
Aku melangkah masuk ke caffe tersebut , aku melihat ke sekeliling ruangan caffe mencari apakah Galih sudah datang atau belum.
Ternyata dia sudah datang , dan dia duduk di bangku yang sering kami tempati.
Selangkah demi langkah aku mendekatinya.
" Hayy , maaf nunggu lama. " Sapaku. Aku pun duduk berhadapan dengannya.
" Iyah gak apa-apa. Apa kabar.? " Tanya Galih.
" Alhamdulillah baik. Maaf beberapa hari ini gak bisa kerja. Karna ada yang harus aku tenangin. " Ucapku , dengan jantung yang berdebar.
" Iyah gak apa-apa aku ngerti kok. Hm , kamu bilang ada yang ingin dibicarakan tentang apa?. "
Aku jujur semuanya tentang perasaan ku selama ini padanya , dan ke baperan aku saat dia dekat denganku dan perhatian padaku. Aku bicarakan bahwa aku menyukainya , namun semua nya menjadi hancur ketika aku mendengar dia hanya menyukaiku hanya sebatas teman.
Dan aku juga bilang padanya , bahwa aku cemburu ketika melihat Yeselin masuk keruangan Galih. Padahal aku bukan lah siapa-siapa Galih.
Itulah awal keterpurukan ku , hingga saat ini karna hati dan pikiranku bercampur aduk.
Setelah aku ungkap kan semua nya , hatiku kini mulai menjadi tenang. Sedangkan Galih yang mendengarnya , ekspresinya berubah seperti merasa bersalah.
" Maaf kan saya Nazwa , saya tak tau kalo kamu mempunyai rasa yang lebih. Jika boleh jujur aku pun mempunyai perasaan yang sama sepertimu. Namun aku ingin menyelesaikan urusanku dengan Yeselin. " Ucapnya , dengan wajah sedih.
Aku pun terkejut ternyata dia juga memepunyai rasa yang sama sepertiku.
" Yasudah , selagi urusanmu dengan Yeselin belum selesai. Kita jaga jarak dulu , agar hatiku dan pikiranku pun tertata , terlebih dahulu. " Jawabku padanya.
Namun dia tak menerima dengan apa yang aku mau untuk berjaga jarak. Tapi , menurutku itu hal yang terbaik untuk saat ini.
Galih pun terdiam mendengar penjelasannku. Dan setelah Galih memikirkannya , dia menyetujui permintaanku.
" Terima kasih , kamu mau mengerti keadaanku saat ini. Aku pergi dulu. "Ucapku , sambil berdiri dari bangku. Dan langsung meninggalkannya Galih sendirian disana.
Setelah kejujuranku padanya , nembuat hati dan pikiranku tenang. Terasa lepas beban pikiranku yang selama akhir-akhir ini menekan batinku.
Galih yang masih duduk di caffe itu , masih merenung dan memikirkan semua masalah hati ini.
" Aku harus segera menyelesaikan urusanku dengan Yeselin , agar aku bisa menyukai Nazwa seutuhnya , dan agar ku tak menyakiti perasaanya lagi. " Gumam dalam hati.
__ADS_1
Galih pun mulai beranjak pergi dari caffe itu. Dia langsung menuju mobil nya , dan dia pun pulang.
...****************...
Tak lama Aku pun sampai di depan rumah , aku duduk sejenak di depan rumah.
" Aku harus bangkit dari keterpurukan yang aku buat sendiri. Jika aku terus begini bagaimana dengan kehidupanku. Aku harus kuat menghadapinya , besok aku akan mulai bekerja lagi. " Gumamku dalam hati sambil tersenyum , memberi semangat untuk diriku sendiri.
Aku berdiri dan lanjut masuk ke dalam rumah , aku beres-bereskan rumah yang beberapa hari ini sedikit terabaikan.
Galih yang ternyata pergi ke rumah Yeselin. Galih mengetuk pintu dan pembantu Yeselin yang membuka.
" Bi Yeselin ada dirumah?. " Tanya Galih masuk kedalam rumah.
" Ada , Den di kamarnya. karna dari kemarin Non Yeselin gak mau makan. " Jawab pembantunya.
Galih langsung pergi menghampiri kamar Yeselin yang ada lantai 2.
Tok,tok,tok!!!!!
" Yeselin bukain pintunya. " Galih memanggil Yeselin yang tak mau keluar kamar.
" Gak. " Sahut Yeselin dari dalam.
Tak lama Yeselin membukakan pintu kamarnya.
" Apa yang mau dibicarakan.? " Tanya Yeselin.
" Jangan disini , kita pergi keluar yah. " Merayu Yeselin.
Yeselin pun mau keluar , megikuti Galih.
Galih membukakan pintu mobilnya untu Yeselin. Dan tak lama mereka pun pergi ke suantu restoran.
Sesampainya disana , Galih dan Yeselin keluar mobil. Dan langsung masuk ke restoran tersebut.
Mereka berdua memilih tempat duduk.
Dan tak lama pelayan menghampiri mereka.
__ADS_1
" Mau pesan apa.? " Tanya pelayan emdengan menyodorkan menu.
" Saya mau daging steak 1 minuman nya jus orange. Kalo kamu sayang , mau pesan apa.? " Tanya Yeselin pada Galih.
" Saya Capucinno Latte 1. "
" Mohon ditunggu yah. " Ucap pelayannya sembari meninggalkan mereka berdua.
" Aku bicara tentang perjodohan kita. " Ucap Galih.
Ternyata Galih dan Yeselin di jodohkan Ayah Galih Pak Hartanto , agar perusahaan mereka semakin besar jika bisa bergabung dengan perusahaan dimiliki Ayah Yeselin Pak Wijaya.
Namun Galoh menolak perjodohan itu , maka dari itu kedekatan Pak Hartanto dan Galih menjadi jauh.
" Nanti aja ah , aku mau makan dulu mumpung sama kamu. " Yeselin mengulur waktu. Agar terasa lebih lama bersama Galih.
...****************...
Setelah menunggu cukup lama , makanan pesanan pun datang.
" Makan dulu yah , nanti bicaranya " Ucap Yeselin.
Galih hanya mengangguk kan kepalanya. Beberapa menit Yeselin masih menikmati makanannya. Galih yang sudah tak sabar untuk bicara.
" Yeselin , aku mohon kamu mau batalkan perjodohan ini. " Ucap Galih.
Yeselin langsung berhenti makan.
" Kenapa kamu mau membatalkan perjodohan ini , sedangkan itu yang kita impikan waktu dulu. "
" Maaf Yeselin , Setelah kamu berubah menjadi over posesif padaku. Perasaan itu telah hilang seiring berjalannya waktu. Dan kini Perasaan itu tidak ada lagi untukmu. " Lanjut Galih menjelaskan.
Mereka berdua cukup lama berdebat , hingga akhirnya Yeselin pergi dengan raut wajah yang marah. Yeselin keluar dari restoran itu dan pergi menaiki taksi.
" Taksi.. !!!! " Yeselin memanggil taksi.
Galih masih terdiam di dalam restoran. Dia mengacak-ngacak kepalanya, menahan amarah nya.
" Aku harus berbuat apa lagi sekarang , jika Yeselin tetap tidak mau membatalkannya. " Gumam Galih.
__ADS_1
Akhirnya Galih keluar dari restoran itu , dia langsung menuju mobil yang terparkir. Dan pergi dari tempat ini.
...****************...