THE ANCIENT SILAT

THE ANCIENT SILAT
Episode 17


__ADS_3

Baiklah nyiak!


Dengan menghentakkan tangannya tiga kali kebumi terdengar


auman seekor harimau


sangat dekat kesana. ternyata itu auman ampanglimo kumbang!


sosok yang


meneyerupai seorang ampanglima yang memakai tongkat dan


berperawakannya yang


sedikit agak sangar mata yang tajam, berjambang, jenggut


yang sepanjang


kepalan, rambutnya yang hingga bahu serta ikat kepala,


dengan motif baju hitam


dari kulit harimau kumbang serta ikat kepala seperti ekor


harimau melingkar dua


lilit dikepalanya.


Assalammualaikum!


Ucap panglimo kumbang sesampai disana.


Walaikum salam!


Ada apa inyiak rubiah sampai memanggilku?


Nati biar punggawa ku yang memberi tahumu panglimo aku akan


segera kerumah gadang. Sudah seharian rumahku ku tinggalakn! Aku permisi pamit


panglimo! Assalammualaikum.


lalu inyiak rubiah membuka tabir gaibnya seperti seberkas


sinar putih terang lalu iya


masuk kedalamnya. Bukan main hebatnya wanita tua itu yang


dengan sekejap


bersamaan dengan cahaya itu hilang. entah kemana perginya


kini tinggalah


punggawa dengan panglimo kumbang.  iya menjelaskan akan maksud inyiak rubiah


kepadanya. Maksud untuk mengawasi cucu dari inyiak rubiah


itu. panglimo yang


sudah paham dengan apa yang sudah di sampaikan kepadanya


kini mulai bergerak


dari sana. Menyusul lima orang yang tadi sudah beranjak jauh


dari warung itu.


Namun bagi panglimo yang bisa bergerak cepat tak begitu


sulit untuk mencari


mereka karna panglimo adalah golongan inyiak yang telinganya


seperti telinga


bumi! dalam waktu singkat mungkin mereka akan terlihat


olehnya.


PERTEMUAN DATUAK BARINGIN DAN MANTI SALENDANG DUNIA.


Didalam rumah gadang manti salendang dunia dan datuak


baringin serta keenam dubalang rajo berdiskusi mengenai kekalahan datuak


baringin siang hari tadi  datuak yang menceritakan dengan rinci bagaimana


seorang ampang limo sati melumpuhkan dubalang rajo pilih tanding itu. kediaman


rumah gadang yang di tempati manti saat ini tak jauh dari arah warung nenek


rubiah. manti sekaligus orang yang saat ini menjadi pimpinan datuak


baringin menjadi heran dengan berita yang di sampaikan dari


mulut ampang limo sati itu.


 apa benar datuk putih


adalah muridnya? Sejak kapan? Dan lebih di


yakinkan dengan ilmu pamungkas datuk putih yang mampu


mengeluarkan api dari


cakaran tanganya persisi seperti ampang limo sati. Manti


salendang dunia kini

__ADS_1


tak tau harus berbuat apa! Yang jelas iya sedang menunggu


siasat apa yang harus


iya lakukan untuk membekuk yang membunuh penghulu mereka


yang bernama datuk


putih. Manti salendang dunia adalah orang keprcayaan


panghulu datuk putih


dimana segala urusan adat selalu di pecahkan dengannya


bersama datuak baringin


dan dublang-dubalangnya. manti salendang dunia adalah orang


yang arif! orang


cendikiawan, tau dengan bayang kata sampai, tau dengan


karang yang akan


menjujung, tau di hutan rimba raya, olah pikir yang seperti


belum terkilas


sudah terkalam, yang nelihat contoh ke yang sudah, yang


mengambil tuah pada yang menang, juga paham akan adat dan agama. kini iya


kebingungan menghadapi polemik yang terjadi di


kaumnya. pada siapa iya akan mencari teman berfikir? Manti


yang kini terdiam


dan memenungi apa yang sudah terjadi. sampai kapan iya harus


mencari tau bak


seperti mencari jarum dalam jerami? bak


mencari sirip di lele?.  Perkerjaan yang tak mudah bagi


manti salendang dunie. kini hanya doa yang bisa di sampaikan pada yang esa.


ikhtiar yang di lakukan saat ini masih menghasilakan kenihilan. manti termenung


mengingat dirumah gadang sana meratapi nasib. Istri dan anak si panghulu datuk


putih sebab jelas sesaat di hadapan mereka ayahnya


anak gadis itu menyongsong seorang pencuri keruang tamu dan


berkelahi disana


mulutnya berbusa


serta tulang leher yang patah dalam waktu tidak sampai satu


menit. Sungguh


tragis kejadian itu yang menyisakan luka di hati anak dan


istri datu putih.


Lima belas hari sudah berlalu dari kejadian naas itu. Kini


bagi manti salendang


dunia dan datuak baringin serta dubalamh yang berenam. Hanya


mampu berusaha


menyelidiki kalau-kalau orang yang membunuh datuk putih itu


bisa di temukan dan


di adili secara hukum kerapatan adat mereka. Setelah selesei


merka


bermusyawarah di tempat manti mereka kini melanjutkan tujuan


kerumah gadang


mendiang datuk putih bersama di ikut sertakannya manti


salndang dunia dalam


perjalanan kesana. Mereka yang sekarang berjumlah delapan


orang bersiap-siap


untuk menembus jalan yang di kuasai penyamun di hutan raya


tigo lurah. Segala


bekal dan jenis persenjataan berupa keris dan pisau kuku


alah di siapkan, karna


perjalanan di malam hari menuju tigo lurah dengan melewati


hutan rimba bukanlah


jalan yang mudah, selain penyamun, binatang berbisa dan

__ADS_1


mahkluk aneh yang bisa


menamoakan diri juga harus di hadapi untuk sampai kebatas


pedesaan mereka. Kali


ini, datuak baringin dan manti salendang dunia yang paling


depan berjalan di


iringi oleh enam orang dubalang-bubalang yang sudah masak


ilmu silatnya. Mereka


mulai melangkah dari rumah manti salendang dunia, membawa


harapan semoga mampu


menemukan si pembunuh datuk putih dn mereka selamat melewati


hutan rimba tigo


lurah itu.


PANYAMUN RIMBO TIGO LURAH.


Hari sudah terasa gelap saat melewati semak semak belukar di


kawasan pintu hutan


tigo lurah. bunyian burung hahtu sangat jelas terdengar


nyaringnya. jangkrik


air yang juga membisingkan telinga bertebaran suaranya di


seluruh pelosok


hutan.


 kita akan melewati


lurah pertama hutan ini! Kalian harus ingat tak satupun yang boleh menoleh


kebelakang! Ucap ampang limo sati memberi tahukan di hutan tak boleh menoleh


kebelakang. Kita harus segera cepat bergerak kelurah itu. Kalian pegang tangan


ku dan waang panjul! paling belakang mengunci barisan kita!  Ucapnya


memberi


ketegasan. Siti, malin bagindo dan buyung tak paham maksud


orang tua ini?


mereka hanya menurut saja dan saat apa yang di perintahkan


itu telah di


lakukan oleh panjul seketika itu mereka melayang seperti


terbang melewati


lurah pertama yang curam. buyung yang melihat lereng tebing


lurah itu menjadi


ngeri akibat tingginya mereka di bawa terbang oleh ampang


limo sati. kini lurah


pertama sudah di lewati dan tampaklah lurah kedua yang


ternyata bukit terjal


karang yang sangat tajam serta air tejun yang setiap saat


bisa mematikan


jikalau melewati kawasan itu sampai tergelincir apalgi


terjatuh dan saat


mereka melewati lurah ketiga mereka mencium bau bangkai yang


sangat menyengat


seperti bangkai manusia yang sengaja di buang kesana. lurah


yang seperti


sumur raksasa dan banyak nya binatang buas didalamnya.


buyung sempat melihat


ada kayu besar seperti beringin yang bergerak tapi saat dia


perhatikan


ternyata itu adalah ular raksasa penunggu lurah ketiga itu.


buyung menelan


ludah! selain takut ular dia sebenarnya takut ketinggian


namun tak ada


pilihan dari pada di makan ular biarlah rasa takut

__ADS_1


ketinggian iya tahan.


__ADS_2