THE ANCIENT SILAT

THE ANCIENT SILAT
Episode 12


__ADS_3

 perjalanan yang mereka tempuh cukuplah lumayan jauh demi mencari siti reno bulan! samsudin


seorang yang


selalu harus mendapatkan apa yang dia mau halang rintang


bagaimana pun akan


tetap di jalani meski yang menghalang mereka adalah maut


sekali pun. Malam itu


di kaki bukit bukik kompong setelah empat jam mereka


berjalan badan yang


mulai lelah dan mata yang mulai mengantuk kini sudah mulai


merasuk ke anak buah


samsudin namun karna takut kena imbas dari mata yang


mengantuk serta lelahnya


berjalan itu mereka tetap saja mengikuti samsudin sampai


mereka sampai keatas


di mana kini berada di antara hutan belantara dimana dua


hari yang lalu buyung


dan malin beristirahat dan menghidupkan api unggun tepat


disana jualah buyung


melihat sesuatu yang aneh! sebuah selendang! ya sebuah


selendang. selendang itu


pernah iya lihat siti memakainya namun dalam keadaan gelap


begini mana


mungkin selendang itu jelas bentuknya? samsudin segera saja


ketempat bekas


unggun tersebut! mula-mula iya menyuruh anak buahnya unt


meneyalakan api


unggun dan setelah api itu menyala jelas sudah selendang itu


dengan coraknya


yang khas dan makin meyakinkan samsudin kalo itu memang


selendang siti yang


dulu iya kenakan terakhir kali sebelum iya lari dari rumah


panghulu basa.


samsudin yang sudah sangat yakin dengan jejak yang di


tinggalkan itu


cepat-cepat menyuruh anak buahnya untuk segera melanjutkan


perjalanan namun


karna situasi yang tak mungkin di tambah hujan yang saat itu


turun tiba-tiba


samsudin akhirnya mengurungkan niatnya di malam itu dan


hanya beristirahat


disana sambil mendirikan sebuah pondok darurat guna menahan


air agar tdak


membasahi mereka, karana di bukik kompong termasuk daerah


kaki gunung yang


lumayan dingin malam itu mereka tertidur disana bebrapa


saat, sampai hujan


benar-benar reda.


Saat terbangun dari


tidurnya di bawah derasnya hujan beberpa jam tadi, SAMSUDIN,


KARAPAI, TOEK, dan


juga BIRIN, berhamburan tegak melihat apa yang sudah terjadi


di tempat mereka,


sosok kaki yang putus dan megeluarkan darah juga badan yang


tercabik cabik.


lima orang anak buah samsudin kini tak bernyawa! entah apa


yang melukai mereka?


dilihat dari lukanya seperti cakaran seekor beruang! namun


aneh, sepertinya


mereka juga di gigit ular berbisa sebab dari mulut mereka


mengeluarkan buih


yang hijau dan keputihan serta hitam pekat. karapai yang tak


kuasa menehan bulu


romanya berdiri tak menyadari kalau celanan sudah basah oleh


air kencingnya


hal itu di ketahui oleh birin saat bau anyir dan bau jengkol


hampir berdekatan

__ADS_1


di dekat iya berdiri


” baun samba jariang basi ( bau sambal jengkol basi) “ ujar


si birin sambil mencari tau dari mana asal bau aneh itu


sambil


mengendus-enduskan hidungnya seperti anjing pelacak. makin


jelas bau itu menuju


kedekatnya lalu dari pangkal celana karapai, iya perlahan


melihat keatas dan


ternyata


” eeeeeeee kalera! Kau kencing di celana karapai?” karapai


yang masih


menggigil hanya menganggukan kepalanya namun beda hal yang


di rasakan samsudin


dan toek bulu tengkuknya kembali berdiri lalu terdengar


jejak langkah dari


dua arah yang berlawanan menuju ketempat mereka sekarang


berada


“arrrgggggg!!” “auaman apa itu?”


ujar karapai kembali erasakan takutnya. Lalu dari balik


batang pohon besar keluar sesosok harimau berkepala ular di


atasnya yang


menjulur-ulurkan lidah. kaki depannya yang seprti beruang


dan kaki belakang


yang mirip kaki manusia. entah mahkluk aneh apa yang


sekarang mendatangi


mereka? lalu samsudin membalikan badan dan satu lagi mahkluk


yang serupa


terlihat pula keluar dari semak-semak. Keadaan semacam ini


membuat mereka tak


bisa pergi kemana-mana samsudin yang sudah putus silatnya


segera mengambil


ancang-ancang membukak palabeh dan mengeluarkan keris


dubalang milik ayahnya


yang konon kabarnya memiliki kekuatan supranatural yang


juga tak ingin mati sia-sia kini mau tak mau harus menanak


beras sebanyak yang


iya punya pula hanya karapai saat ini yang masih memgang


adiknya yang sedari


tadi sudah kali ketiga mengeluarkan air dari mulut adiknya


yang kini


bersembunyi di balik celana kotoknya.hariamu berkepala ular


dan berbdan separuh


manusia itu muali mendekat iya mulai mengelilingi samsudin


dan anak buahnya


yang ada di tengah-tengah menreka. air liur penuh darah


menetes dari


taring-taring mereka yang tajam. samsudin mulai memusatkan


pandangan kesalah


satu binatang aneh itu saat penyerang pertama oleh mahkluk


itu seketika ia


melompat kearah samsudin dengan cepat bersamaan dari arah


birin dan toek


berdiri hariamu jadi-jadiia itu juga melompat kesatu sasaran


yang sama


samsudin yang sigap dan sudah siap dengan gerakan itu.


segera menghepaskan


badanya ketanah bersmaan dengan birin dan toek yang meliaht


juga mengikuti


tuanya itu, namun malang bagi karapai yang masih memegangi


adiknya dan kakinya


yang masih menggigil saat harimau jadi-jadian itu melompat


bersamaan dan


membentuk sebuah silanagan. tangan karapai di sambar


kuku-kukunya yang tajam


akibatnya karapai terhempas dan terpental tiga depa dari


tempat itu. karapai

__ADS_1


yang heran dengan dirinya yang kena kuku harimau jadi-jadian


itu tidak


merasakan sedikitpun luka di lengannya, hanya bajunya yang


sobek-sobek lalu


dari sobekan itu terlihat di lengan ototnya ada sebuah


ikatan bandul, mungkin


barang kali adalah jimatnya yang membuat iya kebal. si


karapai yang terpental


itu menyaksikan pertarungan samsudin dan kakwan-kwannya


sangat sengit namun


karena mentalnya yang dari awal sudah ciut iya mencari akal


dengan


berpura-pura pingsan di tempat iya di lemparkan harimau


jadi-jadian itu.


Sepuluh jurus samsudin dan anak buahnya kini berlalu, nafas


memburu ketiganya,


lalu samsudin melihat celah di sela-sela harimau jadi-jadian


itu, ada satu dari


tubuh mereka yang terlindungi dari badan mereka saat harimau


itu melompat


kembali kearah mereka, kali ini samsudin tak lagi melakukan


gerakan seperti


semula yang selalu menghindar namun menyonsong harimau itu


dengan jurus sosoh sitaralak


dengan memposisikan dirinya tepat di bawah harimau itu lalu


kerisnya melaju ke


arah hulu jantung harimau itu lalu menghepaskan dirilagi


ketanah dan segara


membalik badan lalu melihat seekornya lagi datang memburu


kearahnya toek yang


nampak akan gerakan samsudin itu segera menjadikan dirnya


sebagai umpan dengan


cara berdiri tegap. sesaat setelah hariamau jadi-jadian itu


melompat kearahnya,


dan di belakangnya sudah siap samsudin dengan keris


dubalangnya pada saat


harimau itu hampir sampai mencakar wajah toek iya segera


menghempaskan dirinya


ketanah di sambut kemunculan keris yang langsung menuju


kehulu jantung harimau


itu. toek yang menghempaskan badan ketanah langsung dengan


cepat menumitkan


************ harimau itu


“ CKRKKKK!!!” buah ***** harimau jadi-jadian itu *****


dimakan tumit sitoek dan saat itulah kedua harimau


jadi-jadian itu mati di


tempat yang satu kena hulu hatinya dan seekornya lagi buah


zakarnya yang


***** setelah keris menancap lebih dulu di hulu jantungnya.


Dan seketika pekikan


meraung hebat memecah hutan belantara bukik kompong di kaki


gunung talang di


saat menjelanag fajar tiba setelah itu hening seperti tiada


kehidupan disana.


Samsudin memasukan kerisnya kedalam sarang sedang si birin


menyusul si


karapai kalau-kalau dia masih hidup dan bisa di selamatkan


namun biri


terkejut setelah iya samapai tempat karapai, karapai yang di


lihat nya


mual-mula tadi terpental lalu jatuh pingsan kini sedang asik


memangku tandan


pisang masak seperti anak monyet. birin yang menggurutu


melihat karapai yang


menyeringai tak kuasa meluapkan kekesalannya! iya


bercarut-carut di dalam

__ADS_1


rimba itu engan membaca semua yang terbawa oleh angoknya


__ADS_2