
Esok harinya aku terbangun pagi sekali karena kemarin sore aku sudah tertidur pulas. Aku membersihkan tempat tidur , mandi dan membeli sarapan. Karna pagi ini aku kembali beraktivitas seperti biasa berangkat kerja.
Setelah semuanya selesai dilakukan , aku mengecek Hp ku terlebih dahulu. Dan ternyata ada notifikasi pesan singkat dari Galih.
Aku membuka pesan itu yang isinya " Pagi!! Berangkat kerjanya aku jemput ya?. "
" Jangan aku gak enak sama Dewi dan teman OB yang lainnya, jika mereka tau aku berangkat kerja bareng kamu. " Jawabku segera membalas pesannya.
" Yaudah , sampai ketemu dikantor. " Balasnya lagi.
Aku senang kini Galih dan aku dekat , namun kedekatan ini membuat bingung dan heran juga.
Tetapi tak apa lah yang penting aku bisa dekat dengannya. Itu yang aku inginkan sejak awal ketemu.
Tak lama kemudian aku keluar rumah, berangkat kerja seperti biasa dan di jam biasa. Aku berjalan dengan tersenyum membayangkan kedekatan ku dengan Galih yang sudah terangkai baru-baru ini.
Tak lama kemudian Dewi menghampiriku , dia yang juga heran akhir-akhir ini aku sering tersenyum sendiri.
" Akhir-akhir ini kamu kenapa sih , sering senyam senyum sendiri? Gimana kalo orang lain lihat disangka gila lho?. " Ucapnya.
" Ya , aku memang sudah tergila gila oleh dia dew!. " Jawabku.
" Dia Pak Galih yang kamu maksud? Sudah lah jangan berharap banyak dia kan orang kaya mana mau sama kita, yang cuma jadi OB. " Lanjutnya.
Setelah mendengar perkataan Dewi seperti itu , membuat senyum ku terhenti dan langsung memikirkannya.
" Apa benar yang dikatakan Dewi? dia mendekatiku hanya mencari pelampiasan saja?. "Guman ku dalam hati.
Selang beberapa menit kami pun sampai didepan halaman kantor , dan ternyata datangnya kami berdua bersamaan dengan datangnya Galih.
Aku dan Dewi tediam sejenak , membiarkannya terlebih dahulu masuk kedalam kantor.
__ADS_1
Dewi bertanya " Kok diem sih , ayo masuk. "
" Nanti dulu sebentar , nunggu Pak Galih masuk dulu. " Jawabku.
Setelah dia masuk kedalam kantor , aku dan Dewi baru melangkah kembali menuju pintu masuk kantor. Aku lekas berlari ke dapur kantor , Dewi yang tertinggal berjalan sendirian di lobi.
" Kenapa lari sih , biasanya kamu senang kalo barengan sama Pak Galih. " Ucap Dewi yang heran dengan sikapku yang seperti malu.
" Aku cuma malu aja Dew, tentang kejadian kemari. " Jawabku membuat alasan.
Dewi mengangguk mengerti dengan yang aku katakan. Tak lama kemudian , Bu Hilda datang dan menyuruhku membuatkan kopi untuk Pak Galih. Aku langsung membuatkan kopi , tapi aku enggan untuk mengantarkan nya.
Aku menyuruh Dewi untuk mengantarkan kopinya pada Pak Galih.
" Dew , anterin kopi ini keruangan Pak Galih yah. Aku masih malu dengannya. "
" Hm , kamu aneh banget sih. Kemarin-kemarin pengen banget ketemu sama Pak Galih. Dan sekarang malu, dasar Nazwa!!. Yaudah sini aku anterin. " Ucap Dewi , dengan membawa kopi pergi ke ruangan Pak Galih.
" Pak Galih nanyain kamu lho! , kenapa gak kamu yang nganterin kopi nya. " Ucapnya.
" Terus kamu jawab apa?. " Tanyaku
" Aku jawab , kalo kamu malu sama Pak Galih. " Lanjutnya lagi dan langsung pergi meninggalkan ku.
Aku terkejut , beraninya Dewi mengatakan hal itu pada Pak Galih. Tak berapa lama Hp ku bunyi notifikasi pesan. Dan ternyata pesan dari Pak Galih.
Aku langsung membuka nya " Kenapa bukan kamu yang mengantarkan kopi saya, dan kenapa juga kamu harus malu sama saya? Jawabnya nanti aja ya sepulang kantor aku tunggu kamu di caffe yang kemarin. Dahhh!!! selamat bekerja. "
Aku tak menyangka dia mengiri pesan ini padaku , dan ingim bertemu dengan ku lagi.
Semua ini seperti mimpi di siang hari, semua yang aku inginkan dan aku bayangkan dengannya. Sedikit demi sedikit mulai terwujud.
__ADS_1
Saat aku sedang melamunkan pesan itu, Bu Hilda melihatku yang hanya berdiam diri.
Bu Hilda berkata " Nazwa!!! , bukannya kerja malah melamun. Lanjutin lagi kerjanya. "
Aku kaget dan langsung memulai membersihkannya lagi. Tapi hati dan pikiranku tak tenang dengan semua kejadian ini.
...****************...
Setelah menyelesaikan pekerjaan , aku kembali ke dapur kantor untuk beristirahat. Baru saja sejenak aku duduk Bu Hilda menyuruhku membersihkan ruangan Pak Galih.
" Nazwa bersihkan ruangan Pak Galih sekarang. "
" Yang lain aja bu , kan saya baru aja selesai bersihkan lobi. " jawabku yang sebenarnya tak mau.
" Pak Galih maunya kamu Nazwa, kesana cepat sebelum dia marah. " Lanjut Bu Hilda dengan mata melotot.
Aku pun terpaksa mengiyakan nya dan bergegas membawa alat kebersihan. Setelah aku berada di depan pintu ruangannya , hati aku berdebar dengan kecang dan jantungku juga terasa akan copot.
Aku memberanikan diri mengetuk pintunya. Tok! , tok! , tok!. Sembari membukakan pintu
" Maaf pak , saya di suruh Bu Hilda kesini untuk membersihkan ruangan Pak Galih. " Ucapku dengan malu.
" Kesini , masuk aja. " Jawab nya.
Aku langsung masuk dan memulai menyapu terlebih dahulu. Dia hanya duduk dan memperhatikan ku saja , malah membuat ku malu.
" Pak Galih jangan lihatin saya seperti itu dong , saya kan jadi malu. " Ucap saya dengan malu.
Dia tak berguman sedikit pun dia terus memperhatiakan ku dan melihat ku dengan tatapan tajam. Aku segera bereskan menyapu, dan mulai mengepel dengan cepat , karna aku ingin buru buru keluardari ruangan ini sebelum jantungku meledak.
...****************...
__ADS_1