
Rimba sakti laut bertuah!. Itulah ungkapan orang-orang tua
pendahulu. Semua yang di lalu tak tertutup kemungkinan akan menemui sesuatu
yang mampu membuat takjub mata memandang. Langit yang tak bertiang dan laut
yang tak bertepi adalah suatu kiasan yang tepat menggambarkan suatu kuasa yang
membuat mat takjub dan pikiran melayang pikir. Itulah rahasia. Di mana semua
harus di lalu dengan berlalu. Manusia di ciptakan untuk menemui suatu
ketentuan. Takdir adalah ungkapan kepastian yang patut di sambut kepercayaan.
Nasib adalah ketentuan yang pantas di terima bagi siapa saja yang merasa i
hidup. Dunia berputar bukan hanya untuk mengganti siang dan malam. Bintang di
tebar bukan hanya untuk penghias malam. Semua telah di tentukan masa dan
ketetapan sang maha kasih. Mentari yang tumbuh di ufuk timur dan hilang di
telan ufuk barat adalah kepastian yang akan menjadi contoh bagi kehidupan yang
tidak akan selama menjadi hidup juga tidak usai sebelum masa nya sudah di
pastikan. Itulah jati diri seorang bijak sana yang memahami falsafah alam
ter kembang jadi guru. Dalam silat ada hal yang sangat berkesinambungan dengan
itu semua. Gerak, gerik, rasa, periksa,
pikir pelita hati, terbujur lalu, ter belintang patah, mati adalah kepastian
tapi hidup menuju kematian tentulah membawa bekal. Itulah sosok inti dalam
silek. Di mana kebijaksanaan adalah olah utama dalam setiap perbuatan, sikap,
dan tingkah laku. Tidak ada yang instan dalam suatu perjalanan hidup. Terpaan
demi terpaan adalah untuk menguji sejauh mana pikir mampu menerang kan jalan
dan sejauh mana hati mampu untuk di jujur kan. Semua adalah proses yang mesti
di tempuh oleh seorang pa silek/pe silat untuk menjadikan diri sebagai pandeka atau
Labai dan bisa di sebut Angku Labai yang berarti orang yang mampu
menye imbang kan antara dunia dan akhirat. Seorang yang memiliki gelar ini adalah
seorang ulama sekaligus guru silat yang sudah memegang kata keputusan tentang
silat. Itulah tuah singkat yang akan di jalani seorang anak muda dalam menerpa
diri untuk hidup sebagai gelar PANDEKA!.
Pagi datang menyapa, tibalah saatnya buyung pergi ke sawah
__ADS_1
dengan badan nya yang tegap iya mulai berjalan melewati pinggir-pinggir sungai
hingga melewati jembatan yang menuju tempat di mana ia biasa melewati jalan itu
untuk menuju pesawahan nya namun sekilas iya melihat sosok orang orang yang menyeret seorang
perempuan ke dekat pohon besar.
“ Hah!! Apa itu?” Ujar Buyung menatap kaget dan penasaran.
Tanpa pikir panjang iya pun mengikuti orang-orang itu
diam-diam dan setiba nya di sana dia melihat wanita itu tengah meronta-ronta, “lepaskan
aku! kalian ********.” ujar perempuan itu yang kini ter sandar di dekat akar
pohon besar dekat tepi sungai dengan keadaan di desak.
“hahahahahahahaha, tenanglah dik!, kami hanya sebentar.” ujarnya menenangkan gadis itu.
“Hey kau jaga dia!, aku akan carikan pengikat untk mengikatnya terlebih dahulu agar mudah kita bawa
kepada tuan. jangan lupa masukan obat serbuk itu ke mulutnya agar memudahkan
kita membawanya!” ujar orang itu kembali kepada temannya.
perempuan itu pingsan setelah di berikan paksa serbuk
kepadanya yang mengandung bius yang di racik dari tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan itu
dalam lunau beberapa hari hingga ber fermentasi dan menjadi sebuah zat yang
mengandung bius. sekarang tinggal lah mereka berdua di sana sedang yang satunya
pergi mencari tali pengikat untuk mengikat gadis yang kini tergeletak pingsan
yang di jaga oleh temannya ini. dalam keadaan pingsan itu laki-laki yang tengah
menjaganya memandangi gadis ini dari ujung kaki ke ujung kepala. tampak jelas
baju nya yang sedikit tersingkap yang menampakkan betapa mulusnya badan gadis
itu dan putih. laki-laki yang kini menjaganya terpancing birahi nya. sesekali
iya menjilat bibirnya sendiri dan jakun nya turun naik memandangi dada gadis
yang pingsan itu. dada yang tampak masih ranum dan bibirnya yang bak asam di
sayat itu menggiurkan sekali. laki-laki itu mulai meraba-raba betis gadis itu
dan menyingkapkan nya hingga sampai ke lutut. kini nafsu nya mulai bertambah
naik dan perlahan iya merebahkan dirinya ke atas gadis itu. sambil melihati dan
menikmati pemandangan yang sangat luar biasa itu. bagai mana tidak!, gadis yang
rancak ranum itu tak mungkin di biarkan saja tergeletak tanpa di coba.
__ADS_1
kini tangannya sudah sampai mengusap bahu gadis itu namun tiba-tiba,
” Buck!!!” Satu pukulan dari kayu besar membuat laki-laki hidung belang itu menjadi tertidur.
“dia sudah pingsan aku harus cepat sebelum temannya datang”. ujar Buyung dengan nada yang rendah.
buyung melarikan perempuan itu dengan sangat cepat dengan di
panggulnya di atas bahu Buyung berusaha secepat mungkin berlari agar tak
terlihat jejak kemana perempuan itu dibawa sampai pada suatu puncak bukit yang
dinamakan bukit penjara di mana bukit ini adalah bukit tragedi seekor harimau
dipenjarakan karena oleh seorang kakek-kakek terdahulu yang bernama gaek pono
atau Malim Sampono iya terkenal dengan ilmunya yang mampu menundukkan harimau
dan bukit ini memang termasuk bukit yang di katakan angker oleh orang sekitar
karena setiap
Malam-malam tertentu selalu terdengar auman harimau seperti
sedang merintih minta tolong atau pun sedang marah dn di tambah dengn suara
suara burung hantu dan
gagak yang saling ber sautan yang membuat bulu roma berdiri.
akhirnya tiba lah si Buyung di suatu pondok usang yang sudah lama tinggal oleh
pemiliknya dengan keadaan si perempuan tadi masih pingsan. Buyung segera
mencarikan air dan beberapa makanan buah sekitar untuk di berikan kalau-kalau
perempuan itu siuman.
“Ini dia! Rasanya sudah cukup untuk mengikat perempuan itu.” ujar teman orang yang tadi menyuruh
kawannya menunggu gadis yang pingsan itu dan kemudian iya mencari tali untuk mengikat.
dia segera saja menuju tempat di mana kawan nya tadi di tinggalkan
tapi betapa terkejut nya iya.
“Hah!!, Toek Bngun!, woi woi!, Kau enakkan tidur. Mana perempuan tadi?" Sontak Toek terbangun dan terkejut karena perempuan yang iya jaga sudah tiada disana mereka pun bergegas mencari sampai ke perkampungan namun tak mereka temui apa yang mereka cari. “ini salah mu!, Kenapa kau biarkan
dia kabur. Tuan pasti marah besar pada kita!” Sambil terus meng omeli si Toek
mereka pun terus berjalan tapi kekesalan di wajah Karapai sangat terlihat jelas
wajahnya merah padan menahan kekesalan nya kepada Toek yang teledor.
Toek hanya ter diam saat cacian dari Karapai bertubi-tubi pada nya. Dia yang sudah ingin berbuat
curang pada wanita itu tidak memperhatikan lingkungan sekitar nya sehingga tanpa iya sadari sebuah kayu besar melintang di punggung saat hendak menyetubuhi si wanita yang akan di sekap itu.
__ADS_1