THE ANCIENT SILAT

THE ANCIENT SILAT
Episode 33


__ADS_3

Waang tertarik padanya nak? Ampanglimo kembli bertanya. Malin hanya terdiam ketika


bapak tua itu tau kalau sejak pandangan pertama iya sudah tertarik pada puti


itu.


Namanya puti bintang talimo! Dia anak gadis satu-satunya mendiang datuk putih. Kalau


waang suka malin nanti bapak katakan kepadanya untuk menemui waang. Hehhehheheh


Bapak ada-ada saja! Bagaimana mungkin bapak menyampaikan kepdanya kalau aku ingin


bertemu! Tadi saja kita di buru oleh mereka yang ada disana. Bapak.. bapak!


Ada-ada saja ucap bapak ini. ujar malin berkilah seraya pipinya makin merah karena ketahuan oleh ampang limo sati yang mengetahui anak muda ini menaruh hati pada perempuan yang bernama puti itu sejak pandangan pertama.


Tapi benarkan wang tertarik dengan anak gadis datuak putih itu? Ucapnya jelas kepada


malin. Malin yang tak bisa mengelak hanya diam lalu mengalihkan pembicaraanya.


Aduuuuh..!!


perutku sakit pak. Ayo kita segera pulang! Aku sudah lapar. Dari tadi pagi


sampe sore begini belum bertemu buah jerami.


Lalu malin bergegas berjalan meninggalakn ampanglimo sati yang masih berdiam kemudian bapak itu ikut


berjalan pula di belakang malin denagn masih beguman iya tersenyum melihat


kearah pemuda yang sayur itu yang tak ingin mengakui ketertarikannya pada puti


bintang talimo anak mendiang datuk putih itu yang cantiknya memang terngiang


kemana-mana. Hanya saja anak gadisnya sangat jarang keluar dan kalo keluar


paling hanya menemani ibunya kepasar membeli bahan makanan untuk dimasak. setidaknya bapak tua itu yakin pemuda sayur itu akan mampu menjaga anak datu putih ini kalau nanti di jodohkan tuhan bersamanya.


datuk ampang limo sati yang sudah mendapat berita dirumah gadang kini menjadi paham akan sabotase pembunuhan datuk putih. Kini jelas bagi ampang limo sati siapa musuh dalam selimut di dalam rumah gadang. Sebelum iya tadi sempat ketahuan dan hampir terkejar oelh para dubalang iya


sempat melihat panghulu kacak keluar untuk benegosiasi dengan anggota yang lain


di bawah yang tak lain adalah para penjilat dirumah gadang. Kini keyakinan itu


bertambah bahwa dalang dari kematian datuk putih sangat berkaitan dengan


panghulu kacak itu. Ampang limo terus berdiam hingga sampai pulang. Hanya


pikiranya yang bermain-main mencari jalan untuk membuktika apa yang sempat iya


lihat tadi. Kini ampang limo sati hanya perlu menunggu waktu sembari memberi


tahu kepada sutan rajo bujang tentang laporan yang di beritahu seblum tadi pagi


iya berangkat bersama malin.


 Sutan rajo bujang yang mencurigai panghulu


kacak sehari sebelum terbunuhnya datuk putih sempat memperhatikan rumah gadang


itu dengan beberapa bawahannya dan kemudia seperti melihat celah untuk dapat


masuk. Keseokan malam terjadi pembunuhan yang di buat seolah-olah kemalingan


tapi sutan rajo bujang bukanlah orang bodoh yang bisa di kelabui. Iya tahu tak

__ADS_1


satupun yang hilang kecuali nyawa datuk putih. Orang itu sempat dilihat sutan


rajo bujang melompat cepat kearah samping rumah gadang dan kemudian hilang dan


tak lama setelah itu entah siapa yang memberi kabar pada penghulu kacak


tiba-tiba saat setelah orang yang membunuh itu hilang iya pun datang. Padahal


dikala itu belum ada yang di beri tahu oleh istri maupun anak datuk putih


kepada orang-orang bawahan datuk putih bahwa suaminya itu sudah meninggal di


bunuh. Sutan rajo bujang yang memperhatikan kejadian itu dari dekat kandang


kuda karna memang di malam itu kebetulan salah satu sekor kuda akan melahirkan.


Tapi saat itu pulalah semua terjadi secara bersamaan dan memang sempat ampang


limo sati juga berada didalam sesaat setelah datuk putih terluka. Iya sempat


bicara dengan datuk putih didengar puti dan istri datuk putih. Datuk putih


memberi amanah kepada ampang limo untuk menjaga anak dan istrinya serta mencari


siapa orang yang hendak menghancurkan kaumnya dari dalam. Setelah itu suara


datuk putih tak keluar dan hanya lidahnya yang bertalu-talu seperti mengucap


dan mungkin saat itu ajalnya sudah mau menjemput. Kemudian ampang limo sati


mencium datangnya orang dari arah pitu. Iya memberi isyarat pada puti dan


ibunya untk segera pingsan tapi bagaimana cara menyuruh orang pingsan. Lalu


lemah dan kemudian pingsan. Suara dobrakan pintu dari luar terdengar BARK!!


Ampang limo masih berada di dekat datuk putih yang kala itu masih melawan


kerasnya sakratul maut. Ampang limo kini melompat keluar dari arah jendela yang


lain lalu timbullah keramiaan dimalam itu karna sorakan panghulu kacak. Semua


di saksikan dari kandang kuda oleh sutan rajo bujang yang tau bahwa orang itu


sehari sebelum kejadian sudah menyusun rencana untuk membunuh datuk putih dan


jebakan itu berhasil menjdikan ampang limo sati sebagai kambing hitam.


Malin dan ampanglimo sudah hampir sampai dirumah panjul. Terlihat jauh disana ada


seseorang yang sedang mencarah kayu bakar. Malin yang sepertinya tidak kenal


dengan orang itu menyangka mungkin itu temannya panjul lagi yang kian hari


makin bertambah. Panjul memang orang yang baik hati tak ada satu tamupun yang


tidak iya layani dengan baik dan dia tak pernah perhitungan sedikitpun kepada


orang yang minta tolong kepdanya ataupun perlu bantuannya. Malin dan ampang


limo sati kini sudah sampai di rumah panjul sembari menuju batu besar tempat


iya biasa duduk smbil bermeditasi disana. Dari arah sana ampang limo pun


menyaut orang yang asik dengan kampak itu.

__ADS_1


Hey waang! Tak penatkah waang sampai sore begini mencarah kayu? Ucap ampang limo


dari atas batu besar yang mengagetkan si toek.


Oooooo waang toek! Ucap malin yang juga di atas batu. Toek hanya tersenyum dan


memberhentikan pekerjaan itu sejenak dan menanggapi si malin.


Tuan sudah  pulang? Ucapnya memulai pembicaraan.


Iya kami baru pulang! Seharusnya aku yang bertanya kepdamu. Kenapa waang sampai


kesini? Mana ketua waang? Toek hanya menunduk dan diam.


Ketuanya sudah meninggal belum beberapa jam ini malin. Ucap seseorang dari arah pintu


yang tak lain adalah sibuyung.


Berarti yang bapak lihat dan cium tadi adalah darah ketua mereka pak? Tanya malin kini


kearah ampang limo. Ampanglimo hanya menjawab dengan gumamnya saja.


MHMM.!!


Kenapa bisa mati buyung? Ucap malin yang penasaran.


Dia meninggal di bunuh birin! Ucap buyung sembari berjalan kearah batu besar.


Toek kemarilah! Tarok dulu kampak waang disana. Naiklah kesini! Kita mengopi dulu


disini. Sebentar lagi kopi akan di bawakan siti untukmu. Toek menurut saja apa


yang di bilang buyung dan ikut naik keatas batu besar itu dan tak lama secerek


kopi panas yang mengeluarkan bau harum pun datang.


Uda!Ini kopinya. Ujar siti kepada buyung yang kini masih berada di bawah batu


besar. Lau buyung menjemput cerek itu dan gelas bambu yang sudah disediakan


siti reno bulan itu dan sambil melirik buyung dan mengeluarkan senyumnya.


Uda hati-hati membawanya! Masih panas soalnya. Sembari tetap tersenyum kepada


buyung.


Terimakasih siti. Uda kesana dulu! Dengan tetap cuek dan skspresi yang datar terhadap siti.


Iya uda! Ucap siti yang agak sedikit kecewa dengan tanggapan buyung kepadanya.


Buyung lalu membawa minuman itu keatas. Dan mereka bercerita disana sambil


menikmati kopi dan menghisap rokok enau di tambah angin sejuk yang sepoi-sepoi di


sori itu membuat kental dinginnya negeri tigo lurah dari atas batu besar itu.


Kini sembari menunggu siti yang memasak makanan dan sutan rajo bujang yang


sedari tadi setelah makan bersama pergi kekandang kuda di rumah gadang untuk


memberi rumput kuda-kuda disana. kini merekapun bersantai setelah penat


seharian dan menunggu semuanya pulang dan membicarakan hal yang tadi sempat di


dapat oleh ampang limo sati.

__ADS_1


__ADS_2