
datuk hitam menuju ke arah itu dan dalam jarak tiga depa
lalu ia
berhenti dan melihat batu besar yang datar dan ukurannya
cukup untuk tempat merebahkan badan. Kemudian datuk duduk di tempat itu sambil
menunggu manusia
itu membuka mata. datuk hitam yang kelelahan kini menguap
dan tak sadar kini
matanya mulai berat. datuk itu perlahan merebahkan badan dan
kini bedanya
sudah melantai di atas batu itu, perlahan kulit mata itu
mengatup dan akhirnya datuk hitam tertidur.
MURKANYA PANDEKA KALEK DI BUKIT TIGO LURAH
Kabar matinya sepuluh anggota panyamun tigo lurah di bagian utara
kini tersebar.
Seluruh pimpinan di serukan untuk berkumpul serta membawa
anggota
masing-masing. Seruan mendadak itu segera di hadiri petinggi
dan anggota
penyamun tigo lurah. Dalam hal ini terkecuali datuk hitam
dari timur
berhalangan hadir sebab sewaktu iya pergi kamarin siang
kabar itu belum sampai
ketempatnya. Semua orang yang berkumpul disana melakukan
musyawarah
kecil-kecilan. masing-masing pemimpin gerombolan itu di
minta masuk oleh ketua
besar panyamun tigo lurah. Mereka membahas kenapa sepuluh
anak buah penyamun
dari utara tewas, bahkan selama ini belum ada sejarahnya
penyamun-penyamun itu
di kalahkan dalam jumlah yang banyak atau pun satu persatu.
Kekesalan terluap
dari ketua panyamun tigo lurah itu.
Siapa yang telah menghabisi anak buahmu sebegini banyak datuk
limpang? Bukankah kau
ikut dalam penyerangan tempo hari bersama anak buahmu!
Kenapa ini bisa terjadi?
Ucapa pandeka KALEK ketua dari seluruh panyamun tigo lurah.
A A Anpun ketua! Aku tidak tau kalau mereka itu pesilat tangguh
ketua! Mereka tau
dimana kami dan mereka lebih dulu memburu kami satu persatu.
Bahkan anak buah
ku yang menyerang langsung mereka sebanyak empat orang di
matikan mereka yang
menghadapi seorang saja. Aku segera lari tuan sebab aku
kalah jumlah dengan
mereka di malam itu. Iya sempat mengejarku tapi di tahan
oleh kawanya yang
lain. Ujar datuk limpang yang harus berterus terang akan
kekalahan yang sudah
__ADS_1
iya terima itu di malam hari yang penuh darah di waktu itu.
Sepuluh anak buah
datuk limpang mati sia-sia tanpa membawa hasil secuilpun.
Pandeka kalek makin
merah padam mukanya mendengar apa yang di ceritakan oleh
datuk limpang.
AARGGGK!!!
Siapa mereka yang berani menantang maut denganku? Kita harus
mencari mereka!
Dan waang datuk waang harus membayar sepuluh nyawa anak buah
waang kepada
mereka! Aku ingin kepalanya waang bawa kesini untuk
kujadikan pajangan didepan
pintu masuk itu. Untuk mengingatkan bahwa tidak ada yang
berani bermain-main
denganku si PANDEKA KALEK!!! Pandeka kalek yang tidak terima
akan kekalahan itu
menjadi sangat marah. Suaranya yang serak-serak banjir itu
mengelegar mengoyak
suasana di dalam ruangan itu. Seketika pandeka kalek kemabli
melirik kearah
mereka yang kini duduk di dalam rumah pandeka itu.
Mana datuk hitam? Ucapnya saat tau datuk hitam ternyata tidak
hadir.
Datuk,hitam naik bukit ketua! Ucap si PENDET ketua dari barat.
HMMN!!
Kalau begitu besok kalian semua bergerak! Cari tau dimana
seberapa hebat mereka! Sampai berani membunuh sepuluh orang
kawanan kita.
Pandeka kalek yang tak senang darahnya itu kini mulai menggerakan
seluruh anggota ke
pelosok negeri tigo lurah. Mereka yang bercirikan pakain
serba hitam yang
berjumlah tak kurang dari seratus orang itu kini mulai di
beri tugas masing-masing
untuk mencari tau keberadaan orang yang sudah menyudahi
saudara mereka di hutan
itu. Datuk limpang yang kini telah di beri titah oleh
pandeka kalek adalah
penunjuk jalan yang akan memberi kejlesan pada kawanan yang
tak kurang dari
seratus orang itu. Kini pembagian tugas mulai dirincikan
satu persatu untuk
mencari dan bergerak secara berkelompok dan sendiri-sendiri.
Datuk limpang
paham betul seperti apa pesilat-pesilat yang kan mereka
cari. Kini pembagian
kawanan intu telah selesei berikut dengan tugas
masing-masing. Separuh kawanan
penyamun hutan tigo lurah sudah di suruh bergerak. Ada yang
__ADS_1
menyamar seperti
pedagang, petani, para tetua adat, dan seperti penduduk yang
pindah atau
migrasi. Semua harus di persiapkan matang oleh datuk limpang
sebab mereka tak
ingin kecolongan kedua kalinya. Setelah tugas di bagi datuk
limpang kini
kembali kedalam dimana pandeka kalek dan datuk pendet
beserta ketua penyamun
dari selatan yang bernama DATUK PENGKA kini telah menantinya
untuk membagi
kepala kawanan. Pandeka kalek memang tidak main-main dengan
masalah yang satu
ini. Belum ada sejarahnya mereka turun gunung secara
bersamaan hanya untuk
mencari beberapa orang yang membunuh kawanan mereka. Demi
tidak ingin di
pencundangi lagi pandeka kalek sebagai ketua utama
perkumpulan penyamun hutan
tigo lurah harus mengerahkan semua anak buah dan pimpinan
tertinggi. Pandeka kalek
adalah orang yang jeli membaca situasi dan selama ini memang
belum ada sejarah
penyamun hutan tigo lurah mati namun kini sejarah itu
terjadi. Kegagahan penyamun
hutan tigo lurah yang sangat di takuti kini sudah tercoreng
dengan matinya
anggota mereka sebanyak sepuluh orang tanpa sempat melakukan
perlawanan.
SAMSUDIN VS BUYUNG
Dua hari sudah berlalu semenjak siti reno bulan dan ayahnya sutan rajo bujang
bertemu. Sudah banyak cerita yang sudah mereka dengar satu sama lain. Siti yang
selama ini merasakan bak burung dalam sangkar emas kini sudah terasa bebas
kembali. Seorang yang di besarkan oleh orang yang menecelakai keluarganya tentu
bukanlah suatau ujian yang mudah bagi siti reno bulan, selama ini siti selalu
menyimpan rasa sakit dan rindu selama bertahun-tahun. Walau tiada marah yang
iya terima dari panghulu basa namun tetap panghulu basa lah yang sudah
mencelakai keluarganya dan hampir membunuh ayahnya serta ibu dari siti reno
bulan yang tidak tau akan hal itu sampai iya meninggal menjadi istri sah oleh
panghulu basa yang ibu dari siti reno bulan masih berstatus istri sutan rajo
bujang. Sungguh sakit yang amat mendalam bagi siti reno bulan hidup selama dua
belas tahun dengan menyimpan rahasia itu dalam-dalam dari semua orang dan
tinggal serumah dengan yang mencelakai. Siti sekarang jadi lega setelah bertemu
kembali dengan ayahnya yang kini menjadi sahabat ampang limo sati sekaligus
bekerja sebagai penjaga dan pengembala kuda di kediaman rumah gadang mendiang
datuk putih yang mati beberapa minggu yang lalau dengan tragis. Sekarang semua
sudah jelas baik bagi sang ayah maupun sang anak bahwa tiada rencana yang lebih
indah dari rencana allah yang maha atas segala sesuatu.
Buyung sedang menyusuri jalan setapak menuju pasar
di tigo lurah dengan berjalan kaki bersama panjul dan kebetulan malin bagindo
__ADS_1
saat itu tidak ikut bersamanya. Malin bagindo yang pergi bersama ampang limo
sati untuk mengusut kasus yang telah menfitnah bapak tua itu.