
Hari berganti minggu , minggu berganti bulan , Aku dan Galih tak berkomunikasi lagi. Kami berdua seperti orang asing yang tak pernah memiliki perasaan satu sama lain.
Aku bekerja seperti biasa sebelum dia ada , tak pernah memikirkan tentang perasaan-perasaan yang membuat aku sakit seperti kemarin. Kini aku merasa lebih tenang , walau dalam hati ini sebenarnya aku masih terpesona , dan mengagumi dia.
Galih pun seperti itu , dia mulai berdamai dengan kenyataan yang dijodohkan dengan Yeselin. Karena sebagai tanda terima kasih telah menolong Ayahnya. Walau yang dia jalani bertentangan dengan yang dia rasakan , yaitu bersama dengan Aku.
Semenjak aku memutuskan menjauh darinya , aku tak pernah lagi bicara secara intim dengannya.
Kadang aku bicara dengan nya hanya sebatas karyawan dan bos , tak lebih dari itu.
Suatu hari di kantor , Yeselin memanggil para karyawan di lobi.
" Untuk para karyawan , OB yang bekerja disini tolong semuanya berkumpul sebentar. " Ucap Yeselin.
Aku , Dewi , teman OB yang lain , dan karyawan berkumpul disana.
" Dengerin yah , minggu depan aku dan Galih akan bertunangan. Bagi yang mau datang silahkan , karna kami berdua ingin berbagi kebahagian bersama kalian semua. " Lanjut Yeselin dengan senyum kebahagian di wajahnya.
Aku terkejut dengan yang diumumkan oleh Yeselin , karena yang aku tahu Galih ingin memperjuangkan aku. Namun aku berpura-pura tersenyum dibalik rasa sakit dihati ini.
Namun tak lama Galih datang.
" Yeselin , apa maksud kamu menyuruh para karyawan disini. " Ucap Galih , namun matanya mengarah padaku.
" Sayang , aku mau karyawan kamu tahu kalau kita bakalan tunangan. Dan aku juga mengundang , mereka semua kok. " Sambil memeluk Galih.
__ADS_1
" Tapi , gak gini juga Yeselin. Semuanya bubar dan kembali bekerja. " Dengan sedikit emosi , menyeret tangan Yeselin agar naik keruangannya.
Aku dan Dewi pergi halaman belakang , aku duduk disana dengan air mata yang ingin mulai terjatuh.
" Nazwa !!! Sudah lah selama ini kan kamu sudah mulai mengubur perasaanmu padanya. Jangan kau hirau kan lagi dia. " Ucap Dewi menenangkan ku.
" Tapi dew , kamu juga tahu aku memang menjauhi darinya tapi hati ini belum seutuhnya menerima. " Jawabku dengan mengusap air mata.
Namun tak lama kemudian , Galih datang menemuiku.
" Dewi , tolong biarkan saya bicara pada Nazwa. "
Dewi pergi kedalam kantor , sedangkan aku masih terduduk disini.
" Kenapa kamu kesini , nanti Yeselin memarahi ku?. " Tanyaku tanpa melihat padanya.
" Mohon maafkan aku , tapi jujur dalam lubuk hatiku yang terdalam. Aku masih menginginkanmu. " Lanjutnya lagi.
Aku terdiam mendengar semua penjelasan dia.
...****************...
Aku tak kunjung menjawab permintaan maafnya , hingga Galih bersujud didepanku.
" Tolong Galih , jangan lakukan itu. Aku tak mau dilihat oleh yang lain. Aku maafkan kamu. Tapi aku sungguh kecewa , karna kamu tak bisa memperjuangkan perasaanmu padaku. Yang aku inginkan dan yang aku tunggu selama ini sia-sia saja , jika semuanya tetap berakhir seperti ini. " Jawabku.
__ADS_1
Aku langsung meninggalkan Galih disana sendirian. Namun yang tak aku ketahui , ternyata Yeselin melihatku dari ruangan Galih diatas.
Ketika aku sampai di dapur kantor dan duduk disana. Tiba-tiba Yeselin menghampiriku dengan emosi.
" Hey , ternyata Lo dan Galih mempunyai hubungan dibelakang gue? Pantas saja Galih , selalu menentang perjodohan ini sama gue dan itu semua gara-gara Lo. Dasar cewek perebut!!!
Sekarang Lo jauhin Galih , dan Lo gak boleh bertemu lagi dengan Galih. Ngerti!!! " Ucap Yeselin dengan marah padaku.
Yeselin pun pergi dari dapur kantor ,aku hanya bisa menangis sendirian disana. Dan tak tahu apa yang sekarang aku harus perbuat.
Ketika aku sedang menangis , Dewi menghampiriku lagi.
" Kenapa kamu? " Tanya Dewi.
Tapi aku tak ingin menjawabnya , dan aku tak ingin Dewi tahu kalau tadi Yeselin datang memarahiku.
Namun diamnya aku , Dewi pun tahu semua itu karna Galih. Dewi hanya memelukku , menenangkan aku , Hingga aku tenang.
" Sebentar lagi jam kerja berakhir , kamu disini yah tenangin diri kamu dulu. Aku bereskan dulu pekerjaanku yah. " Ucap Dewi.
Dewi pergi ke luar dapur , dan melanjutkan pekerjaannya terlebih dahulu.
Namun aku masih memikirkan semua kejadian hari ini , hingga aku berpikir sesuatu.
Aku mengganti pakaianku , dan aku izin pulang lebih dahulu pada Bu Hilda. Dengan alasan ada keperluan yang mendadak.
__ADS_1
Aku keluar dari kantor dan menuju halte bis. Setelah beberapa menit kemudian , aku meminta sopir bis berhenti. aku pun keluar dari bis itu , dan sampailah aku ditempat yang pernah aku datangi dengan Galih waktu lalu.
...****************...