THE ANCIENT SILAT

THE ANCIENT SILAT
Episode 19


__ADS_3

empat orang sudah mati penyamun di tangan meraka kini dalam


pendengaran buyung terdengar ada tapak yang berlarian dan melompat kian kemari.


jumlahnya sekitar tujuh orang, iya bergerak cepat melewati barisan


itu hingga melewati ampang limo sati dan bergerak sendiri


sampai didepan sana


panjul malin dan ampang limo mendengar suara berderak,


memekik, dan suara yang


tertahan, setelah itu tak lama kemudian terdengar lagi suara


seperti kayu


jatuh dan kemudian suara yang seperti nangka masak terjatuh.


 GEDEBUK!!


 Kini 10 orang sudah mati disana buyung yang menangkap suara yang makin jauh ingin


mengejar sumber suara itu namun dengan kecepatan cepat.


ampang limo sudah


sampai disana.


 JANGAN DI KEJAR!


Ucapnya perlahan.


buyung mengurungkan niatnya itu. Iya kembli berjalan di


belakang rombongannya dan satu jam sudah berlalu. iya sudah sampai di


perbatasan kampung tigo lurah. Kejadian di


dalam hutan itu kini menjadi awal perjuangan buyung dan


kawan-kawan barunya


ini. dia tak pernah berfikir sebelumnya akan menggunakan


jurus-jurus yang mematikan itu namun saat ini ada hal yang harus iya


pertahankan yaitu di bunuh atau  membunuh?


baginya mempertahankan diri agar tidak dibunuh itu lebih baik. bukan niat yang


ingin membunuh, tapi keadaan semacam ini membuat iya tak punya pilihan. Ayam


sudah berkok mendakan subuh sudah hampir datang.


katiman dan katibin kini kembali kedalam hutan. iya hanya


berpesan kepada mapang limo sati kalau memang di butuhkan iya akan datang.


katirau kembali masuk ke buntalan kain. Siti yang baru tersadar mendengar kokok


ayam hutan itu tercengang.


Sudah dimana kita? Ucapnya yang masih belum percaya iya


sudah berada di luar hutan.


Kita sudah sampai di kampung nak! Ucap ampang limo sati


menegaskan.


Bukankah tadi kita masih di pintu hutan bapak? Siti mulai


kebingungan begitu juga malin


yang heran kenapa tadi siti seolah-olah kosong dari badanya.


Heheheheheh sudahlah ayok kita jalan! sebentar lagi subuh!


Kalau kelamaan disini bisa


mati kelaparan saya. Ucap panjul mengubah arah pembicaraan


agar siti tak


terfokus pada keheranannya yang sudah sampai di kampung itu.


semua kembali berjalan menuju rumah panjul yang tidak jauh


dari arah perbatasan


kampung tigo lurah itu  mungkin hanya berjarak satu kilo meter saja.


hanya


perlu waktu dua pulu menit lagi mereka sudah sampai ke


kediaman panjul.


 

__ADS_1


SAMSUDIN DI WARUNG INYIAK RUBIAH.


Samsudin , karapai, birin, dan toek pagi itu sudah sampai


perkampungan. perut yang sedari subuh sudah sangat lapar tak bisa mereka tahan


namun mereka tak satupun melihat ada


warung yang buka sepagi ini. mereka terus berjalan sampai di


ujung


perkampungan. bau jengkol yang mendayu-dayu tercium oleh


karapai dan birin.


Ada bau jengkol tuan! Ucap karapai yang sedari tadi sudah


tak tahan dengan laparnya.


Dimana arah bau itu? Ucap samsudin berbalik tanya kepadanya


Mungkin dari arah sana tuan! Iya menunjuk satu rumah yang


keliatan seperti kedai kopi.


Ayok kita kesana! toek, birin!


Mereka yang sedari tadi sudah sangat lapar tanpa di suruhpun


bergegas kesana. apalagi di suruh. bau jengkol yang sangat menyengat hidung


makin menjadi-jadi dan membuat mereka


makin tak mampu menahan lapar. Sesampainya disana karapai


segera memesan


makanan dan kopi panas. birin juga memesan teh telor, toek


dan samsudin juga


menunggu nasi dan sambal yang akan segera di sediakan.


Tuan! kemana kita harus mencari lagi situ reno bulan tuan?


Sambil karapai mengunyah kerupuk jengkol yang sedari tadi ada di depan mereka.


Entahlah karapai.


aku hanya mengikuti firasat ku saja dan aku yakin firasatku


tak pernah dari


berjudi karna


firasat ku ini. Aku yakin dia pernah kemari.


Kenapa tuan bisa yakin tuan? Ucap birin yang sedikit kurang


yakin akan kedatangn siti pernah ketempat ini.


Kau ragu dengan firasat anak seorang dubalang raja birin?


Bukan begitu tuan..! setau ku memang firasat tuan tak pernah


sebelumnya meleset. tapi kini


kita sudah berapa jauh dari rimbo data mencarinya tuan.


Belum lagi teman-teman


kita yang mati di puncak bukik kompong dua hari yang lalu


tuan, ucap birin yang


mengeluh mengingat kawananya mati di cabi makhluk tak jelas


itu.


Sudah berapa lama kau ikut dengan ku birin? Sampai kau ragu


akan kemampuan yang aku miliki? Kalau perkiraan dan firasatku meleset. aku


berjanji pada kalian untuk kembali


menuntut ilmu ku ini di tambah satu peti emas untuk kalian.


Ucap samsudin


meyakinkan anak buahnya.


Kami tak pernah ragu akan firasat tuan tapi masalah emas


satu peti untuk kami bertiga kalau


tuan memaksa kami tak kan menolak, hehehhehhehehe


KALERA WAANG SEMUA!


Balas samsudin juga ikut menyeringai bersama mereka.

__ADS_1


Taklama kemudia hidangan pun sampai mereka kini mulai


mencicipi makanan. lapar yang sudah tertahan selama perjalanan kini di


lampiaskan di warung itu. karapai yang


sedari tadi sudah sangat lapar menelungkup saja pada makanan


itu sampai kentut


pekaknya tak satupun keluar. begituulah nasib mereka yang


sehari semalam tak


bertemu makanan dalam perjalanan selain rimba. mereka juga


tak tau jenis


makanan apa yang bisa di makan didalamnya. yang mereka paham


adalah makanan di


warung seperti ini! selain enak juga sesuai selera mereka.


mereka tak susah


payah cukup modal kepeng yang banyak maka makanan akan


mereka dapat. Wajar


saja mereka tak biasa merimba selain berburu kijang dan ****


selain itu tak


jelas bagi mereka masalah hutan tapi itu pula yang


menyelamatkan mereka


melewatu rimba-rimba yang mereka jalani sampai kesini.


dengan berpengalaman


berburu setidaknya mereka selamat dari marabahaya.


Dalam mereka sedang asik menikmati makannya. terlihat dari


arah pintu masuk ada empat orang lagi yang masuk kedalam warung juga memesan


makanaan seperti mereka yang paling


depan berprawakan agak tinggi besar dan berpakaian seperti


pakaian karapai.


mungkin mereka juga pandeka seperti rombongan samsudin itu.


tiga orang yang


mengikutinya yang pakaiannya sama seperti sitinggi besar itu


memegang hulu


golok. semuanya memakai ikat kepala dan pakaiannya serba


hitam entah dari mana


asalnya hingga mereka tiba disana. si samsudin yang punya


firasat tajam yakin


bahwa mereka bukan orang sini. mereka mungkin dari hutan


dilihat dari


pakaiannya sama persis baunya dengan mereka. barang kali


mereka juga dari


perjalanan jauh.


Mari makan da! Ucap samsudin memberi sapa kepada si tinggi


besar yang mungkin ketua


dari orang-orang itu.


Mari!


Jawabnya dengan sopan juga.


Uda datang dari mana bersama kawan-kawan uda ini? Tanya


samsudin kembali ketinggi


besar itu.


Kami dari hutan tigo lurah! kalau kalian datang dari mana


dan ingin kemana? Rasanya


kalian tidak biasa kesini! Ucap si tinggi besar kesamsudin

__ADS_1


yang tetap menyuap


nasi dan juga sambil bicara kepadanya.


__ADS_2