
Samsudin yang memimpin jalan tetap
tenang melewati hutan semak belukar penuh ular hijau yang
banyak iru yang
rata-rata besarnya sekitar ibu jari kaki. ular yang yang
sangat beracun tapi
samsudin yang sudah paham akan ular itu membiasakan diri
agar tetap tenang.
Belum habis pucat karapai yang berjalan di belakang kini iya
harus melewati
hutan berbisa ini matanya menyapu semua arah hutan di sana
seabagi bentuk
waspada kalau-kalau ada saja ular yang jatuh ke tubuhnya
atau kayu lapuk yang
rubuh. karapai berjalan mundur mengingat dia adalah orang
yang penakut di
kawanan itu. samsudi yang memaklumin tingkah karapai hanya
terus berjalan tanpa
iya menghiraukannya. sampailah mereka di pintu lurah kedua
dimana bahaya
air terjun, dan ular –ular raksasa siap menantinya kalau
mereka terpeleset dan
terjatu.
Tuan! Apa kita masih jauh tuan? Ucapa karapai dengan bibir
yang tak lagi berdarah
serta mukanya yang berpeluh dingin lagi pucat.
Waang ingin pulang karapai? Ucap samsudin dingin kepadanya.
Karapai melihat
keseeliling arah hutan! takut yang iya rasakan kini
menjadi-jadi. kalau iya
pulang maka iya sendirian harus melawati tebing lereng yang
curam itu kembali
kalo iya ikuti mendengar bunyi air terjun saja nyali nya
sudah ciut tapi tak
ada pilihan yang menguntungkan bagi karapai mau tak mau dar
pada berjalan
pulang sendirian lebih baik bersama.
Tetetetidak tuan! Saya hanya sedikit geli dengan
hutan ini! Sambil iya memgang tengkuk lehernya dengan tangan
kiri.
Kalau begitu ayo kita menyebrang!
Samsudin kembali bergerak melewati lurah yang kedua. disitu
terdapat batu yang penuh lumut dan jembatan gantung yang sudah lapuk serta
basah akibat serean embun dari air
terjun yang lumayan besar dan tinggi penghubung jalan dari
lurah yang tidak
merata itu hanya di bantu pemegangan dari akar angin yang
menjulai dari
pepohonan besar di tebing lereng itu. jarang yang selamat
melewati lurah kedua
ini biasanya namun samsudin bukanlah tak tau dengan keadaan
jalan ini. mungkin
yang parah dari ini sudah biasa iya lewati dulu sewaktu
berguru ke hutan angker
bukik pambantaian, dimana di tempat itu terjadi pembunuhan
besar-besaran
anatara dua suku kaum yang memperebutkan kekuasaan wilayah
__ADS_1
bukik barisan bagian
barat. penyamun pilih tanding tak kalah hebatnya dengan
pengusa rimba ini
sebab itu lah iya merasa tidak ragu untuk melangkah, karapai
yang berjalan
paling belakang membuat birin dan toek menjadi gamang
melewati jemabtan pertama. getaran yang di hasilkan dari kaki karapai membuat
jembatan itu tak stabil dan sdikit bergoyang.
PAJA KALERA! Waang kenapa karapai? Ucap toek kesal
melihatnya berjalan menggigil
seperti itu.
Tidak apa-apa toek! waang teruslah berjalan. Ucapnya sambil
tetap berusaha tenang
melewati jembatan gantung utu.
Setelah sampai di ujung karapai menarik nafasnya dalam-dalam
lalu merukuk memgang
kakinya namun sat itu pula lah lidahnya tersasa kaku dan tak
bisa berucap.
LA,LA,
WA AWA WA! Lidahnya kaku dan tak tentu arah.
Waang kenapa karapai? Ucap birin yang heran melihat tingkah
lakunya seperti itu. Lalu
karapai menunjuk kearah depannya dan sontak mereka berbalik
badan dan
melihat lidah yang terulur-ulur dan bercabang sepenjang
pelepah kelapa serta
desiran yang begitu menggerikan. ukuran badan mahkluk itu
tak kurang dari
sebesar pohon beringin dan panjangnya sekitar tiga puluh
meter. iya melilit
berdiri kira-kira
hanya berjarak seratus meter dari mahkluk besar itu.
samsudin yang cepat tau
bahaya mengancamnya melumuri badanya dengan suatu bahan
minyak yang sangat
aneh baunya yang dia bawa dari rimbo data dia memberikan
kepada masing-masing anak buahnya itu satu satu lalu mencampuribya dengan cara
menambahkan air lalu menyiramkannya dari atas kepala dan kini ular besar itu
mulai bergerak seperti mencium bau mangsanya.
samsudin yang lebih dulu memberi isyarat kepada anak buahnya
kini menyuruh
mereka diam dan tak bergerak. Ular besar raksasa itu kini
berjarak sepeluh
meter dari tempat karapai berbaring wajah yang pucat serta
badan yang
menggigil melihat lidah ular itu menjulur kedekatnya tak
kuasa iya tahan
rasanya ingin terbang nyawa dari badan dan kemudia mulut
ular itu menganga
sambil mendesir panjang lalu sedikit menegakan kepala.
karapai yang kini
sangat cemas beserta samsudin dan dua kawannya kini menahan
nafas. ular itu bersiap
mengarah kekarapai di depannya dan sontak sesaat setelah
ular itu melaju
dengan kekuatan penuh sambil membuka mulutnya. karapai
__ADS_1
memicingkan mata dan
menahan nafas dan gigilan badan yang hebat.
MATI AMBO MAK!!!
Ucap karapai sesat setelah ular itu melaju cepat kearahnya
tapi
anehnya tak ada rasa ia saat ini di perut ular malah rasanya
iya masih di
atas batu tempat iya berbaring tadi. karapai mulai membuka
matanya perlahan.
AKU MASIH HIDUPKH?
Ucapnya yang masih belum percaya dengan apa yang sudah
terjadi
sesaat sebelum iya tadi menutup mata lalu karapai menoleh
kearah sampin di
dekat air terjun dan dia ternganga kembali melihat apa yang
terjadi
berikutnya? ular besar yang hendak memakannya tadi kini
berkelahi dengan seekor
kera raksasa samsudin yang tau itu bisa menghambat iya dari
kejaran ular
segera bangun dan bergegas dari sana. karapai,toek dan birin
yang melihat
tuannya sudah bergegas iya pun menyusulnya sesekali karapai
menyempatkan
melihat kearah kera raksasa itu. iya lihat betapa ular besar
itu menggulung kera raksasa
tapi saat kera itu menganga dan memekik terlihat jelas
taringnya yang besar
dan runcing itu menggigit ular besarr yang kini menggulung
badannya. setelah
mereka sampai di ujung jalan lurah kedua itu samsudin
melompat dan bersembunyi
di antara pohon-pohon rimbun. iya melihat kearah perkelahian
dua mahkluk
raksasa itu. bagaimana sadisnya kera raksasa ini yang
membelah mulut ular itu
ketika hendak menggigit tangannya ular itu di belah dengan
kedua tangannya
oleh kera itu. suara pekikan kera yang sangat aneh itu
mengoyak kesunyian hutan
belantara di rimba lurah kedua itu dengan dhsyat!
burung-burung bertebangan
kian kemari di sambut pekiakan elang pemakan bangkai yang
siap meluncur
menunggu keuntungan yang sudah di perbuat kera raksasa. kini
ular itu mati
terkulai dengan badan yang koyak menjadi dua. kera itu
memukul-mukul dadanya
dan kemudian memekik sekencang-kencangnya AAUUUUUUU!!! lalu
turun kebawah jurang lurah yang dalam itu kembali.
Sungguh beruntung samsudin kali ini kalau tidak di tolong
mahkluk itu mungkin iya
akan menjadi santapan siang ular yang buas. kini iya bisa
bernafas lega dan
mulai melirik kearah hutan iya lihat kearah birin dan toek
yang masih sesak
__ADS_1
nafas setelah berlariaan menyusulnya dan iya melirik ke arah
karapai