THE ANCIENT SILAT

THE ANCIENT SILAT
Episode 20


__ADS_3


Kami dari rimbo data da! kami mencari seseorang yang mungkin


pernah di bawa lewat


melalui tempat ini. Ucap si samsudin menjelaskan ringkas


kemerka dan sitinggi


besar.


Perempuan?


Iya! bersama dua orang pemuda yang mengawalnya. Ucap


samsudin memperjelas keterangan


itu.


Tampaknya wanita yang kalian cari sangat penting!


sampai-sampai kalian bersusah payah


Kesini. tentunya bukan orang sembarangan yang bisa sampai


kesini dengan


selamat. Ucap sitinggi besar memancing ke ongehan samsudin


ini.


DATUK HITAM


Ah tidak da! kami orang biasa. bahkan lima kawaanan kami


mati oleh binatang buas


saat mau kemari. hanya kami yang selamat karna kami


melarikan diri. Mungkin uda


yang bukan orang biasa. dilihat dari cara berpakaian uda dan


aapa yang uda


lewati. nampaknya hanya pandeka yang mampu berjalan malam


melewati hutan itu,


siapa yang tak tau lereng tebi hutan tigo lurah da! yang


setiap saat bahaya


mengintai selain jalanya sulit juga penguasa didalamnya.  kalo bukan pandeka


yang melewati itu maka tak akan sampai kesini dengan baju


utuh, hehhehehehehe.


Kau bisa saja meninggikan kami buyung, hehhehehe! Siapa


namamu?


Saya samsudin uda! Ini karapai, ini birin dan itu toek! Uda


sendiri siapa nama uda?


Aku di gelari datuak hitam!


Samsudin yang tau dengan nama ini dari panghulu basa hanya


tersenyum. mungkin orang ini


ingin mengertaknya dengan nama yang tersohor itu. siapa yang


tidak kenal datuk


hitam, salah satu ketua yang menguasai jalur timur hutan


panyamun di tigo


lurah.


Oooo! datuak hitam! Ucap samsudin seolah tak asing dengan


nama itu. Bagaimana kabar


MAK TUANKU LAREH datuk?


Datuak hitam di kagetkan dengan nama itu! dari ujung kaki


sampai ke ujung kepala darah


memburu naik. Dari mana pula bocah itu tau tuanku lareh?


Ujarnya dalam hati.


Sudah lah datuk! Ayok kita makan.


Samsudin memutus pembicaraan beberapa saat sampai makan


mereka disana selesei. birin ,


toek dan juga karapai yang ikut menyimak pembicaraan mereka


tak menghiraukan


masalah nama itu. baginya mending makan sampai kenyang dari


pada mengurusi

__ADS_1


sebuah nama yang tak bikin kenyang itu. Datuak hitam yang


penasaran dengan anak


ini tak begitu saja membiarkan anak ini lepas begitu saja.


mereka mensegerakan


makannya, malah lebih dulu menghabiskan pesanan mereka. lalu


mereka keluar


datuak hitam  membayar semua makanan itu ke pemilik


warung. Lalu mereka kemabli bergerak keluar dan meninggalkan samsudin dan


kawanannya. Samsudin yang sudah merasa kan ada firasat aneh dalam dirinya tak


menghiraukanya. baginya setelah selesei makan iyalah meminum kopi dengan di


temanai sebatang rokok daun nipah. Tak lama stelah mereka mencicipi satu batang


rokok samsudin kini bergegas ke orang punya warung dan hendak


membayar apa yang sudah di makan namun mendengar ucapan


pemilik warung bahwa


makanan itu di bayarkan oleh orang yang tadi bersama mereka


samsudin teringat


akan datuk hitam. ternyata orang tinggi besar itu yang


membayarkan makanannya.


Samsudin setelah itu segera keluar dan melanjutkan


perjalanan menuju ketigo


lurah, karna firasatnya yang tajam mengatakan, bahwa siti


reno bulan ada


disana. Baru seperempat jalan mereka melewati rumah


perkampungan tadi dan juga


warung nasi itu, hanya berjarak lima ratus meter saja


setelah dari warung, kini


samsudin terasa i ikuti oleh bebrapa orang dari arah


semak-semak. iya tetap


saja berjalan seperti tak merasakan bahaya itu datang lalu


membari isyarat


memulai aksinya dengan


berpura – pura kebelet buang air besar dan segera lari dari


kawanan samsudin.


samsudin terpaksa seolah menunggu disana dan tak lama


setelah itu keluarlah


tiga orang berpakaian hitam yang tadi mengikuti samsudin.  mereka segera


mendekat kearah samsudin yang sedang duduk menyandar di


sebatang pohon besar


berukuran raksasa. samsudin yang duduk di dekat sela sela


urat itu kini


berekting seolah kaget melihat ada yang datang kepada mereka


dengan


berpakaian hitam dan menutupi wajah serta senjata kuku alang


di pinggang mereka


segera perlahan mendekati samsudin toek dan karapai, karapai


yang dasar penakut


sengaja tak di beri tahu samsudin jebakan itu. dan iya


sengaa di letakan paling


belakang dan artinya saat ini dialah paling depan menghadang


tiga orang


panyamun itu. karapai yang melihat tuannya sudah menggigil


tak sengaja


mengeluarkan kencing di dalam celana di iringi bunyi ketut


yang sangat membuat


perut bergulung. saat panyamun itu mendekat hingga berjarak


sedepa dari

__ADS_1


karapai perutnya mulai mual.


Uuwk!!


Kalera! Bau apa ini? Ucap salah seorang yang tak tahan bau


kentut karapai yang


baun sangat menyedihkan itu.


Bau cirik tuan!


Iya ini bau taik! Ucapa dua anak buahnya menyaut pertanyaan


itu. Lalu orang yang


berjarak sedepa dengan karapai ini menatap tajam kearahnya.


seperti mengeraskan


badan. entah menahan hafas atau ingin mengertak karapai yang


jelas posisi itu


yang bisa iya lakukan di depan karapai yang bau cirit itu.


kalau tidak tanpa


karapai berbuat apa-apa mungkin mereka sudah muntah-muntah


karna sakin tidak


tahannya dengan kentut beracun karapai itu. Samsudin yang


tadi berpura-pura


menggigil ketakutan tak tahan menahan tawa sampai air


matanya keluar melihat


penyamun itu trsiksa oleh bau kentut karapai. Samsudin


sampai terjongkang


tertawa melihat eksprei penyamun itu di depan karapai.


karapai yang heran


dengan tuanya hanya menyimak saja tanpa bisa melihat kearah


belakangnya. Karna


iya takut kalau nanti salah satu kuku alang yang mengkilap


itu tiba-tiba di


jakunnya. Samsudin masih saja tertawa. kini pandangan


panyamun itu di tujukan


pada samsudin. toek yang sedari tadi hanya tegak diam di


kejutkan dengan


kedatangan cepat seseorang dari arah samping.  dengan


sekali sambar tiga orang panyamun itu yang berdiri secara berbaris ala PBB


sedepa di depan karapai kini tertegak diam, sambaran tadi adalah sambaran yang


dilakukan dengan kuku alang oleh birin dan setelah siap


menyambar ketiga leher penyamun itu dengan cepat kini iya menunduk


sesaat dan


masih dengan nafas yang terkontrol dan tertahan. iya


menunduk tepat di tengah


tengah ************ karapai dan tepat menghadap di burungnya


itu. Samsudin yang


tak habis tertawanya melihat panyamun tadi menahan nafas


kini kemabli jatuh


menahan tawanya yang terkekeh sambil menujuk kearah karapai.


birin yang masih


heran dengan tuanya hanya terdiam disana namun toek yang


tadi diam kini juga


terkekeh sampai ketanah dan juga menunjuk si karapai. birin


menghela nafas dan


saat itulah!


HWEEEK!!!


HWEK!!! Perutnya menggulung sehebat-henatnya dan akhirya


muntah kayak.


AHAHAHAHAHAHAH!


Samsudin yang tak henti tertawa sampai menangis dengan toek

__ADS_1


melihat kawannya itu hampir mati di depan karapai.


KARAPAI GALADAK!!! Sudah berapa hari waang tak buang hajat ha?


__ADS_2