
Sesampai di ujung lurah ketiga ampang limo sati mulai
terbang rendah dan
kemudian melakukan pendaratan.
kita sudah melewati hutan tigo lurah! Belum habis bicaranya
ampang limo terdengar
buyung yang muntah-muntah
UUWEEEJ!! UUUWEEEK!!!
Hei! Kenapa waang kawan? Ucap malin yang cemas dengan
kawannya ini takut kenapa-napa.
Aku takut ketinggian
kawan uuuweeek!! Uuuweeek!
Makanya kawan lain kali waang bilang kalau waang tak biasa
ketinggian!
Mana ku tau bapak ini membawa kita terbang selama itu!
Hahahahahaha! Sabar kawan dari pada kita berjalan melewati
lereng lurah ini?
Kau benar juga!
Siti yang takut kenapa-kenapa pada sibuyung langsung
mendekat kearahnya. iya urutkan
pundak buyung agar mualnya bisa hilang.
Siti!
Ya uda!
Kau lahir sungsang ya?
Kenapa uda?
Pintar sekali kau menghilangkan mualku hanya dengan
memijatnya!
Siti yang kesal di becandai itu memilin pusar buyung
aaaakk!!!
Dia cemas dengan kondisi buyung tapi di candai macam itu.
Dia lalu cemberut dan tak ingin bicara dengan buyung.
Hei..! jangan marah!
Aku tidak marah!Dengan mukanya yang dilipat seperti lepat
segan.
Aku tak bermaksud bercanda siti! terimakasih! Tapi benar, pijatanmu
itu membuat mual di perutku hilang. Lalu buyung mengusap kepala siti, siti jadi
luluh dan
senyumnya kembali teruruai.
Kini mereka melanjutkan perjalanan. perjalanan yang sebenarnya
harus di lewati. katirau yang sedari tadi dalam buntalan kain siti kini keluar
dan menopang di pundaknya lalu entah apa yang iya katakan pada hutan itu
seketika itu keluarlah sosok seperti harimau yang mengeluarkan auman yang
sangat berat yang mendengarnya menegakkan bulu roma, ARRRGHH!!
Katirau itu segera
melompat kesana lalu dua harimau yang berdiri itu kini menghadap ke
katirau salah satu bahu dari dua ekor harimau yang berjalan
seperti manusia itu di duduki oleh katirau, kali ini katirau yang memimpin
perjalanan bersama
dua ekor sahabatnya. mereka baik malin, buyung, panjul, dan
ampang limo
mengikuti arah katirau itu juga siti yang di sengajakan
__ADS_1
berjalan di
tengah-tengah mereka. Sepermpat hutan itu kini telah di
lewati oleh katirau
bersama rombongannya namun saat hendak kembli berjalan mereka
di halang oleh
orang berpakaian serba hitam dan memiliki tongkat yang tak
lain adalah
ampanglimo kumbang.
BERHENTI!! Ucapnya kepada rombongan itu
PANGLIMO KUMBANG!
Ucap salah sekor harimau itu yang membuat buyung dan malin
serta siti jadi
tercengang mendengar ada binatang yang bisa bicara.
sebenarnya mereka bukan binatang
tapi cindaku. Hanya cindaku yang berjalan dengan dua kaki.
SEBAIKNYA KALIAN
GANTI ARAH JALAN KALIAN! Ucap panglima kumbang yang lebih
dulu mengamati jalan hutan belantara itu.
Baiklah ampanglimo kumbang! Lalu kemana kami harus berjalan?
Ucap ampang limo sati
Berjalanlah kearah utara dari sini, kalian akan berputar
untk melewati ranjau di ujung
sana dan berhati-hatilah sebab di sepan sana para penyamun
yang lebih dari
sepuluh orang sudah menanti kalian. Dan waang KATIMAN,
KATIBIN, dan KATIRAU,
Ampang limo sati menghilang dari sana setelah melewati satu
pohon kayu. tak terlihat
jelas kemana arahnya setelah itu namun perjalanan mesti
harus tetap di tempuh.
kini ampanglimo sati yang memimpin perjalanan di depan dan
di belakang ada
sibuyung, karana dalam keadaan mengancam semacam ini tak
akan kita tau dari
mana arah datangnya musuh. ampanglimo yang kuat dengan indra
penciumannya kini
mulai merasakan bau-bau tak sedap begitupun telinga buyung
yang menangkap
suara kain di hembus angin dari atas pohon. iya yakin sudah
masuk kesarang
penyamun itu lalu dengan badan berputar.
BRUKK, KRRK seperti
ada tulang yang patah ketika panjul menoleh kebelakang ternyata yang patah itu
adalah tulang leher penyamun yang melompat dari atas kayu yang di sambar cepat
lehernya oleh bunyung. panjul yang terkaget segera mulutnya di tahan oleh
bungsu lalu
mngisyaratkan dengan telunjuknya untuk diam dan berjalan
seperti tak mengetahui
ada orang di hutan itu. Siti yang bersama katirau dan katibin
juga katiman
__ADS_1
sengaja menunci pendengaran dan penglihatannya agar tak
melihat apapun di malam
itu, iya sengaja di lamun oleh katirau guna mencegah
suaranya memki akibat
melihat penyamun yang menyerang. Kini di depan sana bau yang
makin menyengat
di balik pohon makin dekat di rasakan ampanglimo. iya segera
menundukan badan
dan dan seketika itu,
PRAKKK!!! Telur –telur penyamun yang mengnyongsong itu *****
iya tak sempat mengeluarkan suara karna tertahan oleh tendangan yang mematikan
yang langsung merenggut nyawanya. kini dua penyamun sudah tewas di
perkirakan yang lebih dari sepuluh orang itu sudah
berkurang. kini tinggalah sekitar sembilan orang yang siap mendekap kepada
mereka. Panjul yang sesak ingin terkencing segera melompat kearah semak
tumitnya mendarat cepat di semak itu tanpa iya sadari salah seorang penyamun
yang menyamar di semak itu saat iya melompat tepat di daerah mematikan,
GDBUKKK!! Suara itu adalah suara bunyi ***** penyamun yang
patah dan satu telurnya pecah.
Nah disini saja! aku sudah tidak tahan.
Lama panjul terkencing sampai iya tak merasakan bahwa
tumitnya memcah punya orang di bawahnya. Saat iya memperbaiki ikat celana
endongnya iya baru mersakan salah satu tapaknya yang bergeser merasakan
lunak-lunak dan kenyal lalu iya coba memandang kearah kakinya itu dan menatap
sampai keujung arah di terkencing itu. bukan main kagetnya si panjul! tanpa
sadar iya sudah menyudahi nyawa orang dengan tumitnya
di tambah wajah penyamun itu iya kencingi.
sungguh tiada rasa kepripenyamunan
si panjul ini! iya segera naik dan memberi isyrat pada
buyung kalau disana sudah ada yang mati di tumitnya, buyung hampir gelak
terkekeh mendegar panjul menceritakan kejadian barusan, namun di hutan penuh
ancaman itu iya menahan tawanya. Malin yang berada di depan panjul kini
melewati semak –semak. Lengan bajunya tersangkut oleh beberapa akar, iya
mencabut kerambitnya dan memotong akar yang menyangkut itu. akar itu sangat
kuat, hingga malin mengayun kerambitnya dari bawah keatas dengan tenaga yang
kuat karna kesal dengan akar itu tapi sayangnya kerambitnya tersangkut pula di
atas karna dia mendengar
seperti menembus katang pohon yang lapuk. kembali untuk
kedua kalinya malin
mengeluarkan tenaga dengan kesal lalu menarik kuat
kerambitnya kebawah.
AKHKHKH!! Iya kaget dengan suara itu dan sontak melihat di
atas pohon melintang
Itu. ternyata kerambitnya tidak tersangkutt kepohon
seperti yang dia kira melainkan kekerongkongan seorang penyamun yang di tembus
sampai urat lehernya dan mengelinjang seperti ayan sudah di sembelih. malin
yang tak percaya dengan apa yang barusan terjadi terlompat cepat kedepan
menyusul siti yang dia lihat tak mendengar atau pun melihat apa-apa seperti orang
yang kosong pikiran. Bulu kuduk malin kin berdiri suara burung hantu saut
bersaut dan sejenak hening merasuk dalam perjalanan itu.
__ADS_1