
Waang tertarik padanya nak? Ampanglimo kembli bertanya. Malin hanya terdiam ketika
bapak tua itu tau kalau sejak pandangan pertama iya sudah tertarik pada puti
itu.
Namanya puti bintang talimo! Dia anak gadis satu-satunya mendiang datuk putih. Kalau
waang suka malin nanti bapak katakan kepadanya untuk menemui waang. Hehhehheheh
Bapak ada-ada saja! Bagaimana mungkin bapak menyampaikan kepdanya kalau aku ingin
bertemu! Tadi saja kita di buru oleh mereka yang ada disana. Bapak.. bapak!
Ada-ada saja ucap bapak ini. ujar malin berkilah seraya pipinya makin merah karena ketahuan oleh ampang limo sati yang mengetahui anak muda ini menaruh hati pada perempuan yang bernama puti itu sejak pandangan pertama.
Tapi benarkan wang tertarik dengan anak gadis datuak putih itu? Ucapnya jelas kepada
malin. Malin yang tak bisa mengelak hanya diam lalu mengalihkan pembicaraanya.
Aduuuuh..!!
perutku sakit pak. Ayo kita segera pulang! Aku sudah lapar. Dari tadi pagi
sampe sore begini belum bertemu buah jerami.
Lalu malin bergegas berjalan meninggalakn ampanglimo sati yang masih berdiam kemudian bapak itu ikut
berjalan pula di belakang malin denagn masih beguman iya tersenyum melihat
kearah pemuda yang sayur itu yang tak ingin mengakui ketertarikannya pada puti
bintang talimo anak mendiang datuk putih itu yang cantiknya memang terngiang
kemana-mana. Hanya saja anak gadisnya sangat jarang keluar dan kalo keluar
paling hanya menemani ibunya kepasar membeli bahan makanan untuk dimasak. setidaknya bapak tua itu yakin pemuda sayur itu akan mampu menjaga anak datu putih ini kalau nanti di jodohkan tuhan bersamanya.
datuk ampang limo sati yang sudah mendapat berita dirumah gadang kini menjadi paham akan sabotase pembunuhan datuk putih. Kini jelas bagi ampang limo sati siapa musuh dalam selimut di dalam rumah gadang. Sebelum iya tadi sempat ketahuan dan hampir terkejar oelh para dubalang iya
sempat melihat panghulu kacak keluar untuk benegosiasi dengan anggota yang lain
di bawah yang tak lain adalah para penjilat dirumah gadang. Kini keyakinan itu
bertambah bahwa dalang dari kematian datuk putih sangat berkaitan dengan
panghulu kacak itu. Ampang limo terus berdiam hingga sampai pulang. Hanya
pikiranya yang bermain-main mencari jalan untuk membuktika apa yang sempat iya
lihat tadi. Kini ampang limo sati hanya perlu menunggu waktu sembari memberi
tahu kepada sutan rajo bujang tentang laporan yang di beritahu seblum tadi pagi
iya berangkat bersama malin.
Sutan rajo bujang yang mencurigai panghulu
kacak sehari sebelum terbunuhnya datuk putih sempat memperhatikan rumah gadang
itu dengan beberapa bawahannya dan kemudia seperti melihat celah untuk dapat
masuk. Keseokan malam terjadi pembunuhan yang di buat seolah-olah kemalingan
tapi sutan rajo bujang bukanlah orang bodoh yang bisa di kelabui. Iya tahu tak
__ADS_1
satupun yang hilang kecuali nyawa datuk putih. Orang itu sempat dilihat sutan
rajo bujang melompat cepat kearah samping rumah gadang dan kemudian hilang dan
tak lama setelah itu entah siapa yang memberi kabar pada penghulu kacak
tiba-tiba saat setelah orang yang membunuh itu hilang iya pun datang. Padahal
dikala itu belum ada yang di beri tahu oleh istri maupun anak datuk putih
kepada orang-orang bawahan datuk putih bahwa suaminya itu sudah meninggal di
bunuh. Sutan rajo bujang yang memperhatikan kejadian itu dari dekat kandang
kuda karna memang di malam itu kebetulan salah satu sekor kuda akan melahirkan.
Tapi saat itu pulalah semua terjadi secara bersamaan dan memang sempat ampang
limo sati juga berada didalam sesaat setelah datuk putih terluka. Iya sempat
bicara dengan datuk putih didengar puti dan istri datuk putih. Datuk putih
memberi amanah kepada ampang limo untuk menjaga anak dan istrinya serta mencari
siapa orang yang hendak menghancurkan kaumnya dari dalam. Setelah itu suara
datuk putih tak keluar dan hanya lidahnya yang bertalu-talu seperti mengucap
dan mungkin saat itu ajalnya sudah mau menjemput. Kemudian ampang limo sati
mencium datangnya orang dari arah pitu. Iya memberi isyarat pada puti dan
ibunya untk segera pingsan tapi bagaimana cara menyuruh orang pingsan. Lalu
lemah dan kemudian pingsan. Suara dobrakan pintu dari luar terdengar BARK!!
Ampang limo masih berada di dekat datuk putih yang kala itu masih melawan
kerasnya sakratul maut. Ampang limo kini melompat keluar dari arah jendela yang
lain lalu timbullah keramiaan dimalam itu karna sorakan panghulu kacak. Semua
di saksikan dari kandang kuda oleh sutan rajo bujang yang tau bahwa orang itu
sehari sebelum kejadian sudah menyusun rencana untuk membunuh datuk putih dan
jebakan itu berhasil menjdikan ampang limo sati sebagai kambing hitam.
Malin dan ampanglimo sudah hampir sampai dirumah panjul. Terlihat jauh disana ada
seseorang yang sedang mencarah kayu bakar. Malin yang sepertinya tidak kenal
dengan orang itu menyangka mungkin itu temannya panjul lagi yang kian hari
makin bertambah. Panjul memang orang yang baik hati tak ada satu tamupun yang
tidak iya layani dengan baik dan dia tak pernah perhitungan sedikitpun kepada
orang yang minta tolong kepdanya ataupun perlu bantuannya. Malin dan ampang
limo sati kini sudah sampai di rumah panjul sembari menuju batu besar tempat
iya biasa duduk smbil bermeditasi disana. Dari arah sana ampang limo pun
menyaut orang yang asik dengan kampak itu.
__ADS_1
Hey waang! Tak penatkah waang sampai sore begini mencarah kayu? Ucap ampang limo
dari atas batu besar yang mengagetkan si toek.
Oooooo waang toek! Ucap malin yang juga di atas batu. Toek hanya tersenyum dan
memberhentikan pekerjaan itu sejenak dan menanggapi si malin.
Tuan sudah pulang? Ucapnya memulai pembicaraan.
Iya kami baru pulang! Seharusnya aku yang bertanya kepdamu. Kenapa waang sampai
kesini? Mana ketua waang? Toek hanya menunduk dan diam.
Ketuanya sudah meninggal belum beberapa jam ini malin. Ucap seseorang dari arah pintu
yang tak lain adalah sibuyung.
Berarti yang bapak lihat dan cium tadi adalah darah ketua mereka pak? Tanya malin kini
kearah ampang limo. Ampanglimo hanya menjawab dengan gumamnya saja.
MHMM.!!
Kenapa bisa mati buyung? Ucap malin yang penasaran.
Dia meninggal di bunuh birin! Ucap buyung sembari berjalan kearah batu besar.
Toek kemarilah! Tarok dulu kampak waang disana. Naiklah kesini! Kita mengopi dulu
disini. Sebentar lagi kopi akan di bawakan siti untukmu. Toek menurut saja apa
yang di bilang buyung dan ikut naik keatas batu besar itu dan tak lama secerek
kopi panas yang mengeluarkan bau harum pun datang.
Uda!Ini kopinya. Ujar siti kepada buyung yang kini masih berada di bawah batu
besar. Lau buyung menjemput cerek itu dan gelas bambu yang sudah disediakan
siti reno bulan itu dan sambil melirik buyung dan mengeluarkan senyumnya.
Uda hati-hati membawanya! Masih panas soalnya. Sembari tetap tersenyum kepada
buyung.
Terimakasih siti. Uda kesana dulu! Dengan tetap cuek dan skspresi yang datar terhadap siti.
Iya uda! Ucap siti yang agak sedikit kecewa dengan tanggapan buyung kepadanya.
Buyung lalu membawa minuman itu keatas. Dan mereka bercerita disana sambil
menikmati kopi dan menghisap rokok enau di tambah angin sejuk yang sepoi-sepoi di
sori itu membuat kental dinginnya negeri tigo lurah dari atas batu besar itu.
Kini sembari menunggu siti yang memasak makanan dan sutan rajo bujang yang
sedari tadi setelah makan bersama pergi kekandang kuda di rumah gadang untuk
memberi rumput kuda-kuda disana. kini merekapun bersantai setelah penat
seharian dan menunggu semuanya pulang dan membicarakan hal yang tadi sempat di
dapat oleh ampang limo sati.
__ADS_1