
perjalanan yang mereka tempuh cukuplah lumayan jauh demi mencari siti reno bulan! samsudin
seorang yang
selalu harus mendapatkan apa yang dia mau halang rintang
bagaimana pun akan
tetap di jalani meski yang menghalang mereka adalah maut
sekali pun. Malam itu
di kaki bukit bukik kompong setelah empat jam mereka
berjalan badan yang
mulai lelah dan mata yang mulai mengantuk kini sudah mulai
merasuk ke anak buah
samsudin namun karna takut kena imbas dari mata yang
mengantuk serta lelahnya
berjalan itu mereka tetap saja mengikuti samsudin sampai
mereka sampai keatas
di mana kini berada di antara hutan belantara dimana dua
hari yang lalu buyung
dan malin beristirahat dan menghidupkan api unggun tepat
disana jualah buyung
melihat sesuatu yang aneh! sebuah selendang! ya sebuah
selendang. selendang itu
pernah iya lihat siti memakainya namun dalam keadaan gelap
begini mana
mungkin selendang itu jelas bentuknya? samsudin segera saja
ketempat bekas
unggun tersebut! mula-mula iya menyuruh anak buahnya unt
meneyalakan api
unggun dan setelah api itu menyala jelas sudah selendang itu
dengan coraknya
yang khas dan makin meyakinkan samsudin kalo itu memang
selendang siti yang
dulu iya kenakan terakhir kali sebelum iya lari dari rumah
panghulu basa.
samsudin yang sudah sangat yakin dengan jejak yang di
tinggalkan itu
cepat-cepat menyuruh anak buahnya untuk segera melanjutkan
perjalanan namun
karna situasi yang tak mungkin di tambah hujan yang saat itu
turun tiba-tiba
samsudin akhirnya mengurungkan niatnya di malam itu dan
hanya beristirahat
disana sambil mendirikan sebuah pondok darurat guna menahan
air agar tdak
membasahi mereka, karana di bukik kompong termasuk daerah
kaki gunung yang
lumayan dingin malam itu mereka tertidur disana bebrapa
saat, sampai hujan
benar-benar reda.
Saat terbangun dari
tidurnya di bawah derasnya hujan beberpa jam tadi, SAMSUDIN,
KARAPAI, TOEK, dan
juga BIRIN, berhamburan tegak melihat apa yang sudah terjadi
di tempat mereka,
sosok kaki yang putus dan megeluarkan darah juga badan yang
tercabik cabik.
lima orang anak buah samsudin kini tak bernyawa! entah apa
yang melukai mereka?
dilihat dari lukanya seperti cakaran seekor beruang! namun
aneh, sepertinya
mereka juga di gigit ular berbisa sebab dari mulut mereka
mengeluarkan buih
yang hijau dan keputihan serta hitam pekat. karapai yang tak
kuasa menehan bulu
romanya berdiri tak menyadari kalau celanan sudah basah oleh
air kencingnya
hal itu di ketahui oleh birin saat bau anyir dan bau jengkol
hampir berdekatan
__ADS_1
di dekat iya berdiri
” baun samba jariang basi ( bau sambal jengkol basi) “ ujar
si birin sambil mencari tau dari mana asal bau aneh itu
sambil
mengendus-enduskan hidungnya seperti anjing pelacak. makin
jelas bau itu menuju
kedekatnya lalu dari pangkal celana karapai, iya perlahan
melihat keatas dan
ternyata
” eeeeeeee kalera! Kau kencing di celana karapai?” karapai
yang masih
menggigil hanya menganggukan kepalanya namun beda hal yang
di rasakan samsudin
dan toek bulu tengkuknya kembali berdiri lalu terdengar
jejak langkah dari
dua arah yang berlawanan menuju ketempat mereka sekarang
berada
“arrrgggggg!!” “auaman apa itu?”
ujar karapai kembali erasakan takutnya. Lalu dari balik
batang pohon besar keluar sesosok harimau berkepala ular di
atasnya yang
menjulur-ulurkan lidah. kaki depannya yang seprti beruang
dan kaki belakang
yang mirip kaki manusia. entah mahkluk aneh apa yang
sekarang mendatangi
mereka? lalu samsudin membalikan badan dan satu lagi mahkluk
yang serupa
terlihat pula keluar dari semak-semak. Keadaan semacam ini
membuat mereka tak
bisa pergi kemana-mana samsudin yang sudah putus silatnya
segera mengambil
ancang-ancang membukak palabeh dan mengeluarkan keris
dubalang milik ayahnya
yang konon kabarnya memiliki kekuatan supranatural yang
juga tak ingin mati sia-sia kini mau tak mau harus menanak
beras sebanyak yang
iya punya pula hanya karapai saat ini yang masih memgang
adiknya yang sedari
tadi sudah kali ketiga mengeluarkan air dari mulut adiknya
yang kini
bersembunyi di balik celana kotoknya.hariamu berkepala ular
dan berbdan separuh
manusia itu muali mendekat iya mulai mengelilingi samsudin
dan anak buahnya
yang ada di tengah-tengah menreka. air liur penuh darah
menetes dari
taring-taring mereka yang tajam. samsudin mulai memusatkan
pandangan kesalah
satu binatang aneh itu saat penyerang pertama oleh mahkluk
itu seketika ia
melompat kearah samsudin dengan cepat bersamaan dari arah
birin dan toek
berdiri hariamu jadi-jadiia itu juga melompat kesatu sasaran
yang sama
samsudin yang sigap dan sudah siap dengan gerakan itu.
segera menghepaskan
badanya ketanah bersmaan dengan birin dan toek yang meliaht
juga mengikuti
tuanya itu, namun malang bagi karapai yang masih memegangi
adiknya dan kakinya
yang masih menggigil saat harimau jadi-jadian itu melompat
bersamaan dan
membentuk sebuah silanagan. tangan karapai di sambar
kuku-kukunya yang tajam
akibatnya karapai terhempas dan terpental tiga depa dari
tempat itu. karapai
__ADS_1
yang heran dengan dirinya yang kena kuku harimau jadi-jadian
itu tidak
merasakan sedikitpun luka di lengannya, hanya bajunya yang
sobek-sobek lalu
dari sobekan itu terlihat di lengan ototnya ada sebuah
ikatan bandul, mungkin
barang kali adalah jimatnya yang membuat iya kebal. si
karapai yang terpental
itu menyaksikan pertarungan samsudin dan kakwan-kwannya
sangat sengit namun
karena mentalnya yang dari awal sudah ciut iya mencari akal
dengan
berpura-pura pingsan di tempat iya di lemparkan harimau
jadi-jadian itu.
Sepuluh jurus samsudin dan anak buahnya kini berlalu, nafas
memburu ketiganya,
lalu samsudin melihat celah di sela-sela harimau jadi-jadian
itu, ada satu dari
tubuh mereka yang terlindungi dari badan mereka saat harimau
itu melompat
kembali kearah mereka, kali ini samsudin tak lagi melakukan
gerakan seperti
semula yang selalu menghindar namun menyonsong harimau itu
dengan jurus sosoh sitaralak
dengan memposisikan dirinya tepat di bawah harimau itu lalu
kerisnya melaju ke
arah hulu jantung harimau itu lalu menghepaskan dirilagi
ketanah dan segara
membalik badan lalu melihat seekornya lagi datang memburu
kearahnya toek yang
nampak akan gerakan samsudin itu segera menjadikan dirnya
sebagai umpan dengan
cara berdiri tegap. sesaat setelah hariamau jadi-jadian itu
melompat kearahnya,
dan di belakangnya sudah siap samsudin dengan keris
dubalangnya pada saat
harimau itu hampir sampai mencakar wajah toek iya segera
menghempaskan dirinya
ketanah di sambut kemunculan keris yang langsung menuju
kehulu jantung harimau
itu. toek yang menghempaskan badan ketanah langsung dengan
cepat menumitkan
************ harimau itu
“ CKRKKKK!!!” buah ***** harimau jadi-jadian itu *****
dimakan tumit sitoek dan saat itulah kedua harimau
jadi-jadian itu mati di
tempat yang satu kena hulu hatinya dan seekornya lagi buah
zakarnya yang
***** setelah keris menancap lebih dulu di hulu jantungnya.
Dan seketika pekikan
meraung hebat memecah hutan belantara bukik kompong di kaki
gunung talang di
saat menjelanag fajar tiba setelah itu hening seperti tiada
kehidupan disana.
Samsudin memasukan kerisnya kedalam sarang sedang si birin
menyusul si
karapai kalau-kalau dia masih hidup dan bisa di selamatkan
namun biri
terkejut setelah iya samapai tempat karapai, karapai yang di
lihat nya
mual-mula tadi terpental lalu jatuh pingsan kini sedang asik
memangku tandan
pisang masak seperti anak monyet. birin yang menggurutu
melihat karapai yang
menyeringai tak kuasa meluapkan kekesalannya! iya
bercarut-carut di dalam
__ADS_1
rimba itu engan membaca semua yang terbawa oleh angoknya