THE ANCIENT SILAT

THE ANCIENT SILAT
Episode 1


__ADS_3

Rimba sakti laut bertuah!. Itulah ungkapan orang-orang tua


pendahulu. Semua yang di lalu tak tertutup kemungkinan akan menemui sesuatu


yang mampu membuat takjub mata memandang. Langit yang tak bertiang dan laut


yang tak bertepi adalah suatu kiasan yang tepat menggambarkan suatu kuasa yang


membuat mat takjub dan pikiran melayang pikir. Itulah rahasia. Di mana semua


harus di lalu dengan berlalu. Manusia di ciptakan untuk menemui suatu


ketentuan. Takdir adalah ungkapan kepastian yang patut di sambut kepercayaan.


Nasib adalah ketentuan yang pantas di terima bagi siapa saja yang merasa i


hidup. Dunia berputar bukan hanya untuk mengganti siang dan malam. Bintang di


tebar bukan hanya untuk penghias malam. Semua telah di tentukan masa dan


ketetapan sang maha kasih. Mentari yang tumbuh di ufuk timur dan hilang di


telan ufuk barat adalah kepastian yang akan menjadi contoh bagi kehidupan yang


tidak akan selama menjadi hidup juga tidak usai sebelum masa nya sudah di


pastikan. Itulah jati diri seorang bijak sana yang memahami falsafah alam


ter kembang jadi guru. Dalam silat ada hal yang sangat berkesinambungan dengan


itu semua. Gerak,  gerik, rasa, periksa,


pikir pelita hati, terbujur lalu, ter belintang patah, mati adalah kepastian


tapi hidup menuju kematian tentulah membawa bekal. Itulah sosok inti dalam


silek. Di mana kebijaksanaan adalah olah utama dalam setiap perbuatan, sikap,


dan tingkah laku. Tidak ada yang instan dalam suatu perjalanan hidup. Terpaan


demi terpaan adalah untuk menguji sejauh mana pikir mampu menerang kan jalan


dan sejauh mana hati mampu untuk di jujur kan. Semua adalah proses yang mesti


di tempuh oleh seorang pa silek/pe silat untuk menjadikan diri sebagai pandeka atau


Labai dan bisa di sebut Angku Labai yang berarti orang yang mampu


menye imbang kan antara dunia dan akhirat. Seorang yang memiliki gelar ini adalah


seorang ulama sekaligus guru silat yang sudah memegang kata keputusan tentang


silat. Itulah tuah singkat yang akan di jalani seorang anak muda dalam menerpa


diri untuk hidup sebagai gelar PANDEKA!.


Pagi datang menyapa, tibalah saatnya buyung pergi ke sawah

__ADS_1


dengan badan nya yang tegap iya mulai berjalan melewati pinggir-pinggir sungai


hingga melewati jembatan yang menuju tempat di mana ia biasa melewati jalan itu


untuk menuju pesawahan nya namun sekilas iya melihat  sosok orang orang yang menyeret seorang


perempuan ke dekat pohon besar.


“  Hah!! Apa itu?” Ujar Buyung menatap kaget dan penasaran.


Tanpa pikir panjang iya pun mengikuti orang-orang itu


diam-diam dan setiba nya di sana dia melihat wanita itu tengah meronta-ronta, “lepaskan


aku! kalian ********.” ujar perempuan itu yang kini ter sandar di dekat akar


pohon besar dekat tepi sungai dengan keadaan di desak.


“hahahahahahahaha, tenanglah dik!, kami hanya sebentar.” ujarnya menenangkan gadis itu.


“Hey kau jaga dia!, aku akan carikan pengikat untk mengikatnya terlebih dahulu agar mudah kita bawa


kepada tuan. jangan lupa masukan obat serbuk itu ke mulutnya agar memudahkan


kita membawanya!” ujar orang itu kembali kepada temannya.


perempuan itu pingsan setelah di berikan paksa serbuk


kepadanya yang mengandung bius yang di racik dari tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan itu


dalam lunau beberapa hari hingga ber fermentasi dan menjadi sebuah zat yang


mengandung bius. sekarang tinggal lah mereka berdua di sana sedang yang satunya


pergi mencari tali pengikat untuk mengikat gadis yang kini tergeletak pingsan


yang di jaga oleh temannya ini. dalam keadaan pingsan itu laki-laki yang tengah


menjaganya memandangi gadis ini dari ujung kaki ke ujung kepala. tampak jelas


baju nya yang sedikit tersingkap yang menampakkan betapa mulusnya badan gadis


itu dan putih. laki-laki yang kini menjaganya terpancing birahi nya. sesekali


iya menjilat bibirnya sendiri dan jakun nya turun naik memandangi dada gadis


yang pingsan itu. dada yang tampak masih ranum dan bibirnya yang bak asam di


sayat itu menggiurkan sekali. laki-laki itu mulai meraba-raba betis gadis itu


dan menyingkapkan nya hingga sampai ke lutut. kini nafsu nya mulai bertambah


naik dan perlahan iya merebahkan dirinya ke atas gadis itu. sambil melihati dan


menikmati pemandangan yang sangat luar biasa itu. bagai mana tidak!, gadis yang


rancak ranum itu tak mungkin di biarkan saja tergeletak tanpa di coba.

__ADS_1


kini tangannya sudah sampai mengusap bahu gadis itu namun tiba-tiba,


” Buck!!!” Satu pukulan dari kayu besar membuat laki-laki hidung belang itu menjadi tertidur.


“dia sudah pingsan aku harus cepat sebelum temannya datang”. ujar Buyung dengan nada yang rendah.


buyung melarikan perempuan itu dengan sangat cepat dengan di


panggulnya di atas bahu Buyung berusaha secepat mungkin berlari agar tak


terlihat jejak kemana perempuan itu dibawa sampai pada suatu puncak bukit yang


dinamakan bukit penjara di mana bukit ini adalah bukit tragedi seekor harimau


dipenjarakan karena oleh seorang kakek-kakek terdahulu yang bernama gaek pono


atau Malim Sampono iya terkenal dengan ilmunya yang mampu menundukkan harimau


dan bukit ini memang termasuk bukit yang di katakan angker oleh orang sekitar


karena setiap


Malam-malam tertentu selalu terdengar auman harimau seperti


sedang merintih minta tolong atau pun sedang marah dn di tambah dengn suara


suara burung hantu dan


gagak yang saling ber sautan yang membuat bulu roma berdiri.


akhirnya tiba lah si Buyung di suatu pondok usang yang sudah lama tinggal oleh


pemiliknya dengan keadaan si perempuan tadi masih pingsan. Buyung segera


mencarikan air dan beberapa makanan buah sekitar untuk di berikan kalau-kalau


perempuan itu siuman.


“Ini dia! Rasanya sudah cukup untuk mengikat perempuan itu.” ujar teman orang yang tadi menyuruh


kawannya menunggu gadis yang pingsan itu dan kemudian iya mencari tali untuk mengikat.


dia segera saja menuju tempat di mana kawan nya tadi di tinggalkan


tapi betapa terkejut nya iya.


“Hah!!, Toek Bngun!, woi woi!, Kau enakkan tidur. Mana perempuan tadi?"  Sontak Toek terbangun dan terkejut karena perempuan yang iya jaga sudah tiada disana mereka pun bergegas mencari sampai ke perkampungan namun tak mereka temui apa yang mereka cari. “ini salah mu!, Kenapa kau biarkan


dia kabur. Tuan pasti marah besar pada kita!” Sambil terus meng omeli si Toek


mereka pun terus berjalan tapi kekesalan di wajah Karapai sangat terlihat jelas


wajahnya merah padan menahan kekesalan nya kepada Toek yang teledor.


Toek hanya ter diam saat cacian dari Karapai bertubi-tubi pada nya. Dia yang sudah ingin berbuat


curang pada wanita itu tidak memperhatikan lingkungan sekitar nya sehingga tanpa iya sadari sebuah kayu besar melintang di punggung saat hendak menyetubuhi si wanita yang akan di sekap itu.

__ADS_1


__ADS_2