
Kyara terhenyak kala suaminya mengetuk pintu kamar. Dia yang ada di pangkuannya Bastian panik dan meminta Bastian melepaskannya.
"Bastian, Bang Beni! Lepasin gue! Bagaimana ini? Dia masuk ke sini! Lo ngumpet di mana saja." Kyara berusaha melepaskan pelukannya Bastian.
"Kyara! Buka pintunya! Lo bicara sama siapa tadi? Kyara!" pekik Beni menggedor pintu kamar istrinya.
Bastian mencebik. "Ganggu saja. Sudah tahu gue lagi kangen-kangenan sama bininya malah di ganggu." Bastian melepaskan pelukannya. Kyara langsung berdiri, "buruan lo pergi dari sini!"
"Ck, baru juga bertemu sudah di balik lagi." Bastian pun berdiri, namun sebelum ia ke luar jendela. Dia mendekati Kyara dulu.
Cup..
Tanpa aba-aba Bastian menarik tengkuk Kyara dan mengecup bibirnya. "Gue sayang sama lo, Kyara." ucapnya lalu membuka jendela dan pergi dari sana.
Kyara mematung atas apa yang barusan ia dapatkan dari Bastian. Untuk ke dua kalinya dirinya mendapatkan kecupan singkat dari Bastian.
"Kyara!!" pekik Beni sudah murka tidak ada sahutan dari dalam.
Kyara terperanjat dan ia segera membuka pintu. "Iya, Bang ada apa?" ujarnya sambil membuka kunci pintu.
Di saat itu sudah terbuka, Beni langsung masuk mencari suara orang yang ada di kamar Kyara. Kyara mere mas tangannya berharap Bastian sudah pergi jauh darinya.
__ADS_1
"Kau bicara Sama siapa tadi? Siapa yang ada di kamar?" tanya Beni menoleh kebelakang menatap Kyara dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Suara? Suara apa maksud Abang? tidak ada suara apa-apa di sini, mungkin Abang salah dengar kali. Dari tadi aku lagi nonton film di laptop. Itu masih nyala," jawab Kyara menunjukkan laptopnya yang masih menyala memutar video film yang kebetulan juga adegan romantis. Dia mencari alasan demi bisa membuat Beni percaya dan tidak banyak tanya.
Beni melihatnya, ia mengerutkan keningnya. "masa sih suara film? Perasaan tadi seperti ada suara pria di sini?" Beni bertanya-tanya. "Jangan bohong lo? Gue gak suka ya, lo bohongi gue!" seru Beni membentak Kyara.
"Ngapain aku bohong sama Abang? Gak ada untungnya. Emangnya Abang yang suka bohongin Kyara sampai selingkuh dan nikah siri tanpa izin Kyara," balas Kyara menyindir suaminya.
"Kyara kau ..."
"Bang Beni ngapain sih di sini? aku dari tadi nungguin Abang masuk kamar tidak datang juga. Ayo kita lanjutin malam panas kita, Bang. Anak kita sudah ingin di tengok nih," ucap Lisa menyusul Doni ke kamar Kyara sambil menarik tangan suaminya. Dia tidak memperdulikan istri pertama sang suami. Baginya saat ini Beni milik dia dan akan tetap menjadi miliknya.
Kyara merasa panas kuping, cemburu, ingin marah, dan juga sakit hati. Dia mengepalkan tangannya saat mendengar perkataan Lisa. Malam panas? Itu artinya berdua sedang menikmati kenikmatan surga dunia, begitu pikir Kyara.
"Iya, sayang. Ayo kita balik ke kamar. Maaf ya, Abang cuman ingin tahu siapa yang sedang bicara dengan Kyara," sahutnya melirik Kyara.
"Tapi nyatanya tidak ada siapapun di sini bukan? Mending kita balik lagi ke kamar." Keduanya pun meninggalkan Kyara tanpa perasaan.
"Keterlaluan!" umpat Kyara dalam hati.
*****
__ADS_1
Keesokan harinya.
Seperti biasanya, Kyara selalu menyiapkan makanan buat dia sarapan dan juga Beni dengan harapan suaminya mau menghargai usaha yang dia lakukan.
"Masak apa hari ini?" ujar Beni menghampiri meja makan dan memperhatikan makanan yang ada di atas meja.
"Masak makanan kesukaan Abang. Hari ini aku masakin Abang makanan spesial, ayo duduk." Kyara masih ramah dan menunjukkan rasa cintanya pada sang suami. Ia juga berusaha untuk menerima segala kekurangan yang suaminya miliki, dan memaafkan setiap kesalahan yang pernah dilakukan. Demi anak yang ia yakini anaknya Beni, Kyara mencoba bertahan didalam mahligai pernikahan yang penuh intrik dan duri.
"Tumben lu masak makanan kesukaan Abang? Ada angin apa, nih?" Beni menatap Kyara sambil duduk di kursi.
"Abang itu suamiku, orang yang aku cintai dan harus ku hormati. Itulah sebabnya aku berusaha untuk tetap memperlakukan Abang layaknya suami Kyara. Termasuk membuat makanan kesukaan Abang adalah suatu kewajiban yang harus aku lakukan," tuturnya sangat baik dan tersenyum manis sambil menuangkan makanan untuk suaminya.
Beni terdiam memperhatikan setiap perlakuan Kyara yang memang dari dulu selalu begini. "Kyara, dari dulu kau tidak berubah. Selalu saja melayaniku."
"Abang!!" pekik Lisa menggema. Beni dan Kyara menoleh dan mereka bisa melihat kekesalan di wajah Lisa.
"Apaan sih pagi-pagi udah teriak? Berisik tahu," seru Kyara.
"Kau yang apa-apaan melayani Bang Beni? Ini bagian ku dan seharusnya akulah yang melayaninya! Kau juga Bang, jahat ninggalin aku sendirian di kamar! Apa Abang lupa janji Abang semalam?" ucap Lisa kesal.
"Janji? Janji apa?"
__ADS_1