THE ANCIENT SILAT

THE ANCIENT SILAT
Episode 22


__ADS_3

Samsudin yang memimpin jalan tetap


tenang melewati hutan semak belukar penuh ular hijau yang


banyak iru yang


rata-rata besarnya sekitar ibu jari kaki. ular yang yang


sangat beracun tapi


samsudin yang sudah paham akan ular itu membiasakan diri


agar tetap tenang.


Belum habis pucat karapai yang berjalan di belakang kini iya


harus melewati


hutan berbisa ini matanya menyapu semua arah hutan di sana


seabagi bentuk


waspada kalau-kalau ada saja ular yang jatuh ke tubuhnya


atau kayu lapuk yang


rubuh. karapai berjalan mundur mengingat dia adalah orang


yang penakut di


kawanan itu. samsudi yang memaklumin tingkah karapai hanya


terus berjalan tanpa


iya menghiraukannya. sampailah mereka di pintu lurah kedua


dimana bahaya


air terjun, dan ular –ular raksasa siap menantinya kalau


mereka terpeleset dan


terjatu.


Tuan! Apa kita masih jauh tuan? Ucapa karapai dengan bibir


yang tak lagi berdarah


serta mukanya yang berpeluh dingin lagi pucat.


Waang ingin pulang karapai? Ucap samsudin dingin kepadanya.


Karapai melihat


keseeliling arah hutan! takut yang iya rasakan kini


menjadi-jadi. kalau iya


pulang maka iya sendirian harus melawati tebing lereng yang


curam itu kembali


kalo iya ikuti mendengar bunyi air terjun saja nyali nya


sudah ciut tapi tak


ada pilihan yang menguntungkan bagi karapai mau tak mau dar


pada berjalan


pulang sendirian lebih baik bersama.


Tetetetidak tuan!  Saya hanya sedikit geli dengan


hutan ini! Sambil iya memgang tengkuk lehernya dengan tangan


kiri.


Kalau begitu ayo kita menyebrang!


Samsudin kembali bergerak melewati lurah yang kedua. disitu


terdapat batu yang penuh lumut dan jembatan gantung yang sudah lapuk serta


basah akibat serean embun dari air


terjun yang lumayan besar dan tinggi penghubung jalan dari


lurah yang tidak


merata itu hanya di bantu pemegangan dari akar angin yang


menjulai dari


pepohonan besar di tebing lereng itu. jarang yang selamat


melewati lurah kedua


ini biasanya namun samsudin bukanlah tak tau dengan keadaan


jalan ini. mungkin


yang parah dari ini sudah biasa iya lewati dulu sewaktu


berguru ke hutan angker


bukik pambantaian, dimana di tempat itu terjadi pembunuhan


besar-besaran


anatara dua suku kaum yang memperebutkan kekuasaan wilayah

__ADS_1


bukik barisan bagian


barat. penyamun pilih tanding tak kalah hebatnya dengan


pengusa rimba ini


sebab itu lah iya merasa tidak ragu untuk melangkah, karapai


yang berjalan


paling belakang membuat birin dan toek menjadi gamang


melewati jemabtan pertama. getaran yang di hasilkan dari kaki karapai membuat


jembatan itu tak stabil dan sdikit bergoyang.


PAJA KALERA! Waang kenapa karapai? Ucap toek kesal


melihatnya berjalan menggigil


seperti itu.


Tidak apa-apa toek! waang teruslah berjalan. Ucapnya sambil


tetap berusaha tenang


melewati jembatan gantung utu.


Setelah sampai di ujung karapai menarik nafasnya dalam-dalam


lalu merukuk memgang


kakinya namun sat itu pula lah lidahnya tersasa kaku dan tak


bisa berucap.


LA,LA,


WA AWA WA! Lidahnya kaku dan tak tentu arah.


Waang kenapa karapai? Ucap birin yang heran melihat tingkah


lakunya seperti itu. Lalu


karapai menunjuk kearah depannya dan sontak mereka berbalik


badan dan


melihat lidah yang terulur-ulur dan bercabang sepenjang


pelepah kelapa serta


desiran yang begitu menggerikan. ukuran badan mahkluk itu


tak kurang dari


sebesar pohon beringin dan panjangnya sekitar tiga puluh


meter. iya melilit


berdiri kira-kira


hanya berjarak seratus meter dari mahkluk besar itu.


samsudin yang cepat tau


bahaya mengancamnya melumuri badanya dengan suatu bahan


minyak yang sangat


aneh baunya yang dia bawa dari rimbo data dia memberikan


kepada masing-masing anak buahnya itu satu satu lalu mencampuribya dengan cara


menambahkan air lalu menyiramkannya dari atas kepala dan kini ular besar itu


mulai bergerak seperti mencium bau mangsanya.


samsudin yang lebih dulu memberi isyarat kepada anak buahnya


kini menyuruh


mereka diam dan tak bergerak. Ular besar raksasa itu kini


berjarak sepeluh


meter dari tempat karapai berbaring wajah yang pucat serta


badan yang


menggigil melihat lidah ular itu menjulur kedekatnya tak


kuasa iya tahan


rasanya ingin terbang nyawa dari badan dan kemudia mulut


ular itu menganga


sambil mendesir panjang lalu sedikit menegakan kepala.


karapai yang kini


sangat cemas beserta samsudin dan dua kawannya kini menahan


nafas. ular itu bersiap


mengarah kekarapai di depannya dan sontak sesaat setelah


ular itu melaju


dengan kekuatan penuh sambil membuka mulutnya. karapai

__ADS_1


memicingkan mata dan


menahan nafas dan gigilan badan yang hebat.


MATI AMBO MAK!!!


Ucap karapai sesat setelah ular itu melaju cepat kearahnya


tapi


anehnya tak ada rasa ia saat ini di perut ular malah rasanya


iya masih di


atas batu tempat iya berbaring tadi. karapai mulai membuka


matanya perlahan.


AKU MASIH HIDUPKH?


Ucapnya yang masih belum percaya dengan apa yang sudah


terjadi


sesaat sebelum iya tadi menutup mata lalu karapai menoleh


kearah sampin di


dekat air terjun dan dia ternganga kembali melihat apa yang


terjadi


berikutnya? ular besar yang hendak memakannya tadi kini


berkelahi dengan seekor


kera raksasa samsudin yang tau itu bisa menghambat iya dari


kejaran ular


segera bangun dan bergegas dari sana. karapai,toek dan birin


yang melihat


tuannya sudah bergegas iya pun menyusulnya sesekali karapai


menyempatkan


melihat kearah kera raksasa itu. iya lihat betapa ular besar


itu menggulung kera raksasa


tapi saat kera itu menganga dan memekik terlihat jelas


taringnya yang besar


dan runcing itu menggigit ular besarr yang kini menggulung


badannya. setelah


mereka sampai di ujung jalan lurah kedua itu samsudin


melompat dan bersembunyi


di antara pohon-pohon rimbun. iya melihat kearah perkelahian


dua mahkluk


raksasa itu. bagaimana sadisnya kera raksasa ini yang


membelah mulut ular itu


ketika hendak menggigit tangannya ular itu di belah dengan


kedua tangannya


oleh kera itu. suara pekikan kera yang sangat aneh itu


mengoyak kesunyian hutan


belantara di rimba lurah kedua itu dengan dhsyat!


burung-burung bertebangan


kian kemari di sambut pekiakan elang pemakan bangkai yang


siap meluncur


menunggu keuntungan yang sudah di perbuat kera raksasa. kini


ular itu mati


terkulai dengan badan yang koyak menjadi dua. kera itu


memukul-mukul dadanya


dan kemudian memekik sekencang-kencangnya AAUUUUUUU!!! lalu


turun kebawah jurang lurah yang dalam itu kembali.


Sungguh beruntung samsudin kali ini kalau tidak di tolong


mahkluk itu mungkin iya


akan menjadi santapan siang ular yang buas. kini iya bisa


bernafas lega dan


mulai melirik kearah hutan iya lihat kearah birin dan toek


yang masih sesak

__ADS_1


nafas setelah berlariaan menyusulnya dan iya melirik ke arah


karapai


__ADS_2