
Aku tidak pernah melarikan tunangan orang samsudin! Justru aku mempertemukan iya
dengan ayah kandungnya disini! Ucap buyung dengan tenang dan menahan emosi.
HAH!
Bukanya dia adalah anak penghulu basa tuan? Ucap karapai yang kaget mendengar
apa yang barusa keluar dari mulut buyung.
Heheheheheh!
Sungguh pandai waang membikin cerita tumbuang! Hahahahaahaha!
Apa masih ada yang perlu aku jawab samsudin? Ucap buyung yang dingin namun pasti.
Oh tidak! Tidak perlu waat jawab tumbuang! Hahahahaha! Tapi kata anak buah ku ini
kau sangat hebat bersilat! Dan aku sangat penasaran dengan silatmu yang dengan
mudah melumpuhkan anak buahku dalam waktu yang singkat. Kiranya aku ingin
mencoba meniba ilmu darimu atau malah waang yang akan menimba ilmu dariku
tumbuang! Chesssss!!! Satu pukulan cepat melayang di iringi dengan kaki yang
membaling dan kemudian di susul dengan kaki yang melambung dari atas kemudian
menyipak kebelakang lalu lembali berputar dan dua telapak tangan kini menuju ke
arah leher dan hulu hati si buyung. Panjul yang kaget dengan serangan itu
segera mundur untuk mencari tempat yang aman bersamaan datangnya dua tangan
samsudin yang mengarah ke buyung tadi. Buyung masih berdiam tangannya masih
menggelantung dan tatapannya masih tegap dan seketika tangan itu mualai sampai
kira-kira hanya berjarak satu senti dari buyung dan samsudin sempat menyeringai
sebelum jurus itu melekat. BUKKG!!!! Samsudin terpental karena sesaat tangan
samsudin hampir sampai satu tendangan lurus kedepan setinggi pinggang melsat
tepat kesalah satu rusuk samsudin yang membuat iya melosoh jatuh membuat toek,
karapai, dan juga birin tak percaya dengan apa yang iya lihat barusan. Baru
kali ini ada orang yang mampu mematahkan serangan samsudin itu dan baru kali
ini pula iya melihat orang tak menangkis serang cepat yang mematikan seperti
serangan samsudin barusan tapi malah membuat orang yang menyerang itu rubuh.
Buyung masih di tempatnya tak bergerak sedikitpun dengan tangan masih di
genggam kebelakang dan kaki yang masih berdiri tegap dan agak sedikit terbuka.
Iya menatap pada samsudin yang besar mulut itu lagi pongah terhadapnya dengan
tatapan dingin. Samsudin kembali bangkit dan kini membuka serangan kembali.
__ADS_1
Erak langkah pun di buka kuda-kuda dipasang rendah dan tangan kini membentuk
kepalan setengah jadi. Ereng mata di mainkan samsudin mencari celah dari mana
serangan haru iya luncurkan. Buyung masih saja diam tanpa gerak dantetap saja
tenang di tempatanya. Panjul yang di balik rumpun semak kini mulai cemas
melihat orang itu tak main-main ingin menyudahi buyung. Iya perlahan segera
beranjak dari sana dan kabur meninggalkan buyung sembari tetap membawa makanan
mentah yang mereka tadi beli di pasar. Kini tinggalah buyung seorang menghadang
samsudin. Buyung yang tetap diam dan tak bergerak itu membuat samsudi agak ragu
mulai menyerang.
Serang sajalah dari mana waang mau samsudin! Ucapnya buyung dingin.
Mendengar ucapan buyung yang seolah meremehkannya itu iya langsung saja menyongsong dari
samping buyung seperti gerakan melayang yang akan menyambar leher. Gerakan itu
amat cepat bahkan tidak termakan oleh mata yang memangdang sekitarnya dan
tiba-tiba saja tangan samsudin sudah menyambar leher buyung kesamping. Buyung
hanya sedikit menjorokan badan kedepan saat sambaran itu berjalak sepadi dari
lehernya kemudian PLAKK! PUK! PIK! PAK! PAKPAKPAKAPAK!!!! Samsudin terkena serangan buyung yang tadi sedikit menjorok dan membuat samsudi berada dekat di sampingnya. Tangan yang tadi di
genggam kebelakang dalam keadaan memutar badan sembiam puluh derajat kini
hidungnya mencucur sejadi-jadinya dan di akhiri dengan serangan galatik yang
menaikan dagunya kebelakang lalu di susul dengan kekuatan jari empat merapat
menuju jakun samsudin yang membuat serangan itu membawa diri samsudin mundur
dan terjongkang. Birin dan toek segera menahan diri samsudin namun tak sempat
tertahan. Iya jatuh ketanah dan seperti orang kehabisan nafas akibat serang
yang di timbulkan oleh buyung barusan ke lehernya hingga sesampai ditanah dan
tak lama setelah seperti ayam di gorok itu samsudin terhening dan badanya yang
tadi menggelepar kini terkulai diam tanpa mulut mengeluarkan suara sedikitpun.
Karapai jadi cemas dengan apa yang terjadi dengan tuanya begitupun toek dan
birin yang dulu pernah pula di lumpuhkan oleh buyung dan malin di suatu malam.
Mereka tau emampua buyung ini tak setara dengan mereka apalagi setelah membuat
rubuh tuanya hanya dengan beberapa jurus yang tidak sampai puluhan kali
jumlahnya. Kini cemas mulai dirasakan mereka sebab kalau mati di sana maka tak
mungkin mereka membawanya pulang kerimbo data sana dan melaporkan pada dubalang
__ADS_1
raja apalagi panghulu basa.
Panjul kini sudah hampir sampai kembali di jalan setapak dimana tadi iya meninggalakan
buyung sendirian berkalahi. Bersama sutan rajo bujang iya kini bergegas
berlarian. Nafasnya ngos-ngosan sampai disana bersama sutan rajo bujang yang
juga terengah mengikuti panjul karna soal lari memang panjul yang sangat cepat.
Kecepatan panjul berlari hampir menyamai seekor kijang hutan. Kini mereka
sampai disana sesaat iya melihat kearah depan ada seorang yang di pangku oleh
kwanan bertiga itu sambil melulung. Ternyata panjul tadi yang lari ketakutan
memanggil bala bantuan rupanya. Sutan rajo bujang yang tiba disana menjadi
heran kenapa orang itu menagis. Di sela-sela tangis itu birin melihat kearah
sutan rajo bujang yang memakai tudung yang kin menghadap kearah samsudin.
DENDAM
BIRIN YANG TAK USAI
HAH!!!
Tuan sutan rajo bujang masih hidup??? Ucapnya kaget yang membuat toek dan
karapai tertegun mendengar birin berucap.
Iya birin! Aku masih hidup. Tuhan telah memanjangkan umurku untuk melihat
penghianatanmu terhadapku birin. Ucap sutan kini mulai mengingatkan kemasa lalu
birin.
Ampun tuan..! bukan aku ingin menghianati tuan tapi dia yang memaksa aku harus
berkhianat hingga harus memberi racun yang melumpuhkan urat-uratmu agar mudah
baginya menghabisinmu tuan. Birin bicara seadanya dan berputus asa.
Tapi syukurlah! Tuan masih selamat. Sedang aku yang
selama dua belas tahun di hantui rasa bersalah kepadamu. Isrti dan anakku
setelah tuan menghilang di bunuh oleh panghulu basa. Aku tak berani melawan
tuan! Tak cukup tanganku untuk menghadapi seorang tokoh licik seperti dia! Aku
ingin membalasnya. Tapi aku tidak kuat. Dan aku sempat mendengar kabarmu
sepuluh tahun lalu bahwa engkau masih hidup. Aku ingin mencarimu tuan! Tapi
rasa bersalah dalam hatiku membuat nyaliku ciut saat namamu terngiang. Jalanlah
yang membuat aku sampai kesini. Aku sudah berusaha menjaga anak tuan semampuku
di rimbo data sana. Tapi itu tak cukup membayar kesalahn ku pada tuan. Aku rela
__ADS_1
tuan bunuh disini.