus tanya-tanya darimana punya bagus gitu? Daripada di perhatikan para netizen, mendingan biasa saja." Bastian santai tak dandan heboh seperti yang lainnya. Meskipun ia bisa, tapi ia tidak mau kalau tidak benar-benar terlalu penting. Sekalipun meeting, Bastian selalu mengenakan pakaian santai, kadang suka pakai celana robek di lutut, itulah dia yang tidak pernah memperlihatkan kekayaannya selain ke Pepet.


"Tapi masa ke acara nikahan pakai kaos doang? Gak ada bagus-bagusnya atuh."


"Jangan pikirkan aku, Mak. Yang penting Bastian happy."


"Kalian pasti nunggu lama ya, maaf." Bastian menoleh ke belakang, pun dengan Oma Mia yang juga menatap Kyara.


Mereka tertegun penuh kagum kala penampilan Kyara berbeda. Bastian sampai melongo tak percaya calon istrinya berpenampilan berbeda. Mengenakan hijab pasmina warna cream dipadukan baju gamis batik warna coklat. Terlihat manis dan juga lebih dewasa.


"Kyara, ini kamu?" Bastian tidak menyangka Kyara bakalan menutup auratnya.


"Masyallah, geulis pisan ini mah. Kamu memutuskan berhijab, Nak?" Oma Mia menatap kagum dan ia meneliti penampilan kyara yang jauh sangat cantik.

__ADS_1


"Sebenarnya sudah ingin dari dulu, tapi baru berani sekarang. Kenapa, jelek ya aku pakai hijab?" ujar Kyara memperhatikan penampilannya sendiri.


"Kamu cantik sayang," kata Bastian memuji kecantikan Kyara dan juga penampilan yang Kyara kenakan sungguh membuat Kyara bertambah cantik saja.


"Iya, kamu sangat cantik. Oma jadi pangling lihat kamu, semoga kamu Istiqomah memakai hijabnya ya sayang."


"Insyaallah Oma, mudah-mudahan ini jalan terbaik yang aku ambil."


"Eh, ayo kita berangkat." Bastian membuka pintu mobilnya. "Silahkan masuk tuan putri," ucapnya sambil tersenyum membukakan pintu depan.


Kyara tersenyum, "makasih ya." Lalu ia pun masuk. Giliran omanya yang masuk di bagian belakang dengan pintu bergeser sendiri. Barulah Bastian yang masuk ke dalam.


*****


"Ini angkotnya mana? Dari tadi gak ada angkot lewat. Ini udah setengah jam kita nunggu di sini," kata Maryam yang mulai pegal menunggu angkutan umum.


"Tunggu saja dulu, nanti juga angkotnya bakalan lewat," kata pak Joko, bapaknya Jayden.


"Bapak dan ibu pasti diakan kamu, Nak. Yang penting kamu kerja jujur dan ibu sama bapak mohon untuk tidak melakukan hal yang di benci Allah. Insyaallah doa kami selalu menyertaimu."


"Iya, Bu, pak, Jayden janji tidak akan melakukan hal itu lagi." Ia berjanji akan bersungguh-sungguh dalam membahagiakan keluarganya.


Di jalan, Bastian lewat jalan dekat rumah Jayden. Ia tahu jika jam segini angkot pasti sudah jarang lewat. Apalagi ada acara nikahan anak kepala desa yang pastinya sudah pada di sewa orang.


"Itu keluarganya Jayden," kata Oma.


"Iya, Mak. Sepertinya menunggu angkot lewat. Kita barengan saja gak apa-apa 'kan, Mak?"


"Gak apa-apa, ajak saja sekalian. Lagian mobilnya cukup buat tujuh orang."


Lalu, Bastian memberhentikan mobilnya dekat keluarga Jayden.


"Eh, mobil siapa yang berhenti?" tanya Pak Joko.

__ADS_1


"Jay juga tidak tahu, Pak."


Dan kaca mobil di turunkan, barulah Jayden serta keluarganya tahu.


"Onta, gue kira siapa. Ngapain lo?"


"Ayo masuk, kita bareng saja berangkatnya."


"Emangnya boleh kak?" tanya Maryam senang bisa naik mobil bagus. Apalagi mobil yang di bawa Bastian beda lagi dari mobil kemarin.


"Ini mobil siapa lagi? Perasaan kemarin beda." Jayden juga tidak tahu menahu tentang harta bosnya itu. Ia hanya tahu rumah yang di tinggali rumah sederhana, tapi mobilnya juga tidak tahu ada berapa.


"Aman, ini mobil gue juga. Buruan naik, kasihan adik sama orangtua lo nunggu."


Setelah mendapatkan bujukan, Jayden dan keluarganya mau ikut Bastian.


*****


Tempat nikahan.


"Ayolah Ningsih, kamu jangan nangis terus, makeup mahal kamu luntur," ucap ibunya Ningsih.


"Iya, Ningsih, sebentar lagi kamu akan menikah sama anak juragan sawah. Jangan bikin malu bapak," kata Pak Cahyo.


"Apa harus Ningsih menikah dengan orang yang tidak Aku cintai, Pak, Bu?"


"Harus karena ini semua demi masa depan kamu sendiri. Sebentar lagi ijab qobul di mulai," ucap pak Cahyo.


"Bu, bapak ke depan dulu menyambut besan kita. Nanti kalau udah sah bawa Ningsih keluar!" titahnya.


"Iya, pak."


"Aku tidak mau nikah sama dia, aku maunya sama A Jayden. Aku harus cari cara buat kabur dari sini."

__ADS_1


__ADS_2