
Aku pun sampai di rumah , aku langsung membersihkan badan. Setelah selesai aku bermakan malam dengan nasi yang aku beli didepan gang.
Aku menikmati makan malam ini , karna walau pun makan sederhana ketenangan dan kebebasan dalam pikiranku kini mulai terkubur.
Setelah semua selesai dilakukan , aku rebahkan badanku di kasur. Terasa begitu berat hari ini , bukan hanya karna awal bekerja lagi. Dan karena mulai hari ini aku akan mengabaikan dia yang selalu membuat aku terpesona , dan selalu aku kagumi dari awal ku melihatnya.
Aku begitu cape , sampai-sampai aku tertidur pulas malam itu.
Ke esokan hari nya dia mendatangiku , dan dia bilang masalahnya dengan Yeselin telah terselesaikan. Aku begitu bahagia mendengarnya , hingga tak terasa aku memeluknya dengan gembira.
" Apakah benar , masalahmu dengan Yeselin sudah selesai? " Tanyaku.
Galih hanya mengangguk kan kepalanya , tanda mengiyakan. Karna begitu bahagianya hati ini , aku mencium pipi Galih.
Cupp!!!!......
Namun ketika Galih akan membalas ciuman itu , aku terbangunkan oleh jam wekker yang berbunyi.
Aku terbangun mendengar jam wekker , aku melihat jam dan ternyata waktu nya aku untuk segera bersiap-siap berangkat bekerja.
" Ya Tuhan , itu hanyalah mimpi... Semuanya terasa begitu nyata. Apakah aku masih mengharapkannya? Bantu aku Tuhan , jika dia yang terbaik untukku tolang persatukan. Dan jika tidak tolong buang rasa ini padanya. karna aku begitu sakit tak bisa memilikinya. " Gumamku dalam hati.
Aku menepuk-nepuk pipiku , dan mencubitnya.
__ADS_1
Memastikan apakah ini masih mimpi , atau memang kenyataan. Dan kali ini bukan mimpi , tapi kenyataan.
Beberapa menit kemudian , setelah semuanya selesai aku berangkat kerja dan bersama Dewi seperti biasanya.
Galih yang terbangun masih merasa kaget , dengan penjelasan Ibunya tentang alasan Galih yang di jodohkan dengan Yeselin.
" Aku harus bicara apa pada Nazwa , tentang Perjodohan ini dan dari mana aku memulainya? " Gumam Galih dalam hati.
Galih masih memikirkan semua , hingga tak disadari Galih telat berangkat kekantor.
" Aduh aku sudah telat. " Ucap Galih sambil berlari ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke kantor.
Aku yang sudah sampai dikantor terlebih dahulu mengganti baju , baru setelah itu bekerja.
Dengan sedikit perasaan deg-degan , aku memberanikan diri masuk dan ternyata Galih belum ada dikantor.
Setelah melihat Galih yang belum datang , aku terburu-buru membersihkan ruangannya.
Dan tak lama Galih pun datang , dan ketika Galih memasuki ruangannya sudah bersih.
Dan aku pun sudah keluar dan kembali ke bawah , tanpa sepengetahuan Galih.
Seperti biasa , Galih menyuruh Bu Hilda agar aku membuatkan kopi untuknya dan mengantarkannya.
__ADS_1
...****************...
Aku membuat kopi dan mengantarkan ke ruangannya.
Tok , tok ,tok !!!
" Permisi pak ini kopinya " Ucapku dengan masuk ke ruangannya.
Aku pun keluar dari ruangan itu , namun Galih tak melihat atau bergeming padaku.
" Hm , kenapa dia kok diem gitu? Atau mungkin dia sudah mulai membiasakan dirinya tanpa aku? Yasudah lah itu lebih baik buat ku. " Gumamku dalam hati , sembari melangkah menuju dapur kantor.
Setelah seharian bekerja membersihkan kan , waktunya jam pulang. Aku berganti baju dan pulang bersama Dewi.
Saat aku berjalan pulang , aku bicara tentang perubahan Galih padaku namun menurut Dewi.
" Bagis lah jika begitu , jadi dia tak terus menberimu harapan palsu. Dan itu juga memudahkan mu untu move on. " Ucap Dewi.
" Tapi , menurut mu apa aku salah menggaguminya?. " Tanya ku kembali.
" Tidak salah kok , tapi mengguminya jangan memakai perasaan lebih lagi. " Lanjut Dewi menjawab pertanyaanku.
Aku tersenyum dan merasa puas dengan semua jawaban Dewi. Tak begitu lama , kami berdua berpisah di gang berbeda. Dan pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1