
“Iya da!, Siti juga ingin shalat berjamaah di surau. Boleh
kan Siti ikut?”
belum selesai buyung menjawab iya atau tidak di dalam bilik
mak Aminah terdengar
suara mendehem. ”ehm!, Buyung kau ajak saja lah dia shalat
ke surau..!, sekalian dia bisa tau sedikit banyak jalan kampung ini. Agar nanti
kalau dia ingin keluar dia sudah tau jalan mana untuk berbalik pulang kemari.”
Emak berujar sambil menyusul Buyung yang kini masih berdiri di depan pintu. Amak
yang juga sudah berpakaian mukenah dan siap pula untuk berjalan bersama Siti.
amak melanjutkan ujar nya setiba di depan Buyung. “waang
duluan saja!, kalau rasa nya malu berjalan bersama Siti. Amak tau, waang tak ingin
di tertawakan Malin Bagindo bukan?, Kalau tau jalan berduaan dengan wanita
secantik Siti ini?“ Ujar Amak yang sengaja memancing anak nya yang sayur pada
perempuan itu.
muka Buyung langsung memerah karena ejekan Amak itu. Buyung
adalah orang yang tidak terbiasa berjalan berduaan dengan lawan jenisnya
apalagi sosok seperti Siti, selain paras yang
cantik dan menarik juga akan menarik perhatian banyak orang
namun karena Amak Aminah ber sikukuh menyindir terus si Buyung ya harus
bagaimana lagi?, si Buyung terpaksa ikut saja.
“Ya sudah, ayo kita jalan mak!” ujar si buyung.
“Kalian berdua dulu saja lah, mak akan menyusul nanti.” Ujar
Amak menegaskan kepada mereka.
Dengan demikian tak ada pilihan bagi Buyung. Walau bagaimana
pun terpaksa buyung harus berjalan duluan dengan Siti. di tambah suara adzan
sudah hampir mau selesai itu menandakan
tidak lama lagi shalat akan di mulai. Mau tidak mau untuk
kedua kali nya si
Buyung terpaksa ikut kata mak Aminah.
“Baiklah mak, Buyung duluan. assalammualaikum!”
Setelah pamit Buyung dan Siti menuju surau bersama-sama.
Dalam perjalanan tak sepatah pun mereka berbicara. Mereka tau perjalanan menuju
surau itu bukan untuk jalan-jalan tapi beribadah. Buyung yang sangat paham akan
aturan agama itu menjaga dirinya agar tidak terpengaruh suasana. Begitu pun Siti
dia sebenar nya juga perempuan yang taat agama. Dalam sikon seperti itu dia tau
diri pula untuk tidak terlihat murahan di depan laki-laki.
Apalagi orang seperti Buyung yang selalu bersikap dingin
__ADS_1
kepadanya. Sangat rugi juga kalau menarik perhatian dari orang ini. buang-buang
tenaga saja.
Beberapa lama mereka berjalan akhirnya sampai juga di depan
pintu surau. Buyung
memberi tau tempat wudhu perempuan berada di sebelah kiri
surau sekitar 20 m
ke arah kiri. lalu buyung juga pergi berwudhu. Ikomah sudah
selesai berkumandang. Tandanya jamaah harus bersiap untuk merapatkan saf saf
laki-laki. Saf Perempuan di beri pembatas. Namun di subuh itu imam yang biasa
mengimami shalat berhalangan hadir. Saat buyung masih menunduk melihat
sarungnya. dengan usil nya si Malin Bagindo di samping nya mendorong kuat si Buyung
ke depan. Sadar Buyung posisi nya kini di tempat imam. iya melihat kebelakang
melototti si Malin. Malin pura-pura tak memperhatikan nya. Malin yang tau akan
kepandaian Buyung dalam mengimami shalat. Dia sengaja mendorongnya kedepan. karena
selama surau ada, tak ada sekali pun Buyung mau jadi imam. dengan alasan kalau imam utama
tak ada Malin bisa maju. Namun kali ini dia tak bisa mengelak. Semua orang
sudah merapatkan saf nya dan siap mengikuti imam. Buyung mau tak mau harus
menjadi imam. Dalam hatinya memohon kepada allah untuk
membimbing lidahnya
membacakan ayat-ayat allah yang suci. Keheningan mulai
ikut bertakbir. saat Buyung membaca
al fatihah iya membawakannya dengan irama sedih dan
sayup-sayup sampai seperti
irama kurdi atau langgam kurdi. Di bwakan secara tenang dan
dingin yang merasuk ke dalam setiap hati dari jamaah yang mendengarkan lantunan
suci itu. Tak ada suara di kala itu sampai buyung membaca, “waladdoolliin...
aamiin!!!.”
Siti di saf perempuan bertanya-tanya sendiri dalam
hati" Oh tuhan!, siapa imam yang membawakan lantunnan ayatmu seperti ini?”
Hati Siti berkata-kata
sendiri sambil merasakan dada nya sesak dan matanya mulai
sebak tanpa iya
sadari. air matanya menetes dengan perlahan karena sakin
menyentuh hanya bacaan yang di bawakan imam di kala itu. Di rokaat pertama
setelah membaca alfatihah. Buyung membacakan surat pendek. Surat itu surat Sajadah atau As-sajda yang berarti
sujud.
“Alif..., lam...., mim....!”
__ADS_1
“Tanziilu alkitabi la rayba fiihi min rabbi alAAlamiin..”
yang artinya turunnya al qur’an tidak ada keraguan pada nya (yaitu) tuhan
seluruh alam.
Bacaan itu berlanjut terus sampai di ayat terakhir surah itu
di bacakan yang berbunyi
”FaaAArid Aaanhum wantathir innahum muntathiroon...” Maka
berpalinglah engkau dar mereka dan tunggulah, sesungguhnya mereka (juga)
menunggu.
Dalam keadaan mata yang masih basah. setelah selesai rukuk.
Dalam keadaan sujud kembali Siti memohon dalam hati agar selalu di ridhoi oleh
tuhan. Banyak yang di minta nya di kala itu namun dadanya yang sesak. Tangis nya
yang tak tertahan membuat dia hanya mampu menggigit bibir agar suara tangis itu
tak mengganggu khusuk nya jamaah lain.
Saat setelah selesai salam. ternyata tak hanya Siti yang
mata nya bengkak. Ternyata hampir separuh jamaah menangis mendengar bacaan imam
saat shalat tadi. Si Buyung!, orang yang sebelumnya tak pernah mau untuk manjdi
imam selama ini tiba-tiba mengimami
Shalat. Bacaan se merdu dia tak ada satu pun imam disana yang
bisa meniru nya dan mampu membuat jamaah menangis tanpa sebab. Buyung memang
orang berbudi. Dia taat beragama dan memang lurus dalam setiap niat nya. Tak
salah orang semacam ini mampu mengguncang kan dada para jamaah. Dia memang taat
dan lagi patuh kepada orang tua nya. Jiwa nya yang begitu kuat memegang akidah
dan hati yang tetap mengingat allah. Buyung telah membuktikan bahwa ada tangis
yang bisa keluar tanpa alasan kalau kita mampu merasakan kedekatan diri pada
allah.
Setelah shalat selesai dan di ikuti zikir dan do’a semua
orang berdiri untuk balik ke rumah. Tinggal lah Buyung dan Malin disana juga Siti
yang ada di pembatas saf antara laki-laki dan perempuan.
“Ternyata firasat ku terhadap kawan ku ini tidak salah!”
Ujar Malin Bagindo kagum mendengar bacaan imam yang di bawakan oleh Buyung
tadi.
“ Wang tau tidak?, hampir semua jamaah menangis mendengar
bacaan waang!” malin melanjutkan ujarnya yang tak habis –habi kagum dan senang nya
mendengar buyung mengimami shalat tadi.
“Waang jangan mengada-ada malinn!, mana ada orang menangis?,
sedikit pun tak ada ku dengar suara orang selain membaca amin bersama.”
Memang dalam membawakan shlat tadi si buyung tidak sedikit
__ADS_1
pun menghiraukan suara dia hanya khusuk membacakan ayat-ayat suci agar tidak
salah. Wajar tak satu pun suara yang akan di dengar telinganya.