
empat orang sudah mati penyamun di tangan meraka kini dalam
pendengaran buyung terdengar ada tapak yang berlarian dan melompat kian kemari.
jumlahnya sekitar tujuh orang, iya bergerak cepat melewati barisan
itu hingga melewati ampang limo sati dan bergerak sendiri
sampai didepan sana
panjul malin dan ampang limo mendengar suara berderak,
memekik, dan suara yang
tertahan, setelah itu tak lama kemudian terdengar lagi suara
seperti kayu
jatuh dan kemudian suara yang seperti nangka masak terjatuh.
GEDEBUK!!
Kini 10 orang sudah mati disana buyung yang menangkap suara yang makin jauh ingin
mengejar sumber suara itu namun dengan kecepatan cepat.
ampang limo sudah
sampai disana.
JANGAN DI KEJAR!
Ucapnya perlahan.
buyung mengurungkan niatnya itu. Iya kembli berjalan di
belakang rombongannya dan satu jam sudah berlalu. iya sudah sampai di
perbatasan kampung tigo lurah. Kejadian di
dalam hutan itu kini menjadi awal perjuangan buyung dan
kawan-kawan barunya
ini. dia tak pernah berfikir sebelumnya akan menggunakan
jurus-jurus yang mematikan itu namun saat ini ada hal yang harus iya
pertahankan yaitu di bunuh atau membunuh?
baginya mempertahankan diri agar tidak dibunuh itu lebih baik. bukan niat yang
ingin membunuh, tapi keadaan semacam ini membuat iya tak punya pilihan. Ayam
sudah berkok mendakan subuh sudah hampir datang.
katiman dan katibin kini kembali kedalam hutan. iya hanya
berpesan kepada mapang limo sati kalau memang di butuhkan iya akan datang.
katirau kembali masuk ke buntalan kain. Siti yang baru tersadar mendengar kokok
ayam hutan itu tercengang.
Sudah dimana kita? Ucapnya yang masih belum percaya iya
sudah berada di luar hutan.
Kita sudah sampai di kampung nak! Ucap ampang limo sati
menegaskan.
Bukankah tadi kita masih di pintu hutan bapak? Siti mulai
kebingungan begitu juga malin
yang heran kenapa tadi siti seolah-olah kosong dari badanya.
Heheheheheh sudahlah ayok kita jalan! sebentar lagi subuh!
Kalau kelamaan disini bisa
mati kelaparan saya. Ucap panjul mengubah arah pembicaraan
agar siti tak
terfokus pada keheranannya yang sudah sampai di kampung itu.
semua kembali berjalan menuju rumah panjul yang tidak jauh
dari arah perbatasan
kampung tigo lurah itu mungkin hanya berjarak satu kilo meter saja.
hanya
perlu waktu dua pulu menit lagi mereka sudah sampai ke
kediaman panjul.
__ADS_1
SAMSUDIN DI WARUNG INYIAK RUBIAH.
Samsudin , karapai, birin, dan toek pagi itu sudah sampai
perkampungan. perut yang sedari subuh sudah sangat lapar tak bisa mereka tahan
namun mereka tak satupun melihat ada
warung yang buka sepagi ini. mereka terus berjalan sampai di
ujung
perkampungan. bau jengkol yang mendayu-dayu tercium oleh
karapai dan birin.
Ada bau jengkol tuan! Ucap karapai yang sedari tadi sudah
tak tahan dengan laparnya.
Dimana arah bau itu? Ucap samsudin berbalik tanya kepadanya
Mungkin dari arah sana tuan! Iya menunjuk satu rumah yang
keliatan seperti kedai kopi.
Ayok kita kesana! toek, birin!
Mereka yang sedari tadi sudah sangat lapar tanpa di suruhpun
bergegas kesana. apalagi di suruh. bau jengkol yang sangat menyengat hidung
makin menjadi-jadi dan membuat mereka
makin tak mampu menahan lapar. Sesampainya disana karapai
segera memesan
makanan dan kopi panas. birin juga memesan teh telor, toek
dan samsudin juga
menunggu nasi dan sambal yang akan segera di sediakan.
Tuan! kemana kita harus mencari lagi situ reno bulan tuan?
Sambil karapai mengunyah kerupuk jengkol yang sedari tadi ada di depan mereka.
Entahlah karapai.
aku hanya mengikuti firasat ku saja dan aku yakin firasatku
tak pernah dari
berjudi karna
firasat ku ini. Aku yakin dia pernah kemari.
Kenapa tuan bisa yakin tuan? Ucap birin yang sedikit kurang
yakin akan kedatangn siti pernah ketempat ini.
Kau ragu dengan firasat anak seorang dubalang raja birin?
Bukan begitu tuan..! setau ku memang firasat tuan tak pernah
sebelumnya meleset. tapi kini
kita sudah berapa jauh dari rimbo data mencarinya tuan.
Belum lagi teman-teman
kita yang mati di puncak bukik kompong dua hari yang lalu
tuan, ucap birin yang
mengeluh mengingat kawananya mati di cabi makhluk tak jelas
itu.
Sudah berapa lama kau ikut dengan ku birin? Sampai kau ragu
akan kemampuan yang aku miliki? Kalau perkiraan dan firasatku meleset. aku
berjanji pada kalian untuk kembali
menuntut ilmu ku ini di tambah satu peti emas untuk kalian.
Ucap samsudin
meyakinkan anak buahnya.
Kami tak pernah ragu akan firasat tuan tapi masalah emas
satu peti untuk kami bertiga kalau
tuan memaksa kami tak kan menolak, hehehhehhehehe
KALERA WAANG SEMUA!
Balas samsudin juga ikut menyeringai bersama mereka.
__ADS_1
Taklama kemudia hidangan pun sampai mereka kini mulai
mencicipi makanan. lapar yang sudah tertahan selama perjalanan kini di
lampiaskan di warung itu. karapai yang
sedari tadi sudah sangat lapar menelungkup saja pada makanan
itu sampai kentut
pekaknya tak satupun keluar. begituulah nasib mereka yang
sehari semalam tak
bertemu makanan dalam perjalanan selain rimba. mereka juga
tak tau jenis
makanan apa yang bisa di makan didalamnya. yang mereka paham
adalah makanan di
warung seperti ini! selain enak juga sesuai selera mereka.
mereka tak susah
payah cukup modal kepeng yang banyak maka makanan akan
mereka dapat. Wajar
saja mereka tak biasa merimba selain berburu kijang dan ****
selain itu tak
jelas bagi mereka masalah hutan tapi itu pula yang
menyelamatkan mereka
melewatu rimba-rimba yang mereka jalani sampai kesini.
dengan berpengalaman
berburu setidaknya mereka selamat dari marabahaya.
Dalam mereka sedang asik menikmati makannya. terlihat dari
arah pintu masuk ada empat orang lagi yang masuk kedalam warung juga memesan
makanaan seperti mereka yang paling
depan berprawakan agak tinggi besar dan berpakaian seperti
pakaian karapai.
mungkin mereka juga pandeka seperti rombongan samsudin itu.
tiga orang yang
mengikutinya yang pakaiannya sama seperti sitinggi besar itu
memegang hulu
golok. semuanya memakai ikat kepala dan pakaiannya serba
hitam entah dari mana
asalnya hingga mereka tiba disana. si samsudin yang punya
firasat tajam yakin
bahwa mereka bukan orang sini. mereka mungkin dari hutan
dilihat dari
pakaiannya sama persis baunya dengan mereka. barang kali
mereka juga dari
perjalanan jauh.
Mari makan da! Ucap samsudin memberi sapa kepada si tinggi
besar yang mungkin ketua
dari orang-orang itu.
Mari!
Jawabnya dengan sopan juga.
Uda datang dari mana bersama kawan-kawan uda ini? Tanya
samsudin kembali ketinggi
besar itu.
Kami dari hutan tigo lurah! kalau kalian datang dari mana
dan ingin kemana? Rasanya
kalian tidak biasa kesini! Ucap si tinggi besar kesamsudin
__ADS_1
yang tetap menyuap
nasi dan juga sambil bicara kepadanya.