
Huuuuhuuuuuuuhuuu!! sAmbil mengusap mata.
Waang kenapa karapai? Ucap samsudin tergelak melihat uah
karapai yang menagis seprti bocah itu.
Aku ingat amak ku tuan! Huuuuuuhuuuuuhuuuuuuuuu! Aku banyak
salah sama amaku!
hauuuuuuhuuuuuhuuuu.
Kalau sudah hampir mati waang baru ingat waang sama dosa!
Ucap birin mencemooh pada karapai.
Huuuuuhuuuuhuuuuuuuuuuuuuu!
Tangis karapai makin mnghiba-hiba
Mereka yang melihat disana merasa kasian dan juga ingin
tertwa. suara berat dan besar
itu menangis sejadi jadinya seperti beruk tunggal yang gagal
kawin. Tapi
melihat kearah kawannya ini tak mungkin mereka biarkan
lama-lama begini. si toek mulai mencari akal.
Kabarnya di hutan dimana kita berpijak sekarang ada ular
lain yang besarnya melebihi
ular yang tadi apakah benar tuan! Toek memberi kode kepada
samsudin.
Tiga ekor toek! dan satunya memiliki tanduk dan kaki seperti
naga! Ucapnya lantang
dan jelas biar bisa didengar oleh karapai. sontak karapai
terdiam dan berdiri tegap.
Ayoklah tuan kita jalan lagi! ucapnya seperti orang yang tak
ingin berlama-lama disana
birin yang dari tadi tak kuat menahan tawa terjungkang gelak
dan terkekeh-kekh
di tanah tapi toek menendangnya agar si karapai tak curiga
karna telah di
takut-takuti oleh meraka. Birin pun mencoba berdiri dan
sesaat gelaknya kembali
tersambur. sudah mulai berjalan menuju lurah yang ketiga.
hampir saja birin tertinggal karna susahnya berdiri mentertawai karapai yang di
bikin hampir mati ketakutan oleh mereka. setelah tawanya habis birin langsung
berlari menyusul ketinggalannya. kini iya pula paling belakang lagi. sudah
tampak lurah ketiga yang akan mereka lewati jaraknya dari mereka
berdiri sekarang dari tempat itu hanya sekitar tiga puluh
meter angin yang
bertiup kencang menuju arah lurah itu seakan beradu adu.
akibat perputaran dari
bukit bukit yang menehan laju angin di bukit-bukit sekitar
nagari tigo lurah
itu. kali ini mereka harus melintasi jalan dengan cara
menyebrangi tali tau
ngalong sebab tak ada jembatan lereng tebing yang bisa di
lewati hanya
akar-akar angin yang membentang dari pangkal keujung rimba
sana. angin yang
menggoyangkan keseimbang sangat perlu mereka perhatikan! sedikit
__ADS_1
saja mereka
salah bergerak saat angin menuju kesana maka kematianlah
yang akan mereka
jumpai! akar rimba itu terbentang sekitar delapan ikat
kesana yang masing-
masing berjarak satu depa. samsudin mulai merayap di akar
pertama di ikuti
toek di akar kedua. di akar ketiga ada karapai dan terkhir
birin. mereka segera
bergerak perlahan melewati tali. saat di tengah tengah
lurah ketiga itu karapai mencoba perlahan merayapi inci demi inci namun
goyangan tertimpa angin membuat iya hampir terjatuh. karapai memegang erat ke
akar yang kini iya rayapi. Wajahnya pucat namun seketika didepan yang berjarak
satu lengan terlihat tongkat memanjang dan iya berusaha menggapai tonkat kayu
itu yang kira kira panjangnya sekitar lima meter. karapai setelah mengambil
tongkat itu segara membentangkannya sambil iya berdiri perlahan dan menatap
kedepan. iya kini mencoba menyeimbangkan badan dengan tongkat yang iya jadikan
pegangan itu .seketika angiin melaju sangat kuat kearanyanya tongkat karapai
menjadi goyang dan iya membungkuk lalu kembali merayap. iya melihat kebawah
sangat gelap dan dalam! hanya bunyi aliran air sungai yang begtu jelas iya
dengar. angin sudah
mulai tenang dan jarak yang iya tempuh masih ada sekitar dua
puluh meter lagi. karapai sekali lagi mencoba berdiri dan mencari keseimbangan.
saat rasa
keseimbangan itu sudah iya dapati pandangannya mulai lurus
kedepan dan dengan
sudah muncul didalam
dirinya dengan enam langkah kini karapai sudah berada di
tepi dan sudah
berdiri di pintu seberang hutan itu. mereka yang masih perlahan
melaju di
tengah-tengah itu ternganga oleh karapai. orang yang penakut
seperti dia bisa
lebih dulu melewati jembatan akar itu yang hanya seperti
tali yang membentang.
samsudin segera menyuruh melemparkan tongkat itu oleh
karapai kearahnya. Tanpa
banyak bicara karapai segera melemparkan dan tepat di sambar
oleh samsudin. iya
sudah memperhatikan bagaimana karapai secepat itu bisa
sampai ke tepian lalu
dengan sedikit meringankan tubuh samsudin yang berjarak tiga puluh meter ke
tepi itu melangkah seperti terbang dengan memakai jurus
peringan tubuhnya.empat langkah berlalu dan iya sampai ketempat karapai.
karapai yang sedari tadi tak tanggung senangnya melewati jembatan itu sebab
terasa lega setelah menyabung nyawa di atas akar yang
melintang itu. mereka menunggu giliran birin dan toek. cara
tadi juga di
berlakukan oleh mereka secara bergantian. Kini semua anggota
mereka telah
__ADS_1
sampai di tepi lurah itu. samsudin dan anak buahnya
melangkah pergi dari sana.
baru lima langkah mereka melewati jalan didekat lurah curam
itu. seketika akar
yang menjadi tali itu telah rubuh dengan pohon yang
menahannya. sungguh nasib
yang masih amat sangat beruntung mereka rasakan dalam
keadaan semaca itu kalo
masih lama mereka di tengah akar tadi mungkin saat ini
mereka sudah menjdi
mayat dan bangkai yang berserak di bawah sana tapi tuhan
maha menolong hingga
mereka selamat dari marabahaya yang mereka lewati itu.
Perjalanan kini di
lanjutkan kembali menuju perkampungan tigo lurah.
BEKAS PEMBUNUHAN.
Samsudin melewati hutan kembali setelah melewati mara bahaya
di hutan tigo lurah. iya
menuju jalan kearah utara dimana sehari yang lalu bunyung,
malin bagindo ,
siti reno bulan, panjul dan amapang limo sati juga melalui
jalur itu. entah apa
yang membawanya kearah utara. dalam hatinya seolah berkata
“UTARA” tapi iya
tak memahami maksudnya dan dia hanya terus bergerak kearah
yang di katakan hatinya itu. firasatnya tak mengatakan bahaya sedikit pun namun
setelah dua ratus meter memasuki jalur itu iya mencium bau mayat yang masih
belum menyengat. iya terus berjalan seratus meter dari jarak mereka kini
berjalan iya merasakan bau itu makin dekat lalu sekitar dua puluh meter
dari arah nya. tampak seperti kain hitam di atas semak. iya mendekat kesana.
ternyata itu adalah kain hitam yang mereka lihat tadi yang tak lain adalah
mayat yang mungkin baru sehari semalam ditempat ini. samsudin kembali berjalan
kedepan. tak jauh dari mayat pertama kira-kira hanya dua puluh lima meter kembli
lagi iya temukan mayat yang persisi sama pakaiannya. tak salah lagi itu adalah
rombongan penyamun hutan ini! tapi siapa yang sudah membunuh mereka?
samsudin sangat tau banyak hutan dan penguasa rimba ini dan
yang membunuh
panyamun-panyamun itu bukan lah orang sembarangan! di lihat
dari cara bekas
seraangannya tak satupun bekas itu jelas perlawanan kecuali
yang di tinggalakn dengan satu
serangn saja dan serangan itu mematikan. samsudin dan anak
buahnya terus
berjalan hingga ujung yang mentok dengan kayu besar dan di
bawah kayu itu ada
ruang untuk lewat di atasnya kembli terlihat ada mayat yang
terkulai lalu
kembali pandangan mereka layangkan dan tampak di semak-semak
ada seseorang
yang juga sudah tidak bernyawa tertutupi
__ADS_1
rumput-runout ilalang.