THE ANCIENT SILAT

THE ANCIENT SILAT
Episode 32


__ADS_3

Malin memperhatiakan kenapa tangan itu sesekali keluar seprti memberi kode lalu iya


melihat halaman bawah jendela itu yang tak jauh dari tempatnya saat ini berdiri


yang hanya kira-kira sekitar dua atau tiga depa. Malin melihat kehalaman itu


dan ternyata itu adalah rambut yang panjang yang kurang dari sedepa. Dilihat


dari tangan orang yang keluar tadi kira-kira orang itu masih muda dan rasanya


umur orang itu dia terka-terka tak beda jauh dengannya. Tangan yang


sekilas-sekilas keluar itu kuning langsat dan sedikit berbulu tipis dan halus.


Malin penasaran dengan wajah itu tapi dengan cara bagaimana iya bisa


melihatnya? Kalau iya berjalan keluar kehalaman otomatis dia akan terlihat pula


oleh orang itu. Malin terus saja berfikir dan diam sejenak.


Tigo lurah jauah pasanyo


Urang di danau bakaramba ikan


Tinggi bukik silayo tanang


Hati rusuah apo ubeknyo


Nan di dalam tak marilakan


Hati nan kini kadok mamang.... ondeh...


eeeee... iyo..... mhss....


Dendang itu terdengar sayup-sayup sampai ditelinga malin. Suara itu terdengar merdu


sekali tapi siapa wanita itu yang barusan berdendang. Malin makin penasaran.


Didengar dari suaranya tapaknya wanita ini masih muda! Ucap malin dalam hati yang


sedari tadi badannya tersa didorong oleh suatu hal yang harus melihat wajah


wanita ini. Malin kehabisan akal bagaimana harus mencari celah untuk melihat


wanita yang tak jauh dari dekatnya itu. Saat pikiran malin terus berjalan di


kagetkan dengan sisir yang jatuh ketanah.


Aduh sisir ku! Ujar wanita itu. Lalu mengulurkan setengah badanya keluar sambil


merukuk. Tiba-tiba malin tercengang! Melihat rambut lurus teruruai panjang dari


arah jendela itu. Wajah yang jernih kian terlihat hidungnya yang sedikit mancung


dan bibirnya yang seperti asam seulas berwarna merah jambu air membuat jantung


malin bagindo berdegup kencang. Entah karna takut ketahuan atau malah hatinya


takjub melihat wanita ini. Seseat setelah wanita itu memperlihatkan diri malin


masih tertegun di tempatnya dan wanita itu melirik kesemua sudut kalau-kalau


ada orang di luar yang bisa menolongnya. Malin masih saja diam disana tak


bergerak sedikitpun seperti patung lalu lirikan itu sampai kearahnya. Oh tuhan


kenapa ada wanita secanti ini disini..? kenapa tak engkau adakan saja di


kampungku tuhan!! Ujarnya dalam hati tak karuan melihat wajah wanita itu

__ADS_1


menatapnya. Wanita yang memiliki mata sayu dan bibir yang kecil serta wajah


yang sedikit agak bulat, badan yang kelihatnya ideal seperti beratnya kira-kira


empat puluh tuhuh kilo gram yang terlihat dari postur tubuhnya itu saat iya


meruku kearah jendela. Hati malin makin bedegup cepat tapi sepintas iya


teringat akan hal yang tadi di bilang ampang limo sati “ semoga waang sedikit


betah menungguku disini!”. Ucapan ampang limo sati terngiang kembali di telinga


malin yang masih terkaku diam di sana. Lama wanita itu menatapnya dan kemudian.


Uda bisa tolong ambilkan sisi puti yang jatuh itu uda! Ucap wanita itu dengan


nadanya yang lembut dan sopan yang makin melemaskan seluruh badan malin ketika


suara mita tlong itu di tujukan padanya.


Hah!


Malin tersadar dari tegunannya.


Uda bisa tolong ambilkan sisir puti itu ? ucapnya kembali meminta tolong kepada


malin yang mungkin di kiranya anak buah orang-orang yang berkumpul di dalam


rumah gadang itu.


Tunggu! Ucap malin seraya bergerak kedekat jendela dan mengambil sisir bambu yang jatuh


kehalaman itu lalu mengembalikannya pada wanita yang menyebut namanya dengan puti itu.


Ini!


Seru malin seraya mengakat tangannya yang memegang sisir bambu kepunyaan puti.


meluluhkan malin itu.


Hah! Ucapnya kembali termenung.


Puti bertanya udaa! Siapa nama uda? Wanita itu kembali bertanya sambil tersenyum yang


mengeluarkan lesung pipi di wajahnya yang membuat malin makin tak karuan.


Hah!


Malin! Malin bagindo puan! Ucapnya terbata-bata.


Hihihihihi! Uda malin ternyata yang sudah menolong puti mengambilkan sisir bambu puti yang


jatuh. Terimaksih ya uda!


Belum sempat malin menjawab ucapan itu tanganya di sambar cepat oleh seseorang yang tidak


lain adalah ampang limo sati yang bergerak cepat menuju semak- semak di samping


rumah gadang itu. Seketika itu rombongan para dubalang juga sampai disana. Siti


yang masih memegang sisir dan menggenggamnya di bawah dada dengan dua tangan


dalam keadaan berdiri itu tercengan ternyata orang yang tadi menolongnya


mengambilkan sisir itu adalah orang yang menguping tetua adat yang berkumpul


dirumahnya. puti di kagetkan lagi dengan suara riuh ricuh dari dalam rumah dan


berhamburan keluar sesat tadi iya berterima kasih pada malin lalu,

__ADS_1


Apa puti melihat seorang lari kesini puti? Ucap salah satu dubalanag yang kebetulan


melihat jelas keaarah sana seseorang yang lari. Puti yang tau mereka lari


kearah samping rumah gadang dan masuk kesemak-semak dengan terbang tak ingin


orang itu tertangkap lalu puti mengelabui mereka yang mengejar itu.


Tadi dia lari kesamping rumah ini dan terus kebelakang dan setelah itu puti tak


melihatnya lagi mak! Ucap puti kepada para dubalang yang ia panggil dengan


sebutan mamak itu.


Para dubalang kini berlarian kearah samping menuju belakang rumah gadang dan


menyusuri semak semak belukar yang berada di belakang rumah itu. Sementara


ampang limo sati yang bisa berlari di ujung daun bersama malin yang di


topangnya kini sudah berada jauh dari dasana dan saat jarak mereka sudah


benar-benar sangat jauh dari rumah gadang itu kini ampang limo sati yang juga


membawa malin melompat ke arah jalan dantiba di jalan setapak menuju rumah


panjul.


Aku mencium bau darah! Ucap ampang limo seraya memcium bau di sekelilingnya.


Malin yang tak paham apa yang i cari bapak ini terdiam saja memperhatikan bapak yang


kurang kerjan itu menutnya.


Ternyata tadi disini belum lama ini sudah ada yang mati!


Kapan pak?


Paling saat kita masih dirumah gadang tadi. Ayoklah kita lanjutkan berjalan.


Baiklah!


Ucap malin yang heran dengan kepandaian yang dimiliki bapak tua itu. Dalam


perjalanan menuju rumah panjul malin masih terbayang-bayang wajah mungil yang


tadi sempat bicara dengannya. Wanita yang memiliki mata sayu itu serta hidung


yang sedikit mancung di tambah bibirnya yang kecil dan kemrah-merahan membuat


sepanjang perjalanan menuju pulang kerkumah panjul itu jadi tak tergesa-gesa.


Padahal dari pagi tadi mereka berdua tak ada sarapan. Ampanglimo sati yang


paham apa yang dirasakan anak muda itu seketika memperhatiakannya lalu iya


sedikit tersenyum dalam gumannya.


Apa waang betah di tempat tadi anak muda? Ucap ampanglimo yang menyadarkan dia dari


bayangan tentang puti tadi. Malin hanya menoleh dan terheran dengan apa maksud


yang bapak tua penuh kiasan itu sampaikan.


Maksud bapak!? Ucapnya kembali bertanya.


Apa waang betah kutempatkan di dekat jendela tadi? Ucap ampang limo yang bertanya


sambil menghentikan jalannya dan menatap pada malin. ternyata ampang limo sati sengaja menyuruh malin ketempat tada untuk bertujuan memperkenalkan ada sosok kupu-kupu terbang seekor disana yang kebetulan membuat malin tertarik melihatnya dan tanpa sadar betah menunggu ampanglimo sati yang sedang mencuri dengar di rumah gadang tadi. Malin jadi malu ternyata

__ADS_1


bapak itu tadi juga memperhatikannya dari belakang ketika iya tertegun oleh


wanita itu.


__ADS_2