THE ANCIENT SILAT

THE ANCIENT SILAT
Episode 23


__ADS_3

Huuuuhuuuuuuuhuuu!! sAmbil mengusap mata.


Waang kenapa karapai? Ucap samsudin tergelak melihat uah


karapai yang menagis seprti bocah itu.


Aku ingat amak ku tuan! Huuuuuuhuuuuuhuuuuuuuuu! Aku banyak


salah sama amaku!


hauuuuuuhuuuuuhuuuu.


Kalau sudah hampir mati waang baru ingat waang sama dosa!


Ucap birin mencemooh pada karapai.


Huuuuuhuuuuhuuuuuuuuuuuuuu!


Tangis karapai makin mnghiba-hiba


Mereka yang melihat disana merasa kasian dan juga ingin


tertwa. suara berat dan besar


itu menangis sejadi jadinya seperti beruk tunggal yang gagal


kawin. Tapi


melihat kearah kawannya ini tak mungkin mereka biarkan


lama-lama begini. si toek mulai mencari akal.


Kabarnya di hutan dimana kita berpijak sekarang ada ular


lain yang besarnya melebihi


ular yang tadi apakah benar tuan! Toek memberi kode kepada


samsudin.


Tiga ekor toek! dan satunya memiliki tanduk dan kaki seperti


naga! Ucapnya lantang


dan jelas biar bisa didengar oleh karapai. sontak karapai


terdiam dan berdiri tegap.


Ayoklah tuan kita jalan lagi! ucapnya seperti orang yang tak


ingin berlama-lama disana


birin yang dari tadi tak kuat menahan tawa terjungkang gelak


dan terkekeh-kekh


di tanah tapi toek menendangnya agar si karapai tak curiga


karna telah di


takut-takuti oleh meraka. Birin pun mencoba berdiri dan


sesaat gelaknya kembali


tersambur. sudah mulai berjalan menuju lurah yang ketiga.


hampir saja birin tertinggal karna susahnya berdiri mentertawai karapai yang di


bikin hampir mati ketakutan oleh mereka. setelah tawanya habis birin langsung


berlari menyusul ketinggalannya. kini iya pula paling belakang lagi. sudah


tampak lurah ketiga yang akan mereka lewati jaraknya dari mereka


berdiri sekarang dari tempat itu hanya sekitar tiga puluh


meter angin yang


bertiup kencang menuju arah lurah itu seakan beradu adu.


akibat perputaran dari


bukit bukit yang menehan laju angin di bukit-bukit sekitar


nagari tigo lurah


itu. kali ini mereka harus melintasi jalan dengan cara


menyebrangi tali tau


ngalong sebab tak ada jembatan lereng tebing yang bisa di


lewati hanya


akar-akar angin yang membentang dari pangkal keujung rimba


sana. angin yang


menggoyangkan keseimbang sangat perlu mereka perhatikan! sedikit

__ADS_1


saja mereka


salah bergerak saat angin menuju kesana maka kematianlah


yang akan mereka


jumpai! akar rimba itu terbentang sekitar delapan ikat


kesana yang masing-


masing berjarak satu depa. samsudin mulai merayap di akar


pertama di ikuti


toek di akar kedua. di akar ketiga ada karapai dan terkhir


birin. mereka segera


bergerak perlahan melewati tali.  saat di tengah tengah


lurah ketiga itu karapai mencoba perlahan merayapi inci demi inci namun


goyangan tertimpa angin membuat iya hampir terjatuh. karapai memegang erat ke


akar yang kini iya rayapi. Wajahnya pucat namun seketika didepan yang berjarak


satu lengan terlihat tongkat memanjang dan iya berusaha menggapai tonkat kayu


itu yang kira kira panjangnya sekitar lima meter. karapai setelah mengambil


tongkat itu segara membentangkannya sambil iya berdiri perlahan dan menatap


kedepan. iya kini mencoba menyeimbangkan badan dengan tongkat yang iya jadikan


pegangan itu .seketika angiin melaju sangat kuat kearanyanya tongkat karapai


menjadi goyang dan iya membungkuk lalu kembali merayap. iya melihat kebawah


sangat gelap dan dalam! hanya bunyi aliran air sungai yang begtu jelas iya


dengar. angin sudah


mulai tenang dan jarak yang iya tempuh masih ada sekitar dua


puluh meter lagi. karapai sekali lagi mencoba berdiri dan mencari keseimbangan.


saat rasa


keseimbangan itu sudah iya dapati pandangannya mulai lurus


kedepan dan dengan


sudah muncul didalam


dirinya dengan enam langkah kini karapai sudah berada di


tepi dan sudah


berdiri di pintu seberang hutan itu. mereka yang masih perlahan


melaju di


tengah-tengah itu ternganga oleh karapai. orang yang penakut


seperti dia bisa


lebih dulu melewati jembatan akar itu yang hanya seperti


tali yang membentang.


samsudin segera menyuruh melemparkan tongkat itu oleh


karapai kearahnya. Tanpa


banyak bicara karapai segera melemparkan dan tepat di sambar


oleh samsudin. iya


sudah memperhatikan bagaimana karapai secepat itu bisa


sampai ke tepian  lalu


dengan sedikit meringankan tubuh  samsudin yang berjarak tiga puluh meter ke


tepi itu melangkah seperti terbang dengan memakai jurus


peringan tubuhnya.empat langkah berlalu dan iya sampai ketempat karapai.


karapai yang sedari tadi tak tanggung senangnya melewati jembatan itu sebab


terasa lega setelah menyabung nyawa di atas akar yang


melintang itu. mereka menunggu giliran birin dan toek. cara


tadi juga di


berlakukan oleh mereka secara bergantian. Kini semua anggota


mereka telah

__ADS_1


sampai di tepi lurah itu. samsudin dan anak buahnya


melangkah pergi dari sana.


baru lima langkah mereka melewati jalan didekat lurah curam


itu. seketika akar


yang menjadi tali itu telah rubuh dengan pohon yang


menahannya. sungguh nasib


yang masih amat sangat beruntung mereka rasakan dalam


keadaan semaca itu kalo


masih lama mereka di tengah akar tadi mungkin saat ini


mereka sudah menjdi


mayat dan bangkai yang berserak di bawah sana tapi tuhan


maha menolong hingga


mereka selamat dari marabahaya yang mereka lewati itu.


Perjalanan kini di


lanjutkan kembali menuju perkampungan tigo lurah.


BEKAS PEMBUNUHAN.


Samsudin melewati hutan kembali setelah melewati mara bahaya


di hutan tigo lurah. iya


menuju jalan kearah utara dimana sehari yang lalu bunyung,


malin bagindo ,


siti reno bulan, panjul dan amapang limo sati juga melalui


jalur itu. entah apa


yang membawanya kearah utara. dalam hatinya seolah berkata


“UTARA” tapi iya


tak memahami maksudnya dan dia hanya terus bergerak kearah


yang di katakan hatinya itu. firasatnya tak mengatakan bahaya sedikit pun namun


setelah dua ratus meter memasuki jalur itu iya mencium bau mayat yang masih


belum menyengat. iya terus berjalan seratus meter dari jarak mereka kini


berjalan iya merasakan bau itu makin dekat  lalu sekitar dua puluh meter


dari arah nya. tampak seperti kain hitam di atas semak. iya mendekat kesana.


ternyata itu adalah kain hitam yang mereka lihat tadi yang tak lain adalah


mayat yang mungkin baru sehari semalam ditempat ini. samsudin kembali berjalan


kedepan. tak jauh dari mayat pertama kira-kira hanya dua puluh lima meter kembli


lagi iya temukan mayat yang persisi sama pakaiannya. tak salah lagi itu adalah


rombongan penyamun hutan ini! tapi siapa yang sudah membunuh mereka?


samsudin sangat tau banyak hutan dan penguasa rimba ini dan


yang membunuh


panyamun-panyamun itu bukan lah orang sembarangan! di lihat


dari cara bekas


seraangannya tak satupun bekas itu jelas perlawanan kecuali


yang di tinggalakn dengan satu


serangn saja dan serangan itu mematikan. samsudin dan anak


buahnya terus


berjalan hingga ujung yang mentok dengan kayu besar dan di


bawah kayu itu ada


ruang untuk lewat di atasnya kembli terlihat ada mayat yang


terkulai lalu


kembali pandangan mereka layangkan dan tampak di semak-semak


ada seseorang


yang juga sudah tidak bernyawa tertutupi

__ADS_1


rumput-runout ilalang.


__ADS_2