
Buyung kin sudah sampai di pasar bersama panjul iya mencari bahan makanan untuk di
masak beberapa hari kedepan. Panjul yang mulai berkeliling-keliling bersama
buyung sambil memperkenalkan lokasi-lokasi mana tempat bahan-bahan makanan itu
akan di beli mereka. Kini satu persatu bahan makanan sudah di beli dan di
masukakan kedalam unjuk yang di bawa panjul tak terasa pula setengah hari sudah
mereka mengelilingi pasar. Kini perut memang sudah mulai agak keroncongan
sepertinya cacing sedari tadi sudah mempersiapkan baliho dan sebagian sudah
mendemo perut mereka yang sudah keroncongan itu. Panjul membawa buyung kekedai
nasi yang tak jauh dari pasar. Mereka kini masuk kedalam memsan makanan dengan
lauk yang sudah di hidangkan di atas meja makan. Di sana sudah ada gulai ikan
danau, pucuk perancih rebus, samba lado tanak, kalio kambiang, gulai toco, dan
mentimun yang sudah di kupas kulitnya. Ada juga teh manis sebagai teman
bersamtap dengan nasi putih sebagai makanan pokok negeri itu. Kini panjulpun
mulai membasuh tangan yang telah di sediakan obakan di tiap-tiap meja. Buyung
yang juga sedari tadi sudah lapar karna di rumah panjul hanya sempat meminum
kopi setengah gelas kini juga mulai mengambil obokan dan membasuh tangan. Makan
mereka pun di mulai dengan kaki kanan mereka naikan dan kaki kiri mereka
silakan mereka kini menunduk menyuap nasi dan mengambil lauknya yang alangkah
nikmat rasanya jika di makan dengan menggunakan tangan tanpa sendok. Mereka tak
menghiraukan orang sekitar ketika makan. Peluh yang bercucuran akibat samba
lado tanak sesekali mereka lap dengan menggunakan punggung tangan dan sesekali
ingus mereka yang mengalir mereka hirup cepat-cepat seakan tak rela membiarkan
ingus itu mengganggu nikmatnya bersantap mereka. Dua cambung nasi kini sudah
habis dimulai sejak awal mereka makan tadi.
Panjul dan buyung yang tak ada bedanya saat
makan seolah berpacu mana yang lebih kuat dan banyak menyudhkan dan
menghabiskan makanan mereka. Panjul sudah mulai terperangah saat menambah nasi
yang ke tujuh kalinya yang tinggi nasi itu bak bukit berbobong dan buyung sudah
hampir selesei meminta satu cambung nasi lagi untuk melanjutkan makanya hingga
panjul tercengang.
Ondeh mande! Serius waang buyung mampu menghabiskan satu cembung nasi lagi? ucap
panjul yang tak percaya akan makan sibuyung ini.
__ADS_1
Hehehehehehe
sudah lah panjul kalau waang tidak kuat waang cuci tangan saja duluan. Aku
masih belum kenyang bagaimana aku bisa berhenti. Ucapnya sambil menyeringai ke
arah panjul. Gila waang buyung! Setan apa yang bersama waang sehingga makan
waang begini? Sudah hampir habis beras segantang oleh waang saja seorang makan.
Haduuuh aku sudah terperangah begini waang masih saj tak apa-apa! Waang
kemanakan nasi dalam perut waang hingga bisa muat sebegitu banyak?
Hahahahahahahahahaah!
Sudah-sudah! Cuci lah tangan mu dulu! Sudah pasi aku lihat. Hehehehehheheeh!
Panjul yang heran serta cemas melihat buyung ini hanya menatapnya saja. Apa mungkin
iya mampu menghabiskan makanan sebegitu banyaknya? Takutnya meletus perutnya
yang hanya sebesar serek yang berisi dua liter air itu. Ucap panjul dalam hati.
Tak lama setelah mereka bercakap-cakap panjulpun meneruskan makanya yang tinggal
hanya beberap suap lagi. dari arah luar masuklah empat orang laki-laki dan
memsan makan disana. Mereka duduk disamping meja buyung dan panjul. Buyung yang
menunduk kenasi tidak memperhatikan orang yang berempat baru datang itu. Hanya
saja sepertinya mereka mengenal buyung! Buyung tetap menunduk makan dan tak
bicara sepatahpun sampai makannya habis lalu mencuci tangan. Satu orang dari
Buyung tetap saja cuek dan tak ambil pusing dengan orang itu. Yang dia tau
mereka mungkin meihatnya begitu karna buyung orang baru. Tapi lama buyung
terpana setelah itu. Sambil menurukan kenyang dan tetap bersandar didinding
warung iya mengingat ngingat bebrapa orang itu seperti pernah iya liahat. Yah!
Itu gerombolan yang mencari sit! Ujarnya dalam hati. Buyung yang tau bahwa
pimpinan mereka itu yang sedang menikmati makan adalah samsudin dan ketiga
mereka adalah birin, toek dan karapai segera saja kini mulai kembali seperti
orang yang tidak memperhatikan mereka sampai empat orang yang tadi masuk itu
kinipun sudah selesei dengan makanya. Buyung kini berdiri menunggu panjul yang
sedang membayar makan mereka lalu kemudia keluar dari warung itu, bahan-bahan
yang mereka beli tadi di pasar kini di sandang kembali oleh panjul lalu mereka
mulai melangkah pergi meninggalkan kedai nasi itu.
Ayo kita jalan! Ucap samsudin kini mulai bergerak mengikuti mereka.
Kemana tuan? Ucap karapai yang tau tuannya ini tergesa-gesa tak perlu harus menjawab
__ADS_1
pertanyaannya.
Panjul dan buyung kini sudah masuk kembali kejalan setapak di belakang pasar kampung
tigo lurah. Buyung mendengar ada empat orang melangkah yang sepertinya
mengikuti mereka sejak dari mereka keluar dari kedai nasi tadi. Buyung terus
saja berjalan menuju kedepannya hingga sampai di pertengahan jalan iya sudah
muali muak dengan orang yang sedari tadi membututi mereka.
Keluarlah!
Ucapnya seperti tau bahwa mereka sedari tadi di belakang buyung dan panjul.
Panjul yang heran pada buyung hanya melirik kedepan kebelakang melihat kalau
ada orang yang di seru si buyung.
Keluarlah!
Aku tau kalian mengikuti kami sejaka tadi. Ucap buyung untuk kedua kalinya di
jalan setapak yang sunyi itu.
MHH!!
Tenyata telinga waang seperti telinga bumi sutan! Dalam keadaan sejauh ini
waang bisa mengkap jejak langkah kaki kami. Ucap suara bergema mengoyak
kesunyian jalan setapak itu.
Untuk mengetahui kalian! Aku tak perlu menggunakan telinga bumi. Lagak kalian saja
yang pandeka tapi membututi kami seperti pencuri.
Usah waang banyak bicara sutan! Aku tau waang
yang membawa tunangan ku siti reno bulan. Samsudin berkata sembari keluar dari
balik pohon besar dan di ikuti ketiga anak buah nya yang keluar dari
semak-semak yang juga tak jau dari sana.
Sudah kutebak! Ternyata memang anak seorang dubalang raja yang dari tadi mengikutiku
seperti anjing! Ucap buyung yang kesal akan dirinya di panggi sutan itu. Panjul
yang sedari tadi hanya terdiam kini berbalik badan kebelakang melihat empat
orang yang sedari tadi mengikuti mereka.
Ondeh mande!!! Ucap panjul yang kaget saat menengok kebelakang.
Hahahahahahahaah!
Usah waang besar mulut sutan! Mengatakan kami seperti anjing! Bukankah waang
yang lebih hina dari seekor binatang yang berani melarikan tunangan oran? Ucap
samsudin ini mengelegarkan dada buyung yang sedari tadi memang sudah terpancing
__ADS_1
emosi meliat lagak anak dubalang raja yang mengacak pinggang itu saat bicara
dan memanggi iya dengan sebutan sutan dari tadi.