THE ANCIENT SILAT

THE ANCIENT SILAT
Episode 6


__ADS_3

“Iya da!, Siti juga ingin shalat berjamaah di surau. Boleh


kan Siti ikut?”


belum selesai buyung menjawab iya atau tidak di dalam bilik


mak Aminah terdengar


suara mendehem. ”ehm!, Buyung kau ajak saja lah dia shalat


ke surau..!, sekalian dia bisa tau sedikit banyak jalan kampung ini. Agar nanti


kalau dia ingin keluar dia sudah tau jalan mana untuk berbalik pulang kemari.”


Emak berujar sambil menyusul Buyung yang kini masih berdiri di depan pintu. Amak


yang juga sudah berpakaian mukenah dan siap pula untuk berjalan bersama Siti.


amak melanjutkan ujar nya setiba di depan Buyung. “waang


duluan saja!, kalau rasa nya malu berjalan bersama Siti. Amak tau, waang tak ingin


di tertawakan Malin Bagindo bukan?, Kalau tau jalan berduaan dengan wanita


secantik Siti ini?“ Ujar Amak yang sengaja memancing anak nya yang sayur pada


perempuan itu.


muka Buyung langsung memerah karena ejekan Amak itu. Buyung


adalah orang yang tidak terbiasa berjalan berduaan dengan lawan jenisnya


apalagi sosok seperti Siti, selain paras yang


cantik dan menarik juga akan menarik perhatian banyak orang


namun karena Amak Aminah ber sikukuh menyindir terus si Buyung ya harus


bagaimana lagi?, si Buyung terpaksa ikut saja.


“Ya sudah, ayo kita jalan mak!” ujar si buyung.


“Kalian berdua dulu saja lah, mak akan menyusul nanti.” Ujar


Amak menegaskan kepada mereka.


Dengan demikian tak ada pilihan bagi Buyung. Walau bagaimana


pun terpaksa buyung harus berjalan duluan dengan Siti. di tambah suara adzan


sudah hampir mau selesai itu menandakan


tidak lama lagi shalat akan di mulai. Mau tidak mau untuk


kedua kali nya si


Buyung terpaksa ikut kata mak Aminah.


“Baiklah mak, Buyung duluan. assalammualaikum!”


Setelah pamit Buyung dan Siti menuju surau bersama-sama.


Dalam perjalanan tak sepatah pun mereka berbicara. Mereka tau perjalanan menuju


surau itu bukan untuk jalan-jalan tapi beribadah. Buyung yang sangat paham akan


aturan agama itu menjaga dirinya agar tidak terpengaruh suasana. Begitu pun Siti


dia sebenar nya juga perempuan yang taat agama. Dalam sikon seperti itu dia tau


diri pula untuk tidak terlihat murahan di depan laki-laki.


Apalagi orang seperti Buyung yang selalu bersikap dingin

__ADS_1


kepadanya. Sangat rugi juga kalau menarik perhatian dari orang ini. buang-buang


tenaga saja.


Beberapa lama mereka berjalan akhirnya sampai juga di depan


pintu surau. Buyung


memberi tau tempat wudhu perempuan berada di sebelah kiri


surau sekitar 20 m


ke arah kiri. lalu buyung juga pergi berwudhu. Ikomah sudah


selesai berkumandang. Tandanya jamaah harus bersiap untuk merapatkan saf saf


laki-laki. Saf Perempuan di beri pembatas. Namun di subuh itu imam yang biasa


mengimami shalat berhalangan hadir. Saat buyung masih menunduk melihat


sarungnya. dengan usil nya si Malin Bagindo di samping nya mendorong kuat si Buyung


ke depan. Sadar Buyung posisi nya kini di tempat imam. iya melihat kebelakang


melototti si Malin. Malin pura-pura tak memperhatikan nya. Malin yang tau akan


kepandaian Buyung dalam mengimami shalat. Dia sengaja mendorongnya kedepan. karena


selama surau ada, tak ada sekali pun Buyung  mau jadi imam. dengan alasan kalau imam utama


tak ada Malin bisa maju. Namun kali ini dia tak bisa mengelak. Semua orang


sudah merapatkan saf nya dan siap mengikuti imam. Buyung mau tak mau harus


menjadi imam. Dalam hatinya memohon kepada allah untuk


membimbing lidahnya


membacakan ayat-ayat allah yang suci. Keheningan mulai


ikut bertakbir. saat Buyung membaca


al fatihah iya membawakannya dengan irama sedih dan


sayup-sayup sampai seperti


irama kurdi atau langgam kurdi. Di bwakan secara tenang dan


dingin yang merasuk ke dalam setiap hati dari jamaah yang mendengarkan lantunan


suci itu. Tak ada suara di kala itu sampai buyung membaca, “waladdoolliin...


aamiin!!!.”


Siti di saf perempuan bertanya-tanya sendiri dalam


hati" Oh tuhan!, siapa imam yang membawakan lantunnan ayatmu seperti ini?”


Hati Siti berkata-kata


sendiri sambil merasakan dada nya sesak dan matanya mulai


sebak tanpa iya


sadari. air matanya menetes dengan perlahan karena sakin


menyentuh hanya bacaan yang di bawakan imam di kala itu. Di rokaat pertama


setelah membaca alfatihah. Buyung membacakan surat pendek. Surat itu  surat Sajadah atau As-sajda yang berarti


sujud.


“Alif..., lam...., mim....!”

__ADS_1


“Tanziilu alkitabi la rayba fiihi min rabbi alAAlamiin..”


yang artinya turunnya al qur’an tidak ada keraguan pada nya (yaitu) tuhan


seluruh alam.


Bacaan itu berlanjut terus sampai di ayat terakhir surah itu


di bacakan yang berbunyi


”FaaAArid Aaanhum wantathir innahum muntathiroon...” Maka


berpalinglah engkau dar mereka dan tunggulah, sesungguhnya mereka (juga)


menunggu.


Dalam keadaan mata yang masih basah. setelah selesai rukuk.


Dalam keadaan sujud kembali Siti memohon dalam hati agar selalu di ridhoi oleh


tuhan. Banyak yang di minta nya di kala itu namun dadanya yang sesak. Tangis nya


yang tak tertahan membuat dia hanya mampu menggigit bibir agar suara tangis itu


tak mengganggu khusuk nya jamaah lain.


Saat setelah selesai salam. ternyata tak hanya Siti yang


mata nya bengkak. Ternyata hampir separuh jamaah menangis mendengar bacaan imam


saat shalat tadi. Si Buyung!, orang yang sebelumnya tak pernah mau untuk manjdi


imam selama ini tiba-tiba mengimami


Shalat. Bacaan se merdu dia tak ada satu pun imam disana yang


bisa meniru nya dan mampu membuat jamaah menangis tanpa sebab. Buyung memang


orang berbudi. Dia taat beragama dan memang lurus dalam setiap niat nya. Tak


salah orang semacam ini mampu mengguncang kan dada para jamaah. Dia memang taat


dan lagi patuh kepada orang tua nya. Jiwa nya yang begitu kuat memegang akidah


dan hati yang tetap mengingat allah. Buyung telah membuktikan bahwa ada tangis


yang bisa keluar tanpa alasan kalau kita mampu merasakan kedekatan diri pada


allah.


Setelah shalat selesai dan di ikuti zikir dan do’a semua


orang berdiri untuk balik ke rumah. Tinggal lah Buyung dan Malin disana juga Siti


yang ada di pembatas saf antara laki-laki dan perempuan.


“Ternyata firasat ku terhadap kawan ku ini tidak salah!”


Ujar Malin Bagindo kagum mendengar bacaan imam yang di bawakan oleh Buyung


tadi.


“ Wang tau tidak?, hampir semua jamaah menangis mendengar


bacaan waang!” malin melanjutkan ujarnya yang tak habis –habi kagum dan senang nya


mendengar buyung mengimami shalat tadi.


“Waang jangan mengada-ada malinn!, mana ada orang menangis?,


sedikit pun tak ada ku dengar suara orang selain membaca amin bersama.”


Memang dalam membawakan shlat tadi si buyung tidak sedikit

__ADS_1


pun menghiraukan suara dia hanya khusuk membacakan ayat-ayat suci agar tidak


salah. Wajar tak satu pun suara yang akan di dengar telinganya.


__ADS_2