
Hanya saja kenapa ada anak buah panghulu basa yang ikut dengannya itu? Ucap siti
dalam hati yang kin bertanya-tanya. Sekilas iya melihat toek yang dulu hampir
menodainya. Wajahnya kini berubah masam dan kesal. Melihat laki-laki kurang
ajar itu kini bersama ayahnya dan juga buyung. Mereka sampai kedekat siti, siti
yang cemas dengan ayahnya serta buyung kini memeluk ayahnya dan saat menoleh
kearah toek.
Kenapa kamu ikut! Kenapa tak mati saja di makan setan di hutam sana? Ucap siti yang
masih marah melihat ulahnya yang hampir menodainya saat dulu sempat tertangkap
oleh mereka karna berusaha kabur.
Bicara apa kamu siti? Ucap sutan ayah siti.
Biarkan saja yah! Aku benci orang yang hampir menodaiku! Ucapnya sambil mengelelek
kearah toek yang kini tertunduk malu dan takut.
Tapi tidak kan!! Ucap buyung tenang dan menatap kearah mata siti. Yang membuat siti
terkaget.
Sampai sekarang sedikitpun kau tak kurang sehelai benang siti. Ucapnya bunyung
melanjutkan katanya yang barusan iya jeda.
Tapi itukan karna uda yang membantu. Kalau tidak..
Kalau tidak kenapa? Kamu akan ternoda? Ucap buyung datar dan tetap membuat situ
tersipu. Lalu iya mengangguk. Buyung menghela nafas.
Dengar siti! Tak ada yang tak bersalah didunia ini. Tapi uda tidak suka siti bersifat
dendam. Lupakan hal itu! Iya pun sudah mengakui kesalahannya. Siti hanya
tertunduk dan tak menjawab.
Kalo nanti dia begitu lagi padamu siti biar pak birin menghajarnya. Kau tau bukan!
Selama ini siapa yang engkau percaya di rumah panghulu basa. Ucap birin dengan
suaranya yang parau. Siti kembali menunduk.
Maafkanlah dia nak! Ayah senang kalau seorang anak perempuan ayah yang cantik in suka
memaafkan. Ucap ayahnya membujuk siti.
Ayaaah..!!
ucap siti manja sambil memeluk ayahnya.
Baiklah! Aku maafkan dia tapi dengan satu syarat!
Syasyasyasyarat apa siti? Ucap toek terbata-bata.
Mengabdi kepada ayah aku dan jangan membuat aku maupu ayahku kecewa. Satu lagi!
Apa lagi stststssiti? Kebetulan kayu bakar habis dan aku tidak biasa memotong kayu.
__ADS_1
Jadi tolong! Kali kau saja yang mencarahnya untuk memasak sore ini. Siti bicara
sambil tersenyum kepada toek. Muka yang tadi putih pucat serta bibir yang pasi
kini sudah mulai berdarah lagi. toek lega karna siti sudah memaafkannya dan
kini iya segera mencari kampak. Berdua dengan karapai iya kini mencarah kayu
untuk kayu bakar menanak nasi dan merebus air. Sungguh tiada terkira oleh
mereka akan di sambut baik keluarga siti yang selama ini adalah tawanan dan
orang yang menjadi musuh tuan mereka. Toek mulai mencarah kayu dan karapai
mengangkat kau yang sudah terkepimh itu kedalam daput. Itu saja kerja meraka
sampai tak sadar kayu yang di keping oleh toek bisa di gunakan untuk sebulan
menanak dan memasak. Kini masakan sudah siap oleh siti. Mereka akhirnya makan
bersama dirumah itu tanpa malin bagindo dan juga ampang limo sati. Semabari
menikmati masakan siti kini serasa bagi mereka seperti makan bersama keluarga.
Sudah jarang makan bersama begini mereka temui. Semua suka dan duka dalam makan
bersama itu kini tersa. Ada yang saat menyuap nasi terbayang keluarga dirumah.
Ada pula karapai yang yang ingat amaknya. Si birin yang juga sebab karna
mengingat dulu istrinya yang menjanangkan nasi seperti ini juga sibungsu yang
rindu untuk kesawah dan merimba di kampungnya. Sore itu berubah menjadi momen
yang sangat membahagikan terutama bagi birin dan kawanya juga siti yang makin
ANAK
GADIS DATUK PUTIH
Di kediaman rumah gadang mendiang datuk putih manti salendang dunia dan datuk
baringin serta enam dubalang raja siang itu sedang berkumpul di dalam rumah
membicarakan tentang apa yang harus di ambil keputusan setelah gugurnya
penghulu pucuk mereka. Selain mereka disana juga hadir penghulu yang berempat
di antaranya penghulu kacak, penghulu datuak rajo sulaiman, penghulu datuk rajo
bangkeh, dan penghulu sutan pamenan. Mereka bermusyawarah mengenai pengganti
penghulu pucuk yang telah hilang dan tahta itu akan di berikan pada siapa?
Manti yang sebelumnya juga beserta rombongan yang lain seperti malin sulaiman
yang bergerak di biang agama, datuk sampono sebagai cerdik pandai dan paara
dubalang yang juga ikut serta dalam musyawarah ini agak sedikit susah
menentukan pada siapa tahta itu harus di wariskan! Sebab tanpa ada nya pimpinan
penghulu di kaum mereka tentunya sama seperti anak ayam kehilangan induk yang
tak tau dimana harus mengadu dan berlindung juga mengambil keputusan apalagi
__ADS_1
kaum mereka sangat banyak jumlahnya tak mungkin tanpa seorang pimpinan
tertinggi bisa mampu menyeleseikan begitu banyaknya masalah adat secara sepihak
ataupun bermusyawawrah dan bermufakat. Kini masalah itulah yang sedang
dibicarakan di rumah gadang itu. Malin bagindo dan juga mapang limo sati diam
diam menguping mereka dari balik rumah gadang yang kebetulan tak ada penjaga.
Seperti biasa dirumah gadang mendiang datuk putih memang selama ini tak pernah
di beri pengawal atau penjaga untuk ronda malam dan siang sebab disana rukunnya
para kaum dan masyarakat kampung tigo lurah hanya saja sejak kematian yang
tragis menimpa datuk putih saat itu pulalah ada sedikit pergejolakan di kaum
suku itu dimana para penghulu yang lain ingin merebut tahta yang sudah
tergantung itu. Malin yang sedari tadi tak tau apa yang di bicarakan itu tak
tau haru mengapa dia disana dan kenapa dia pula yang harus ikut dengan ampang limo
sati! Masih ada panjul yang lebih tau kaum ini dan sepertinya bapak ini salah
bawa orang! Ujar simalin yang sedari tadi menggerutu saja dalam hatinya.
Pak mau sampai kapan kita disini? Ujar malin yang bosan sedari tadi hanya berjongkok
saja kerjaan nya dan menjadi makanan nyamuk.
Sampai mereka selesei! Seru ampang limo yang sehabis itu kembali diam.
Iya tapi sampai kapan pak?
Waang tunggu saja! Kalau waang bosan silakan waang pergi jalan-jalan kesana! Ujar
ampanglimo yang tak di mengerti oleh malin. Bagaimana di bisa jala-jalan di
bawah kandang itu atau ke perkarangan luar! Bisa-bisa iya di pergoki oleh para
dubalang.
Bapak ada-ada saja. Kemana aku harus jalan-jalan di tempat begini. Ujar malin kembali
mengeluh. Ampang limo sati menghela nafas sambil berdiri.
Waang suntuk malin? Ujar ampang limo yang paham betul anak itu tak biasa mengerjakan
seperti dia. Pergilah kedekat jendela itu lalu melihat-lihat lah keatas.
Mungkin waang akan sedikit betah menungguku disini.
Maksud bapak?
Ah sudah! Turuti saja yang ku bilang! Ucap bapak
tua itu jelas. Malin yang masih lemas dalam hati mau tak mau menuerut saja apa
kata amapang limo sati ini. Dia sekarang berjala kearah jendela yang terbuka
yang tadi di tujukan oleh ampang limo. Sesampai disana tak ada suara orang sedikitpun.
Hanya bunya sisir menyisir rambut dan sesekali tangannya terlihat keluar
__ADS_1
jendela.