
Kami dari rimbo data da! kami mencari seseorang yang mungkin
pernah di bawa lewat
melalui tempat ini. Ucap si samsudin menjelaskan ringkas
kemerka dan sitinggi
besar.
Perempuan?
Iya! bersama dua orang pemuda yang mengawalnya. Ucap
samsudin memperjelas keterangan
itu.
Tampaknya wanita yang kalian cari sangat penting!
sampai-sampai kalian bersusah payah
Kesini. tentunya bukan orang sembarangan yang bisa sampai
kesini dengan
selamat. Ucap sitinggi besar memancing ke ongehan samsudin
ini.
DATUK HITAM
Ah tidak da! kami orang biasa. bahkan lima kawaanan kami
mati oleh binatang buas
saat mau kemari. hanya kami yang selamat karna kami
melarikan diri. Mungkin uda
yang bukan orang biasa. dilihat dari cara berpakaian uda dan
aapa yang uda
lewati. nampaknya hanya pandeka yang mampu berjalan malam
melewati hutan itu,
siapa yang tak tau lereng tebi hutan tigo lurah da! yang
setiap saat bahaya
mengintai selain jalanya sulit juga penguasa didalamnya. kalo bukan pandeka
yang melewati itu maka tak akan sampai kesini dengan baju
utuh, hehhehehehehe.
Kau bisa saja meninggikan kami buyung, hehhehehe! Siapa
namamu?
Saya samsudin uda! Ini karapai, ini birin dan itu toek! Uda
sendiri siapa nama uda?
Aku di gelari datuak hitam!
Samsudin yang tau dengan nama ini dari panghulu basa hanya
tersenyum. mungkin orang ini
ingin mengertaknya dengan nama yang tersohor itu. siapa yang
tidak kenal datuk
hitam, salah satu ketua yang menguasai jalur timur hutan
panyamun di tigo
lurah.
Oooo! datuak hitam! Ucap samsudin seolah tak asing dengan
nama itu. Bagaimana kabar
MAK TUANKU LAREH datuk?
Datuak hitam di kagetkan dengan nama itu! dari ujung kaki
sampai ke ujung kepala darah
memburu naik. Dari mana pula bocah itu tau tuanku lareh?
Ujarnya dalam hati.
Sudah lah datuk! Ayok kita makan.
Samsudin memutus pembicaraan beberapa saat sampai makan
mereka disana selesei. birin ,
toek dan juga karapai yang ikut menyimak pembicaraan mereka
tak menghiraukan
masalah nama itu. baginya mending makan sampai kenyang dari
pada mengurusi
__ADS_1
sebuah nama yang tak bikin kenyang itu. Datuak hitam yang
penasaran dengan anak
ini tak begitu saja membiarkan anak ini lepas begitu saja.
mereka mensegerakan
makannya, malah lebih dulu menghabiskan pesanan mereka. lalu
mereka keluar
datuak hitam membayar semua makanan itu ke pemilik
warung. Lalu mereka kemabli bergerak keluar dan meninggalkan samsudin dan
kawanannya. Samsudin yang sudah merasa kan ada firasat aneh dalam dirinya tak
menghiraukanya. baginya setelah selesei makan iyalah meminum kopi dengan di
temanai sebatang rokok daun nipah. Tak lama stelah mereka mencicipi satu batang
rokok samsudin kini bergegas ke orang punya warung dan hendak
membayar apa yang sudah di makan namun mendengar ucapan
pemilik warung bahwa
makanan itu di bayarkan oleh orang yang tadi bersama mereka
samsudin teringat
akan datuk hitam. ternyata orang tinggi besar itu yang
membayarkan makanannya.
Samsudin setelah itu segera keluar dan melanjutkan
perjalanan menuju ketigo
lurah, karna firasatnya yang tajam mengatakan, bahwa siti
reno bulan ada
disana. Baru seperempat jalan mereka melewati rumah
perkampungan tadi dan juga
warung nasi itu, hanya berjarak lima ratus meter saja
setelah dari warung, kini
samsudin terasa i ikuti oleh bebrapa orang dari arah
semak-semak. iya tetap
saja berjalan seperti tak merasakan bahaya itu datang lalu
membari isyarat
memulai aksinya dengan
berpura – pura kebelet buang air besar dan segera lari dari
kawanan samsudin.
samsudin terpaksa seolah menunggu disana dan tak lama
setelah itu keluarlah
tiga orang berpakaian hitam yang tadi mengikuti samsudin. mereka segera
mendekat kearah samsudin yang sedang duduk menyandar di
sebatang pohon besar
berukuran raksasa. samsudin yang duduk di dekat sela sela
urat itu kini
berekting seolah kaget melihat ada yang datang kepada mereka
dengan
berpakaian hitam dan menutupi wajah serta senjata kuku alang
di pinggang mereka
segera perlahan mendekati samsudin toek dan karapai, karapai
yang dasar penakut
sengaja tak di beri tahu samsudin jebakan itu. dan iya
sengaa di letakan paling
belakang dan artinya saat ini dialah paling depan menghadang
tiga orang
panyamun itu. karapai yang melihat tuannya sudah menggigil
tak sengaja
mengeluarkan kencing di dalam celana di iringi bunyi ketut
yang sangat membuat
perut bergulung. saat panyamun itu mendekat hingga berjarak
sedepa dari
__ADS_1
karapai perutnya mulai mual.
Uuwk!!
Kalera! Bau apa ini? Ucap salah seorang yang tak tahan bau
kentut karapai yang
baun sangat menyedihkan itu.
Bau cirik tuan!
Iya ini bau taik! Ucapa dua anak buahnya menyaut pertanyaan
itu. Lalu orang yang
berjarak sedepa dengan karapai ini menatap tajam kearahnya.
seperti mengeraskan
badan. entah menahan hafas atau ingin mengertak karapai yang
jelas posisi itu
yang bisa iya lakukan di depan karapai yang bau cirit itu.
kalau tidak tanpa
karapai berbuat apa-apa mungkin mereka sudah muntah-muntah
karna sakin tidak
tahannya dengan kentut beracun karapai itu. Samsudin yang
tadi berpura-pura
menggigil ketakutan tak tahan menahan tawa sampai air
matanya keluar melihat
penyamun itu trsiksa oleh bau kentut karapai. Samsudin
sampai terjongkang
tertawa melihat eksprei penyamun itu di depan karapai.
karapai yang heran
dengan tuanya hanya menyimak saja tanpa bisa melihat kearah
belakangnya. Karna
iya takut kalau nanti salah satu kuku alang yang mengkilap
itu tiba-tiba di
jakunnya. Samsudin masih saja tertawa. kini pandangan
panyamun itu di tujukan
pada samsudin. toek yang sedari tadi hanya tegak diam di
kejutkan dengan
kedatangan cepat seseorang dari arah samping. dengan
sekali sambar tiga orang panyamun itu yang berdiri secara berbaris ala PBB
sedepa di depan karapai kini tertegak diam, sambaran tadi adalah sambaran yang
dilakukan dengan kuku alang oleh birin dan setelah siap
menyambar ketiga leher penyamun itu dengan cepat kini iya menunduk
sesaat dan
masih dengan nafas yang terkontrol dan tertahan. iya
menunduk tepat di tengah
tengah ************ karapai dan tepat menghadap di burungnya
itu. Samsudin yang
tak habis tertawanya melihat panyamun tadi menahan nafas
kini kemabli jatuh
menahan tawanya yang terkekeh sambil menujuk kearah karapai.
birin yang masih
heran dengan tuanya hanya terdiam disana namun toek yang
tadi diam kini juga
terkekeh sampai ketanah dan juga menunjuk si karapai. birin
menghela nafas dan
saat itulah!
HWEEEK!!!
HWEK!!! Perutnya menggulung sehebat-henatnya dan akhirya
muntah kayak.
AHAHAHAHAHAHAH!
Samsudin yang tak henti tertawa sampai menangis dengan toek
__ADS_1
melihat kawannya itu hampir mati di depan karapai.
KARAPAI GALADAK!!! Sudah berapa hari waang tak buang hajat ha?