THE ANCIENT SILAT

THE ANCIENT SILAT
Episode 5


__ADS_3

“Lama betul kalian tidur!” ujar si Malin yang sedang membalik-balik


ubi bakarnya sedang Buyung asik meniup kopi nya yang masih panas. Maling itu


tersadar bahwa dirinya sudah terikat. Belum habis kagetnya, si Malin kembali


melontarkan pertanyaan.


“ hei kalian berdua!, apa maksud kalian berdua mengendap-endap


di sasaran ku tadi ha?, Kalau kalian mau maling jangan disini! kalian akan rugi


tenaga. Kalian tidak tau kalau kampung ini tak ada satu oarangpun yang kaya?,


kalau kalian mau maling di kampung sebelah saja. Selain kaya mereka juga tidak


banyak yang pandai bersilat dan itu suatu keuntungan buat kalian agar lebih


leluarsa memburu di sana.”


“Husst.., Malin... Malin. kau ada ada saja yang kau ajarkan


ke mereka. Nanti setelah kita lepaskan benar-benar iya menjarah kampung itu kau


yang tanggung dosanya Malin!” ujar Buyung sambil menjangkau ubi bakar yang


kebetulan sudah matang. Maling itu hanya melototi ubi bakar itu karna hari


memang sudah larut jadi wajar saja mereka perut nya kelaparan.


“Kalian mau?” Ujar si Buyuang sambil memberikan ubi yang


matang tadi dan meletakan di hadapn mereka.


Anehnya mereka hanya meliaht saja ubi itu tanpa


menyentuhnya.


“Hei kalian kenapa?” Ujar si Buyuang kembali bertanya.


lalu terdengar tertawa renyah dari Malin Bagindo.


“Hahaahahah. Paja bala waang Buyung!, bagaimana iya bisa


makan dengan keadaan


tangan terikat seperti itu?” Belum habis Malin tertawa si Buyuang  pergi kearah belakang maling itu dan


melepaskan ikatannya. setelah terlepas.


“makanlah!, kami tau kalian juga lapar tapi setelah makan


ubi ini tolong kalian


ceritakan pada kami apa tujuan kalian masuk kampung ini


dengan cara seperti maling!”


“Baik tuan!, Boleh kami ambil ubi itu tuan?” Ujarnya yang


memang sudah sangat kelaparan setelah di hajar smpai pingsan oleh Malin dan Buyung.


Belum lagi jatuh angguk Buyung kebawah. Separuh ubi kayu


yang sebesar lengan oarang


dewasa itu sudah sampai d perut mereka.


“Kalera!! Sudah berapa hari kalian tidak makan?” Ujar Malin


yang juga di buat lapar melihat mereka ******* habis ubi kayu sebedar lengan


orang dewasa itu dengan waktu yang amat singkat bahkan tak sampai waktu satu


menit satu ubi kayu sebesar lengan itu selesai.

__ADS_1


Setelah kenyang dua maling itu tersandar di dekat batang


kayu tempat tadi iya di ikat


si Buyung dan Malin masih ternganga saja melihat nafsu makan


mereka yang begitu


brutal. pantas saja gerkan silat mereka begitu cepat dan


kuat. dari cara dan porsi makannya saja sudah tidak terikuti oleh malin dan


buyung.


“Orang orang memanggil saya Toek tuan, dan teman saya ini Birin!.


Kami sedang mencari


perempuan yang siang tadi lari. Kami mengira iya lari


kekampung ini. kalau kami kembali dengan pulang membawa tangan kosong kami


takut di hukum tuan kami tuan!” Ujar Toek sambil mengurut-urut leher yang masih


terasa nyeri akibat hantaman siku si Malin yang guru silat itu saat perkelahian


tadi.


“Perempuan?, Siapa nama nya?” Ujar Buyuang dengan penasaran.


Bulan tuan, Siti Reno Bulan!”


Mendengar nama itu Buyung sedikit kaget. Namun malam gulita


seperti itu tak akan klihatan kalau dia kaget dan tau akan keberadaan perempuan


itu dengan berpura-pura tidak tau.


si Buyung kembali menanyakan.


“Siapa tuan kalian?, dan hubungan apa kalian dengan


“Tuan kami bernama Pangulu Basa, seorang tetua adat yang


amat di segani di kampung


Sebelah. dia penghulu pucuk dan yang tadi perempuan yang


kami sebutkan itu adalah anak nya. Dia lari karena tidak mau di jodohkan dengan


pilihan ayahnya itu. Mungkin dia tau tuan!, kalau anak Dubalang Rajo yang


bernama Samsudin itu suka berjudi dan suka menganggu gadis-gadis di kampungnya.


Tapi ayah nya bersikukuh untuk menjodohkan nya dengan Samsudin.” Ujar Birin


menjelaskan perihal Siti yang kabur.


Percakapan itu disimak baik-baik oleh Buyung dan Malin. Tidak


selang beberapa lama setelah mereka menjelaskan apa yang di tanya kan dua


pemuda itu Toek dan Birin di lepaskan dan di suruh melapor. Kalau di kampung si


Buyung tak ada perempuan itu. Setelah itu Buyung pun kembali pulang kerumah


nya. Hari sudah tengah malam buta lalu iya segera saja mengetok pintu rumah dan


kali ini yang membukakan pintu bukan si Amak melainkan gadis anak Penghulu Basa


itu. Dengan nanap Buyung menatapnya setelah pintu itu di


bukakan dalam hatinya berkata,” Benar cantik dan pantas di


katakan anak penghulu

__ADS_1


pucuk!, Tidak salah kalau dia sampai di cari macam begini.


Ternyata memang dari keluarga orang berpusaka.” Tapi tatapan itu segera di


alihkan sebab Siti Reno Bulan menyahut dengan memandang aneh ke wajah Buyung.


“Hei apa yang kau lihat?” Ujar Siti menatap heran.


“Tidak ada!, aku pikir kau Amak ku atau Adiku yang membuka


pintu. Sudah lah, aku mengantuk. Aku ingin tidur!, besok aku harus bangun


padi-pagi sekali. Kau tidurlah Siti!, ini sudah malam. Aku tak ingin orang lain


nanti melihatmu malam-malam begini di rumahku.” Ujar Buyung sambil mengunci


pintu dan pura-pura menguap. Dengan cuek iya melewati Siti yang ada di


sampingnya lalu menuju biliknya.


“Aneh!” Ujar Siti yang agak sedikit di bikin penasaran


dengan sikap si Buyung lalu


kembali masuk kekamar Reno Geni. Si Buyung yang masih


terpikir ucap si Toek dan


Birin tadi. Dia memilah-milah kenapa Siti atau si Bulan yang


di ceritakan nya pada si Buyung tak mau di jodohkan dengan samsudin. Padahal


dia laki laki gagah!, ayahnya juga orang berada. Dalam sela-sela memikirkan itu


mata Buyung di kala itu memang sudah berat seketika iya merebahkan badan dan ia


mulai terlelap.  malam itu di tutup dengan mata Buyung yang sangat


mengantuk dan tertidur pulas.


Adzan subuh berkumandang menandakan waktu fajar akan segera


muncul. si


Buyung yang siap-siap untuk kesurau melakukan shalat


berjamaah tiba-tiba


tertegun saat tatapan nya menuju kearah pintu. Di sana dia


melihat sosok


perempuan yang berdiri menunggu nya untuk bersama-sama


menuju surau. Alangkah


kagetnya si Buyung melihat paras perempuan itu saat


mengenakan mukena putih


yang keseluruhan tepi mukena itu bermotif batik itiak pulang


patang. Motif batik itiak pulang patang asalah salah satu jenis ukiran batik


rumah gadang yang ada di minangkabau. warna corak motif batik yang serti kuning


kecoklat-coklatan itu menambah anggun pemaakainya.


seketika jantung Buyung berdegup cepat dan pada saat


demikian iya coba untuk segera memalingkan wajah nya dan mengendalikan


ketenangan. kini jantung nya


berdegup tak karuan dengan perlahan menghampiri wanita itu,

__ADS_1


” Siti mau ikut ke surau?” ujarnya si Buyung masih dalam


nada suara agak tertahan dan berat.


__ADS_2