THE ANCIENT SILAT

THE ANCIENT SILAT
Episode 27


__ADS_3

datuk hitam menuju ke arah itu dan dalam jarak tiga depa


lalu ia


berhenti dan melihat batu besar yang datar dan ukurannya


cukup untuk tempat merebahkan badan. Kemudian datuk duduk di tempat itu sambil


menunggu manusia


itu membuka mata. datuk hitam yang kelelahan kini menguap


dan tak sadar kini


matanya mulai berat. datuk itu perlahan merebahkan badan dan


kini bedanya


sudah melantai di atas batu itu, perlahan kulit mata itu


mengatup dan akhirnya datuk hitam tertidur.


MURKANYA PANDEKA KALEK DI BUKIT TIGO LURAH


Kabar matinya sepuluh anggota panyamun tigo lurah di bagian utara


kini tersebar.


Seluruh pimpinan di serukan untuk berkumpul serta membawa


anggota


masing-masing. Seruan mendadak itu segera di hadiri petinggi


dan anggota


penyamun tigo lurah. Dalam hal ini terkecuali datuk hitam


dari timur


berhalangan hadir sebab sewaktu iya pergi kamarin siang


kabar itu belum sampai


ketempatnya. Semua orang yang berkumpul disana melakukan


musyawarah


kecil-kecilan. masing-masing pemimpin gerombolan itu di


minta masuk oleh ketua


besar panyamun tigo lurah. Mereka membahas kenapa sepuluh


anak buah penyamun


dari utara tewas, bahkan selama ini belum ada sejarahnya


penyamun-penyamun itu


di kalahkan dalam jumlah yang banyak atau pun satu persatu.


Kekesalan terluap


dari ketua panyamun tigo lurah itu.


Siapa yang telah menghabisi anak buahmu sebegini banyak datuk


limpang? Bukankah kau


ikut dalam penyerangan tempo hari bersama anak buahmu!


Kenapa ini bisa terjadi?


Ucapa pandeka KALEK ketua dari seluruh panyamun tigo lurah.


A A Anpun ketua! Aku tidak tau kalau mereka itu pesilat tangguh


ketua! Mereka tau


dimana kami dan mereka lebih dulu memburu kami satu persatu.


Bahkan anak buah


ku yang menyerang langsung mereka sebanyak empat orang di


matikan mereka yang


menghadapi seorang saja. Aku segera lari tuan sebab aku


kalah jumlah dengan


mereka di malam itu. Iya sempat mengejarku tapi di tahan


oleh kawanya yang


lain. Ujar datuk limpang yang harus berterus terang akan


kekalahan yang sudah

__ADS_1


iya terima itu di malam hari yang penuh darah di waktu itu.


Sepuluh anak buah


datuk limpang mati sia-sia tanpa membawa hasil secuilpun.


Pandeka kalek makin


merah padam mukanya mendengar apa yang di ceritakan oleh


datuk limpang.


AARGGGK!!!


Siapa mereka yang berani menantang maut denganku? Kita harus


mencari mereka!


Dan waang datuk waang harus membayar sepuluh nyawa anak buah


waang kepada


mereka! Aku ingin kepalanya waang bawa kesini untuk


kujadikan pajangan didepan


pintu masuk itu. Untuk mengingatkan bahwa tidak ada yang


berani bermain-main


denganku si PANDEKA KALEK!!! Pandeka kalek yang tidak terima


akan kekalahan itu


menjadi sangat marah. Suaranya yang serak-serak banjir itu


mengelegar mengoyak


suasana di dalam ruangan itu. Seketika pandeka kalek kemabli


melirik kearah


mereka yang kini duduk di dalam rumah pandeka itu.


Mana datuk hitam? Ucapnya saat tau datuk hitam ternyata tidak


hadir.


Datuk,hitam naik bukit ketua! Ucap si PENDET ketua dari barat.


HMMN!!


Kalau begitu besok kalian semua bergerak! Cari tau dimana


seberapa hebat mereka! Sampai berani membunuh sepuluh orang


kawanan kita.


Pandeka kalek yang tak senang darahnya itu kini mulai menggerakan


seluruh anggota ke


pelosok negeri tigo lurah. Mereka yang bercirikan pakain


serba hitam yang


berjumlah tak kurang dari seratus orang itu kini mulai di


beri tugas masing-masing


untuk mencari tau keberadaan orang yang sudah menyudahi


saudara mereka di hutan


itu. Datuk limpang yang kini telah di beri titah oleh


pandeka kalek adalah


penunjuk jalan yang akan memberi kejlesan pada kawanan yang


tak kurang dari


seratus orang itu. Kini pembagian tugas mulai dirincikan


satu persatu untuk


mencari dan bergerak secara berkelompok dan sendiri-sendiri.


Datuk limpang


paham betul seperti apa pesilat-pesilat yang kan mereka


cari. Kini pembagian


kawanan intu telah selesei berikut dengan tugas


masing-masing. Separuh kawanan


penyamun hutan tigo lurah sudah di suruh bergerak. Ada yang

__ADS_1


menyamar seperti


pedagang, petani, para tetua adat, dan seperti penduduk yang


pindah atau


migrasi. Semua harus di persiapkan matang oleh datuk limpang


sebab mereka tak


ingin kecolongan kedua kalinya. Setelah tugas di bagi datuk


limpang kini


kembali kedalam dimana pandeka kalek dan datuk pendet


beserta ketua penyamun


dari selatan yang bernama DATUK PENGKA kini telah menantinya


untuk membagi


kepala kawanan. Pandeka kalek memang tidak main-main dengan


masalah yang satu


ini. Belum ada sejarahnya mereka turun gunung secara


bersamaan hanya untuk


mencari beberapa orang yang membunuh kawanan mereka. Demi


tidak ingin di


pencundangi lagi pandeka kalek sebagai ketua utama


perkumpulan penyamun hutan


tigo lurah harus mengerahkan semua anak buah dan pimpinan


tertinggi. Pandeka kalek


adalah orang yang jeli membaca situasi dan selama ini memang


belum ada sejarah


penyamun hutan tigo lurah mati namun kini sejarah itu


terjadi. Kegagahan penyamun


hutan tigo lurah yang sangat di takuti kini sudah tercoreng


dengan matinya


anggota mereka sebanyak sepuluh orang tanpa sempat melakukan


perlawanan.


SAMSUDIN VS BUYUNG


Dua hari sudah berlalu semenjak siti reno bulan dan ayahnya sutan rajo bujang


bertemu. Sudah banyak cerita yang sudah mereka dengar satu sama lain. Siti yang


selama ini merasakan bak burung dalam sangkar emas kini sudah terasa bebas


kembali. Seorang yang di besarkan oleh orang yang menecelakai keluarganya tentu


bukanlah suatau ujian yang mudah bagi siti reno bulan, selama ini siti selalu


menyimpan rasa sakit dan rindu selama bertahun-tahun. Walau tiada marah yang


iya terima dari panghulu basa namun tetap panghulu basa lah yang sudah


mencelakai keluarganya dan hampir membunuh ayahnya serta ibu dari siti reno


bulan yang tidak tau akan hal itu sampai iya meninggal menjadi istri sah oleh


panghulu basa yang ibu dari siti reno bulan masih berstatus istri sutan rajo


bujang. Sungguh sakit yang amat mendalam bagi siti reno bulan hidup selama dua


belas tahun dengan menyimpan rahasia itu dalam-dalam dari semua orang dan


tinggal serumah dengan yang mencelakai. Siti sekarang jadi lega setelah bertemu


kembali dengan ayahnya yang kini menjadi sahabat ampang limo sati sekaligus


bekerja sebagai penjaga dan pengembala kuda di kediaman rumah gadang mendiang


datuk putih yang mati beberapa minggu yang lalau dengan tragis. Sekarang semua


sudah jelas baik bagi sang ayah maupun sang anak bahwa tiada rencana yang lebih


indah dari rencana allah yang maha atas segala sesuatu.


Buyung sedang menyusuri jalan setapak menuju pasar


di tigo lurah dengan berjalan kaki bersama panjul dan kebetulan malin bagindo

__ADS_1


saat itu tidak ikut bersamanya. Malin bagindo yang pergi bersama ampang limo


sati untuk mengusut kasus yang telah menfitnah bapak tua itu.


__ADS_2