
Karapai yang tak bisa bicara sepatahpun hanya mengusap-usap
leher karna tak mungkin
melawan cakap si birin. Orang yang tadi tertegak diam dan
hanya melotot kini
rebah satu persatu dan setiba di tanah mengelinjang seperti
ayam kena bantai
darah menyembur hebat dari leher mereka dan sesaat setelah
itu mati. itulah
salah satu jurus birin yang pamungkas yang di namakan
JINJING BANTAI. Setealah
orang itu tak bergerak samsudin kembali merasakan firasat
ada empat orang
kesana dari arah semak tak jauh dari
mereka kini berdiri.
Bukan main samsudin! Ternyata anak buah waang begitu pandai
melumpuhkan dan mematiakn
lawan secepat kilat. Ujar seorang dari belakang mereka
berdiri.
Datuak hitam? Ujar samsudin menyambar suara itu dengan cepat
Hahahahahah,
kali ini harus aku akui kalian memang pandeka-pandeka pilih
tanding! dengan
satu anak buahmu saja sudah mampu melumpuhkan tiga panyamun
hebat ini dengan
cepat, apa lagi kau pimpinannya! Siapa waang sebenarnya
samsudin? Kenapa waang
tau dengan mamak tuanku lareh? Sepertinya aku harus terlebih
dahulu menjajalmu
samsudin sebab kau berani menyebut nama itu dan seperti
sudah terbiasa
mendengar namaku!
Mhh!
Apa datuak yakin bisa mendekatiku? Ucap samsudin dengan
tenang dan pasti.
Tak usah waang membual di depan datuk hitam buyung. Kau tak
tau makan tangan ku?
Sudah banyak pandeka yang aku pulang namakan kenegrinya.
Mmhh!
Aku tau! datuak adalah pimpinan panyamun hutan tigolurah
bagian timur ini. tapi
yang datuak hadapi selama ini dan yang pulang nama hanya
segelintir orang yang
mengaku pandeka dan seolah-olah pongah dengan kepandaiannya
yang secuil. Itukah
pandeka-pandeka yang datuk hitam bunuh? Itu sudah patut bagi
mereka! Tapi bagi
diri datuk apa mungkin ammpu menyentuhku? Melawan kawanku
ini saja mungkin
datuk akan berpeluh!
Kata-kata samsudin yang memancing api di dada datuk hitam
rasanya berhasil. seketika
datuk hitam melayang kearah samsudin dengan cepat.
HIYA’’’’ GDBUKKK!!
Datuk hitam melosoh
saat mendarat kena hantam lentingan kaki si toek yang berputar amat
cepat dan bertenaga hingga tepat menyentuh perut dan dada
datuk hitam bersamaan
__ADS_1
dan akhirnya membuat datuk hitam melosoh kebawah. toek yang
setelah melenting
itu masih berdiri tegak. iya lihat datuk hitam tepat di
bawah telepak kakinya.
dimana kini leher datu hitam di jadikan alas. belum sempat
datuk itu melenguh
dia sudah muntah darah terlebih dahulu dan kini telapak kaki
toek pula yang
menginjak lehernya. kalo toek mau seketika itu datuk hitam
bisa mati.
Bagaimana datuk! Benarkan kataku! Datuk tak akan mampu
menyentuh sehelai kainpun dariku!
Ucap samsudin yang tenang dan dingin di saksikan anak buah
datuk hitam yang ternganga ulah kepandaian si toek menghajar pimpinannya itu
dengan sekejap lalu melumpunhkannya hanya dengan satu tendangan ganda saja.
Lihat lah diri datuk. yang melosoh makan tanah oleh kawanku
ini! Ujarnya kembali
dengan nada dingin.
Kita apakan dia tuan? Ucap birin yang ada di belakang
samsudin.
Lepaskan saja! Biar dia mengadu pada mamak tuanku lareh
kalau dia kita pecundangi karena
lancang menantang kita.!
Samsudin berujar sambil menatap tajam kearah datuk hitam
yang setiap kata-kata itu,
membuat bulu kuduk datuk hitam merinding. Toek akhirnya
melepaskan datuk hitam
itu dan bersama kawanannya datuk itu melangkah pergi dengan
nyalinya yang
hilang seketika mendengar ucapan samsudin itu yang sambil
” Biar dia mengadu pada mamak tuanku lareh kalau dia kita
pecundangi karena lancang menantang kita.!”
Ucapan yang masih belum hilang di benak datuk hitam.
Iya heran kenapa kata kta itu
membuat bulu kuduk nya merinding? Dan apa sangkut pautnya
dengan mamak tuanku
lareh? Pertanyaan itu seperti menggeranyang di kepala datuk
hitam. Dia tak
habis pikir dengan mudahnya iya di lumpunhkan oleh anak buah
samsudin, padahal
selama ini tak ada yang tidak bertekuk lutut padanya. kali
ini iya memang
menemui lawan yang sepadan atau barang kali jauh di atsnya.
rasanya ingin dia
cepat-sepat ingin menemui mamak tuanku lareh di atas gunung
akan tetapi
perkumpulan panyamun beberapa hari lagi harus di hadiri. Iya
harus menahan diri
dulu rasanya dari hal yang rasanya tidak mendesak itu dan
ikut berkumpul dengan
kelompok penyamun yang lain. mungkin ada hal besar yang di
bicarakan karna dua
hari selang datuk hitam bertemu samsudin sudah terdengar
kabar bahwa sepuluh orang
panyamun di hutan utara mati! Dan ini menimbulakan
pertanyaan besar bagi
pimpinan panyamun tigo lurah. Hari sudah beranjak siang.
__ADS_1
terlihat dari terik
matahari yang sudah menembuskan cahaya kedalam hutan lebat
itu. datuk hitam dan
kwanan sudah hampir dekat ketempat kediaman mereka. Dan
seaat sebelum sampai di
kediaman itu datuk hitam pergi kearah batu besar yang datar
tak jauh dari
kediaman itu hanya berjarak sekitar lima ratus meter saja.
datuk itu
mengasingkan diri kesana. Dan anak buahnya tidak ada yang
berani mendekati,
mungkin datuk hitam butuh sendiri! Melihat apa yang sudah
terjadi pada dirinya
sebelum pulang tadi mereka yakin orang tadi ada hunungan
dengan mamak tuanku
lareh, hanya saja melihat datuk yang berdiam di atas batu
besar di depan air
terjun itu, anak buahnya tak akan berani menganggu mereka
tau datuk hitam yang
tak segan melempar pisau kehulu jantung anak buahnya kalau
iya terusik, itulah
kenapa mereka membiarkan saja saat ini apa yang di kerjakan
datuk hitam itu,
dari pada mereka harus membayar perkerjaan yang sia-sia
dengan nyawanya.
SAMSUDIN MELEWATI LERENG TIGO LURAH
Samsudin toek dan karapai juga birin tiba di puntu hutan.
mereka kini mulai masuk di
lereng lurah pertama, dimana disisni mereka melewati jalan
dari tebing lurah
yang sangat curam dan di penuhi karang karang yang runcing
lagi tajam. iya sesekali
menoleh kebawah terlihat jauh dari bawah sana banyak tulang
belulang dan
daging manusi maupun hewan yang membusuk serta bau yang
sangat menyengat.
Samsudin bergegas melewati lereng itu. berasama birin, toek
dan karapai, iya
menambah kecepatan didinding lereng yang lebar jalanya hanya
sedepa dan
memanjang. mereka tiba di ujung lereng lurah itu dengan
selamat. wajah pocat
dan menggigil si karapi senantiasa tampak bibirnya pasi dan
tangannya dingin
melewati lereng curang itu yang tingginya sepuluh batang
pohon kelapa.
bagaimana kaki tidak akan begetar melewati jalan yang hanya
sedapa dan sangat
licin itu. mereka telah sampai di ujung jalan yang
bebrpapasan kembali
dengan hutan rimba yang mendatar yang sedari tadi hanya
tebing yang melereng
yang mereka lewati sangat lama sekitar dua jam mereka
menempuhnya hingga
sampai di hutan. selanjutnya mereka terus berjalan melawati
semak belukar
dan di penuhi duri serta desiran ular hijau yang sangat
__ADS_1
banyak sekali
bergelantungan di kayu ranting pepohonan.