
“Lama betul kalian tidur!” ujar si Malin yang sedang membalik-balik
ubi bakarnya sedang Buyung asik meniup kopi nya yang masih panas. Maling itu
tersadar bahwa dirinya sudah terikat. Belum habis kagetnya, si Malin kembali
melontarkan pertanyaan.
“ hei kalian berdua!, apa maksud kalian berdua mengendap-endap
di sasaran ku tadi ha?, Kalau kalian mau maling jangan disini! kalian akan rugi
tenaga. Kalian tidak tau kalau kampung ini tak ada satu oarangpun yang kaya?,
kalau kalian mau maling di kampung sebelah saja. Selain kaya mereka juga tidak
banyak yang pandai bersilat dan itu suatu keuntungan buat kalian agar lebih
leluarsa memburu di sana.”
“Husst.., Malin... Malin. kau ada ada saja yang kau ajarkan
ke mereka. Nanti setelah kita lepaskan benar-benar iya menjarah kampung itu kau
yang tanggung dosanya Malin!” ujar Buyung sambil menjangkau ubi bakar yang
kebetulan sudah matang. Maling itu hanya melototi ubi bakar itu karna hari
memang sudah larut jadi wajar saja mereka perut nya kelaparan.
“Kalian mau?” Ujar si Buyuang sambil memberikan ubi yang
matang tadi dan meletakan di hadapn mereka.
Anehnya mereka hanya meliaht saja ubi itu tanpa
menyentuhnya.
“Hei kalian kenapa?” Ujar si Buyuang kembali bertanya.
lalu terdengar tertawa renyah dari Malin Bagindo.
“Hahaahahah. Paja bala waang Buyung!, bagaimana iya bisa
makan dengan keadaan
tangan terikat seperti itu?” Belum habis Malin tertawa si Buyuang pergi kearah belakang maling itu dan
melepaskan ikatannya. setelah terlepas.
“makanlah!, kami tau kalian juga lapar tapi setelah makan
ubi ini tolong kalian
ceritakan pada kami apa tujuan kalian masuk kampung ini
dengan cara seperti maling!”
“Baik tuan!, Boleh kami ambil ubi itu tuan?” Ujarnya yang
memang sudah sangat kelaparan setelah di hajar smpai pingsan oleh Malin dan Buyung.
Belum lagi jatuh angguk Buyung kebawah. Separuh ubi kayu
yang sebesar lengan oarang
dewasa itu sudah sampai d perut mereka.
“Kalera!! Sudah berapa hari kalian tidak makan?” Ujar Malin
yang juga di buat lapar melihat mereka ******* habis ubi kayu sebedar lengan
orang dewasa itu dengan waktu yang amat singkat bahkan tak sampai waktu satu
menit satu ubi kayu sebesar lengan itu selesai.
__ADS_1
Setelah kenyang dua maling itu tersandar di dekat batang
kayu tempat tadi iya di ikat
si Buyung dan Malin masih ternganga saja melihat nafsu makan
mereka yang begitu
brutal. pantas saja gerkan silat mereka begitu cepat dan
kuat. dari cara dan porsi makannya saja sudah tidak terikuti oleh malin dan
buyung.
“Orang orang memanggil saya Toek tuan, dan teman saya ini Birin!.
Kami sedang mencari
perempuan yang siang tadi lari. Kami mengira iya lari
kekampung ini. kalau kami kembali dengan pulang membawa tangan kosong kami
takut di hukum tuan kami tuan!” Ujar Toek sambil mengurut-urut leher yang masih
terasa nyeri akibat hantaman siku si Malin yang guru silat itu saat perkelahian
tadi.
“Perempuan?, Siapa nama nya?” Ujar Buyuang dengan penasaran.
Bulan tuan, Siti Reno Bulan!”
Mendengar nama itu Buyung sedikit kaget. Namun malam gulita
seperti itu tak akan klihatan kalau dia kaget dan tau akan keberadaan perempuan
itu dengan berpura-pura tidak tau.
si Buyung kembali menanyakan.
“Siapa tuan kalian?, dan hubungan apa kalian dengan
“Tuan kami bernama Pangulu Basa, seorang tetua adat yang
amat di segani di kampung
Sebelah. dia penghulu pucuk dan yang tadi perempuan yang
kami sebutkan itu adalah anak nya. Dia lari karena tidak mau di jodohkan dengan
pilihan ayahnya itu. Mungkin dia tau tuan!, kalau anak Dubalang Rajo yang
bernama Samsudin itu suka berjudi dan suka menganggu gadis-gadis di kampungnya.
Tapi ayah nya bersikukuh untuk menjodohkan nya dengan Samsudin.” Ujar Birin
menjelaskan perihal Siti yang kabur.
Percakapan itu disimak baik-baik oleh Buyung dan Malin. Tidak
selang beberapa lama setelah mereka menjelaskan apa yang di tanya kan dua
pemuda itu Toek dan Birin di lepaskan dan di suruh melapor. Kalau di kampung si
Buyung tak ada perempuan itu. Setelah itu Buyung pun kembali pulang kerumah
nya. Hari sudah tengah malam buta lalu iya segera saja mengetok pintu rumah dan
kali ini yang membukakan pintu bukan si Amak melainkan gadis anak Penghulu Basa
itu. Dengan nanap Buyung menatapnya setelah pintu itu di
bukakan dalam hatinya berkata,” Benar cantik dan pantas di
katakan anak penghulu
__ADS_1
pucuk!, Tidak salah kalau dia sampai di cari macam begini.
Ternyata memang dari keluarga orang berpusaka.” Tapi tatapan itu segera di
alihkan sebab Siti Reno Bulan menyahut dengan memandang aneh ke wajah Buyung.
“Hei apa yang kau lihat?” Ujar Siti menatap heran.
“Tidak ada!, aku pikir kau Amak ku atau Adiku yang membuka
pintu. Sudah lah, aku mengantuk. Aku ingin tidur!, besok aku harus bangun
padi-pagi sekali. Kau tidurlah Siti!, ini sudah malam. Aku tak ingin orang lain
nanti melihatmu malam-malam begini di rumahku.” Ujar Buyung sambil mengunci
pintu dan pura-pura menguap. Dengan cuek iya melewati Siti yang ada di
sampingnya lalu menuju biliknya.
“Aneh!” Ujar Siti yang agak sedikit di bikin penasaran
dengan sikap si Buyung lalu
kembali masuk kekamar Reno Geni. Si Buyung yang masih
terpikir ucap si Toek dan
Birin tadi. Dia memilah-milah kenapa Siti atau si Bulan yang
di ceritakan nya pada si Buyung tak mau di jodohkan dengan samsudin. Padahal
dia laki laki gagah!, ayahnya juga orang berada. Dalam sela-sela memikirkan itu
mata Buyung di kala itu memang sudah berat seketika iya merebahkan badan dan ia
mulai terlelap. malam itu di tutup dengan mata Buyung yang sangat
mengantuk dan tertidur pulas.
Adzan subuh berkumandang menandakan waktu fajar akan segera
muncul. si
Buyung yang siap-siap untuk kesurau melakukan shalat
berjamaah tiba-tiba
tertegun saat tatapan nya menuju kearah pintu. Di sana dia
melihat sosok
perempuan yang berdiri menunggu nya untuk bersama-sama
menuju surau. Alangkah
kagetnya si Buyung melihat paras perempuan itu saat
mengenakan mukena putih
yang keseluruhan tepi mukena itu bermotif batik itiak pulang
patang. Motif batik itiak pulang patang asalah salah satu jenis ukiran batik
rumah gadang yang ada di minangkabau. warna corak motif batik yang serti kuning
kecoklat-coklatan itu menambah anggun pemaakainya.
seketika jantung Buyung berdegup cepat dan pada saat
demikian iya coba untuk segera memalingkan wajah nya dan mengendalikan
ketenangan. kini jantung nya
berdegup tak karuan dengan perlahan menghampiri wanita itu,
__ADS_1
” Siti mau ikut ke surau?” ujarnya si Buyung masih dalam
nada suara agak tertahan dan berat.