
Nazwa ialah namaku, aku seorang gadis yang tak punya, orang tua ku telah meninggal karena kecelakaan motor tahun lalu. Sejak itu aku mandiri bekerja untuk sesuap nasi, dan membayar rumah kontrakan.
Aku bekerja disebuah perusahaan sebagai OB , karna sekolah ku yang hanya tamatan SMA jadi hanya pekerjaan ini yang ku dapatkan. Aku bekerja disebuah Perusahan Besar terkenal di Jakarta.
Perusahan tersebut milik Pak Hartanto namun sekarang diambil alih oleh anaknya yang Galih, yang baru pulang dari luar negeri menyelesaikan kuliahnya.
Aku bekerja seperti biasanya seorang OB , menyapu , mengepel , membuat kopi dan lainnya.
Aku berangkat dari kontrakanku pukul 07:00 pagi.
Sampai di kantor , aku selalu langsung menyapu sembari membersihkan meja meja karyawan sebelum mereka datang.
Sesudah itu aku menyiapkan kopi , teh , untuk karyawan.
Pagi ini aku datang terlambat tidak seperti biasanya dikarenakan , aku mencari uang tambahan untuk membayar kontrakan yang sudah menunggak 3bulan.
Aku dipanggil kepala kebersihan Bu Hilda.
Bu Hilda berkata " Kenapa hari ini kamu datang terlambat tidak seperti biasanya " Bu Hilda sedikit membentakku.
Nazwa : " Maaf bu , kemarin sore sepulang dari sini saya langsung mencari pekerjaan tambahan lagi. " jawabku.
Bu Hilda : " Buat apa kamu mencari uang tambahan? " guman nya.
Aku menjawab sambil menundukan kepala karna malu menceritakannya " Untuk bayar kontrakan bu , soalnya udah nunggak 3bulan "
Bu Hilda : " Ya Allah Nazwa! kenapa kamu gak bilang kalo kamu lagi butuh uang. saya kan bisa kasih kamu pinjaman. " Ucap Bu Hilda yang merasa kasihan padaku.
" Saya malu bu bilangnya " guman ku.
__ADS_1
" Kenapa harus malu nazwa , dari pada kamu mencari lagi uang tambahan diluaran sana. Sekarang kamu sudah bayar kontrakannya?. " tanya Bu Hilda.
Aku jawab " Belum bu , masih kurang sedikit " dengan malu aku mengatakannya.
Bu Hilda : " Yaudah nanti kamu ke ruangan saya yah , biar saya tambah lagi kekurangannya "
" Terima kasih bu , sebelumnya sudah menolong saya. " Ucapku yang senang mendengarnnya.
Setelah itu aku berkerja kembali seperti biasanya. Saat aku sedang mengelap kaca pintu masuk, datang sebuah mobil sport mewah berwarna hitam. Dari mobil itu turun seorang laki laki berparas tampan ternyata itu adalah anak direktur perusahan yaitu Galih.
...****************...
Dia mulai bekerja hari ini , dia melangkah masuk dengan gagahnya, mata yang berbinar membuat dia semakin memancarkan auranya.
Aku pun tak henti henti memandangnya, saat dia melirikku di pintu masuk membuat hati ku terpukau. Dia melangkah jauh di belakangku, aku pun masih terus memandangnya hingga dia naik lift untuk ke ruangannya yang diatas.
Disaat aku masih melamun kannya , teman kerja ku Dewi menepuk bahuku yang membuat aku terkejut.
Aku menjawab dengan terbata bata " Enggak kok , aku gak ngelamun. "
" Pasti kamu ngelamunin Pak Galih yah? " guman dia sambil tersenyum memandangku.
Aku pun tersipu malu pada Dewi , karna dia tahu apa yang sedang aku lamunkan.
" Kita lanjutin lagi yuk kerjanya , supaya bisa cepet istirahat " ucap dewi mengajak ku.
Aku mengiyakan ajakan Dewi untuk melanjutkan pekerjaan. Setelah pekerjaan selesai Aku dan Dewi pergi ke dapur kantor, tempat kami beristirahat bersama yang lainnya.
Tak lama kemudian Bu Hilda memanggilku , dan dia menyuruhku untuk membuatkan kopi untuk Pak Galih dan diantarkan keruangannya. Aku dengan senang nya langsung menyiapkan air panas dan menyeduh kopi. Setelah itu aku pun berjalan menaiki lift untuk ke ruangan Pak Galih.
__ADS_1
aku mengetuk pintu ruangan nya , dia mempersilahkan aku masuk.
" Ini Pak kopi nya. " ucapku dengan gugup.
" Iyah, simpan aja di meja. Terima kasih " guman dia yang tak menoleh.
Aku sedih karna dia tak menoleh ke arah ku sedikitpun. Aku berjalan menuruni lift dan ke dapur kantor kembali. Dewi tertawa melihat ku,
"Kenapa, Pak Galih nya galak " ucap dia yang mengejekku.
Aku duduk dengan muka cemberut karna Dewi meledek ku.
Dewi juga berkata " Ciyeee!!! yang di cuekin Pak Galih cemberut kayak gitu. " Sembari tertawa lebar.
Beberapa jam kemudian waktu berkerja ku berakhir , aku mengganti bajuku dan menyimpan nya di lokerku. Aku pulang bersama Dewi karna rumah kita searah. Ketika aku berjalan menuju luar Pak Galih pun melirikku dan menghampiri ku.
Galih menanyakan " Tadi kamu kan yang buat dan anterin kopi ke ruanganku? "
" I-i-iyah pak aku yang membuatnya, memangnya kenapa? " jawabku dengan terbata bata dan jantung yang berdegup.
" Kopi buatan mu enak juga, terima kasih yah!." Ucap Galih sambil tersenyum padaku.
Aku pun senang mendengar ungakapan Pak Galih yang bilang bahwa kopi ku enak. Tak menyangka Pak Galih menyukai kopi buatan ku. Dan ternyata persepsi ku salah tentang Pak Galih yang cuek.
Aku dan Dewi pulang bersama. sepanjang jalan aku hanya tersenyum sendiri memikirkan Pak Galih yang menghampiriku dan menyukai kopi buatanku.
" Senyam senyum sendiri nih , yang udah dihampiri Pak Galih dan suka sama kopi nya " ucap Dewi Meledekku.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar Dewi mengejek ku hingga sampai di depan rumahku. Karna jarak rumah dan kantor cukup dekat.
__ADS_1
...****************...