
Malin memperhatiakan kenapa tangan itu sesekali keluar seprti memberi kode lalu iya
melihat halaman bawah jendela itu yang tak jauh dari tempatnya saat ini berdiri
yang hanya kira-kira sekitar dua atau tiga depa. Malin melihat kehalaman itu
dan ternyata itu adalah rambut yang panjang yang kurang dari sedepa. Dilihat
dari tangan orang yang keluar tadi kira-kira orang itu masih muda dan rasanya
umur orang itu dia terka-terka tak beda jauh dengannya. Tangan yang
sekilas-sekilas keluar itu kuning langsat dan sedikit berbulu tipis dan halus.
Malin penasaran dengan wajah itu tapi dengan cara bagaimana iya bisa
melihatnya? Kalau iya berjalan keluar kehalaman otomatis dia akan terlihat pula
oleh orang itu. Malin terus saja berfikir dan diam sejenak.
Tigo lurah jauah pasanyo
Urang di danau bakaramba ikan
Tinggi bukik silayo tanang
Hati rusuah apo ubeknyo
Nan di dalam tak marilakan
Hati nan kini kadok mamang.... ondeh...
eeeee... iyo..... mhss....
Dendang itu terdengar sayup-sayup sampai ditelinga malin. Suara itu terdengar merdu
sekali tapi siapa wanita itu yang barusan berdendang. Malin makin penasaran.
Didengar dari suaranya tapaknya wanita ini masih muda! Ucap malin dalam hati yang
sedari tadi badannya tersa didorong oleh suatu hal yang harus melihat wajah
wanita ini. Malin kehabisan akal bagaimana harus mencari celah untuk melihat
wanita yang tak jauh dari dekatnya itu. Saat pikiran malin terus berjalan di
kagetkan dengan sisir yang jatuh ketanah.
Aduh sisir ku! Ujar wanita itu. Lalu mengulurkan setengah badanya keluar sambil
merukuk. Tiba-tiba malin tercengang! Melihat rambut lurus teruruai panjang dari
arah jendela itu. Wajah yang jernih kian terlihat hidungnya yang sedikit mancung
dan bibirnya yang seperti asam seulas berwarna merah jambu air membuat jantung
malin bagindo berdegup kencang. Entah karna takut ketahuan atau malah hatinya
takjub melihat wanita ini. Seseat setelah wanita itu memperlihatkan diri malin
masih tertegun di tempatnya dan wanita itu melirik kesemua sudut kalau-kalau
ada orang di luar yang bisa menolongnya. Malin masih saja diam disana tak
bergerak sedikitpun seperti patung lalu lirikan itu sampai kearahnya. Oh tuhan
kenapa ada wanita secanti ini disini..? kenapa tak engkau adakan saja di
kampungku tuhan!! Ujarnya dalam hati tak karuan melihat wajah wanita itu
__ADS_1
menatapnya. Wanita yang memiliki mata sayu dan bibir yang kecil serta wajah
yang sedikit agak bulat, badan yang kelihatnya ideal seperti beratnya kira-kira
empat puluh tuhuh kilo gram yang terlihat dari postur tubuhnya itu saat iya
meruku kearah jendela. Hati malin makin bedegup cepat tapi sepintas iya
teringat akan hal yang tadi di bilang ampang limo sati “ semoga waang sedikit
betah menungguku disini!”. Ucapan ampang limo sati terngiang kembali di telinga
malin yang masih terkaku diam di sana. Lama wanita itu menatapnya dan kemudian.
Uda bisa tolong ambilkan sisi puti yang jatuh itu uda! Ucap wanita itu dengan
nadanya yang lembut dan sopan yang makin melemaskan seluruh badan malin ketika
suara mita tlong itu di tujukan padanya.
Hah!
Malin tersadar dari tegunannya.
Uda bisa tolong ambilkan sisir puti itu ? ucapnya kembali meminta tolong kepada
malin yang mungkin di kiranya anak buah orang-orang yang berkumpul di dalam
rumah gadang itu.
Tunggu! Ucap malin seraya bergerak kedekat jendela dan mengambil sisir bambu yang jatuh
kehalaman itu lalu mengembalikannya pada wanita yang menyebut namanya dengan puti itu.
Ini!
Seru malin seraya mengakat tangannya yang memegang sisir bambu kepunyaan puti.
meluluhkan malin itu.
Hah! Ucapnya kembali termenung.
Puti bertanya udaa! Siapa nama uda? Wanita itu kembali bertanya sambil tersenyum yang
mengeluarkan lesung pipi di wajahnya yang membuat malin makin tak karuan.
Hah!
Malin! Malin bagindo puan! Ucapnya terbata-bata.
Hihihihihi! Uda malin ternyata yang sudah menolong puti mengambilkan sisir bambu puti yang
jatuh. Terimaksih ya uda!
Belum sempat malin menjawab ucapan itu tanganya di sambar cepat oleh seseorang yang tidak
lain adalah ampang limo sati yang bergerak cepat menuju semak- semak di samping
rumah gadang itu. Seketika itu rombongan para dubalang juga sampai disana. Siti
yang masih memegang sisir dan menggenggamnya di bawah dada dengan dua tangan
dalam keadaan berdiri itu tercengan ternyata orang yang tadi menolongnya
mengambilkan sisir itu adalah orang yang menguping tetua adat yang berkumpul
dirumahnya. puti di kagetkan lagi dengan suara riuh ricuh dari dalam rumah dan
berhamburan keluar sesat tadi iya berterima kasih pada malin lalu,
__ADS_1
Apa puti melihat seorang lari kesini puti? Ucap salah satu dubalanag yang kebetulan
melihat jelas keaarah sana seseorang yang lari. Puti yang tau mereka lari
kearah samping rumah gadang dan masuk kesemak-semak dengan terbang tak ingin
orang itu tertangkap lalu puti mengelabui mereka yang mengejar itu.
Tadi dia lari kesamping rumah ini dan terus kebelakang dan setelah itu puti tak
melihatnya lagi mak! Ucap puti kepada para dubalang yang ia panggil dengan
sebutan mamak itu.
Para dubalang kini berlarian kearah samping menuju belakang rumah gadang dan
menyusuri semak semak belukar yang berada di belakang rumah itu. Sementara
ampang limo sati yang bisa berlari di ujung daun bersama malin yang di
topangnya kini sudah berada jauh dari dasana dan saat jarak mereka sudah
benar-benar sangat jauh dari rumah gadang itu kini ampang limo sati yang juga
membawa malin melompat ke arah jalan dantiba di jalan setapak menuju rumah
panjul.
Aku mencium bau darah! Ucap ampang limo seraya memcium bau di sekelilingnya.
Malin yang tak paham apa yang i cari bapak ini terdiam saja memperhatikan bapak yang
kurang kerjan itu menutnya.
Ternyata tadi disini belum lama ini sudah ada yang mati!
Kapan pak?
Paling saat kita masih dirumah gadang tadi. Ayoklah kita lanjutkan berjalan.
Baiklah!
Ucap malin yang heran dengan kepandaian yang dimiliki bapak tua itu. Dalam
perjalanan menuju rumah panjul malin masih terbayang-bayang wajah mungil yang
tadi sempat bicara dengannya. Wanita yang memiliki mata sayu itu serta hidung
yang sedikit mancung di tambah bibirnya yang kecil dan kemrah-merahan membuat
sepanjang perjalanan menuju pulang kerkumah panjul itu jadi tak tergesa-gesa.
Padahal dari pagi tadi mereka berdua tak ada sarapan. Ampanglimo sati yang
paham apa yang dirasakan anak muda itu seketika memperhatiakannya lalu iya
sedikit tersenyum dalam gumannya.
Apa waang betah di tempat tadi anak muda? Ucap ampanglimo yang menyadarkan dia dari
bayangan tentang puti tadi. Malin hanya menoleh dan terheran dengan apa maksud
yang bapak tua penuh kiasan itu sampaikan.
Maksud bapak!? Ucapnya kembali bertanya.
Apa waang betah kutempatkan di dekat jendela tadi? Ucap ampang limo yang bertanya
sambil menghentikan jalannya dan menatap pada malin. ternyata ampang limo sati sengaja menyuruh malin ketempat tada untuk bertujuan memperkenalkan ada sosok kupu-kupu terbang seekor disana yang kebetulan membuat malin tertarik melihatnya dan tanpa sadar betah menunggu ampanglimo sati yang sedang mencuri dengar di rumah gadang tadi. Malin jadi malu ternyata
__ADS_1
bapak itu tadi juga memperhatikannya dari belakang ketika iya tertegun oleh
wanita itu.