THE ANCIENT SILAT

THE ANCIENT SILAT
Episode 7


__ADS_3

Seluruh kemampuan yang


dimiliki oleh angku gadang Bahan di keluarkan. Beliung yang


berada di tangan


angku gadang Bahan bereaksi, dan memang angku Gadang Bahan


sangat ahli


memainkannya, tentu jurus-jurus silat yang sudah mendarah


mendaging oleh angku


Gadang Bahan tak lupa dikeluarkan. Akhirnya Naga betekuk


lutut dan menyerah.


Naga kehabisan darah karena sabetan beliaung angku Gadang


Bahan. Kepala Naga


Nyaris putus, darah mengalir dengan deras. Angku Niniak


Gadang Bahan menarik


naga itu dan melempar dengan sekuat tenaga dan sampai ke


sebuah lembah.


Setelah berlangsung


beberapa lama Angku Niniak Gadang Bahan mendatangi lembah


tempat naga


dilemparkan. Ternyata Niniak Gadang Bahan kaget, naga


tersebut ternyata tidak


mati, dia malah melambangkan badannya dengan posisi


membentuk angka delapan, darah


dari kepala ular tetap mengalir sehingga memerahkan daerah


tersebut. Sehingga


daerah ini menjadi tempat kunjungan yang manarik bagi Angku,


dan juga


orang-orang yang ada di sekitar itu. Tapi apa yang terjadi,


lama-lama badan


ular ini mulai tertimbun oleh tanah, dan diantara dua


lingkaran ular itu


tergenanglah air yang membentuk dua danau kecil. Lama


kelamaan danau ini terus


semakin besar, sehingga terbentuklah dua bawah Danau yang


besar dan indah.


Sejarah kegagahan angku gadang bahan tersebar keseluruh


pelosok daerah dari


mulut ke mulut oleh kaum pedagang, itulah ayah si buyung


yang tersohor dengan


kehebatan nya menumbangkan naga raksasa.


PERJALANAN KE TIGA LURAH


Di sawah saat


buyung sedang asik mencangkul pematang sawah nya terdengar


orang menyaut-nyaut


dari kejauhan” buyuang!!! Suara itu jauh di ujuang sana,


saat mengakat


tudangnya sebatas kening karna terik matahari yang sangat


panas kala itu.


buyung menegerutkan keningnya dan mengecilkan matanya,


ternyata yang memanggil


manggil itu malin bagindo, tampak jelas dari pakaiannya yang


biasa iya kenakan


celana dasar hitam, baju koko, dan kopiah agak sedikit


meneleng saat itu,


setelah iya tau si malin yang datang si buyung langsung saja


ke pancoran dekat


sawahnya untuk mencuci tanah yang menempel di celananya lalu


masuk


kepondoknya. kebetulan cuaca juga sangat panas kala itu, dan


kerongkongn buyung


sudah terasa agak mulai kering, sudah waktunya untuk sejenak


iya istirahat dan

__ADS_1


saat iya mengambil tabung kopinya lalu iya tuangkan ternyata


hanya ampas kopi


saja lagi yang melekat disana! padahal haus sekali.


“waang rajin sekali buyung!


terik panas begini baru waang istirahat! kata malin seraya


menuju kepondok.


kalau tadi aku tak memanggilmu mungkin waang akan terus saja


bekerja seperti


kerbau, hahahahaha! katanya berlanjut setelah duduk di


pondok dengan buyung. “


ada waang bawa air malin?” buyung balik bertanya dengan


wajah memang seperti


orang haus dan agak sedikit menyeringit.


ha, aku kesini sebenarnya ingin mengopi bersamamu! tapi


sudah lah. kita mengobrol saja! lagian kopi tak ada dan sudah hampir seminggu


pula waang tak ada kesurau untuk shlat berjamaah. kemana


saja waang? Orang-orang sudah rindu dengan bacaan shalat


waang sebagai imam,


bahkan imam besar di kampung ini juga ingin bertemu denganmu


buyung!


sudah lah malin! masih banyak yang pandai dan hebat dari ku


di kampung ini! aku hanya


hafal beberapa ayat saja, tak mungkin aku jadi imam! itu


bukan bakatku dan


bukan pula jurusanku waktu itu cuman kepepet saja karna


waang mendorongku hingga


sampai di tempat imam. ujar buyung kembali menjawab si


malin.


Banyak hal yang sudah mereka bicarakan disana, setengah jam


sudah waktu berlalu dan matahari


kini tegak lurus di atas kepala buyung yang sedari tadi


kehausan hanya bisa


tak ada sumur


untuk minum.


assalammualaikum!! Terdengar dari belakang pondoknya suara


perempuan mengucap salam.


malin bagindo juga mendengar lalu ketika sudah


sampai di depan pondok ternyata yang mengucap salam adalah


reno geni dan siti


reno bulan yang sedang membawa rantang juga termos dan


lengkap dengan gula dan


kopinya.


“kenapa siti kau ajak juga kemari reno?” ujar si buyung saat


dia heran


kenapa siti reno bulan ikut mengantar bekal kesawah.


” oooo SITI namanya!!” ujar


malin yang sebenarnya sudah beberapa hari penasaran dengan


gadis itu.


Wajah buyung agak memerah ketika ledekan itu sebenarnya


memang di sengaja malin


bagindo.


”pantas saja waang jarang kesurau buyung! ada tamu ternyata


dirumah


waang, cantik pula tu”


buyung makin memerah mukanya saat si malin


maingkek-ingkek meledeknya. siti yang sedari tadi


memperhatikan buyung hanya


tersenyum lalu.


“uda lupa membawa minum tadi.. makanya siti yang


mengantarkan


sambil membawakan rantang. siti ingin sekalian jalan-jalan

__ADS_1


kesawah uda! sudah seminggu


siti di rumah. kalau menunggu uda yang mengajak siti keluar


entah kapan lah


masanya? uda kan hanya sibuk dengan sawah saja. Ujar sisiti


mengompori si


buyung di depan temannya.


“ nanti ku ajak kau keluar” dengn wajah yang sewot namun


tertahan buyung mengucapkannya.


“ ayok sekarang kita makan dulu! oh ya kenalkan


kawan ku ini malin bagindo namanya!”. Malin mengangguk dan


di balas siti dengan


mengangguk pula diiringi sedikit senyum yang menandakan


sambutan baik terhadap


malin. Mereka pun makan bersama di pondok itu, simalin,


buyung, reno geni dan


siti reno bulan semuanya hanya menunduk ke buah jerami yang


sudah di kupas


itu, yang membikin perhatian tertuju adalah pada cara makan


sibuyung yang


seperti orang tidak makan tiga hari. semua mata melotot


kearahnya termasuk


malin.


” sudah berapa hari waang tak makan buyung?” sambil tangan


si malin


tertahan memagang piringnya.


” Hehehehe masakan ini enak sekali! tak pernah


amakku memaksa seenak ini sebelumnya malin”


reno yang mendengar kakaknya bicara


demikian hanya mampu menahan senyum di belakang siti yang


masih saja menunduk


saat makan itu lalu buyung kembali bicara


” oh ya! apa di rumah masih di sisakan amak masakan ini


dik?”


uda suka masakan ini? Tanya reno dengan masih


tersenyum-senyum.


” Lamak bana” ucap buyung sambil menambah-nambah nasinya


kemulut.


” Nanti biar reno bilang sama amak ya da, suruh sisiti


masakan ini lagi


buat uda!


” uhuk uhuk!! Buyung terbatuk.


“ uda kenapa?” tanya reno kecemasan.


Segera saja buyung menyambar air minumnya lalu meminum


cepat-cepat dan setelah


itu melihat kearah siti reno bulan. Dalam hatiny teucap


kagum pada masakan siti


sambil mengucap dalam hati” ternyata bukan saja wajahnya


yang enak di pandang


tapi masakannya juga enak, beruntung sekali kalau dapat bini


begini” lamunan


yang agak begitu lama melototi siti membuat siti salah tingkah


ketika keadaan


seperti itu. malin melirik ke arah buyung sambil


mencongkelkan ibu jari


kakinya dan buyungpun tersadar dari lamunan itu.


”eh!!” “ sudah lah buyung..!


seperti kau tak melihat dia berhari-hari saja! padahal tiap


hari kau bertemu


dia dirumahmu. sudahlah!! Jangan kau memanas-manasi aku. aku


tahu aku belum


punya calon seperti punyamu ini”. Ucap malin sambil tetap

__ADS_1


mengunyah nasi.


__ADS_2