THE ANCIENT SILAT

THE ANCIENT SILAT
Episode 28


__ADS_3

Buyung kin sudah sampai di pasar bersama panjul iya mencari bahan makanan untuk di


masak beberapa hari kedepan. Panjul yang mulai berkeliling-keliling bersama


buyung sambil memperkenalkan lokasi-lokasi mana tempat bahan-bahan makanan itu


akan di beli mereka. Kini satu persatu bahan makanan sudah di beli dan di


masukakan kedalam unjuk yang di bawa panjul tak terasa pula setengah hari sudah


mereka mengelilingi pasar. Kini perut memang sudah mulai agak keroncongan


sepertinya cacing sedari tadi sudah mempersiapkan baliho dan sebagian sudah


mendemo perut mereka yang sudah keroncongan itu. Panjul membawa buyung kekedai


nasi yang tak jauh dari pasar. Mereka kini masuk kedalam memsan makanan dengan


lauk yang sudah di hidangkan di atas meja makan. Di sana sudah ada gulai ikan


danau, pucuk perancih rebus, samba lado tanak, kalio kambiang, gulai toco, dan


mentimun yang sudah di kupas kulitnya. Ada juga teh manis sebagai teman


bersamtap dengan nasi putih sebagai makanan pokok negeri itu. Kini panjulpun


mulai membasuh tangan yang telah di sediakan obakan di tiap-tiap meja. Buyung


yang juga sedari tadi sudah lapar karna di rumah panjul hanya sempat meminum


kopi setengah gelas kini juga mulai mengambil obokan dan membasuh tangan. Makan


mereka pun di mulai dengan kaki kanan mereka naikan dan kaki kiri mereka


silakan mereka kini menunduk menyuap nasi dan mengambil lauknya yang alangkah


nikmat rasanya jika di makan dengan menggunakan tangan tanpa sendok. Mereka tak


menghiraukan orang sekitar ketika makan. Peluh yang bercucuran akibat samba


lado tanak sesekali mereka lap dengan menggunakan punggung tangan dan sesekali


ingus mereka yang mengalir mereka hirup cepat-cepat seakan tak rela membiarkan


ingus itu mengganggu nikmatnya bersantap mereka. Dua cambung nasi kini sudah


habis dimulai sejak awal mereka makan tadi.


 Panjul dan buyung yang tak ada bedanya saat


makan seolah berpacu mana yang lebih kuat dan banyak menyudhkan dan


menghabiskan makanan mereka. Panjul sudah mulai terperangah saat menambah nasi


yang ke tujuh kalinya yang tinggi nasi itu bak bukit berbobong dan buyung sudah


hampir selesei meminta satu cambung nasi lagi untuk melanjutkan makanya hingga


panjul tercengang.


Ondeh mande! Serius waang buyung mampu menghabiskan satu cembung nasi lagi? ucap


panjul yang tak percaya akan makan sibuyung ini.

__ADS_1


Hehehehehehe


sudah lah panjul kalau waang tidak kuat waang cuci tangan saja duluan. Aku


masih belum kenyang bagaimana aku bisa berhenti. Ucapnya sambil menyeringai ke


arah panjul. Gila waang buyung! Setan apa yang bersama waang sehingga makan


waang begini? Sudah hampir habis beras segantang oleh waang saja seorang makan.


Haduuuh aku sudah terperangah begini waang masih saj tak apa-apa! Waang


kemanakan nasi dalam perut waang hingga bisa muat sebegitu banyak?


Hahahahahahahahahaah!


Sudah-sudah! Cuci lah tangan mu dulu! Sudah pasi aku lihat. Hehehehehheheeh!


Panjul yang heran serta cemas melihat buyung ini hanya menatapnya saja. Apa mungkin


iya mampu menghabiskan makanan sebegitu banyaknya? Takutnya meletus perutnya


yang hanya sebesar serek yang berisi dua liter air itu. Ucap panjul dalam hati.


Tak lama setelah mereka bercakap-cakap panjulpun meneruskan makanya yang tinggal


hanya beberap suap lagi. dari arah luar masuklah empat orang laki-laki dan


memsan makan disana. Mereka duduk disamping meja buyung dan panjul. Buyung yang


menunduk kenasi tidak memperhatikan orang yang berempat baru datang itu. Hanya


saja sepertinya mereka mengenal buyung! Buyung tetap menunduk makan dan tak


bicara sepatahpun sampai makannya habis lalu mencuci tangan. Satu orang dari


Buyung tetap saja cuek dan tak ambil pusing dengan orang itu. Yang dia tau


mereka mungkin meihatnya begitu karna buyung orang baru. Tapi lama buyung


terpana setelah itu. Sambil menurukan kenyang dan tetap bersandar didinding


warung iya mengingat ngingat bebrapa orang itu seperti pernah iya liahat. Yah!


Itu gerombolan yang mencari sit! Ujarnya dalam hati. Buyung yang tau bahwa


pimpinan mereka itu yang sedang menikmati makan adalah samsudin dan ketiga


mereka adalah birin, toek dan karapai segera saja kini mulai kembali seperti


orang yang tidak memperhatikan mereka sampai empat orang yang tadi masuk itu


kinipun sudah selesei dengan makanya. Buyung kini berdiri menunggu panjul yang


sedang membayar makan mereka lalu kemudia keluar dari warung itu, bahan-bahan


yang mereka beli tadi di pasar kini di sandang kembali oleh panjul lalu mereka


mulai melangkah pergi meninggalkan kedai nasi itu.


Ayo kita jalan! Ucap samsudin kini mulai bergerak mengikuti mereka.


Kemana tuan? Ucap karapai yang tau tuannya ini tergesa-gesa tak perlu harus menjawab

__ADS_1


pertanyaannya.


Panjul dan buyung kini sudah masuk kembali kejalan setapak di belakang pasar kampung


tigo lurah. Buyung mendengar ada empat orang melangkah yang sepertinya


mengikuti mereka sejak dari mereka keluar dari kedai nasi tadi. Buyung terus


saja berjalan menuju kedepannya hingga sampai di pertengahan jalan iya sudah


muali muak dengan orang yang sedari tadi membututi mereka.


Keluarlah!


Ucapnya seperti tau bahwa mereka sedari tadi di belakang buyung dan panjul.


Panjul yang heran pada buyung hanya melirik kedepan kebelakang melihat kalau


ada orang yang di seru si buyung.


Keluarlah!


Aku tau kalian mengikuti kami sejaka tadi. Ucap buyung untuk kedua kalinya di


jalan setapak yang sunyi itu.


MHH!!


Tenyata telinga waang seperti telinga bumi sutan! Dalam keadaan sejauh ini


waang bisa mengkap jejak langkah kaki kami. Ucap suara bergema mengoyak


kesunyian jalan setapak itu.


Untuk mengetahui kalian! Aku tak perlu menggunakan telinga bumi. Lagak kalian saja


yang pandeka tapi membututi kami seperti pencuri.


Usah waang banyak bicara sutan! Aku tau  waang


yang membawa tunangan ku siti reno bulan. Samsudin berkata sembari keluar dari


balik pohon besar dan di ikuti ketiga anak buah nya yang keluar dari


semak-semak yang juga tak jau dari sana.


Sudah kutebak! Ternyata memang anak seorang dubalang raja yang dari tadi mengikutiku


seperti anjing! Ucap buyung yang kesal akan dirinya di panggi sutan itu. Panjul


yang sedari tadi hanya terdiam kini berbalik badan kebelakang melihat empat


orang yang sedari tadi mengikuti mereka.


Ondeh mande!!! Ucap panjul yang kaget saat menengok kebelakang.


Hahahahahahahaah!


Usah waang besar mulut sutan! Mengatakan kami seperti anjing! Bukankah waang


yang lebih hina dari seekor binatang yang berani melarikan tunangan oran? Ucap


samsudin ini mengelegarkan dada buyung yang sedari tadi memang sudah terpancing

__ADS_1


emosi meliat lagak anak dubalang raja yang mengacak pinggang itu saat bicara


dan memanggi iya dengan sebutan sutan dari tadi.


__ADS_2