THE ANCIENT SILAT

THE ANCIENT SILAT
Episode 29


__ADS_3

Aku tidak pernah melarikan tunangan orang samsudin! Justru aku mempertemukan iya


dengan ayah kandungnya disini! Ucap buyung dengan tenang dan menahan emosi.


HAH!


Bukanya dia adalah anak penghulu basa tuan? Ucap karapai yang kaget mendengar


apa yang barusa keluar dari mulut buyung.


Heheheheheh!


Sungguh pandai waang membikin cerita tumbuang! Hahahahaahaha!


Apa masih ada yang perlu aku jawab samsudin? Ucap buyung yang dingin namun pasti.


Oh tidak! Tidak perlu waat jawab tumbuang! Hahahahaha! Tapi kata anak buah ku ini


kau sangat hebat bersilat! Dan aku sangat penasaran dengan silatmu yang dengan


mudah melumpuhkan anak buahku dalam waktu yang singkat. Kiranya aku ingin


mencoba meniba ilmu darimu atau malah waang yang akan menimba ilmu dariku


tumbuang! Chesssss!!! Satu pukulan cepat melayang di iringi dengan kaki yang


membaling dan kemudian di susul dengan kaki yang melambung dari atas kemudian


menyipak kebelakang lalu lembali berputar dan dua telapak tangan kini menuju ke


arah leher dan hulu hati si buyung. Panjul yang kaget dengan serangan itu


segera mundur untuk mencari tempat yang aman bersamaan datangnya dua tangan


samsudin yang mengarah ke buyung tadi. Buyung masih berdiam tangannya masih


menggelantung dan tatapannya masih tegap dan seketika tangan itu mualai sampai


kira-kira hanya berjarak satu senti dari buyung dan samsudin sempat menyeringai


sebelum jurus itu melekat. BUKKG!!!! Samsudin terpental karena sesaat tangan


samsudin hampir sampai satu tendangan lurus kedepan setinggi pinggang melsat


tepat kesalah satu rusuk samsudin yang membuat iya melosoh jatuh membuat toek,


karapai, dan juga birin tak percaya dengan apa yang iya lihat barusan. Baru


kali ini ada orang yang mampu mematahkan serangan samsudin itu dan baru kali


ini pula iya melihat orang tak menangkis serang cepat yang mematikan seperti


serangan samsudin barusan tapi malah membuat orang yang menyerang itu rubuh.


Buyung masih di tempatnya tak bergerak sedikitpun dengan tangan masih di


genggam kebelakang dan kaki yang masih berdiri tegap dan agak sedikit terbuka.


Iya menatap pada samsudin yang besar mulut itu lagi pongah terhadapnya dengan


tatapan dingin. Samsudin kembali bangkit dan kini membuka serangan kembali.

__ADS_1


Erak langkah pun di buka kuda-kuda dipasang rendah dan tangan kini membentuk


kepalan setengah jadi. Ereng mata di mainkan samsudin mencari celah dari mana


serangan haru iya luncurkan. Buyung masih saja diam tanpa gerak dantetap saja


tenang di tempatanya. Panjul yang di balik rumpun semak kini mulai cemas


melihat orang itu tak main-main ingin menyudahi buyung. Iya perlahan segera


beranjak dari sana dan kabur meninggalkan buyung sembari tetap membawa makanan


mentah yang mereka tadi beli di pasar. Kini tinggalah buyung seorang menghadang


samsudin. Buyung yang tetap diam dan tak bergerak itu membuat samsudi agak ragu


mulai menyerang.


Serang sajalah dari mana waang mau samsudin! Ucapnya buyung dingin.


Mendengar ucapan buyung yang seolah meremehkannya itu iya langsung saja menyongsong dari


samping buyung seperti gerakan melayang yang akan menyambar leher. Gerakan itu


amat cepat bahkan tidak termakan oleh mata yang memangdang sekitarnya dan


tiba-tiba saja tangan samsudin sudah menyambar leher buyung kesamping. Buyung


hanya sedikit menjorokan badan kedepan saat sambaran itu berjalak sepadi dari


lehernya kemudian PLAKK! PUK! PIK! PAK!  PAKPAKPAKAPAK!!!! Samsudin terkena serangan buyung yang tadi sedikit menjorok dan membuat samsudi berada dekat di sampingnya. Tangan yang tadi di


genggam kebelakang dalam keadaan memutar badan sembiam puluh derajat kini


hidungnya mencucur sejadi-jadinya dan di akhiri dengan serangan galatik yang


menaikan dagunya kebelakang lalu di susul dengan kekuatan jari empat merapat


menuju jakun samsudin yang membuat serangan itu membawa diri samsudin mundur


dan terjongkang. Birin dan toek segera menahan diri samsudin namun tak sempat


tertahan. Iya jatuh ketanah dan seperti orang kehabisan nafas akibat serang


yang di timbulkan oleh buyung barusan ke lehernya hingga sesampai ditanah dan


tak lama setelah seperti ayam di gorok itu samsudin terhening dan badanya yang


tadi menggelepar kini terkulai diam tanpa mulut mengeluarkan suara sedikitpun.


Karapai jadi cemas dengan apa yang terjadi dengan tuanya begitupun toek dan


birin yang dulu pernah pula di lumpuhkan oleh buyung dan malin di suatu malam.


Mereka tau emampua buyung ini tak setara dengan mereka apalagi setelah membuat


rubuh tuanya hanya dengan beberapa jurus yang tidak sampai puluhan kali


jumlahnya. Kini cemas mulai dirasakan mereka sebab kalau mati di sana maka tak


mungkin mereka membawanya pulang kerimbo data sana dan melaporkan pada dubalang

__ADS_1


raja apalagi panghulu basa.


Panjul kini sudah hampir sampai kembali di jalan setapak dimana tadi iya meninggalakan


buyung sendirian berkalahi. Bersama sutan rajo bujang iya kini bergegas


berlarian. Nafasnya ngos-ngosan sampai disana bersama sutan rajo bujang yang


juga terengah mengikuti panjul karna soal lari memang panjul yang sangat cepat.


Kecepatan panjul berlari hampir menyamai seekor kijang hutan. Kini mereka


sampai disana sesaat iya melihat kearah depan ada seorang yang di pangku oleh


kwanan bertiga itu sambil melulung. Ternyata panjul tadi yang lari ketakutan


memanggil bala bantuan rupanya. Sutan rajo bujang yang tiba disana menjadi


heran kenapa orang itu menagis. Di sela-sela tangis itu birin melihat kearah


sutan rajo bujang yang memakai tudung yang kin menghadap kearah samsudin.


DENDAM


BIRIN YANG TAK USAI


HAH!!!


Tuan sutan rajo bujang masih hidup??? Ucapnya kaget yang membuat toek dan


karapai tertegun mendengar birin berucap.


Iya birin! Aku masih hidup. Tuhan telah memanjangkan umurku untuk melihat


penghianatanmu terhadapku birin. Ucap sutan kini mulai mengingatkan kemasa lalu


birin.


Ampun tuan..! bukan aku ingin menghianati tuan tapi dia yang memaksa aku harus


berkhianat hingga harus memberi racun yang melumpuhkan urat-uratmu agar mudah


baginya menghabisinmu tuan. Birin bicara seadanya dan berputus asa.


Tapi syukurlah! Tuan masih selamat. Sedang aku yang


selama dua belas tahun di hantui rasa bersalah kepadamu. Isrti dan anakku


setelah tuan menghilang di bunuh oleh panghulu basa. Aku tak berani melawan


tuan! Tak cukup tanganku untuk menghadapi seorang tokoh licik seperti dia! Aku


ingin membalasnya. Tapi aku tidak kuat. Dan aku sempat mendengar kabarmu


sepuluh tahun lalu bahwa engkau masih hidup. Aku ingin mencarimu tuan! Tapi


rasa bersalah dalam hatiku membuat nyaliku ciut saat namamu terngiang. Jalanlah


yang membuat aku sampai kesini. Aku sudah berusaha menjaga anak tuan semampuku


di rimbo data sana. Tapi itu tak cukup membayar kesalahn ku pada tuan. Aku rela

__ADS_1


tuan bunuh disini.


__ADS_2