
"Nah, apa ku bilang, si cu*pang emang kayak gitu. Kalau ada kesempatan pasti bakalan bikin ulah dan suruh para tamu buat ngantongin makanan. Ini udah gak aneh buat dia." Bastian tidak heran lagi atas perlakuan Jayden. Dia sudah tahu sifat pria itu dan sudah tidak heran lagi.
"Ini memang kebiasaan orang kampung, dimana saat ada hajatan pasti ada aja orang yang bawa kantong plastik buat bawa sebagian makanan." Kyara juga sudah tidak heran sama para warga. Hampir sebagian orang memang seperti itu, apalagi di kampung pasti udah tidak heran lagi.
"Nanti, kalau kita nikah aku akan memberikan souvernir yang berisi satu gram emas seharga lima ratus ribu, 'kan lumayan buat mereka yang tidak punya." Ini rencana Bastian yang sudah dari dulu ia rencanakan.
"Emangnya kamu gak akan rugi?" tanya Kyara lalu mengambil sate dan memakannya.
"Tidak akan, justru uang yang kita berikan kepada orang tidak akan merugi, tapi akan untung karena Allah akan menggantinya dengan berkali-kali lipat." Ia tidak takut miskin ataupun bangkrut karena Bastian tahu jika semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan. Tinggal ia sendiri yang memanfaatkan titipan itu.
"Aamiin yarobbal'alamiin. Aku senang kamu memiliki pikiran kayak gitu." Kyara bangga pada pikiran yang Bastian miliki.
"Iya, dong, siapa dulu, calon suamimu." Bastian tersenyum hangat sehangat mentari pagi yang mampu membuat Kyara kepanasan.
Bastian celingukan, ternyata ada panggung kecil di sana. Ia punya ide. "Sayang, kamu tunggu di sini." Bastian menyimpan piring prasmanan di dekat Kyara.
"Kamu mau kemana?"
"Ada deh." lalu, Bastian berjalan ke arah panggung. Dia membisikkan sesuatu kepada pembawa acara. Nampak pembawa acara itu mengangguk dan Bastian berdiri di samping pria yang memegang gitar.
"Hadirin sekalian, mohon perhatiannya. Di sini seorang pria sedang duduk memangku gitar. Ada penampilan spesial dari Bastian Emanuel," ucap pembawa acara.
"Kya, itu laki lo mau ngapain?" tanya Jayden.
"Mana ku tahu, lihat saja dulu."
Jreng ... jreng ...
Bastian mulai memetik gitar, lalu berhenti dulu. "Sebelumnya saya minta maaf karena sudah ganggu. Pak Kades, saya numpang nyanyi, ya."
Namun, pak kades malah mencebik kesal.
"Lagu ini ku persembahkan untuk wanita berkerudung cream yang sedang duduk di samping Oma ku, Kyara ini lagu ku persembahkan untukmu."
"Huuuuu." Sorak serta tepuk tangan menggema di sana seakan memberikan semangat untuk Bastian buat tampil.
"Si onta kampung mau ngapain tuh? Bikin malau saja pakai naik panggung segala," ucap Oma Mia.
__ADS_1
Lalu, petikan gitar terdengar mulai mengiringi. Dan suara Bastian mulai mengalun merdu.
"Jadilah pasangan hidupku, jadilah ibu dari anak-anakku ..." lagu yang dinyanyikan Bastian mengalun indah dengan mata terus tertuju pada Kyara.
Kyara terhanyut dalam pesona Bastian yang makin hari makin membuatnya terperosok dalam pesonanya. Ia mendengarkan lagu yang dinyanyikan Bastian sampai habis.
Ruh tepuk tangan serta siulan begitu riuh karena Bastian menyanyikannya dengan penuh penghayatan dan tatapan mata yang penuh cinta terus tertuju pada Kyara.
"Beruntung banget ya Kyara di cintai bujang seperti Bastian. Padahal kalau dari status Kyara itu janda, eh dapatnya bujang."
"Namanya juga jodoh, gak akan tahu bakalan nikah sama janda, duda, atau bahkan punya pasangan."
Begitulah sebagian bisikan tetangga yang seringkali mulutnya selalu banyak bicara. Dan kebanyakan hibahnya daripada dzikir.
"Penonton ..."
"Owww ..."
"Mau lagi tidak saya nyanyi?" tanya Bastian masih berada di atas panggung.
"Mau," jawab Bastian serempak.
"Lah, gue? Napa harus gue onta?" Jay sendiri bingung jadinya di tunjuk secara tiba-tiba. Tapi, ini kesempatan dia untuk menyumbang lagu buat mantan terindah yang sudah tidak mungkin ia miliki lagi.
"Naik-naik! Naik-naik!" sorak penonton menyuruh Jayden naik. Dan Bastian turun lalu menarik tangan Jayden.
"Buruan naik, kita nyawer di sini." Bastian ingin menghibur beberapa orang yang sedang bersedih atas pernikahan Ningsih. Jayden, dan juga Nurma yang sedari tadi tengah sedih memperhatikan suaminya bersanding dengan orang lain.
"Gue gak punya duit."
"Gue yang nyawer." Lalu, Bastian juga menarik tangan Kyara.
"Eh, mau ngapain?" Kyara kaget dong tiba-tiba ditarik gitu saja.
"Mau nyawer kamu sayang."
"Lihat deh, mereka begitu norak pakai acara naik panggung segala. Begitulah kalau orang yang tidak pernah menemukan panggung, Pati buat kericuhan," kata pak Cahyo sinis.
__ADS_1
"Biarkan sajalah, itung-itung penghibur orang. Gratis pula kan," kata istrinya.
"Benar, toh tidak di bayar," sahut pak Badru.
Jayden dan Bastian mulai menyanyikan lagu hayang kawin. Part pertama di nyanyikan oleh Bastian, lalu di sambung oleh Jayden
Hayang kawin win win, hayang kawin.
Geus teu kuat berang pering ngabujang wae.
Era ku tatatanga, eujeung babaturan.
loba NU nyeletuk cenah Kuring bujang lapuk.
Sorak penonton mulai makin heboh ketika Bastian mengeluarkan uang dua puluh ribuan dari dalam sakunya. Lalu, mulai disawerkan ke para penonton.
"Wih nyawer." Banyak yang memungut uang saweran dari Bastian.
"Bu, apa gak sayang uangnya di sawer gitu?" ucap Bu Fitri pada Oma Mia.
"Tidak, ini keinginan Bastian dan malah sudah niat mau nyawer."
"Tapi uangnya saya," cicit Bu Fitri menyayangkan yang tang di hamburkan.
Hingga aksi Bastian dan Jayden sudah selesai. Namun, Bastian masih berada di atas panggung sambil memegang tangan Kyara.
"Hadirin semuanya."
"Oooyyy."
"Hari ini saya mau mengundang kalian semua untuk datang ke acara pernikahan saya dan Kyara akan diselenggarakan pada hari Minggu, satu minggu yang akan datang bertempatan di gedung xxx," tutur Bastian.
"Busyet, itu kan gedung yang hanya bisa disewa oleh orang kaya raya," batin Pak Cahyo kesal.
"Dan, Semuanya, kalau kalian datang ke acara pernikahan saya dan Kyara, maka kalian akan mendapatkan souvenir berisikan satu gram emas murni," ucap Bastian membuat para penonton terbelalak karena ada hadiah emasnya.
"Yang benar saja, Bastian?" pekik salah satu ibu-ibu yang tertarik.
__ADS_1
"Saya, Bastian Emanuel tidak akan bohong. Kalian semua yang ada di sini saya undang."
"Kami pasti datang..!"