
Aku pergi meninggalkan rumah Dewi , menyusuri jalan dengan membawa tas besar yang berisi baju-bajuku. Aku tak tahu harus pergi kemana lagi , karna sanak sodara pun aku tak punya.
Aku memutuskan untuk menelpon Galih , meminta bantuannya. Karena saat ini aku sangat butuh bantuan , dan dukungan semangat lagi darinya.
Agar aku bisa tetap bertahan sampai , indah pada akhirnya.
Tuttt.... Tutttt.... Tuttt....
Galih mengangkat telponku.
" Halo Galih? "
" Iyah halo. Ada apa kamu telpon saya malam-malam begini. " Tanya Galih.
Aku menangis tak tahan rasanya air mataku yang ingin mencurahkan kesedihanku.
Hmmm....!!!!
" Nazwa , kamu kenapa? kok kamu nangis sih. Coba cerita sama saya.? " Tanya Galih lagi.
Aku menceritakan bahwa dari sepulang kantor , aku diusir oleh pemilik rumah kontrakan. Aku meminta bantuan pada Dewi , tapi Dewi masih merasa kecewa denganku.
Mendengar ceritaku , Galih bergegas pergi menjemputku. Aku duduk terdiam dipinggiran jalan gang. Menunggu Galih yang menjemputku.
Setelah menunggu dengan lama , akhirnya Galih datang. Dia langsung memelukku dengan erat seperti tak ingin melepaskanku.
" Sekarang aku disini bersamamu , jangan pernah menganggapmu sendiri lagi. " Ucap Galih dengan tersenyum menenangkanku.
" Terima kasih , kamu selalu ada buatku. " Jawabku membalas senyumannya.
" Ayo kita pergi dari sini " Lanjut Galih. Membawa tasku kedalam mobilnya.
Aku mengikuti Galih , karena untuk saat ini hanya Galih yang ada disampingku bersamaku.
Galih membawaku ke apartemen miliknya yang tak jauh dari rumahnya.
" Kamu sekarang tinggal dulu aja di apartemenku , sebelum semua masalah ini selesai kamu sementara disini. " Ucap Galih.
" Tapi Galih.... ? "
" Sudah yah , dengerin aku kali ini aja. " Galih meyakinkanku untuk tinggal disini.
Aku hanya bisa menuruti Galih , aku menganggukan kepala tanda mengiyakan usulan Galih yang ingin aku tinggal disini.
" Apa mungkin aku , akan merasa aman disini.? " Gumamku dalam hati.
" Yaudah aku pergi pulang dulu yah , nanti kalo kamu perlu apa-apa telpon aku aja. " Ucap Galih. Yang meninggalkan aku disini sendirian.
Galih keluar dari apartemen ini.
Sekarang tinggal aku sendiri. Aku membereskan dulu baju dalam tasku pada lemari. Membersihkan dan merapikan apartemen ini , sembari melihat-lihat apartemen yang mewah milik Galih.
Aku berdiri dibalkon apartemen , melihat keindahan kota jakarta di malam hari. Gemerlap lampu dimalam hari , dilengkapi bintang bertabiran dilangit. Yang tak pernah aku lihat di rumah kontrakanku.
Setelah beberapa menit kemudian , aku masuk kedalam apartemen untuk segera tidur.
Namun tak semudah itu aku tidur , aku masih memikirkan semua kejadian ini.
" Dari tadi sudah menguap , tapi dibawa tidur malah melek. Tidur dong mata , sekarang sudah malam besok harus kerja. " Gumamku.
__ADS_1
Namun tak berapa lama aku pun tertidur dengan sendirinya.
...****************...
Galih yang sudah sampai dirumahnya , langsung naik ke atas menuju kamarnya.
Sampai dikamar , Galih langsung menelpon Yeselin.
Tuttt... Tuttt... Tuttt...
Diangkat oleh Yeselin.
" Halo Yeselin. "
" Halo sayang , ada apa malam-malam begini kamu telpon aku. Kangen yah. " Jawab Yeselin dengan merayu Galih.
" Aku tau kamu kan yang sudah mengusir Nazwa dari rumah kontrakannya. Dan kamu juga kan yang hasut Dewi agar benci pada Nazwa. " Ucap Galih mempertanyakan kejadian yang menimpa Nazwa.
" Ohh , jadi kamu telpon aku cuma mau bahas ini. Gak penting banget. "
Yeselin ingin menutup telponnya.
" Tungggu dulu Yeselin , aku cuma mau kamu jangan keterlaluan sama Nazwa. Cukup dia udah kehilangan semuanya , jangan kamu tambah lagi penderitaannya. " Ucap Galih menyadarkan Yeselin.
" Itu belum seberapa Galih , kalo kamu pengen aku gak ganggu dia lagi. Aku pengen kamu setujui pertunangan ini. ? " Jawab Yeselin.
" Aku butuh waktu untuk berpikir , tapi aku pengen kamu selama aku belum kasih jawaban. Jangan pernah ganggu Nazwa lagi. Ngerti... !!!?" Jawab Galih meminta waktu.
" Ok kalau begitu. Aku tunggu jawabanmu sayang. " Sahut Yeselin dan menutup telponnya.
Galih pun menutup telpon. Setelah itu dia terus memikirkan apa yang terbaik untuk Nazwa dan dirinya. Jika Galih dan Nazwa masih bersama , Yeselin akan terus membuat Nazwa hancur. Tapi , jika Galih menerima pertunangannya , ini akan membuat Nazwa lebih baik.
" Aku harus bagaimana sekarang , semua ini sangat membingungkanku. " Ucap Galih sambil memukul meja kerja dikamarnya.
Aku melakukan aktivitas seperti biasa bangun pagi , beres-beres ,dan mandi. Ya walaupun tak seperti dirumahku , ruangan apartemen cukup luas. Tak lama pelayan mengantarkan sarapan pagi buatku.
Setelah semuanya selesai , aku turun menuju lobi apartemen. Ternyata Galih datang pagi-pagi untuk menjemputku.
" Kok kamu kenapa sudah ada disini.? " Tanyaku.
" Saya sengaja bangun pagi sekali , karena pengen berangkat bareng sama kamu. " Jawab Galih dengan tersenyum dan membukakan pintu mobilnya.
Aku sangat senang hari ini , aku bisa berangkat bersama dengan orang yang aku sayangi. Dalam perjalanan menuju kantor , Galih terus memegang tanganku.
Hatiku merasa berbunga-bunga , pengorbanan yang aku lakukan tak sia-sia. Sepanjang jalan aku terus menatap wajahnya.
" Kenapa kamu liatin saya kayak gitu sih , saya kan jadi gak konsen nyetirnya. " Ucap Galih dengan tersenyum-senyum.
Aku tak menjawabnya , aku hanya terus menatapnya. Karena kesempatan ini tak akan datang dua kali.
...****************...
Sesampainya dikantor , ketika aku akan keluar dari mobilnya. Galih memanggilku.
" Nazwa.. " Panggil Galih.
" Ya , ada apa? " Jawabku dengan senyum.
Dan ketika aku berbalik menghadapnya..~
__ADS_1
Cuppp.......!!!!
Galih mencium keningku , aku hanya terdiam kaget dengan ke romantisan Galih.
" Pulangnya bareng lagi yah , kita cari rumah kontrakan buat kamu. " Lanjut Galih.
Aku tak bisa berkata-kata selain hanya bisa menganggukan kepala, mengiyakan ajakannya.
Aku pun keluar dari mobil Galih , dengan pipi merah merona merasa malu.
Aku berjalan kedalam kantor menuju dapur kantor , berganti baju. Namun kejadian di dalam mobil bersama Galih masih membayangiku. Hingga membuat ku tak fokus.
Ketika aku sedang duduk sendirian di dapur kantor , tersenyum-senyum sendiri. Tiba-tiba Dewi masuk , dia baru datang ke kantor.
Aku tersenyum pada Dewi , namun dia memalingkan wajahnya. Seakan-akan dia tak mengenaliku.
Dewi berganti baju dan langsung pergi meninggalkan ku lagi tanpa berkata apa-apa.
" Dewi masih marah , bagaimana caranya aku meminta maaf.? " Gumamku dalam hati.
Tak lama ketika aku keluar dari dapur , Bu Hilda menyuruhku untuk membuatkan kopi dan mengantarkannya ke ruangan Galih.
Aku bergegas kembali ke dapur , membuatkan kopi dan langsung mengantarkan keruangannya.
Tok , tok , tok... !!!
" Maaf pak , saya mau mengantarkan kopi. " Ucapku sembari masuk kedalam ruangannya.
" Masuk aja. " Jawabnya dengan tersenyum manis padaku.
Aku meletakkan kopi dimeja kerjanya , dan segera keluar dari ruangannya. Namun , Galih memegang tanganku dengan erat.
" Mau kemana kamu , duduk lah sebentar denganku. Temani aku walau hanya sedetik saja. " Ucap Galih merayu , dan tatapannya penuh dengan hasrat.
Aku hanyalah wanita biasa yang bisa tergoda dengan kata-kata manis dan perlakuan yang romantis. Aku kembali pada Galih , dan duduk di pangkuannya.
Dan tak lama tatapan itu , semakin dekat~~
Semakin dekat~~~
Dan...... ????
Cuppp....!!!
Serasa dunia milik kita berdua.
Setelah beberapa menit , aku berdiri dan mundur selangkah darinya.
" Gimana kalo ada orang yang diluar lihat , nanti bahaya tau?. " Ucapku dengan sedikit malu.
" Gak apa-apa , lagian kamu juga menikmatinya. " Jawabnya yang bisa membuat aku tersipu malu.
Mendengar Galih bicara seperti itu , aku berlari keluar ruangannya dengan pipi yang merah merona.
Ketika didepan ruangannya Galih , ternyata Dewi melihatku yang tengah tersenyum-senyun sendiri.
Dewi menghampiriku dan berkata " Aku harap kamu sadar Wa , kalo pengorbanan mu hanya sia-sia. " Dewi berjalan meninggalkanku lagi sendiri.
Aku hanya terdiam mendengar perkataan Dewi yang seperti itu.
__ADS_1
Aku pun melanjutkan pekerjaanku kembali , sambil memikirkan perkataan Dewi yang memperingatkanku , untuk tidak terlalu mengorbankan segalanya.
...****************...