Terjerat Gairah Istri Tetangga

Terjerat Gairah Istri Tetangga
BAB 38.


__ADS_3

Lisa gugup, ia takut jika Beni mendengarkan ucapannya. Dia belum puas melihat Beni menderita sampai mati. "Apa Beni mendengarkan perkataan ku? Apa dia tahu apa yang ku rencanakan tadi? Apa pas aku berucap Beni sudah sadar?"


"Ka-kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?" Lisa pura-pura bersikap biasa dan membantu Beni duduk.


Beni terus menatap Lisa dan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Namun, satu hal yang membuat ia tidak bisa lepas menatap Lisa, yaitu niat Lisa yang ternyata ada udang dibalik batu.


"Abang butuh minum? Biar Lisa yang ambilkan." Lisa hendak mengambil minuman.


"Tidak perlu! Saya ingin penjelasan tentang apa yang kau bicarakan barusan?" ujar Beni dingin.


Deg.


Lisa terperangah, ia menelan ludah secara kasar, tenggorokannya terasa tercekat kala pertanyaan itu di dengarnya.


"Perkataan yang mana, Bang? Lisa tidak bicara apapun lagi." Lisa berusaha untuk tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang takut ketahuan.


"Jangan bohong Lisa! Tadi kamu bicara dan aku mendengarnya. Kamu selama ini membohongiku?" mata Beni memancarkan sorot kemarahan pada wanita yang ada di hadapannya.


"Hahaha Abang ini bicara apa deh? Aku tidak bilang apapun, Abang ngaco ah."


"Jangan bohong!" sentak Beni tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak membentak. Dia dengar ucapan Lisa. "Saya dengar kau bilang dendam! Hamil bohongan dan kau bilang ini rencana mu. Jadi kau telah menipuku?" Beni mencengkram kuat rahang Lisa.


"Apaan sih, kau salah dengar!" Lisa masih belum siap mengakui niatnya, tapi Beni yang begitu marah membuat dia harus mengakui segalanya.


"Kau pikir telingaku tuli? Kau pikir gue tidak mendengar perkataan lo? Gue dengar Lisa, gue dengar!" sentaknya sambil melepaskan cengkraman di rahang Lisa.


"Ck, rupanya gue tidak aku lagi menyembunyikan sesuatu dari lo. Berhubung lo sudah dengar, jadi ya gue akui kalau itu memang benar. Gue deketin lo hanya untuk balas dendam dan menghancurkan lo dan membuat lo bertekuk lutut padaku!" balas Lisa tidak lagi menyembunyikan kebohongan dan niatnya.


Beni tercengang, dia tidak pernah tahu jika Lisa mendekatinya memiliki niat tertentu. "Apa, apa yang membuat lo berbuat begini? Salah gue apa sama lo?" Beni benar-benar tidak menyadari dan tidak tahu salahnya apa.


"Lo bilang salah lo apa? Gue kasih tahu kalau salah lo banyak, Beni. Banyak! Lo sudah buat adik gue depresi dan sudah buat dia hamil hingga nekat bunuh diri. Sedangkan lo malah enak hidup bahagia bersama istri baru lo, gue tidak terima itu!" sentak Lisa.


"Adik? Adik yang mana? Gue tidak merasa melakukan sesuatu terhadap adik lo." Beni tidak tahu adiknya Lisa yang mana, dia juga tidak tahu letak kesalahannya dimana pada adiknya Lisa.


"Baiklah, gue akan mengingatkan lagi. Lo tahu wanita bernama Liana?" lalu Lisa mengeluarkan ponselnya dan menunjukan foto sang adik. "Ini adik gue."

__ADS_1


Beni memperhatikannya, dan ia tercengang. "Dia, dia adik lo?" seakan dunianya terasa runtuh kala melihat wanita yang dulu ia pacari dan juga ia kelabuhi.


"Iya, dia adik gue. Wanita yang lo hamili dan lo tinggalkan karena tidak mau bertanggungjawab adalah adik gue, adik perempuan gue satu-satunya dan lo sudah buat dia depresi dan bunuh diri!" bentak Lisa mengeluarkan kemarahannya.


"Tidak, itu tidak mungkin!" Beni menggelengkan kepalanya. Dia memikirkan setiap kejadian yang mereka alami dari awal mula pacaran, putus, hingga di pertemukan lagi setelah dirinya menikah dan berakhir dengan kencan keluar malam, menghabiskan malam bersama dalam selimut yang sama.


"Kenapa tidak mungkin hah? Lo aja bisa menghancurkan adik gue, maka gue juga bisa menghancurkan lo dan orang yang ada di sekitar lo. Ck, impas bukan? Hahahaha gue senang lihat lo babak belur kayak gini, gue senang lihat lo berantem dengan Kyara, gue senang lihat lo berpisah dengan Kyara. Gue puas, puas!" sentak Lisa membuat Beni tertegun penuh keterkejutan.


"Jadi selama ini kau yang merencanakan pertengkaran ku dengan Kyara?" Beni todak percaya Lisa pandai sekali membuat darma seperti ini. Ia terkejut penuh penyesalan karena sudah percaya pada Lisa dan terus menyakiti Kyara.


"Bagaimana, kau suka permainan ku? Hahahaha kau bodoh, Beni. Kau bodoh, sekarang nikmati kehancuran dirimu. Kau kehilangan segalanya dan mulai hari ini saya tidak sudi lagi menjadi istrimu!" Lisa pun pergi dari sana setelah mengakui rencananya meski ia belum puas membuat Beni hancur. Namun, setidaknya dia puas bisa menghancurkan pernikahan Beni dan membuat pria itu mengalami hal ini.


"Tidak, jadi selama ini gue telah di bohongi Lisa? Bodoh, kenapa gue begitu percaya pada Lisa. Kyara ..." Beni seketika ingat pada Kyara, "Kyara, Kyara gue pukuli? Bagaimana ini? Dia, dia pasti sakit. Gue harus cari Kyara dan minta maaf." Beni turun dari brangkar. Meski ia masih merasakan ngilu dan sakit di sekujur tubuhnya, ia tetap berusaha untuk mencari Kyara dan meminta maaf.


*****


Jari-jari tangan yang di genggaman Oma Mia mulai bergerak.


"Bastian, Kyara sadar." Bastian yang sedang duduk di sofa segera mendekati ranjang yang di tempati Kyara.


"Kyara, kamu udah sadar, Nak?" Oma Mia senang Kyara sudah sadar.


"Kya, apa kamu lapar? Kamu mau minum?" Bastian menawarkan makanan dan minuman. Wajahnya terlihat senang Kyara sudah siuman.


"Ha-haus," lirih Kyara dan Bastian segera mengambilkan minuman. Lalu dia membantu Kyara bangun sedikit lalu memberikan minumannya. Setelah selesai, Bastian merebahkan lagi Kyara dan menyimpan gelasnya. Oma Mia terharu dan merasa kasihan pada nasib Kyara yang mendapatkan siksaan begini.


"Oma, aku dimana?" Kyara memperhatikan sekitar tempat terasa asing baginya.


"Kamu lagi berada di apartemen, Kyara. Jangan banyak gerak dulu, ya."


"Apartemen?" Kyara di buat bingung.


Sebelum Kyara sadar dan setalah selesai melakukan kuret, Oma Mia minta pihak rumah sakit mengizinkan mereka membawa Kiara pulang. Namun, kesehatan terus di sediakan meski Kyara ada di apartemen. Mereka melakukan ini demi kebaikan Kyara sendiri dan juga menjauhkan Kyara dari Beni.


Kyara memaksakan tersenyum di saat rasa sakit dan juga perih di sekujur tubuhnya. "Maafkan Kyara yang suka merepotkan kalian," lirihnya sambil meneteskan air mata. Ia kembali teringat perlakuan yang dilakukan suaminya.

__ADS_1


"Kyara, lo eh kamu tidak apa-apa? Jangan menangis sayang," ucap Bastian berjongkok sambil mengusap air mata Kyara.


"Kyara, kenapa kamu menangis nak? Jangan takut, ada kita di sini yang akan menemani kamu," kata Oma Mia mengusap lengan yang sedang di pegangnya.


Kyara menggeleng, ia pun memegang perutnya yang terasa ngilu, sontak ia makin terkejut mengingat ada janin yang bersemayam di perutnya.


"O-oma, ba-bagaimana keadaan anakku? A-apa anakku baik-baik saja? Bang Beni mencambuk perutku, aku kesakitan teramat sangat, bagaimana keadaannya, Oma?" Kyara berdebar tak karuan takut terjadi sesuatu kepada calon anaknya. Dia ingat bagaimana Beni memukulinya tanpa ampun.


Oma Mia melirik menatap wajah Bastian. Dia tidak tega menyampaikan kabar duka ini, namun Kyara juga harus tahu tentang anaknya yang sudah tiada.


"Oma, Bastian, kenapa kalian diam saja? Bagaimana keadaan anakku? Apa dia selamat? tidak terjadi sesuatu kepada calon anakku 'kan? kenapa kalian diam saja, jawab Oma, Bastian!" cerca Kyara semakin tidak tenang dengan jantung terus berdebar takut terjadi sesuatu pada anaknya. Kyara ingin duduk, tapi rasa ngilu dan sakit di tubuhnya membuat ia tidak jadi bangun.


"Sssttt," ringis Kyara.


"Jangan bergerak dulu, sayang! Kamu baru selesai kuret," cegah Oma Mia


Kyara mematung mendengar kata kuret dari mulut Mama mertuanya. "Ku-kuret!" air matanya kembali berderai semakin deras. Pikirannya pun sudah kemana-mana.


"Apa maksud Oma? Ku-kuret apa? Jangan bilang anakku ..."


Bastian tidak sanggup melihat Kyara bersedih. Dia juga tidak bisa bicara apapun saat ini selain ikut bersedih. Keduanya menunduk sedih.


"Oma, Bastian, jawab aku! Anakku ..."


"Kyara, kamu harus kuat ... anak kamu tidak bisa di selamatkan, Nak." Dengan berat hati Oma Mia memberitahukan perihal keguguran yang di alami Kyara. "Kamu mengalami ke guguran, sayang."


Deg....


Jantung Kyara seolah berhenti, tubuhnya lemas tak berdaya mendengar anaknya tidak selamat. Dunianya terasa hancur dan seketika terasa berhenti tak bergerak.


"A-apa! J-jangan, bohong, Oma?" bibirnya bergetar dengan tenggorokan terasa tercekat.


"Tidak, Nak. Kami tidak bohong. Dia sudah tiada," lirih Oma Mia ikut sedih atas kejadian yang menimpa Kyara.


"Tidak, anakku tidak mungkin tiada, ini pasti salah, dokter pasti berbohong, anakku tidak mungkin tiadaaa.!!!! Tidakkkk..." pekik Kyara. menangis histeris.

__ADS_1


Bastian berkaca-kaca, ia mendongakkan wajahnya mengerjapkan mata supaya air matanya tidak menetes. "Beni, tidak akan ku ampuni kau!"


__ADS_2