
Seluruh kemampuan yang
dimiliki oleh angku gadang Bahan di keluarkan. Beliung yang
berada di tangan
angku gadang Bahan bereaksi, dan memang angku Gadang Bahan
sangat ahli
memainkannya, tentu jurus-jurus silat yang sudah mendarah
mendaging oleh angku
Gadang Bahan tak lupa dikeluarkan. Akhirnya Naga betekuk
lutut dan menyerah.
Naga kehabisan darah karena sabetan beliaung angku Gadang
Bahan. Kepala Naga
Nyaris putus, darah mengalir dengan deras. Angku Niniak
Gadang Bahan menarik
naga itu dan melempar dengan sekuat tenaga dan sampai ke
sebuah lembah.
Setelah berlangsung
beberapa lama Angku Niniak Gadang Bahan mendatangi lembah
tempat naga
dilemparkan. Ternyata Niniak Gadang Bahan kaget, naga
tersebut ternyata tidak
mati, dia malah melambangkan badannya dengan posisi
membentuk angka delapan, darah
dari kepala ular tetap mengalir sehingga memerahkan daerah
tersebut. Sehingga
daerah ini menjadi tempat kunjungan yang manarik bagi Angku,
dan juga
orang-orang yang ada di sekitar itu. Tapi apa yang terjadi,
lama-lama badan
ular ini mulai tertimbun oleh tanah, dan diantara dua
lingkaran ular itu
tergenanglah air yang membentuk dua danau kecil. Lama
kelamaan danau ini terus
semakin besar, sehingga terbentuklah dua bawah Danau yang
besar dan indah.
Sejarah kegagahan angku gadang bahan tersebar keseluruh
pelosok daerah dari
mulut ke mulut oleh kaum pedagang, itulah ayah si buyung
yang tersohor dengan
kehebatan nya menumbangkan naga raksasa.
PERJALANAN KE TIGA LURAH
Di sawah saat
buyung sedang asik mencangkul pematang sawah nya terdengar
orang menyaut-nyaut
dari kejauhan” buyuang!!! Suara itu jauh di ujuang sana,
saat mengakat
tudangnya sebatas kening karna terik matahari yang sangat
panas kala itu.
buyung menegerutkan keningnya dan mengecilkan matanya,
ternyata yang memanggil
manggil itu malin bagindo, tampak jelas dari pakaiannya yang
biasa iya kenakan
celana dasar hitam, baju koko, dan kopiah agak sedikit
meneleng saat itu,
setelah iya tau si malin yang datang si buyung langsung saja
ke pancoran dekat
sawahnya untuk mencuci tanah yang menempel di celananya lalu
masuk
kepondoknya. kebetulan cuaca juga sangat panas kala itu, dan
kerongkongn buyung
sudah terasa agak mulai kering, sudah waktunya untuk sejenak
iya istirahat dan
__ADS_1
saat iya mengambil tabung kopinya lalu iya tuangkan ternyata
hanya ampas kopi
saja lagi yang melekat disana! padahal haus sekali.
“waang rajin sekali buyung!
terik panas begini baru waang istirahat! kata malin seraya
menuju kepondok.
kalau tadi aku tak memanggilmu mungkin waang akan terus saja
bekerja seperti
kerbau, hahahahaha! katanya berlanjut setelah duduk di
pondok dengan buyung. “
ada waang bawa air malin?” buyung balik bertanya dengan
wajah memang seperti
orang haus dan agak sedikit menyeringit.
ha, aku kesini sebenarnya ingin mengopi bersamamu! tapi
sudah lah. kita mengobrol saja! lagian kopi tak ada dan sudah hampir seminggu
pula waang tak ada kesurau untuk shlat berjamaah. kemana
saja waang? Orang-orang sudah rindu dengan bacaan shalat
waang sebagai imam,
bahkan imam besar di kampung ini juga ingin bertemu denganmu
buyung!
sudah lah malin! masih banyak yang pandai dan hebat dari ku
di kampung ini! aku hanya
hafal beberapa ayat saja, tak mungkin aku jadi imam! itu
bukan bakatku dan
bukan pula jurusanku waktu itu cuman kepepet saja karna
waang mendorongku hingga
sampai di tempat imam. ujar buyung kembali menjawab si
malin.
Banyak hal yang sudah mereka bicarakan disana, setengah jam
sudah waktu berlalu dan matahari
kini tegak lurus di atas kepala buyung yang sedari tadi
kehausan hanya bisa
tak ada sumur
untuk minum.
assalammualaikum!! Terdengar dari belakang pondoknya suara
perempuan mengucap salam.
malin bagindo juga mendengar lalu ketika sudah
sampai di depan pondok ternyata yang mengucap salam adalah
reno geni dan siti
reno bulan yang sedang membawa rantang juga termos dan
lengkap dengan gula dan
kopinya.
“kenapa siti kau ajak juga kemari reno?” ujar si buyung saat
dia heran
kenapa siti reno bulan ikut mengantar bekal kesawah.
” oooo SITI namanya!!” ujar
malin yang sebenarnya sudah beberapa hari penasaran dengan
gadis itu.
Wajah buyung agak memerah ketika ledekan itu sebenarnya
memang di sengaja malin
bagindo.
”pantas saja waang jarang kesurau buyung! ada tamu ternyata
dirumah
waang, cantik pula tu”
buyung makin memerah mukanya saat si malin
maingkek-ingkek meledeknya. siti yang sedari tadi
memperhatikan buyung hanya
tersenyum lalu.
“uda lupa membawa minum tadi.. makanya siti yang
mengantarkan
sambil membawakan rantang. siti ingin sekalian jalan-jalan
__ADS_1
kesawah uda! sudah seminggu
siti di rumah. kalau menunggu uda yang mengajak siti keluar
entah kapan lah
masanya? uda kan hanya sibuk dengan sawah saja. Ujar sisiti
mengompori si
buyung di depan temannya.
“ nanti ku ajak kau keluar” dengn wajah yang sewot namun
tertahan buyung mengucapkannya.
“ ayok sekarang kita makan dulu! oh ya kenalkan
kawan ku ini malin bagindo namanya!”. Malin mengangguk dan
di balas siti dengan
mengangguk pula diiringi sedikit senyum yang menandakan
sambutan baik terhadap
malin. Mereka pun makan bersama di pondok itu, simalin,
buyung, reno geni dan
siti reno bulan semuanya hanya menunduk ke buah jerami yang
sudah di kupas
itu, yang membikin perhatian tertuju adalah pada cara makan
sibuyung yang
seperti orang tidak makan tiga hari. semua mata melotot
kearahnya termasuk
malin.
” sudah berapa hari waang tak makan buyung?” sambil tangan
si malin
tertahan memagang piringnya.
” Hehehehe masakan ini enak sekali! tak pernah
amakku memaksa seenak ini sebelumnya malin”
reno yang mendengar kakaknya bicara
demikian hanya mampu menahan senyum di belakang siti yang
masih saja menunduk
saat makan itu lalu buyung kembali bicara
” oh ya! apa di rumah masih di sisakan amak masakan ini
dik?”
uda suka masakan ini? Tanya reno dengan masih
tersenyum-senyum.
” Lamak bana” ucap buyung sambil menambah-nambah nasinya
kemulut.
” Nanti biar reno bilang sama amak ya da, suruh sisiti
masakan ini lagi
buat uda!
” uhuk uhuk!! Buyung terbatuk.
“ uda kenapa?” tanya reno kecemasan.
Segera saja buyung menyambar air minumnya lalu meminum
cepat-cepat dan setelah
itu melihat kearah siti reno bulan. Dalam hatiny teucap
kagum pada masakan siti
sambil mengucap dalam hati” ternyata bukan saja wajahnya
yang enak di pandang
tapi masakannya juga enak, beruntung sekali kalau dapat bini
begini” lamunan
yang agak begitu lama melototi siti membuat siti salah tingkah
ketika keadaan
seperti itu. malin melirik ke arah buyung sambil
mencongkelkan ibu jari
kakinya dan buyungpun tersadar dari lamunan itu.
”eh!!” “ sudah lah buyung..!
seperti kau tak melihat dia berhari-hari saja! padahal tiap
hari kau bertemu
dia dirumahmu. sudahlah!! Jangan kau memanas-manasi aku. aku
tahu aku belum
punya calon seperti punyamu ini”. Ucap malin sambil tetap
__ADS_1
mengunyah nasi.